NovelToon NovelToon
Bukan Aku Yang Jahat Mas

Bukan Aku Yang Jahat Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Atha Diyuta

Setiap hari aku difitnah mertuaku.

_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_

Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.

_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_

Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.

_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_

Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.

Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.

Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?


Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌

Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 Tidak seberuntung apa kata orang

Namaku Alya Larasati. Usiaku dua puluh tujuh tahun.

Orang-orang bilang aku beruntung menikah dengan Arman. Katanya, Arman itu anak berbakti, laki-laki sholeh yang sangat menghormati ibunya. Tidak pernah membantah, apa kata ibunya selalu ia iya-kan.

Dulu aku juga berpikir begitu. Aku pikir, laki-laki yang begitu berbakti pada ibunya pasti akan menjadi suami yang baik. Pasti akan menjaga istrinya dengan cara yang sama.

Ternyata aku salah.

Arman memang anak yang sangat berbakti. Tapi ia tidak pernah belajar menjadi seorang suami. Ia juga tidak pernah benar-benar belajar menjadi seorang ayah.

Arman adalah suamiku, ayah dari kedua anakku.

Dari pernikahan kami yang baru lima tahun, kami sudah dikaruniai dua orang anak. Yang sulung perempuan, Nisa, usianya baru empat tahun. Adiknya laki-laki, Raffi, baru dua tahun. Jarak mereka sangat dekat.

Terlalu dekat bahkan.

Itu karena aku tidak sempat KB. Bukan karena aku tidak mau, tapi karena aku dilarang.

Aku masih ingat jelas saat Nisa baru berusia delapan bulan. Tubuhku masih sakit, jahitanku masih nyeri kalau dibuat duduk lama. Waktu itu aku memberanikan diri bicara pada Arman.

"Mas, nanti kalau Nisa sudah setahun, aku KB ya. Kasihan Nisa masih kecil, badanku juga belum kuat."

Arman belum sempat menjawab, Ibu Ratna yang sedang menggendong Nisa langsung memotong dengan suara tinggi.

"Jangan buru-buru KB, Alya! Menikah itu tujuannya untuk punya keturunan! Banyak anak itu banyak rezeki! Kamu itu istri, tugasmu melahirkan! Kalau kamu KB itu sama saja menolak rezeki, dosa!"

Aku terdiam. Aku menatap Arman berharap ia membantu menjelaskan.

Tapi Arman hanya melirikku sebentar sambil memainkan ponselnya.

"Ikuti saja kata Ibu,Ibu lebih tau."

Sejak hari itu aku tidak pernah lagi berani membahas soal KB. Dan sepuluh bulan setelahnya, aku hamil lagi. Saat Nisa baru belajar berjalan, perutku sudah besar lagi. Muntah setiap pagi, pusing setiap malam.

Tidak ada yang peduli.

Jam empat pagi, alarmku berbunyi. Aku harus bangun.

Raffi masih terlelap sambil memeluk dadaku, Nisa memeluk kakiku. Pelan-pelan kulepas pelukan mereka. Punggungku rasanya mau patah, mataku berat sekali. Tapi aku harus bangun. Kalau tidak, Ibu akan marah.

Seperti biasa saat bangub aku langsung solat subuh dan setelahnya aku menanak nasi, memanaskan air untuk mandi Ibu, mencuci piring kotor bekas makan malam yang mereka tinggalkan semalam. Tanganku perih terkena air dingin dan sabun, kulitku pecah-pecah,tapi aku teruskan saja.

Jam lima lebih sedikit, Raffi terbangun dan menangis kencang.

"Alya! Itu anakmu nangis terus! Berisik sekali! Apa dia tidak bisa diam!" teriak Ibu Ratna dari dalam kamarnya.

Aku panik dan langsung berlari menggendong Raffi.

"Sebentar ya sayang, Mama di sini."

Sambil menggendong Raffi, aku mencoba melanjutkan masak. Satu tangan menimang, satu tangan mengaduk sayur.

