Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.
Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".
Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah
"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Penjaga Baru dan Bos yang Dinginnya Ngeri
Matahari baru aja nyemplung ke balik gedung pencakar langit, langit berubah jingga jadi kelabu kayak muka orang yang baru ditagih utang. Di depan gerbang gedung PT. Aurelia Maju, Dika Pratama berdiri tegak pakai seragam yang kebesaran dikit — bahunya dirapilin rambutnya disisir rapi, tapi mukanya tetep kelihatan kayak orang yang baru bangun tidur tapi dipaksa kelihatan gagah. Badannya tegap, tapi matanya jelalatan ke kiri kanan kayak kucing yang lagi ngawasi ikan goreng di meja makan.
Dika ini bukan penjaga biasa. Sifatnya sengklek, mulutnya kadang lari ke depan, tapi hatinya sebenernya emas 24 karat. Cuma sayang, otaknya suka nyasar ke jalan buntu kalau lagi gugup.
"Kamu, yang baru masuk! Masuk ke dalam sekarang, Nona Bos udah nunggu di lantai paling atas," ucap kepala satpam sambil natap Dika dengan tatapan was-was, kayak takut Dika bakal bikin gedung ini runtuh dalam lima menit.
Dika langsung senyum lebar sampai gigi kelihatan semua. "Siap, Pak! Tenang aja, dijaga kayak menjaga hati orang yang lagi jatuh cinta!" jawab Dika santai, sambil ngecek dasi yang miring ke kiri.
Dia melangkah masuk ke lobi yang lantainya mengkilap sampai bisa buat cermin. Baru aja naik lift sampai lantai puncak, pintu terbuka dan langsung disambut suasana yang dinginnya bukan main — bukan AC-nya doang, tapi aura yang keluar dari ruangan itu bikin bulu kuduk berdiri seketika.
Di balik meja kerja segede lapangan sepak bola, duduk seorang wanita cantik luar biasa tapi tatapannya tajam kayak pisau cukur. Itu Vanesha Aurelia — CEO termuda dan paling ditakuti seantero kota. Wajahnya cantik kayak lukisan, tapi kalau ngomong bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.
"Kamu penggantinya?" tanya Vanesha dingin, matanya menatap Dika dari atas sampai bawah seakan lagi ngecek kualitas barang bekas.
Dika maju selangkah, dada dibusungkan, berusaha kelihatan gagah padahal dalam hati lagi deg-degan kayak ketukan pintu orang nagih utang. "Iya, Nona Bos! Nama saya Dika Pratama! Siap menjaga keselamatan Anda sekaligus menjaga ketenangan hati Anda kalau perlu!" jawab Dika mantap, sedikit terlalu bersemangat.
Alis Vanesha langsung naik satu, tatapannya berubah jadi jijik bercampur heran. "Kamu ini penjaga atau badut keliling?" sahut Vanesha cepat, suaranya renyah tapi nusuk ke tulang sumsum.
"Nggak keduanya, Nona Bos! Saya cuma prajurit yang siap sedia! Badut bikin ketawa, saya bikin aman — walau kadang bikin senyum juga boleh lah," ucap Dika sambil nyengir kuda tanpa dosa.
Vanesha langsung menghela napas panjang, memijat pelipisnya. "Ya Gusti... kenapa selalu yang begini-begini. Dengar baik-baik: di sini nggak ada bercandaan. Nggak boleh telat, nggak boleh ngelawak, nggak boleh natap saya lama-lama, dan kalau saya panggil, datangnya harus lebih cepat dari tagihan utang," ucap Vanesha tegas, matanya melotot dikit.
Dika mengangguk semangat sampai kepalanya hampir copot. "Siap dicatat di hati dan di otak yang kadang suka lupa! Nggak telat, nggak ngelawak, nggak natap lama — kecuali kalau Nona Bos senyum, itu boleh kan? Biar saya semangat jaganya," jawab Dika santai.
"Jangan mimpi!" sahut Vanesha cepat, pipinya merah dikit karena kesal tapi anehnya nggak benci. "Sekarang berdiri di depan pintu. Jangan kemana-mana. Kalau ada siapa pun masuk tanpa izin, hadapi dulu, baru lapor. Mengerti?" tanya Vanesha lagi.
"Dimengerti sampai ke tulang sumsum, Nona Bos! Seandainya ada nyamuk masuk tanpa izin, saya tanya dulu KTP-nya!" ucap Dika sambil memberi hormat agak asal-asalan.
Vanesha cuma bisa geleng-geleng kepala sambil kembali mengambil dokumen di depannya. "Pergilah... sebelum saya berubah pikiran soal mempekerjakanmu," ucap Vanesha pelan, tapi di sudut bibirnya terselip senyum tipis yang hampir nggak kelihatan.
Dika berjalan mundur pelan-pelan ke arah pintu, lalu berdiri tegak di luar ruangan. "Wah, cantiknya minta ampun... tapi galaknya kayak macan dara yang kehilangan mangsa," gumam Dika sendiri sambil senyum-senyum.
Dan begitulah kisah mereka dimulai — seorang penjaga yang mulutnya nggak pernah diam, dan seorang bos cantik yang hobinya ngomel tapi hatinya sebenernya selembut sutra. Siapa yang tau nanti siapa yang bakal ditaklukin duluan?
