NovelToon NovelToon
MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rahmat Agung

Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 — LOG AKSES YANG MENGUBAH SEGALANYA

Arga Pratama berdiri di lorong gedung kompetisi, menatap pesan dari Kevin Santoso yang baru saja masuk ke ponselnya.

Jangan buka log akses itu sebelum kamu mengetahui siapa yang menyuruhku memberikan kesaksian lima tahun lalu. Orang itu bukan Adrian, bukan Marcus, dan bukan aku.

Arga membaca kalimat tersebut berulang kali.

Jika Kevin benar-benar ingin membantunya, mengapa ia baru mengirimkan pesan itu sekarang? Mengapa ia tidak mengatakan semuanya ketika mereka bertemu di gedung perkantoran lama pagi tadi?

Dan yang paling penting, siapa orang yang memiliki cukup pengaruh untuk mengendalikan kesaksian seorang anggota tim, mengubah arah penyelidikan, dan membuat seluruh bukti mengarah kepada Arga?

Arga mengetik balasan.

Kalau kamu tahu siapa orang itu, katakan sekarang.

Pesan terkirim.

Tidak ada jawaban.

Ia mencoba menelepon Kevin, tetapi panggilan tersebut langsung masuk ke kotak suara.

Arga memasukkan ponsel ke saku dan berjalan menuju tempat parkir. Ia perlu meninggalkan keramaian untuk berpikir dengan jernih.

Selama ini, ia selalu berusaha menyelesaikan masalah dengan cara yang sama seperti ketika memperbaiki mesin: mengumpulkan data, menguji dugaan, dan memastikan bahwa setiap kesimpulan memiliki dasar.

Namun, manusia tidak sesederhana mesin.

Mereka bisa berbohong, menyembunyikan informasi, atau mengatakan sebagian kebenaran demi menutupi bagian yang lebih besar.

Arga memahami bahwa ia tidak bisa memperlakukan setiap pengakuan sebagai fakta.

Termasuk pengakuan Kevin.

Ketika tiba di mobil yang dipinjamnya dari panitia untuk keperluan peserta, Arga membuka tas dan memeriksa amplop hitam dari Fajar.

Amplop itu masih tersegel.

Ia tidak ingin memeriksa isinya sendirian tanpa mencatat keadaan awal dokumen tersebut. Karena itu, ia memotret bagian luar amplop, mencatat waktu penerimaan, dan mengirimkan salinan catatannya kepada Fajar untuk memastikan bahwa keduanya memiliki dokumentasi yang sama.

Setelah itu, ia mengirim pesan kepada Nadia.

Aku mendapatkan kemungkinan bukti baru tentang akses ruang kendali ARX-9. Aku ingin kita memeriksanya bersama, dengan catatan asal-usul yang jelas. Jangan kirim berkas lama ke siapa pun sebelum kita memastikan keasliannya.

Balasan Nadia datang beberapa menit kemudian.

Aku bisa membantu. Tapi ada sesuatu yang perlu kamu tahu. Aku menemukan satu nama lagi dalam arsip cadangan. Nama yang seharusnya tidak ada di sana.

Arga langsung membalas.

Siapa?

Kali ini, Nadia menjawab lebih lama.

Aku akan menjelaskannya langsung. Jangan lewat pesan.

Arga menatap layar ponselnya.

Satu lagi nama.

Satu lagi rahasia.

Ia menarik napas panjang sebelum menyalakan mesin mobil.

Perjalanan mencari kebenaran baru saja memasuki bagian yang paling berbahaya bagi pikirannya sendiri: bagian ketika semua orang tampak memiliki alasan untuk berbohong, tetapi belum ada seorang pun yang benar-benar terbukti bersalah.

Pukul 19.15, Arga bertemu Nadia di sebuah kafe kecil tidak jauh dari pusat konvensi.

Kafe itu cukup ramai sehingga percakapan mereka tidak akan mudah didengar orang lain. Nadia memilih meja di sudut dekat jendela dan membawa sebuah laptop.

"Kamu terlihat lelah," kata Nadia ketika Arga duduk.

"Sepertinya semua orang di kompetisi ini punya rahasia yang harus dibongkar."

Nadia tersenyum tipis, tetapi ekspresinya segera kembali serius.

"Aku menemukan sesuatu dalam arsip ARX-9 yang tidak cocok dengan laporan resmi."

