Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kata Yang Tak Sampai
Di Kota J pada pertengahan era 90-an, kehidupan terasa jauh lebih sederhana. Belum ada ponsel pintar yang membuat orang menunduk di jalanan, belum ada media sosial yang membuat orang sibuk memoles citra diri. Hiburan anak muda saat itu berkisar pada menyewa komik di taman bacaan, bermain *dingdong* dengan koin cepekan, atau mendengarkan sandiwara radio sambil mengumpulkan kupon permen Yosan yang huruf 'N'-nya tidak pernah ketemu sampai kiamat. Di kota yang tenang dengan angkot-angkot yang memutar lagu-lagu Nike Ardilla dari *tape* mobil yang suaranya pecah itulah, kisah cinta pertama Reza bermula.
Reza adalah tipikal remaja SMP pada umumnya. Rambutnya dibelah tengah, mati-matian meniru gaya Jimmy Lin atau Andy Lau meski hasil akhirnya lebih mirip gorden warteg yang tertiup angin. Sepatunya selalu model *warrior* hitam yang bagian belakangnya diinjak agar terlihat seperti anak bandel yang keren. Namun, di balik penampilannya yang sok jagoan, Reza menyimpan satu kelemahan terbesar yang sudah bersarang di hatinya sejak ia masih berseragam merah-putih di bangku Sekolah Dasar. Kelemahan itu bernama Chintya.
Chintya adalah seorang gadis keturunan Tionghoa, teman sekelas Reza sejak kelas 4 SD yang kini berlanjut hingga mereka duduk di kelas 2 SMP. Orang tua Chintya, Koh Aseng dan Ci Mey-Mey, adalah pemilik Toko Kelontong "Sinar Makmur" yang legendaris di ujung jalan komplek. Toko itu menjual segala macam benda, mulai dari beras, telur, sabun colek, buku tulis bersampul cokelat, hingga tamiya rakitan dan *Anak Mas* rasa keju yang bumbunya selalu dijilat sampai bersih oleh anak-anak SD.
Bagi Reza, Chintya bukanlah gadis pada umumnya. Saat anak-anak perempuan lain di kelas mulai sibuk mengumpulkan kertas surat *Harvest* yang wangi atau bermain lompat tali karet, Chintya lebih suka nongkrong di lapangan tanah merah, ikut bermain kelereng, atau beradu layangan putus dengan anak-anak laki-laki. Chintya adalah definisi tomboy sejati. Rambutnya yang hitam legam sebahu jarang sekali disisir rapi, seringkali hanya diikat asal-asalan dengan karet gelang bekas bungkus nasi uduk. Di lututnya, nyaris selalu ada plester luka bergambar kartun—bukti bahwa ia baru saja jatuh saat main bola plastik.
Reza jatuh cinta pada Chintya pada pandangan pertama saat lomba balap karung peringatan 17 Agustus di kelas 5 SD. Saat itu, Chintya jatuh terguling-guling, hidungnya belepotan debu lapangan. Namun, alih-alih menangis, gadis itu malah tertawa terbahak-bahak sambil mengusap ingus dan debu di wajahnya dengan punggung tangan, menyisakan coretan tanah di pipinya bak pejuang yang baru pulang dari medan perang. Di mata Reza yang saat itu masih bau matahari, senyum nyengir Chintya dengan satu gigi seri yang sedikit gingsul adalah pemandangan paling indah di dunia.
Masalahnya, membuat Chintya peka terhadap perasaan romantis sama sulitnya dengan mencari lirik lagu rap Iwa K yang bisa dinyanyikan tanpa keseleo lidah. Radar asmara di kepala Chintya sepertinya sudah korslet sejak lahir, atau mungkin tertukar dengan insting bisnis sang ayah.
"Chin, lo nggak capek apa main bola mulu sama anak cowok?" tegur Reza suatu sore di depan Toko Kelontong Sinar Makmur. Reza saat itu sengaja nongkrong di sana, berpura-pura minum es mambo padahal niat aslinya cuma ingin memandangi Chintya yang sedang asyik memindahkan tumpukan kardus mi instan.
