Di depan layar dia adalah milik semua orang, tapi di belakang layar, dia hanya milikku. Kamila.
Seharusnya 3 tahun lalu, Kamila tidak mengambil keputusan ini. Menemui seorang aktor terkenal, memohon agar dia memberinya pekerjaan. Salahnya dia memilih untuk menyetujui perjanjian pada malam itu. Hingga akhirnya dia terjebak dengan Razka Aditama Fernandez, seorang aktor terkenal yang semua orang tahu.
Hanya menjadi seorang simpanan, apa yang bisa dia harapkan? Cinta? Hubungan serius? Apa itu mungkin dalam kehidupannya ini?
"Hubungan ini hanya sebatas saling menguntungkan antara aku dan kamu"
Kalimat itu menjadi pembatas atas perasaannya, seharusnya memang seperti itu. Tapi nyatanya, Kamila telah melewati batas dirinya sendiri. Hidup bersama selama 3 tahun, membuatnya perlahan melihat sisi lain dari Razka.
Tapi, apa mungkin Razka mempunyai perasaan yang sama atau dia tetap menganggapnya sebagai seorang simpanan saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran Didalam Lift
Hari-hari berlalu, pekerjaan barunya membuat Kamila menemukan banyak hal yang belum pernah dia temui saat dia menjadi seorang penata rias. Kamila menemukan banyak hal, dan orang-orang baru yang memberikan kebahagiaan baru untuknya. Adanya Randy di sana juga membuatnya lebih mudah beradaptasi.
"Malam ini kita pergi makan malam dulu, bagaimana?" ucap Novi.
"Ayo, mumpung kita pulang lebih awal. Mil, kamu ikut juga ya"
Kamila berpikir sejenak, lalu dia mengangguk. Mereka pergi ke sebuah Restoran, Kamila ikut dengan mobil Randy. Hanya mereka berdua, karena yang lainnya membawa kendaraan pribadi.
"Oh ya, sudah satu minggu lebih kamu bekerja di sini sama aku. Tapi, aku belum benar-benar mengobrol sama kamu, Mil"
Kamila mengangguk pelan, dia menoleh sekilas pada Randy yang sedang mengemudi. "Em, bagaimana kabar kamu, Ran?"
"Ya, seperti yang kamu lihat. Aku masih sama, hanya fokus pada pekerjaan saja"
"Em, apa belum punya pacar?"
Randy tertawa mendengar pertanyaan Kamila itu. "Pacar? Haha, aku rasa aku belum bisa deh untuk memulai pacaran. Bagaimana denganmu? Apa sudah punya pacar?"
Kamila menggeleng pelan, bahkan dia tidak bisa mengakui Razka sebagai kekasihnya. Karena nyatanya hubungan mereka tidak pernah ada kejelasan, lebih tepatnya mereka tetap menjadi seorang simpanan dan sang aktor.
"Aku tidak punya pacar, tapi ada seseorang yang aku suka"
Tatapan mata Randy berubah menjadi sendu, tidak bersemangat seperti sebelumnya. "Ah, siapa orang beruntung yang kamu suka itu? Apa dia belum tahu jika kamu menyukainya?"
Kamila menggeleng pelan. "Aku tidak tahu apa dia menyadari jika aku menyukainya atau tidak"
"Kenapa tidak coba kamu katakan saja perasaanmu itu?"
Kamila tersenyum tipis, pernah berniat di hatinya untuk mengakui perasaannya sendiri. Tapi, Kamila tidak benar-benar bisa mengakuinya, karena dia takut jika Razka akan marah karena Kamila melewati batas yang sudah dia tentukan.
"Aku belum siap, Ran. Dia terlalu dekat denganku, dan aku takut jika aku mengakuinya malah membuat hubungan ini berantakan"
Randy mengangguk pelan, meski dia tidak tahu siapa pria yang disukai oleh Kamila. Tapi dalam pikirannya hanya menganggap pria itu beruntung.
Mereka sampai di Restoran, memesan meja besar untuk semuanya. Memesan banyak makanan untuk dinikmati bersama. Canda tawa terjadi, banyak obrolan dari yang ringan sampai serius. Tapi nyatanya mereka sangat menyenangkan. Kamila suka dengan lingkungan barunya sekarang.
Ponselnya berdering, namun sama sekali tidak terdengar karena Kamila lupa menyalakan dering. Berakhir dengan minum-minum sedikit, tapi tidak sampai mabuk.
"Randy, kamu antar Kamila pulang sampai rumah ya.Jaga dia ya, jangan sampai kenapa-napa" ucap Novi.
