NovelToon NovelToon
Song Qian

Song Qian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Reinkarnasi / Akademi Sihir / Romansa / Ahli Bela Diri Kuno / Xianxia
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Song Qian adalah keturunan Dewa Leluhur Qing Tian yang lahir dari Menara Qian Kun setelah Tiga Alam diciptakan pada 70 ribu tahun yang lalu. Kelahirannya dianggap sebagai berkah bagi Tiga Alam. Song Qian berguru kepada Qian Gu untuk menguasai tiga elemen kekuatan semesta yang sudah ia miliki sejak lahir.

Namun, Qian Gu dan Song Qian tidak tahu apa saja rintangan yang akan menghampiri mereka di masa depan. Seiring berjalannya waktu, mereka berdua mulai jatuh cinta. Banyaknya rintangan membuat mereka harus berjuang bersama-sama untuk terus bersatu dan melindungi Tiga Alam bersama dengan Dewa Agung lainnya serta melindungi cinta di hati mereka.

Apakah Song Qian dan Qian Gu dapat mencapai tujuan mereka untuk melindungi Tiga Alam sekaligus cinta di hati mereka atau mereka harus mengorbankan segalanya untuk memberikan kedamaian bagi Tiga Alam? Ikuti terus kisahnya!

Dilarang menjiplak novel ini!!!

IG : @bellakristyc_
E-mail : bellakristyc@gmail.com

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hukuman Mahadewa dan Pengakuan Sang Raja

Perisai Teratai Es dan Pembalasan Dendam Zhao Biao

"Panah mereka! Panah penyihir dan jenderal pengkhianat itu sampai tak tersisa!" jerit Menteri Perang Zhao Biao histeris dari balik barisan perisai baja. Suaranya serak dan melengking gila, dipenuhi ketakutan luar biasa tatkala melihat fenomena cahaya keemasan yang membumbung tinggi dari tubuh Song Qian dan Putri Gu Qian.

Atas perintah murka tersebut, ribuan prajurit Pengawal Zirah Hitam memutar busur panah mereka.

TWANG! TWANG! TWANG!

Suara sentakan ribuan tali busur bergema membahana membelah udara pagi Kota Jing'an. Dalam sekejap mata, langit di atas Lapangan Algojo berubah menjadi gelap.

Ribuan anak panah berujung besi tajam meluncur deras dari segala arah bagaikan hujan meteor kelam, meluncur turun mengincar dua sosok yang berdiri di atas panggung kayu eksekusi.

Rakyat Kota Jing'an yang menonton dari kejauhan menjerit ketakutan, menutupi mata mereka karena tak sanggup menyaksikan akhir tragis dari sang jenderal pahlawan dan sang putri terbuang.

Namun, di tengah kepungan ribuan mata panah yang membunuh tersebut, Song Qian dan Putri Gu Qian sama sekali tidak mengedipkan mata.

Song Qian melangkah satu tapak ke depan, membentengi tubuh Gu Qian di belakang punggungnya. Meskipun ingatan dewa purbanya belum terkuak sepenuhnya di dalam pikiran fananya, rasa cinta murni dan dorongan jiwa pelindung yang membara di dadanya memicu ledakan reaksi alami pada Tiga Elemen Semesta yang mengalir di dalam darahnya.

Di saat yang sama, Qian Gu yang telah pulih penuh sebagai Mahadewa Semesta melalui ingatan jiwanya, mengangkat tangan kirinya dengan sangat gemulai.

"Sihir Mahadewa, Perisai Teratai Es Murni!" tutur Qian Gu halus, suaranya merdu bagaikan seloka surgawi yang menggetarkan seluruh angkasa.

"Tiga Elemen Semesta, Penyatuan Api dan Petir!" seru Song Qian membahana.

BUMMMMMMMMMMMMMM!

Dua kekuatan suci teragung di semesta menyatu sempurna di udara.

Dari telapak tangan Qian Gu, mengembang sekelopak Bunga Teratai Es Murni raksasa bercahaya kebiruan yang melingkupi seluruh panggung eksekusi.

Dan dari dalam tubuh Song Qian, menyembur kobaran Api Surgawi berwarna merah keemasan serta kilatan Petir Emas yang meliuk-liuk liar membungkus setiap lembar kelopak es tersebut.