Ia membuka laptop dan menampilkan beberapa baris data.

"Ini catatan perubahan akses yang berhasil kupulihkan. Sebagian besar datanya tidak lengkap, tetapi ada tiga waktu yang masih terbaca dengan jelas."

Arga mendekat untuk melihat.

Nadia menunjuk baris pertama.

"Pada pukul 21.42, akun manajemen melakukan perubahan pada jadwal pengujian."

Baris kedua menunjukkan pukul 22.08.

"Akun teknis mengakses konfigurasi pengendali."

Kemudian baris ketiga.

Pukul 22.31.

"Terminal keamanan mencatat adanya perubahan status kamera di lorong menuju ruang kendali."

Arga membaca seluruh baris itu.

"Apakah waktu pada catatan ini sudah diverifikasi?"

"Belum sepenuhnya. Jam pada server arsip dan sistem keamanan mungkin tidak tersinkronisasi. Aku hanya bisa memastikan urutan relatifnya dari catatan yang masih tersedia."

"Bagus. Berarti kita belum bisa membandingkan waktunya secara mutlak."

Nadia mengangguk.

"Itulah yang membuatku berhati-hati. Tetapi ada satu hal yang menarik. Perubahan jadwal dan perubahan status kamera menggunakan dua kode otorisasi yang berbeda."

Arga mengamati kode tersebut.

Kode pertama berakhiran 71-K.

Kode kedua berakhiran 09-M.

Ia membuka foto dokumen Surya yang tersimpan di ponselnya, lalu membandingkannya dengan data di layar.

Salah satu pola karakter tampak mirip.

Namun, ia tidak langsung menyimpulkan bahwa kode-kode itu berasal dari sumber yang sama.

"Apakah kamu bisa mendapatkan catatan audit lengkapnya?" tanya Arga.

"Aku sedang berusaha. Sebagian arsip hanya bisa diakses melalui server perusahaan yang sekarang sudah dipindahkan ke sistem baru."

"Apakah kamu masih memiliki akses resmi?"

"Untuk sebagian arsip yang menjadi tanggung jawabku dulu, ya. Tetapi beberapa berkas telah dikunci."

Arga menatap Nadia.

"Jangan mencoba menembus sistem yang tidak lagi kamu miliki kewenangan untuk mengaksesnya. Kalau datanya diperlukan, kita harus meminta salinan melalui prosedur resmi."

Nadia mengangguk.

"Aku tahu. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan orang-orang yang kita selidiki."

Ia menutup satu jendela dan membuka dokumen lain.

"Ini nama yang tadi kusebutkan."

Pada layar muncul daftar personel proyek ARX-9. Sebagian besar nama sudah dikenal Arga. Ada Adrian Voss, Marcus Hale, Kevin Santoso, dan beberapa insinyur senior yang dahulu bekerja bersama mereka.

Namun, pada bagian paling bawah terdapat nama yang membuat Arga terdiam.

GUNAWAN WIRATAMA — KONSULTAN PENGAWASAN SISTEM.

Arga membaca nama itu sekali lagi.

"Siapa dia?"

Nadia menggeleng.

"Aku tidak tahu secara pribadi. Namanya hanya muncul pada dua catatan administrasi. Tidak ada foto, riwayat pekerjaan, atau laporan teknis yang mencantumkan perannya secara jelas."

"Kenapa nama ini penting?"

"Karena pada daftar personel resmi yang diserahkan kepada dewan direksi, nama tersebut tidak tercantum."

Arga kembali melihat layar.

"Apakah dia memiliki akses ke sistem?"

"Belum bisa dipastikan. Tetapi statusnya sebagai konsultan pengawasan menunjukkan bahwa dia mungkin memiliki izin untuk memeriksa beberapa bagian proyek."

"Dan nama belakangnya sama dengan Surya."

Nadia mengangguk.

"Itulah yang membuatku mencari lebih jauh."

Arga terdiam.

Surya Wiratama.

Gunawan Wiratama.

Apakah mereka memiliki hubungan keluarga? Ataukah nama yang sama hanya kebetulan?

Ia tidak ingin membuat tuduhan berdasarkan nama belakang. Tetapi jika keduanya memang memiliki hubungan, hal itu bisa menjelaskan mengapa nama Surya muncul pada catatan otorisasi cadangan.