"Iya, aku akan antar dia sampai tujuan"
Mereka pergi satu mobil lagi, Kamila baru membuka ponsel dan dia sedikit panik saat melihat beberapa pesan dan panggilan dari Razka yang tidak terjawab.
Aku sudah pulang, sore ini biar aku jemput.
Apa kau sudah pulang? Jam berapa kau pulang kerja?
Kamila, kau tidak menjawab telepon dariku dan tidak membalas pesanku juga. Kau dimana?
Kamila!
Semua pesan itu sudah menandakan bagaimana Razka yang akan sangat kesal karena Kamila mengabaikan pesan dan telepon darinya. Tapi Kamila juga tidak sengaja, dan Kamila sama sekali tidak tahu jika Razka akan pulang hari ini.
"Kenapa Mil? Kok gelisah? Ada masalah?"
"Em, tidak. Aku hanya mengantuk saja, ingin segera pulang"
"Ah baiklah, aku antar kemana ini?"
"Apartemen saja, Ran" ucap Kamila, menyebutkan salah satu Gedung Apartemen pada Randy.
"Kamu tinggal di sana ternyata? Sejak kapan? Orang tua kamu sehat?"
Kamila melipat bibirnya ke dalam, mendengar pertanyaan Randy membuatnya kembali teringat akan orang tuanya yang sudah tiada.
"Sejak orang tuaku meninggal, Ran"
"Hah?" Randy langsung menoleh sekilas pada Kamila, tapi kembali fokus pada jalanan karena dia sedang mengemudi. "Ya ampun, Mil aku minta maaf. Aku benar-benar tidak tahu"
"Tidak papa, sudah lama juga"
"Kapan orang tua kamu meninggal? Mereka sakit?"
Kamila menggeleng pelan, tersenyum tipis sebelum menjawab, senyuman yang menutupi luka hatinya. "Tiga tahun lalu, beberapa bulan setelah aku lulus. Ayah dan Ibu kecelakaan"
"Ya ampun Mil, aku minta maaf ya. Benar-benar tidak tahu"
"Iya Ran, tidak masalah"
Randy menghentikan mobilnya di depan Gedung Apartemen, Kamila segera turun dari mobil. Dia sedikit membungkuk dan menatap Randy dari kaca jendela mobil yang masih terbuka.
"Terima kasih untuk hari ini ya, sudah mengantarkan aku pulang juga"
"Iya Mil, sama-sama"
Kamila tersenyum dan melambaikan tangannya saat mobil Randy mulai melaju. Dia berbalik dan berjalan masuk ke dalam Gedung, melewati Lobby Apartemen, dan seseorang yang berdiri di sana dengan tatapan dingin membuat Kamila langsung berhenti melangkah. Seketika tubuhnya membeku.
"Eh, kamu sudah pulang ternyata"
Razka tersenyum sinis, dia menarik tangan Kamila dan membawanya masuk ke dalam lift. "Senang sekali mengabaikan aku sekarang, ternyata kau sudah mendapatkan target baru ya"
Kamila diam, menatap Razka dengan bingung. "Maksudnya apa? Aku hanya di ajak makan malam oleh rekan kerja dan aku tidak bisa menolak"
"Ah, makan malam ya? Apa dinner romantis? Waw, kau sudah mendapatkan target baru yang melebihi aku? Apa dia membayarmu lebih besar dariku?"
Kamila terdiam, menatap Razka dengan tidak percaya. Pria itu sampai tega mengatakan hal seperti itu, merendahkan diri Kamila sampai seperti ini.
"Aku tidak seperti yang kamu pikirkan, Razka!"
Razka menyudutkan Kamila di dinding lift, memegang dagunya dan menatapnya tajam. "Kau sudah berani memanggil namaku seperti itu! Lalu, kau perempuan seperti apa?"
Kamila terdiam dengan mata berkaca-kaca, bahkan untuk menjelaskan saja dia tidak mampu. Karena nyatanya Kamila memang memang seorang perempuan bayaran, seorang simpanan dari seorang aktor. Dan pembelaan seperti apa yang bisa dia lakukan sekarang?
"Asal kamu tahu, hanya kamu satu-satunya orang yang aku layani!"
"Haha, lalu pria tadi? Apa kalian benar makan malam hari ini? Atau mungkin pergi ke Hotel"
Plak... Satu tamparan keras mendarat di pipi Razka, bahkan air mata sudah mengalir deras di pipinya. Kamila tidak bisa menahannya lagi.
"Aku salah ternyata, selama 3 tahun ini kamu hanya akan terus menganggapku rendah!"
Pintu lift terbuka dan Kamila langsung keluar mendahului Razka.
Bersambung