Kubah pelindung raksasa, Perisai Teratai Tiga Elemen, membakar dan membekukan udara di sekeliling panggung.

CRASH! CRASH! BUM! BUM! BUM!

Ribuan anak panah besi yang menghantam permukaan Perisai Teratai seketika mengalami kehancuran yang mengerikan.

Sebagian anak panah membeku menjadi icicle es lalu hancur berkeping-keping, sebagian lagi terbakar menjadi abu keemasan sebelum sempat menyentuh satu milimeter pun dari kubah pelindung mereka.

Hanya dalam hitungan lima detik, ribuan anak panah musnah tanpa menyisakan sebatang pun di tanah.

"D-Dewa... Ini adalah mukjizat Dewa!" jerit puluhan prajurit Pengawal Zirah Hitam ketakutan.

Senjata-senjata besi di tangan para prajurit terlepas dan jatuh berdenting di atas tanah batu. Ratusan prajurit dan ribuan rakyat Kota Jing'an seketika bersujud di atas tanah lumpur, menundukkan kepala mereka penuh rasa hormat dan takjub yang mendalam di hadapan keagungan pendar cahaya Song Qian dan Gu Qian.

Melihat ribuan prajuritnya bersujud dan kehilangan nyali bertarung, wajah Menteri Zhao Biao seketika berubah pucat seputih mayat. Tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin membasahi seluruh zirahnya.

"M-Monster! Kalian berdua adalah monster penyihir!" jerit Zhao Biao gila.

Sadar bahwa posisinya telah terdesak di ujung jurang, kebencian dan keserakahan di dalam dada Zhao Biao meledak gila. Pria setengah baya itu merogoh balik jubah zirahnya, menarik keluar sebilah belati hitam legam bertatahkan batu rahasia, Belati Jiwa Hitam, artefak terkutuk yang diberikan oleh utusan suku Iblis di Lembah Tengkorak.

"Mati kau, Song Qian!" jerit Zhao Biao melompat gila, mengarahkan belati beracun itu lurus mengincar dada Song Qian dari jarak dekat!

Namun, sebelum Zhao Biao sempat melangkah tiga tapak...

Qian Gu mengibaskan pergelangan tangan kirinya secara anggun.

CRASH!

Seberkas pendar cahaya es murni meluncur cepat bagai kilat, menghantam pergelangan tangan Zhao Biao hingga belati hitam itu terlempar ke udara dan hancur berkeping-keping di lantai batu.

Sebelum Zhao Biao sempat menjerit kesakitan, Song Qian telah melesat membumbung tinggi bagaikan petir emas.

Dengan kecepatan refleks luar biasa, Song Qian mencengkeram erat leher Menteri Zhao Biao, memutar tubuhnya, dan menghantamkan tubuh sang menteri culas itu secara telak ke atas tanah di depan panggung.

BUM!

"Uhhuk!" Zhao Biao memuntahkan darah segar, terbaring terlentang tak berdaya dengan lutut Song Qian yang menekan kuat dadanya.

Tiba-tiba, dari arah jalan utama istana, suara derap kereta kerajaan dan pengawal kehormatan bergema nyaring.

Raja Jing yang bergaun keemasan bersama Ibu Suri Meng dan puluhan menteri senior bergegas turun dari kereta dengan raut wajah yang dipenuhi rasa panik, cemas, dan takjub luar biasa tatkala menyaksikan pendar cahaya pelangi yang masih membumbung di atas Lapangan Algojo.

"Ada apa ini?! Apa yang terjadi di Lapangan Algojo?!" seru Raja Jing dengan suara bergetar.

Song Qian mendongak, menatap sang raja dengan pendar mata yang amat tegas dan bernada intimidasi murni. Song Qian menarik tubuh Zhao Biao dan melemparkannya tepat di depan kaki Raja Jing.

"Yang Mulia Raja!" tegas Song Qian lantang. "Orang yang selama ini kalian percaya sebagai menteri setia... sejatinya adalah pengkhianat terbesar Kerajaan Jing yang telah menjual jiwanya pada suku Iblis!"

