NovelToon NovelToon
Aturan Nomor 1 Jangan Jatuh Cinta Dengan Dosen

Aturan Nomor 1 Jangan Jatuh Cinta Dengan Dosen

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ziziyuuu

Aturan Nomor 1: Jangan pernah jatuh cinta dengan dosen sendiri.
Aturan yang dibuat Kila sendiri, dan kemudian dia langgar di detik berikutnya.
Kehidupan kampus Kila yang tadinya membosankan, berubah total setelah dosen baru itu masuk.
Tiba-tiba penuh dengan hal-hal mendebarkan. Bimbingan yang bikin jantung mau copot, jemputan mobil hitam di gerbang kampus, sampai makan malam canggung di mana dia dipanggil "calon mantu".

Dosen baru itu adalah Pak Rhaegar. Dosen dingin kayak kulkas, dan... orang yang paling Kila hindari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ziziyuuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Aula kampus penuh. HUT kampus tahun ini memang paling meriah karena bintang tamunya tidak main-main: Pak Rhaegar.

Semua mahasiswi duduk di barisan depan dengan make up terbaik mereka. Semua dosen hadir. Dekan pun hadir.

Dan di atas panggung, di podium kecil dengan mikrofon yang terlalu tinggi, berdirilah Kila. Menjadi moderator dadakan. Keputusan sepihak Pak Rhaegar kemarin.

Kemeja putih, blazer hitam pinjaman Elvano yang kebesaran, rok hitam, sepatu pantofel yang tumitnya 3 cm, dan tangan yang gemetar memegang kertas rundown yang sudah lecek karena diremas-remas.

Di sebelahnya, duduk dengan tegak, rapi, dan wangi yang bahkan sampai ke hidung Kila adalah Pak Rhaegar. Kemeja hitam, jas abu-abu, jam tangan mahal itu berkilau kena lampu aula. Duduk dengan kaki menyilang, tenang, tatapannya ke audiens. Profesional.

Kila meliriknya sekilas. Jantungnya yang kemarin sudah tenang karena teh hangat, sekarang berdetak lagi lebih kencang karena grogi.

"Oke... eee... selamat pagi semuanya..." suara Kila pecah di mikrofon. "Terima kasih sudah hadir di seminar HUT kampus dengan tema... penguasaan ilmu, bukan sekadar peringkat..."

Pak Rhaegar melirik Kila sekilas, mengangguk kecil, memberi kode: lanjut, kamu bisa.

Kila menarik napas, sedikit lebih tenang.

"Baik, tanpa berlama-lama, kita akan langsung mendengarkan materi dari pembicara kita yang sangat luar biasa, yang sudah... sudah meluangkan waktunya di tengah kesibukannya yang sangat padat, Bapak Dosen Rhaegar..."

Tepuk tangan riuh. Pak Rhaegar berdiri, mengambil mikrofon.

Saat itulah, di atas meja moderator, ponsel Kila yang di-silent tapi masih getar, bergetar.

Tet... tet... tet...

Layarnya menyala. Nama yang muncul: *Kak Elvar.*

Kila panik, langsung menekan tombol merah, mereject panggilan dengan cepat. Tangannya gemetar.

Pak Rhaegar yang sudah mulai bicara: "Terima kasih atas kesempatan..." sempat melirik ke ponsel Kila yang bergetar, lalu kembali fokus ke audiens. Tidak berkomentar.

Kila menghela napas lega, meletakkan ponselnya terbalik, biar tidak kelihatan.

Belum 30 detik.

Tet... tet... tet...

Bergetar lagi. Nama yang sama: *Kak Elvar.*

Kila reject lagi, lebih cepat, wajahnya mulai pucat. Dua kali reject.

Lalu masuk notifikasi pesan WA, beruntun.

Kila tidak mau buka, tapi preview pesannya muncul di lockscreen yang menyala.

*Kak Elvar:* Kil, angkat.

*Kak Elvar:* Mama ternyata udah mutusin cerai. Besok sidangnya perdananya.

Dunia Kila berhenti.