Chintya mengelap keringat di dahinya dengan handuk kecil yang dikalungkan di leher. "Capek sih, tapi seru. Lagian, cowok-cowok di kelas kita mainnya pada cemen, Za. Kemarin aja si Budi gue tekel dikit langsung nangis ngadu ke emaknya. Lo juga, kalau diajak main bola pasti banyak alasan, takut sepatu lo lecet kan?" ledek Chintya, matanya menyipit jenaka.
Reza menelan ludah, merasa gengsinya sedikit tergores. "Bukan takut lecet, Chin. Gue kan vokalis band, harus menjaga penampilan. Anak band itu mainnya gitar, bukan nendang bola plastik."
"Halah, bokis lo! Chord 'Kangen'-nya Dewa 19 aja lo masih sering *fals*, apanya yang anak band?" balas Chintya tanpa ampun. Gadis itu lalu melemparkan sebungkus permen karet ke arah Reza. "Nih, tangkap. Daripada lo ngoceh garing, mending lo bantuin gue angkat ini karung gula. Kalau beres, gue kasih diskon beli Tamiya."
Di situlah komedi romantis hidup Reza berputar. Demi cinta, Reza rela beralih profesi dari 'anak band kece' menjadi 'kuli panggul dadakan' di Toko Sinar Makmur. Koh Aseng bahkan sudah hafal dengan kedatangan Reza. *"Haiya, Reza! Lu ini rajin betul main ke mari. Kalau lu gede nanti, lu bisa kerja di toko Oom jadi kepala gudang!"* kata Koh Aseng suatu hari dengan logatnya yang kental, membuat Chintya tertawa ngakak sementara wajah Reza memerah seperti kepiting rebus.
Berbagai taktik telah Reza coba untuk membuat gadis tomboy itu menyadari perasaannya. Suatu kali, Reza yang sedang dimabuk asmara memutuskan untuk menulis surat cinta. Ia meminjam kertas surat paling wangi milik adik perempuannya, kertas berwarna biru muda dengan gambar beruang yang sedang memeluk hati merah besar. Dengan tulisan tangan yang sengaja dimiring-miringkan agar terlihat seperti kaligrafi (meski kenyataannya lebih mirip cakar ayam yang sedang kejang), Reza menulis puisi cinta yang ia contek dari majalah *Anita Cemerlang*.
*Untuk Chintya yang matanya seindah bintang Kejora,*
*Meski kau sering bau matahari, tapi di hatiku kau adalah mawar berseri.*
*Dari: R. (Pengagum Rahasiamu yang selalu menunggumu di depan etalase sabun).*
Reza menyelipkan surat itu secara diam-diam ke dalam buku tugas Biologi milik Chintya. Ia mengharapkan reaksi dramatis; Chintya yang tersipu malu, menatap ke arahnya dengan pandangan lembut, lalu mungkin mengedipkan mata.
Kenyataannya? Keesokan harinya, saat istirahat pertama, Chintya menghampiri meja Reza dengan wajah bersungut-sungut. Ia membawa selembar kertas biru bergambar beruang. Hati Reza berdebar tak karuan. *Ini dia,* batinnya, *momen pengakuannya.*
Dengan kasar, Chintya mengebrak meja Reza. "Za! Lo kalau mau ngasih contekan rumus Fisika mbok ya yang bener dikit! Gue kira ini kertas apaan wangi-wangi di buku gue, gue buka isinya malah puisi nggak jelas. Mana tulisannya kayak sandi rumput Pramuka lagi! Gue hampir aja disetrap Pak Yanto gara-gara buka ini pas ulangan, dikira gue bawa contekan! Lagian siapa sih R ini? Romi anak 2C yang ingusan itu?!"
Reza menepuk jidatnya keras-keras. Hancur sudah usahanya. "Itu... bukan contekan, Chin. Itu... salah masuk buku kayaknya," kilah Reza dengan suara serak, mengutuk kebodohan gadis di depannya yang tidak bisa membedakan antara puisi cinta roman picisan dengan rumus gaya gravitasi Newton.