"A-Apa?!" jerit Ibu Suri Meng terperanjat kaget.

Zhao Biao yang ketakutan mencoba memfitnah kembali. "Bohong! Yang Mulia, jangan dengarkan ucapan jenderal gila ini! Hamba adalah menteri yang sangat setia pada takhta Kerajaan Jing!"

Qian Gu melangkah turun secara anggun dari panggung kayu. Setiap pijakan kakinya di atas tanah batu memunculkan jejak Bunga Teratai Es yang mekar cantik.

Keagungan dan pendar aura Mahadewa yang memancar dari tubuh Qian Gu membuat Raja Jing dan seluruh menteri senior secara refleks membungkukkan tubuh mereka penuh rasa takut dan hormat.

"Kebenaran tidak bisa ditutupi oleh mulut manis manusia pembangkang," tutur Qian Gu dengan suara keagungan yang menggetarkan jiwa.

Qian Gu mengangkat jari lentiknya, mengarahkan pendar Mata Batin Mahadewa lurus ke kening Zhao Biao.

SRRRRRR!

Seketika, sebuah proyeksi cermin spiritual raksasa memancar membumbung di atas langit Lapangan Algojo.

Di dalam cermin spiritual tersebut, terekam secara jelas dan nyata seluruh ingatan kelam Zhao Biao saat ia menemui utusan bertopeng suku Iblis di Paviliun Istana Barat, saat ia menerima suapan batu darah, saat ia memalsukan surat eksekusi mati Putri Gu Qian, hingga rencana tersembunyinya untuk meracuni Raja Jing setelah perbatasan utara runtuh.

Seluruh rakyat, prajurit, dan menteri kerajaan menyaksikan bukti nyata pengkhianatan tersebut dengan mata kepala mereka sendiri.

"Cermin... Cermin Penglihatan Jiwa?!" jerit para menteri senior gemetar hebat.

Raja Jing melotot lebar, mukanya memerah membara oleh amarah yang teramat sangat. Pria paruh baya itu mencabut pedang pengawal di sampingnya, lalu menunjuk wajah Zhao Biao yang gemetar ketakutan di atas tanah.

"Zhao Biao! Kau... kau penjahat tak tahu diri!" bentak Raja Jing dengan suara membahana. "Berani-beraninya kau memanipulasi takhtaku dan mencoba membunuh pahlawan teragung Kerajaan Jing!"

Ibu Suri Meng menutupi wajahnya dengan lengan jubahnya, pucat pasi oleh rasa malu dan penyesalan mendalam karena telah terperangkap oleh kelicikan Zhao Biao.

"Pengawal!" bentak Raja Jing murka. "Tanggalkan seluruh pakaian dan kebangsawanan Zhao Biao! Seret dia ke Penjara Terlarang Istana dan hukum pancung seluruh eksekutornya esok pagi!"

"Ampun, Yang Mulia! Ampunkan hamba!" jerit Zhao Biao histeris saat belasan prajurit menyeretnya dengan kasar keluar dari Lapangan Algojo.

Setelah penjahat istana itu diseret pergi, keheningan yang penuh rasa hormat kembali menyelimuti Lapangan Algojo.

Raja Jing melangkah maju mendekati Song Qian dan Putri Gu Qian. Sang raja melepaskan mahkota keemasannya, lalu membungkukkan tubuhnya dalam-dalam di hadapan dua sosok pelindung tersebut.

"Jenderal Song Qian... Putri Gu Qian..." tutur Raja Jing dengan nada suara yang amat tulus dan bergetar penyesalan. "Maafkan kebutaan dan kekhilafan takhtaku yang hampir merenggut nyawa kalian berdua... Kalian bukan hanya pahlawan perang, melainkan pelindung sejati seluruh rakyat Kerajaan Jing!"

Raja Jing menegakkan badannya, lalu mengumumkan keputusannya di hadapan seluruh rakyat Kota Jing'an.

"Mulai hari ini! Nama Putri Gu Qian secara resmi dibersihkan dari seluruh tuduhan! Ia diangkat menjadi Putri Utama Kerajaan Jing dengan otoritas tertinggi! Dan Jenderal Song Qian dianugerahi gelar Panglima Perang Abadi yang memegang kesetiaan penuh militer kerajaan!"