Dika baru aja berdiri tegak di depan pintu ruangan itu, tangannya di belakang punggung, dada dibusungkan segede mungkin — berusaha kelihatan kayak penjaga paling andal sedunia. Tapi matanya nggak bisa diam, sesekali melirik ke arah Vanesha di balik meja gede itu. Dari luar kaca pintu, kelihatan jelas banget wanita itu sibuk nulis-nulis, muka serius, alis nyatu dikit — cantiknya nggak masuk akal, tapi aura dinginnya bikin AC ruangan kalah telak.
"Jangan natap terus... jangan natap... fokus jaga, Dika," gumam Dika pelan ke diri sendiri, lalu langsung tegap lagi kayak patung hidup.
Belum sepuluh menit berlalu, pintu ruangan terbuka pelan. Vanesha keluar, berjalan mendekat sambil memegang cangkir keramik cantik. Tatapannya jatuh tepat ke wajah Dika yang langsung senyum lebar tanpa dosa pas ketahuan natap.
"Kamu..." ucap Vanesha pelan tapi tegas, sambil menyodorkan cangkir itu ke arah Dika. "Beliin saya kopi di kafe lobi. Hitam, tanpa gula, panas. Jangan lama-lama, kopi dingin nanti saya dinginin kepalamu juga," sahut Vanesha cepat, matanya melotot dikit.
Dika langsung salam asal-asalan. "Siap, Nona Bos! Kopi hitam tanpa gula, panasnya segede semangat saya jagain Nona Bos! Nggak akan lama, kayak kilat!" jawab Dika semangat, langsung nyambar cangkir itu dan melesat pergi.
Lima menit kemudian Dika balik lagi, langkahnya terburu-buru naik lift, keluar, lalu jalan cepat mendekati pintu ruangan bos. Tangan kanannya pegang cangkir kopi, tangan kiri buka pintu — eh, nasib berkata lain. Kakinya nginjak ujung karpet tebal di depan pintu, badan oleng ke depan, dan tangan yang pegang kopi itu langsung terbang ke udara!
Pyar!
Kopi panas tumpah rata, mendarat mulus persis di dada jas putih mahal yang dipakai Vanesha — yang kebetulan lagi berdiri di depan pintu nunggu kopinya. Seketika noda cokelat pekat ngerendam jas putih bersih itu, kelihatan jelas banget nggak ada sisa.
Suasana langsung hening total. Dika melongo, mata melotot, mulut terbuka nggak bisa ngomong apa-apa. Vanesha diam aja, natap noda kopi di jasnya, lalu pelan-pelan natap Dika dari ujung kaki sampai ujung rambut. Aura dinginnya naik berkali-kali lipat, sampai bulu kuduk Dika berdiri serentak.
"Maaf... maaf banget, Nona Bos! Ini... ini kecelakaan murni! Karpetnya yang licik, dia sengaja jebak kaki saya!" jawab Dika panik, tangannya sibuk nyari tisu di saku — keluar tisu bekas permen, sapu tangan lusuh, nggak ada yang berguna.
Vanesha menarik napas panjang, lalu menghembus pelan tapi bunyinya berat banget. "Kamu tahu berapa harga jas ini?" tanya Vanesha pelan, suaranya rendah tapi bikin nyali siapa pun langsung lari ketakutan.
Dika menelan ludah susah payah, senyumnya jadi kaku. "Nggak... nggak tahu, Nona Bos. Tapi kalau harganya sepuluh ribu, saya bayar cicilan boleh?" sahut Dika sambil nyengir kuda panik.
"Sepuluh ribu? Jas ini harganya dua belas juta!" ucap Vanesha naik nada, matanya melotot sampai kelihatan marah banget.
Dika langsung kicep. Mulutnya terbuka tutup terbuka tutup kayak ikan kehabisan napas. "Dua... dua belas juta?!" jawab Dika lirih, hampir nggak kedengaran. "Nona Bos... jas itu sekarang udah punya corak abstrak lho. Unik, edisi terbatas, nggak ada yang punya. Boleh dibilang jadi lebih mahal sekarang!" ucap Dika sok bijak, berusaha selamatkan diri.
Vanesha mengepalkan tangan kuat-kuat, urat di lehernya nongol. "Kamu..." ucap Vanesha tertahan. "Masuk ke ruangan sekarang. Jangan lari. Kita selesaikan ini!" sahut Vanesha tegas, lalu berbalik masuk duluan.
Dika berdiri di tempat, menatap langit-langit gedung sambil meratapi nasib. "Baru hari pertama... baru jam sepuluh... dan utang saya udah nambah dua belas juta. Hidupku indah banget ya," gumam Dika pasrah, lalu melangkah masuk ke ruangan bos dengan langkah berat kayak orang naik ke tiang gantungan.
Pintu tertutup pelan di belakangnya. Dan di dalam sana, pertemuan pertama mereka yang sebenarnya baru aja dimulai — satu dengan muka merah padam nahan amarah, satu lagi dengan muka pasrah siap menerima hukuman apa pun asal nggak diusir.