Upaya kedua dilakukan beberapa bulan kemudian. Reza membuatkan sebuah *mixtape*—kaset pita hasil rekaman dari siaran radio yang berisi lagu-lagu romantis pilihan. Ada lagu dari KLa Project, Boyz II Men, dan tentu saja "Kangen" dari Dewa 19. Reza menghabiskan waktu berjam-jam begadang di depan radio *compo* kamarnya, menunggu penyiar memutar lagu yang tepat, lalu dengan sigap menekan tombol *record* dan *play* secara bersamaan. Terkadang ada suara penyiar radio yang ikut terekam di awal atau akhir lagu, tapi bagi Reza, itu justru menambah kesan *indie* dan otentik.
Reza memberikan kaset tanpa sampul itu kepada Chintya saat mereka pulang sekolah bersama. "Chin, ini ada kaset lagu-lagu bagus. Dengerin deh kalau lo lagi santai. Biar lo tahu selera musik gue tuh tingkat dewa."
Chintya menerimanya dengan kening berkerut, tapi tersenyum kecil. "Tumben lo baik. Oke deh, *thanks* ya, Za!"
Seminggu berlalu dengan penuh harap. Setiap kali bertemu Chintya, Reza menunggu gadis itu memuji lagu-lagunya, atau setidaknya membahas lirik romantis di dalamnya. Namun, Chintya diam saja. Akhirnya, Reza yang tak sabar memutuskan untuk bertanya.
"Gimana kaset dari gue, Chin? Bagus kan lagunya? Lo paling suka yang mana?" tanya Reza dengan dada dibusungkan.
Wajah Chintya mendadak berubah cerah, matanya berbinar. "Oh, kaset yang kemarin! Sumpah Za, kaset lo itu penyelamat hidup gue banget!"
Hati Reza membumbung tinggi ke langit ketujuh. *Yes! Dia akhirnya sadar!* pikirnya.
"Gue kemarin pengen banget ngerekam *soundtrack*-nya Satria Baja Hitam RX yang baru di TV, tapi kaset kosong gue abis semua," lanjut Chintya dengan antusias yang berapi-api. "Terus gue inget lo ngasih kaset itu! Langsung aja gue timpa rekamannya, Za! Sekarang gue bisa dengerin lagu Kotaro Minami tiap mau tidur! Lo emang temen gue yang paling *the best*!"
Duar. Jika di dalam kartun, saat itu pasti ada gambar petir menyambar kepala Reza hingga gosong. Lagu "Kangen" yang direkamnya dengan susah payah telah dilindas habis oleh lagu *Kimi wa Hikari, Kimi wa Hikari* dari Ksatria Baja Hitam. Reza hanya bisa tertawa getir, tawanya kering seperti daun kemarau. "Sama-sama, Chin. Sama-sama..." batinnya menangis.
Masa SMP mereka diisi dengan dinamika seperti itu. Reza dengan kode-kode kerasnya yang memantul kembali, dan Chintya dengan ketidakpekaannya yang setebal tembok China. Meski tidak pernah mendapatkan balasan romantis, Reza bahagia. Berada di dekat Chintya, digoda oleh gadis itu, menemaninya menjaga toko, semua itu menjadi rutinitas yang menyembuhkan. Bagi Reza, Chintya adalah matahari di kota J yang hangat dan penuh warna.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa tahun 1998 akan menjadi tahun yang mengubah segalanya.
Awalnya, perubahan itu tidak terlalu kentara bagi anak-anak SMP seperti mereka. Semua bermula dari berita-berita di televisi tabung yang membahas jatuhnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar. Orang dewasa mulai sering berbisik-bisik dengan wajah tegang. Di sekolah, guru-guru sering rapat mendadak dan pulang lebih awal. Kata "Krisis Moneter" atau "Krismon" menjadi hantu baru yang menakutkan, melebihi cerita hantu suster ngesot.