"Kamu sudah menanyakan ini kepada Surya?" tanyanya.

"Belum. Aku tidak ingin membuatnya curiga sebelum tahu apa yang sebenarnya kita cari."

Arga berpikir sejenak.

"Kita tidak boleh menyembunyikan bukti dari orang yang mungkin terkait, tetapi kita juga tidak perlu membuat tuduhan tanpa dasar. Besok aku akan menemuinya dan menanyakan apakah dia mengenal nama tersebut."

Nadia menutup laptop.

"Ada satu hal lagi."

Arga menghela napas kecil.

"Aku mulai merasa setiap kalimatmu selalu diikuti rahasia baru."

Kali ini Nadia benar-benar tersenyum.

"Sayangnya, memang begitu."

Ia kembali serius.

"Beberapa hari sebelum insiden, ada permintaan perubahan konfigurasi yang diajukan melalui jalur administrasi. Permintaan itu tidak ditandatangani oleh kepala tim pengembangan. Tanda tangan yang tercatat justru berasal dari konsultan pengawasan."

Arga menatapnya tajam.

"Gunawan Wiratama?"

"Aku belum bisa memastikan. Nama pada salinan yang tersisa terpotong."

Arga menyandarkan punggungnya.

Sekarang ia mulai melihat kemungkinan hubungan antara perubahan konfigurasi, akses ruang kendali, dan nama yang tidak pernah tercantum dalam laporan resmi.

Namun, semua itu masih berupa potongan informasi.

Belum ada bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa Gunawan Wiratama terlibat dalam sabotase atau manipulasi laporan.

"Kalau begitu," kata Arga, "kita perlu menemukan dokumen permintaan perubahan konfigurasi yang asli."

Nadia mengangguk.

"Aku akan mencari jalur resmi untuk mendapatkannya."

Mereka menyepakati langkah berikutnya, lalu meninggalkan kafe secara terpisah.

Arga membawa lebih banyak pertanyaan daripada ketika ia datang.

Namun, setidaknya sekarang ia mengetahui bahwa penyelidikan terhadap ARX-9 tidak boleh hanya berpusat pada Adrian, Marcus, Kevin, atau Surya.

Mungkin ada orang lain yang selama ini bekerja dari balik layar.

Seseorang yang namanya bahkan tidak pernah muncul dalam laporan resmi.

Sementara itu, di sebuah apartemen mewah di pusat Jakarta, Rendy Mahardika duduk di hadapan ayahnya.

Hendra Mahardika baru saja pulang dari pertemuan bisnis. Ia melepas jam tangannya dan meletakkannya di atas meja sebelum membaca laporan kompetisi yang diberikan putranya.

"Jadi, Arga kembali menempati posisi teratas dalam penilaian teknis?" tanya Hendra.

Rendy menyilangkan tangan.

"Nilainya tinggi karena juri terlalu menyukai pendekatannya."

Hendra mengangkat pandangan.

"Apakah hasil analisisnya salah?"

Rendy terdiam.

"Belum tentu."

"Apakah dia melanggar aturan?"

"Sejauh yang aku tahu, tidak."

"Kalau begitu, mengapa kamu masih mempermasalahkannya?"

Rendy menatap ayahnya dengan kesal.

"Ayah tidak mengerti. Semua orang mulai membicarakan dia seolah-olah dia mekanik paling hebat di Indonesia. Padahal aku juga bekerja keras untuk sampai ke sini."

Hendra menutup laporan.

"Aku tidak pernah mengatakan kamu tidak bekerja keras."

"Tetapi Ayah selalu membandingkanku dengannya!"

Hendra menghela napas.

"Karena kamu sendiri yang terus membandingkan dirimu dengannya."

Rendy terdiam.

Ayahnya melanjutkan, "Kamu memiliki fasilitas, pendidikan, dan kesempatan yang tidak dimiliki banyak orang. Semua itu seharusnya membuatmu berkembang, bukan membuatmu takut ketika bertemu seseorang yang memiliki kemampuan berbeda."

"Aku tidak takut kepadanya."

"Kalau begitu, buktikan dengan kemampuanmu sendiri. Bukan dengan berusaha menjatuhkannya."

Rendy memalingkan wajah.

Ia ingin membantah, tetapi ucapan ayahnya sulit disangkal.