HURA! HURA! HURA!

Sorak-sorai gembira puluhan ribu rakyat membumbung tinggi menembus awan pagi Kota Jing'an. Pesta kemenangan yang sesungguhnya akhirnya merekah dengan penuh kedamaian dan kebahagiaan.

Matahari pagi mulai memancarkan kehangatan sinarnya di atas taman Istana Leng Guang yang kini telah dibersihkan dan dihiasi oleh bunga-bunga surgawi.

Song Qian dan Qian Gu berdiri berdampingan di bawah naungan pohon Bunga Plum tua yang mekarnya kian cantik. Angin lembut membelai jubah putih mereka, menyebarkan aroma harum ke seluruh pelataran.

Song Qian memandang tangan kanannya sendiri, lalu berpaling menatap paras cantik gurunya dengan senyuman hangat paling cerah di paras tampannya.

Meskipun ingatan dewa purbanya belum sepenuhnya terurai di dalam pikiran fananya, rasa cinta, kehangatan, dan ikatan jiwa yang dirasakannya terhadap Qian Gu terasa begitu utuh dan tak tergoyahkan.

"Kak Qian Gu..." sebut Song Qian lembut, melangkah satu tapak merapatkan jarak di antara mereka. "Meskipun aku masih belum sepenuhnya memahami seluruh keajaiban dan masa lalu kita... yang kutahu pasti adalah: di mana pun kita berada, jiwaku akan selalu memilih untuk melindungimu."

Qian Gu menatap lurus ke dalam manik mata jernih muridnya. Senyuman paling indah dan menawan, senyuman yang kini sarat akan kehangatan Bibit Perasaan yang bertunas utuh, terkembang di bibirnya.

Qian Gu mengulurkan tangannya, menggenggam erat jemari Song Qian seraya berbisik merdu, "Dan aku akan selalu berada di sisimu, Song Qian... mengarungi setiap takdir yang membentang di hadapan kita."

Namun, tepat di saat kehangatan dan kedamaian merekah di antara mereka berdua...

BZZZZZZZT!

Sebuah getaran gaib yang amat dingin dan berbau amis mendadak meretakkan dasar tanah di bawah pelataran Istana Leng Guang.

Getaran tersebut memancar langsung dari arah Balai Leluhur Kerajaan Jing yang terletak di pusat istana bawah tanah.

Pendar aura hitam pekat bercampur warna merah darah merembes keluar dari celah-celah ubin batu, memancarkan bau miasma purba yang amat dikenal oleh Qian Gu.

Qian Gu dan Song Qian mendongak seketika, raut wajah mereka kembali berubah sangat tegang.

"Hawa ini..." desis Qian Gu dengan pandangan mata yang membeku dingin. "Segel purba yang mengurung Iblis Darah Purba di dasar Balai Leluhur Kerajaan ini... telah retak akibat tumpahan sihir racun milik Zhao Biao!"

Song Qian mengepalkan tangannya rapat-rapat, pendar Tiga Elemen Semesta di dadanya kembali membara hebat. Ujian mereka di dunia fana belum usai, ancaman kegelapan yang sesungguhnya yang tersembunyi di dalam sejarah Kerajaan Jing baru saja memperlihatkan taringnya.

Ancaman terlarang di Balai Leluhur Kerajaan Jing. Monster Iblis Darah Purba yang terlelap puluhan ribu tahun di dasar bumi istana bangkit menuntut kurban darah.

Bagaimanakah cara Song Qian dan Qian Gu menembus tempat keramat kerajaan untuk menyegel kembali monster iblis tersebut sebelum seluruh Kota Jing'an berubah menjadi lautan darah?

Bersambung........

Halo semuanya, terima kasih sudah mampir ke novel ini. Kalau kalian suka dengan ceritanya, boleh kasih like, vote, tips, dan tambahkan novel ini ke favorit ya. Kalau ingin memberikan kritik dan saran, silakan tulis di kolom komentar ya. Ikuti terus kisah Song Qian sampai selesai!

1
Sopheliaren
Semangat kak lanjutin ceritanya!!
Bella: makasihh ya udah baca, semoga suka sama ceritanya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!