Dampak Krismon menghantam keras Toko Sinar Makmur. Harga beras, minyak, dan susu naik gila-gilaan, hampir dua sampai tiga kali lipat dalam hitungan minggu. Toko Koh Aseng yang biasanya penuh dengan canda tawa pelanggan, kini dipenuhi oleh antrean panjang ibu-ibu berwajah panik yang mencoba memborong sembako sebelum harganya naik lagi besok pagi.
Reza melihat perubahan pada diri Chintya. Gadis tomboy yang ceria itu perlahan kehilangan tawanya. Sepulang sekolah, ia tidak lagi mampir ke lapangan untuk bermain bola atau menyusun Tamiya. Chintya langsung berlari pulang, mengganti seragamnya dengan kaos oblong usang, dan membantu orang tuanya melayani pelanggan yang seringkali marah-marah karena harga barang yang melambung tinggi.
Sore itu, Reza datang ke toko. Suasananya sepi, sebagian besar barang di rak sudah kosong. Koh Aseng duduk di balik meja kasir dengan pandangan kosong, tangannya memutar-mutar sempoa tanpa tujuan. Chintya sedang duduk di pojok toko, menempelkan *price tag* baru pada kaleng-kaleng susu dengan tangan gemetar.
"Chin..." panggil Reza pelan.
Chintya mendongak. Mata gadis itu merah, pertahanan tomboy-nya seakan runtuh. "Harga gula naik lagi, Za. Tadi ada ibu-ibu langganan kita nangis karena nggak sanggup beli susu buat bayinya. Papa juga bingung mau kulakan barang pakai uang dari mana. Semua distributor minta bayar kontan, nggak bisa kasbon lagi."
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Reza tidak tahu harus melontarkan lelucon apa. Ia mendekat, lalu dengan kaku menepuk bahu Chintya. "Sabar, Chin. Ini pasti cuma sementara. Nanti juga normal lagi. Negara kita kan kuat." Ucapan klise yang bahkan Reza sendiri tidak yakin kebenarannya.
Sayangnya, situasi tidak membaik. Memasuki bulan Mei 1998, suasana berubah dari sulit menjadi mencekam. Isu tentang demonstrasi, kerusuhan, dan penjarahan mulai terdengar sampai ke Kota J. Ketegangan etnis mulai dipolitisasi. Orang-orang di pasar mulai berbisik, menatap Toko Sinar Makmur dengan pandangan yang berbeda. Tidak ada lagi sapaan ramah; yang ada hanya tatapan curiga dan hawa panas yang siap meledak.
Puncaknya terjadi pada suatu hari Jumat yang kelabu. Sekolah diliburkan mendadak. Reza yang sedang berada di rumah mendengar kabar dari tetangganya bahwa mulai terjadi kerusuhan di beberapa titik pusat perbelanjaan di Kota J. Beberapa toko dirusak dan dijarah.
Jantung Reza berdegup kencang seolah mau lepas dari tulang rusuknya. Pikirannya hanya tertuju pada satu nama: Chintya.
Dengan nekat, Reza mengayuh sepeda balapnya sekuat tenaga menerobos jalanan yang mulai kacau. Beberapa orang berlarian membawa barang-barang, asap hitam mulai membubung di kejauhan, bau ban terbakar menyesakkan dada. Reza tidak peduli. Ia mengayuh pedal pedanya seperti orang kesetanan menuju Toko Sinar Makmur.
Sesampainya di sana, napas Reza tercekat. Toko legendaris itu sudah ditutup rapat. Pintu lipat besinya digembok tiga lapis, dan beberapa lembar seng serta kayu dipaku menyilang di bagian depannya untuk menahan dobrakkan. Di depan toko, sebuah mobil *kijang* boks sudah menyala mesinnya. Koh Aseng, Ci Mey-Mey, dan Chintya sedang tergesa-gesa memasukkan beberapa koper besar ke dalam mobil.
Reza melempar sepedanya begitu saja dan berlari menghampiri. "Chintya!" teriaknya dengan napas tersengal.
Chintya yang baru saja mengangkat koper terakhir menoleh. Wajah gadis itu pucat pasi, matanya sembab sisa menangis, namun tidak ada air mata yang menetes saat itu. Ia tampak tegar, meski bahunya bergetar hebat.