Selama kompetisi berlangsung, ia memang terlalu sering memikirkan bagaimana mengalahkan Arga, bukan bagaimana meningkatkan kemampuannya sendiri.

Namun, ada hal lain yang mengganggunya.

Ketika final dihentikan sementara karena ketidaksesuaian konfigurasi kendaraan, ia sempat melihat Adrian Voss berbicara dengan seseorang di area khusus juri.

Pria itu bukan Marcus.

Bukan pula anggota panitia yang dikenalnya.

Rendy tidak mendengar seluruh percakapan mereka, tetapi ia sempat menangkap satu kalimat.

"Nama itu tidak boleh muncul lagi."

Ia belum tahu nama siapa yang dimaksud.

Namun, ketika melihat Adrian meninggalkan ruangan, Rendy menyadari bahwa pria itu tampak jauh lebih gelisah daripada sebelumnya.

"Ayah," katanya tiba-tiba.

Hendra menoleh.

"Apa kamu mengenal seseorang bernama Gunawan Wiratama?"

Perubahan ekspresi ayahnya begitu cepat, tetapi Rendy sempat melihatnya.

Hendra meletakkan gelas yang baru diangkatnya.

"Kenapa kamu menanyakan nama itu?"

Rendy mengerutkan dahi.

"Jadi, Ayah mengenalnya?"

Hendra tidak langsung menjawab.

"Di mana kamu mendengar nama tersebut?"

"Belum lama ini. Aku hanya ingin tahu siapa dia."

Hendra berdiri, berjalan menuju lemari dokumen, lalu mengambil sebuah map tipis.

Ia membukanya dan memeriksa satu halaman sebelum menutupnya kembali.

"Gunawan Wiratama pernah menjadi konsultan dalam sebuah proyek rekayasa otomotif. Aku tidak mengenalnya secara pribadi, tetapi namanya pernah muncul dalam dokumen bisnis yang berhubungan dengan perusahaan pemasok komponen."

"Proyek ARX-9?"

Hendra menatap putranya.

"Kamu tahu tentang proyek itu?"

"Aku mendengar beberapa orang membicarakannya."

Hendra duduk kembali.

"Kalau memang kamu ingin tahu tentang ARX-9, jangan mengandalkan gosip. Proyek itu berakhir dengan banyak pertanyaan yang tidak pernah dijawab secara terbuka."

Rendy mencondongkan tubuh.

"Apakah Ayah tahu kenapa proyek itu gagal?"

"Aku tahu apa yang ditulis dalam laporan resmi. Aku tidak tahu seluruh kejadian di baliknya."

"Apakah Ayah pernah berbisnis dengan Adrian Voss?"

Hendra terdiam sesaat.

"Pernah ada pembicaraan mengenai kerja sama, tetapi tidak pernah berkembang menjadi kesepakatan yang berarti."

Rendy memperhatikan wajah ayahnya.

Ada sesuatu yang belum diceritakan Hendra.

Namun, untuk pertama kalinya, ia memilih tidak memaksa.

Ia mulai memahami bahwa masalah ARX-9 mungkin lebih besar daripada persaingan pribadinya dengan Arga.

Dan jika nama itu kembali muncul di lingkungan bisnis keluarganya, ia perlu mencari tahu alasannya.

Keesokan paginya, Arga tiba di Agung Joyo Motor melalui panggilan video dengan Pak Darto.

Bengkel sederhana itu terlihat seperti biasa. Beberapa kendaraan menunggu pemeriksaan, peralatan tersusun di rak, dan suara kompresor terdengar dari bagian belakang.

Melihat tempat itu membuat pikirannya sedikit lebih tenang.

"Bagaimana kompetisinya?" tanya Pak Darto.

"Masih berjalan, Pak. Ada beberapa masalah teknis yang harus diperiksa panitia."

"Masalah teknis biasa atau masalah yang membuatmu kembali memikirkan masa lalu?"

Arga terdiam sesaat.

"Sepertinya keduanya."

Pak Darto menghela napas.

"Kalau kamu memang ingin mencari kebenaran, lakukan dengan kepala dingin. Jangan sampai kamu menghabiskan seluruh hidupmu untuk membuktikan bahwa orang lain pernah salah."

Arga mengangguk.

"Saya mengerti."

"Dan satu hal lagi. Bengkel ini tetap menunggumu pulang. Kamu tidak harus menyelesaikan semua masalah sendirian."

Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk mengingatkan Arga bahwa hidupnya tidak lagi hanya terdiri dari masa lalu yang menyakitkan.

Ia masih memiliki bengkel, pekerjaan, dan orang-orang yang mempercayainya.

"Ada satu nama yang ingin saya tanyakan kepada Pak Darto," kata Arga.

"Siapa?"

"Gunawan Wiratama."

Pak Darto mengerutkan dahi.

Nama itu terdengar familier, tetapi ia tidak segera mengingat dari mana.

"Kenapa dengan nama itu?"

"Saya menemukan namanya dalam arsip lama proyek ARX-9."

Pak Darto terdiam cukup lama.

"Arga, aku pernah mendengar nama itu dari seseorang bertahun-tahun lalu."

Arga segera mendekat ke layar.

"Siapa?"

"Seorang pemasok komponen yang datang ke bengkel sebelum kamu mulai bekerja di sini. Dia sedang mencari seseorang yang memahami sistem pengendali mesin eksperimental."

"Apakah dia menyebutkan nama Gunawan?"

Pak Darto berpikir sejenak.

"Kalau tidak salah, dia mengatakan bahwa Gunawan adalah konsultan yang membantu menghubungkan beberapa perusahaan otomotif dengan pemasok teknologi. Tapi aku tidak tahu apakah orang yang dia maksud sama dengan yang kamu cari."

"Apakah Bapak masih ingat nama pemasok itu?"

Pak Darto menggeleng.

"Sudah terlalu lama. Aku hanya ingat dia membawa sebuah katalog komponen dan menanyakan apakah bengkel kami pernah menangani sistem kendali khusus."

Arga mencatat informasi tersebut.

Satu petunjuk baru.

Belum cukup untuk menghubungkan Gunawan dengan kejadian lima tahun lalu, tetapi cukup untuk memperluas pencarian.

Sebelum percakapan berakhir, Pak Darto menatapnya serius.

"Arga, jangan lupa bahwa seseorang yang namanya muncul dalam dokumen belum tentu bersalah. Cari bukti yang lengkap."

"Saya akan berhati-hati, Pak."

Setelah panggilan berakhir, Arga menutup buku catatannya.

Ia merasa semakin yakin bahwa cara terbaik untuk membersihkan namanya bukan dengan membalas setiap orang yang pernah menyakitinya.

Ia harus membuktikan apa yang sebenarnya terjadi.

Dan untuk melakukan itu, ia perlu menjaga agar penyelidikannya tidak berubah menjadi kumpulan dugaan.

Pukul sepuluh pagi, Arga kembali ke lokasi kompetisi untuk menemui Fajar.

Mereka telah sepakat memeriksa log akses dengan dokumentasi yang jelas. Nadia juga mengirimkan daftar data yang perlu dibandingkan, termasuk catatan waktu, identitas akun, dan riwayat perubahan konfigurasi.

Fajar membawa amplop hitam ke ruang teknis yang disediakan panitia.

"Kita tidak akan membuka atau mengubah dokumen asli lebih dari yang diperlukan," katanya. "Aku sudah membuat catatan tentang kapan dan bagaimana amplop ini disimpan."

Arga mengangguk.

Mereka membuka amplop dengan hati-hati dan mengeluarkan beberapa lembar hasil cetak.

Dokumen pertama memuat catatan akses umum.

Dokumen kedua memuat perubahan status kamera.

Dokumen ketiga adalah daftar pengguna yang memiliki izin masuk ke ruang kendali.

Arga membaca setiap halaman, kemudian membandingkannya dengan data yang diberikan Nadia.

Pada awalnya, tidak ada sesuatu yang mencolok.

Beberapa akses dilakukan oleh petugas teknis sesuai jadwal. Ada pula catatan pemeriksaan rutin yang tidak berkaitan dengan insiden.

Namun, pada halaman terakhir, Arga menemukan satu baris yang berbeda.

Pukul 22.26, terminal keamanan menerima perintah untuk menonaktifkan kamera lorong.

Lima menit kemudian, akses ruang kendali tercatat melalui akun khusus.

Nama pengguna tidak tercantum.

Hanya ada kode otorisasi.

Arga menatap kode itu.

Kemudian ia membuka salinan catatan dari Nadia.

Kode tersebut memiliki pola yang sama dengan kode pada perubahan konfigurasi kendaraan uji di kompetisi.

