Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup Zoey berubah menjadi mimpi buruk.
Di depan ratusan tamu undangan, sahabat yang paling ia percaya mengaku tengah mengandung anak calon suaminya.
Tak ingin keluarganya dipermalukan, Zoey melakukan sesuatu yang bahkan tak pernah terlintas di benaknya. Ia menarik tangan seorang pria asing yang kebetulan hadir sebagai tamu.
“Aku akan menikah dengannya.”
Pria itu adalah Damian, konglomerat tampan berusia tiga puluh delapan tahun yang dikenal dingin, berwibawa dan sulit didekati. Demi alasan masing-masing, mereka sepakat menjalani pernikahan tanpa cinta.
Namun, sesaat setelah resmi menjadi suami istri, Zoey dibuat syok oleh kenyataan yang sengaja tidak diberitahukan Damian. Pria itu adalah seorang duda dengan anak kembar berusia enam belas tahun.
Mampukah Zoey menaklukkan sang duda yang menutup hatinya sekaligus memenangkan hati kedua kembar nakalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 5
Sementara itu, di lantai atas.
Victor menutup pintu kamar Victoria rapat-rapat. Victoria sudah duduk santai di sofa sambil memainkan ponselnya, tetapi raut wajahnya menahan kekesalan tingkat tinggi.
“Kau tahu, Vic? Aku sangat tidak suka mama baru kita ini,” ucap Victor seraya menjatuhkan tubuhnya ke kursi gaming.
Victoria mendengus. ”Aku juga. Papa menikah tanpa meminta izin pada kita. Seolah-olah pendapat kita cuma angin lalu.”
Victor mengacak rambutnya frustrasi.
“Padahal baru tiga bulan lalu kita berhasil mengusir Tante Silvy! Dan sekarang muncul target baru.”
”Tante Silvy cuma bertahan dua minggu setelah kumasukkan katak hidup ke dalam tas Hermes-nya,” ucap Victoria tersenyum miring, mengenang masa kejayaannya. “Dan Tante Rina menyerah dalam tiga hari setelah kau mengganti krim malamnya dengan lem kertas.”
Keduanya saling berpandangan. Hingga tatapan di antara saudara kembar itu melahirkan sebuah ide yang sama.
Victor tersenyum jahil. “Bagaimana kalau kita usir dia juga? Kau kan otak kriminalnya. Kita buat dia tidak betah dan menangis angkat kaki dari rumah ini.”
“Target waktunya?” tanya Victoria dengan mata berbinar antusias.
“Satu bulan,” jawab Victor yakin. “Kalau dia menyerah sebelum satu bulan, kita menang.”
Keduanya saling bertukar high-five dengan senyum penuh kemenangan.
Mereka sama sekali tidak tahu, bahwa wanita yang baru saja mereka jadikan target bully itu bukanlah wanita sosialita manja yang mudah menangis.
Perang dingin antara ibu tiri berusia dua puluh tahun yang keras kepala, melawan dua remaja kembar paling usil di kota ini baru saja dimulai.
*****
Malam mulai larut.
Zoey berdiri mondar-mandir di dalam kamar utama yang super luas dan kini resmi menjadi kamarnya juga. Sesekali ia melirik pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat, tempat suaminya berada.
Jantungnya berdegup tak menentu. Otak cerdasnya yang biasanya mampu memecahkan masalah rumit dengan cepat, kini seolah buntu.
Bagaimanapun juga ini adalah malam pertama mereka sebagai suami istri!
Walaupun pernikahan kilat itu terjadi begitu mendadak demi menyelamatkan harga diri keluarga, tetap saja mereka telah sah di mata hukum dan agama.
“Aduh, kenapa aku malah gugup begini?” gumam Zoey pelan, merutuki dirinya sendiri.
Zoey mengusap kedua telapak tangannya yang mulai berkeringat dingin.
“Sadarlah, Zoey. Kau ini wanita modern, lulusan terbaik. Jangan bertingkah seperti gadis lugu di novel picisan yang ketakutan di malam pertama.”
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka.
Damian keluar hanya mengenakan kaus hitam polos yang pas menempel di badan dan celana panjang santai. Rambutnya masih sedikit basah, menyisakan butiran air yang menetes ke lehernya.
Penampilan kasual itu entah bagaimana membuat wajah tampannya terlihat jauh lebih muda dari usianya. Zoey refleks menoleh. Lalu, matanya membulat sempurna.
Rahang tegas. Bahu yang lebar. Serta dada bidang yang tercetak jelas di balik kaus tipis itu. Tubuhnya tinggi dan sangat proporsional. Tak ada sedikit pun kesan bapak-bapak yang telah berusia tiga puluh delapan tahun.