"Za... ngapain lo ke sini? Bahaya! Di luar lagi kacau!" tegur Chintya setengah membentak.
"Kalian mau ke mana?" suara Reza bergetar. Hatinya mencelos melihat koper-koper itu.
Koh Aseng yang wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua dari biasanya menepuk bahu Reza. "Oom dan Tante harus pergi, Reza. Kondisi sudah tidak aman buat kami di sini. Kami akan berangkat ke bandara sekarang, ke Jakarta, lalu terbang ke rumah kakek Chintya di Guangzhou, Cina. Kami harus menyelamatkan keluarga, Nak."
Dunia Reza seakan berhenti berputar. Cina? Negeri yang letaknya entah berapa ribu kilometer jauhnya dari Kota J.
"Tapi... tapi toko gimana, Oom? Terus sekolah Chintya?" tanya Reza kebingungan, menolak menerima kenyataan.
"Sekolah bisa dicari, Za. Nyawa cuma satu," jawab Chintya dengan suara parau. Ia berjalan mendekati Reza, menatap mata pemuda tanggung itu dalam-dalam. "Gue harus pergi, Za."
Suara klakson mobil ditekan dari dalam oleh Koh Aseng. *Cepat, Chin!* teriaknya. Waktu tidak berpihak pada mereka.
Reza ingin mengatakan banyak hal. Ia ingin berteriak bahwa ia mencintai gadis itu sejak debu menempel di hidungnya saat kelas 5 SD. Ia ingin meralat soal kaset *mixtape* dan surat puisi beruang biru. Ia ingin menahan tangan Chintya dan memintanya tetap tinggal. Namun, mulut Reza terkunci rapat oleh rasa takut kehilangan dan situasi yang begitu memilukan. Ia hanya bisa menatap Chintya dengan mata berkaca-kaca.
Melihat Reza yang mematung menahan tangis, Chintya tersenyum tipis—senyum gingsul yang selalu jadi favorit Reza. Dengan cepat, gadis itu merogoh saku celana *jeans*-nya dan mengeluarkan sebuah benda kecil. Ia meraih tangan kanan Reza dan meletakkan benda itu di telapak tangannya.
"Ini," kata Chintya pelan. "Kelereng jagoan gue waktu SD. *Gacoan* paling sakti yang nggak pernah kalah."
Reza menunduk, melihat sebuah kelereng kaca bening dengan motif pusaran warna biru dan merah di tengahnya.
"Gue titip ini sama lo, Za," lanjut Chintya, suaranya kini terdengar bergetar menahan tangis. "Kalau lo rindu, atau kalau lo mau nulis puisi norak lagi... lo lihat aja kelereng ini. Tapi awas aja kalau lo nangis. Cowok cengeng itu nggak keren, tahu."
Satu tetes air mata akhirnya lolos dari pelupuk mata Reza, jatuh tepat mengenai kelereng tersebut. Chintya menepuk pipi Reza dengan lembut—sebuah sentuhan pertama dan terakhirnya yang terasa begitu hangat—lalu berbalik berlari masuk ke dalam mobil.
Pintu mobil dibanting tertutup. Mesin meraung, dan mobil *kijang* itu pun melaju pergi, membelah jalanan Kota J yang berselimut abu dan kepanikan, semakin jauh, semakin kecil, hingga akhirnya menghilang di balik tikungan.
Reza berdiri sendirian di depan sisa-sisa toko kelontong Sinar Makmur, menggenggam kelereng itu erat-erat di dadanya seakan benda kecil itu adalah jantungnya yang tertinggal. Bau ban terbakar mengudara, namun yang tersisa di ingatan Reza hanyalah aroma sabun colek dan debu lapangan dari sosok gadis tomboy pujaan hatinya yang kini sedang dibawa terbang menjauh, melintasi samudera.
Di tengah hiruk-pikuk kerusuhan 1998 yang kelam, satu janji tanpa suara terucap di batin pemuda belasan tahun itu. *Tunggu aku, Chin.*
**(Bersambung...)**