Bukan berarti keduanya dilakukan oleh orang yang sama. Namun, kesamaan format itu menunjukkan bahwa sistem akses lama mungkin menggunakan struktur otorisasi yang serupa.

"Apakah kamu melihat ini?" tanya Arga.

Fajar mengangguk.

"Aku tidak pernah melihat kode itu secara lengkap sebelumnya."

Arga memperhatikan kolom keterangan.

Di sana terdapat satu singkatan yang hampir tidak terlihat karena kualitas cetakan.

G.W. — EXTERNAL AUTHORITY.

Arga merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.

G.W.

Gunawan Wiratama?

Ia menahan diri agar tidak langsung membuat kesimpulan.

"Apakah singkatan ini tercantum pada salinan aslinya?" tanyanya.

Fajar memeriksa dokumen.

"Ya. Tetapi aku tidak tahu siapa yang menambahkan catatan tersebut atau kapan catatan itu dibuat."

Arga mengambil foto dokumen dengan izin Fajar, lalu menyimpan salinan digitalnya.

"Kita harus mencari dokumen yang menjelaskan arti kode ini."

Fajar mengangguk.

"Aku akan memeriksa apakah masih ada catatan administratif lain yang dapat diminta secara resmi."

Arga kembali menatap log akses.

Untuk pertama kalinya, ia memiliki petunjuk yang menghubungkan nama Gunawan Wiratama dengan sistem otorisasi ruang kendali.

Tetapi ia masih belum tahu apakah nama itu benar-benar milik orang yang mengakses sistem atau hanya nama pemegang kewenangan yang tercantum dalam administrasi.

Perbedaan tersebut sangat penting.

Seseorang bisa memberikan izin tanpa berada di lokasi.

Seseorang juga bisa menggunakan akun orang lain tanpa sepengetahuan pemiliknya.

Jika Arga ingin mengetahui siapa yang benar-benar bertanggung jawab, ia harus menemukan catatan yang membedakan keduanya.

Saat Arga dan Fajar selesai mencatat dokumen, seorang petugas mengetuk pintu.

"Maaf, ada telepon untuk Pak Arga."

Arga menerima telepon itu.

"Arga Pratama?"

"Benar. Siapa ini?"

Suara pria di seberang terdengar tenang.

"Namaku Gunawan Wiratama."

Arga membeku.

Untuk beberapa detik, ia tidak mampu berkata-kata.

Nama yang selama dua hari terakhir muncul dalam berbagai dokumen kini terdengar langsung dari orang yang mengaku memilikinya.

"Ada apa Anda menghubungi saya?" tanya Arga akhirnya.

"Aku mendengar kamu mulai membuka kembali arsip ARX-9."

Arga menatap Fajar yang berdiri di seberang meja. Ia memberi isyarat agar Fajar tidak berbicara.

"Kalau Anda mengetahui sesuatu tentang proyek itu, saya ingin mendengarnya."

"Keinginanmu bisa membawa masalah."

"Saya sudah mendengar peringatan seperti itu berkali-kali."

"Karena kamu belum memahami seberapa jauh masalah ini menjangkau."

Arga menguatkan genggaman pada ponselnya.

"Apakah Anda mengubah konfigurasi pengujian lima tahun lalu?"

Keheningan panjang terdengar dari seberang.

Kemudian Gunawan menjawab.

"Aku tidak pernah menyentuh kendaraanmu malam itu."

Arga memperhatikan setiap kata yang diucapkan pria tersebut.

Jawaban itu tidak sama dengan mengatakan bahwa ia tidak terlibat.

"Apakah Anda memberikan otorisasi kepada seseorang untuk mengakses ruang kendali?"

"Aku memiliki kewenangan administratif pada beberapa sistem saat itu."

"Apakah Anda menggunakan kewenangan itu untuk menonaktifkan kamera?"

"Tidak."

"Kalau begitu, mengapa kode Anda tercantum dalam log akses?"

Gunawan menarik napas panjang.

"Karena sistem itu menggunakan otorisasi berlapis. Namaku bisa muncul sebagai pemegang kewenangan meskipun bukan aku yang menjalankan perintah."

Arga menatap Fajar.

Penjelasan itu sesuai dengan salah satu kemungkinan yang baru saja mereka bahas.

Namun, itu masih merupakan pernyataan sepihak.