“Sial, kenapa tubuh pak duda ini sangat menggoda?” batin Zoey sembari menelan ludah dengan susah payah.
Zoey buru-buru menggeleng pelan, diam-diam mencubit lengannya sendiri.
“Tahan, Zoey, tahan! Kau tidak boleh melakukan hal bodoh. Ingat, dia ini suami dadakan yang sama sekali tidak punya perasaan padamu,” gumamnya.
Damian yang sejak tadi memperhatikan tingkah aneh istrinya, berjalan mendekat dengan langkah pelan.
“Ada apa?” tanyanya dengan suara bariton yang khas.
Zoey tersentak dan refleks mundur selangkah. “Hah?”
“Kenapa kau berkeringat? Suhu AC-nya kurang dingin?”
“Tidak, aku tidak apa-apa,” dusta Zoey cepat.
Damian mengangguk singkat, mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.
Zoey menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya memberanikan diri membuka suara. Ia harus memperjelas semuanya.
“Damian, soal malam ini... Apakah kita....”
“Tidak ada malam pertama.”
Kalimat Damian meluncur begitu saja. Datar, tajam, dan dingin. Seketika, bahu Zoey yang semula menegang langsung terkulai lemas.
“Maksudmu?”
“Kau jelas tahu bagaimana kita menikah. Jadi buang jauh-jauh pikiranmu itu, Zoey.” Nada suara pria itu tetap tenang, seolah sedang mendiskusikan cuaca.
“Lagipula, kau adalah putri dari sahabatku. Aku tidak ingin memanfaatkan keadaan ini, apalagi menyentuh wanita yang sama sekali tidak memiliki perasaan kepadaku.”
Kalimat itu secara harfiah terdengar seperti bentuk penghormatan seorang pria gentleman. Namun entah kenapa, di telinga Zoey justru terasa seperti penolakan yang amat telak.
Harga dirinya yang sejak pagi sudah diinjak-injak Arga, kini kembali terusik. Ego kewanitaannya meronta. Kesedihan dan kegugupannya langsung menguap, digantikan oleh kilatan tajam penuh kekesalan.
Zoey bukan wanita yang akan pasrah diremehkan begitu saja.
“Memangnya siapa yang berharap macam-macam dari pria kulkas sepertimu?!” sembur Zoey tiba-tiba, melipat kedua tangannya di depan dada dengan dagu terangkat menantang.
Damian menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut.
“Tadi aku hanya mau bilang, soal malam ini, tolong jangan melewati batas area ranjangku. Kau pikir aku mau disentuh oleh pria yang tidak aku cintai? Cih, jangan terlalu percaya diri, Tuan Damian!”
Melihat perlawanan sengit dari istri kecilnya, ada sedikit rasa geli di mata Damian, namun ia menyembunyikannya dengan raut datar.
“Bagus kalau kita sepaham.”
Zoey mendengus sebal. “Kalau begitu, kita tidur terpisah? Aku bisa tidur di sofa.”
Damian menggeleng. “Tidak.”
Zoey mengernyit. “Lalu?”
“Tidur di satu ranjang. Hanya tidur. Tidak lebih. Para pelayan akan curiga jika kita pisah ranjang di hari pertama pernikahan.”
Setelah mengucapkan titah mutlak itu, Damian berjalan ke sisi kiri ranjang, menyingkap selimut, lalu merebahkan tubuhnya.
Tak sampai beberapa detik, pria itu sudah membelakangi Zoey. Seolah pembicaraan mereka telah benar-benar selesai.
Zoey masih berdiri mematung di tempatnya. Matanya berkedip beberapa kali.
Sejak tadi ia sudah membuang waktu di depan cermin untuk tampil serapi mungkin. Nyatanya, Damian sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan.
Bahkan meliriknya lebih lama pun tidak!
Zoey mendengus pelan, menatap punggung suaminya dengan kesal.
“Dasar pria aneh. Apa aku benar-benar tidak menarik di matanya? Liat saja nanti, suatu saat akan aku buat kau bertekuk lutut memohon padaku, Damian!” batinnya.
dia cuman bingung mesti berbuat apa pas ada yg merhatiin
ini mekanisme perlindungan diri ,kalau 🥹🥹
andaikan
jaga jga hatinya sakit kalau nanti udah nyaman malah ditinggal lagi
Yang kuat Zoey, jangan sampe kamu yang sakit karna ngurusin orang2 yang sakit hatinya gede pula gengsinya.
Ayo.Zoey taklukan Victoria
ini Baru sarapan pagi
belum nanti malam
tiba tiba ribut lgi 🤣🤣🤭🤭
mulai rebutan perhatian zoey
belum nanti victoria