Aula yang ramai dengan 200 orang, suara AC, suara Pak Rhaegar yang sedang menjelaskan dengan suara beratnya yang tenang, tepuk tangan, semuanya... mendadak hilang. Mute.

Matanya terpaku pada dua kalimat itu. Kata "cerai" itu berkedip-kedip di retinanya.

Napasnya sesak. Tangannya yang memegang kertas rundown mulai dingin.

Pesan ketiga masuk.

*Kak Elvar:* Mama nangis terus dari tadi. Kamu dimana? Pulang ya.

Kila tidak sadar air matanya sudah menggenang di pelupuk mata. Bibirnya bergetar.

Di sebelahnya, Pak Rhaegar masih menjelaskan materi, tapi dia merasakan ada yang aneh. Moderatornya diam terlalu lama. Tidak ada suara kertas dibalik.

Pak Rhaegar menoleh pelan.

Dan melihat Kila. Wajah pucat, mata berkaca-kaca, menatap ponselnya dengan tatapan kosong seperti habis ditampar.

"Kila?" Pak Rhaegar berbisik sangat pelan, hanya Kila yang dengar, mikrofonnya sedikit dijauhkan.

Kila tersentak. Air matanya hampir jatuh. Dia menutup mulutnya dengan tangan, mencoba menahan isak.

"Pak... maaf Pak... saya..." suaranya pecah, tidak bisa melanjutkan.

Tanpa pikir panjang, Kila berdiri. Kursi moderatornya berderit keras, membuat seluruh aula menoleh.

"Maaf semuanya, saya... saya harus pergi, maaf," kata Kila dengan suara bergetar ke mikrofon, lalu menyerahkan kertas rundown dan mikrofon cadangan ke Elvano yang duduk di barisan panitia paling depan dengan wajah bingung.

"Van, tolong gantiin gue dulu, please," bisik Kila dengan air mata yang sudah tidak tertahan lagi, jatuh satu.

Elvano kaget: "Kil? Kenapa? Kamu kenapa?"

Kila tidak menjawab. Dia langsung turun dari panggung dan berlari keluar dari aula, melewati 200 orang yang menatapnya dengan tatapan bingung dan berbisik-bisik.

Pintu aula tertutup keras. Brak.

Di atas panggung, suasana canggung. Seminar terhenti.

Pak Rhaegar menatap pintu yang baru saja tertutup itu dengan tatapan bingung, lalu tatapan itu berubah menjadi khawatir. Alisnya mengerut dalam. Bukan kerutan kesal seperti biasanya, tapi kerutan khawatir yang tulus.

Dia melihat ponsel Kila yang tertinggal di atas meja moderator, layarnya masih menyala dengan pesan itu.

Dari jauh, dia bisa membaca sekilas kata: Mama... cerai...

Rahang Pak Rhaegar mengeras.

Dia menoleh ke Dekan dan panitia, mengambil alih dengan tenang.

"Maaf, sepertinya moderator kita ada keperluan mendadak yang sangat penting. Kita lanjutkan saja, biar saya yang pandu sekalian," kata Pak Rhaegar dengan suara profesional, mencoba menyelamatkan acara.

Tapi matanya terus melirik ke arah pintu keluar. Pikirannya tidak lagi di materi seminar.

Di luar aula, di koridor yang sepi, Kila sudah terduduk di lantai, bersandar di tembok, memeluk lututnya, menangis tanpa suara. Tas ranselnya tergeletak di sebelahnya.

Seminar, Pak Rhaegar, gosip kampus, teh hangat, SUV hitam, semuanya hilang dari kepalanya.

Yang ada hanya satu kalimat: Mama mutusin cerai hari ini.

Rumah yang selama ini berusaha ia pertahankan... ternyata bukan rumah yang utuh lagi.

---

1
Rini Hanindya Salma Nurazizah
bagus
Linda Natalia
lanjut kak,crita nya bagus
Rian Moontero
mampiiirr😍👍
Wien Ibunya Fathur
ceritanya lumayan seru...
ayok ada dibaca🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!