"Apakah Anda bersedia memberikan catatan yang membuktikan penjelasan tersebut?"

"Aku akan mempertimbangkannya."

"Kenapa harus dipertimbangkan? Jika Anda tidak bersalah, bukti itu bisa membantu menjelaskan apa yang terjadi."

Gunawan terdiam sesaat.

"Karena ada orang yang masih mengendalikan sebagian arsip tersebut. Jika aku menyerahkan semua dokumen tanpa persiapan, bukti yang tersisa bisa hilang."

Arga tidak menjawab.

Gunawan melanjutkan, "Kamu ingin membersihkan namamu. Aku mengerti. Tetapi jika kamu benar-benar ingin mengetahui apa yang terjadi, kamu harus menemukan satu dokumen terlebih dahulu."

"Dokumen apa?"

"Persetujuan perubahan konfigurasi asli. Bukan salinan yang disimpan oleh tim teknis, melainkan dokumen yang dikirim langsung ke ruang kendali."

Arga merasakan ketegangan di dadanya meningkat.

"Di mana dokumen itu?"

"Aku tidak tahu siapa yang menyimpannya sekarang. Namun, aku tahu siapa yang terakhir memeriksanya."

"Siapa?"

Gunawan menjawab dengan suara rendah.

"Adrian Voss."

Sebelum Arga sempat mengajukan pertanyaan berikutnya, sambungan terputus.

Ia segera mencoba menelepon kembali, tetapi panggilan tidak tersambung.

Fajar menatapnya.

"Apa yang dia katakan?"

Arga meletakkan ponsel di atas meja.

"Dia mengaku memiliki kewenangan administratif atas sistem, tetapi menyangkal menonaktifkan kamera. Dia juga mengatakan bahwa Adrian adalah orang terakhir yang memeriksa dokumen persetujuan perubahan konfigurasi."

Fajar menghela napas.

"Berarti kita harus menemui Adrian."

Arga menggeleng perlahan.

"Tidak secepat itu. Kita perlu memastikan apakah dokumen tersebut benar-benar ada dan apakah catatan pemeriksaannya dapat diverifikasi."

Ia memandang log akses yang terbuka di atas meja.

Lima tahun lalu, satu rangkaian keputusan telah mengubah hidupnya.

Kini, untuk pertama kalinya, ia mulai melihat bagaimana keputusan-keputusan itu mungkin saling terhubung.

Namun, sebelum ia dapat membuktikan siapa yang bertanggung jawab, ia harus menemukan dokumen asli yang menjadi dasar perubahan konfigurasi.

Dan dokumen itu mungkin berada di tangan orang yang paling ingin menghentikan penyelidikannya.

Adrian Voss.

Arga memasukkan catatannya ke dalam tas.

Ia tidak tahu apakah Gunawan sedang membantunya atau sedang mengarahkan penyelidikan ke orang lain.

Ia juga tidak tahu apakah Adrian menyimpan bukti yang dapat membersihkan namanya atau justru menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar.

Tetapi sekarang ia memiliki tujuan yang jelas.

Menemukan dokumen persetujuan asli.

Memverifikasi setiap tanda tangan.

Dan mengetahui siapa yang sebenarnya mengambil keputusan terakhir pada malam ARX-9 gagal.

Ketika Arga melangkah keluar dari ruang teknis, sebuah pesan baru muncul di ponselnya.

Pengirimnya tidak dikenal.

Kamu sudah berbicara dengan Gunawan. Bagus. Sekarang tanyakan kepadanya mengapa ia menghapus satu nama dari daftar akses sebelum laporan resmi diserahkan.

Arga berhenti berjalan.

Ia membaca pesan itu sekali lagi.

Jika benar ada nama yang dihapus dari daftar akses, maka seseorang bukan hanya menyembunyikan tindakan yang terjadi malam itu.

Seseorang mungkin telah berusaha menghapus keberadaan orang lain dari seluruh catatan resmi.

Arga menatap layar ponselnya, lalu memasukkannya kembali ke saku.

Penyelidikan ini belum selesai.

Bahkan, mungkin baru saja dimulai.

Bersambung.

1
Rahmat Agung
🙏
Supendi Supendi
lanjut dan semangat terus thor💪
Supendi Supendi
semoga jalan ceritanya semakin menarik dan tidak membosankan🤣
Supendi Supendi
menarik thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!