Ibu Ratna keluar dengan daster batiknya. Wajahnya sudah ditekuk padahal dia baru saja keluar kamar.

"Mana air panasnya? Ibu mau mandi! Lelet sekali jadi orang!"

"Maaf Bu sebentar lagi,itu sudah hampir mendidih, sebentar lagi ya," jawabku pelan.

Ibu Ratna melotot melihatku menggendong Raffi.

"Lihat tuh! Anak digendong terus, makanya manja! Rewel! Kamu itu tidak becus jadi ibu! Anak sudah dua tahun masih digendong! Di rumah ini kamu cuma makan dan tidur saja! Suami kerja banting tulang, istri di rumah malas-malasan!"

"Bu, Raffi baru bangun, masih ngantuk Bu."

"Alasan! Banyak alasan! Kamu itu perempuan pemalas! Pembawa sial!"

Nisa yang baru berusia empat tahun keluar dari kamar dengan mata masih mengantuk. Melihatku dibentak, ia langsung lari memeluk kakiku.

"Nenek jangan marahin Mama."

Ibu Ratna langsung menunjuk Nisa.

"Kamu juga! Anak perempuan kok malas! Sudah empat tahun tidak bisa bantu Mama! Nanti besar jadi seperti Mamamu, tidak becus!"

Nisa menangis ketakutan dan memelukku semakin erat.

Saat itu Arman keluar dari kamar mandi, handuk melilit di pinggangnya. Wajahnya terlihat kesal.

"Ada apa sih pagi-pagi sudah ribut terus! Aku mau kerja jadi tidak tenang!"

Ibu Ratna yang sedetik lalu matanya melotot seperti singa, langsung berubah. Inilah yang paling menakutkan darinya. Ia bisa berubah wajah dalam satu detik.

Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar, tangannya memegangi dada.

"Arman,lihat istrimu, Nak.Mama cuma minta air panas, dia malah membentak Mama.Mama dibilang merepotkan,sakit hati Mama, Man, Mama kan ibumu, yang melahirkan kamu. Apa kamu tidak bisa menasehati istrimu untuk lebih menghormati mama,dia jahat sekali sama Mama.

Aku ternganga.

"Bu, saya kapan membentak Ibu? Saya cuma bilang sebentar, airnya baru mendidih.Nisa juga dengar Bu, Nisa melihat dengan jelas."

"Bohong! Kamu bohong! Kamu fitnah Mama! Arman, dengar! Dia memfitnah Mama! Dasarenantu durhaka!"

Tangis Ibu Ratna semakin kencang, dibuat sesenggukan sampai pura-pura sesak napas.

Aku menatap Arman. Air mataku sudah tidak bisa kutahan lagi.

"Mas,demi Allah Mas, demi Nisa dan Raffi aku sama sekali tidak membentak Ibu Mas,aku tidak salah Mas."

Arman menatapku lama, lalu menatap ibunya yang menangis.

"Astaghfirullah Alya," ucapnya dengan nada kecewa. Kecewa padaku. "Ibu sudah tua,kamu tidak boleh membuat Ibu menangis seperti ini. Kamu tahu Ibu punya darah tinggi kan? Kalau Ibu kenapa-kenapa, kamu mau tanggung jawab? Kamu mau jadi istri anak durhaka dan istri durhaka!"

Rasanya seperti ditampar ribuan kali.

"Mas, tapi aku tidak salah."

"Sudah! Jangan banyak alasan! Minta maaf sama Ibu sekarang! Cepat! Aku mau berangkat kerja, jangan bikin masalah terus!"

Lagi,Kalimat itu lagi.

Minta maaf.

Aku harus minta maaf atas sesuatu yang tidak pernah kulakukan.

Di depan Nisa yang baru empat tahun, yang matanya merekam semua kejadian ini. Yang akan selalu mengingat bahwa Mamanya selalu salah.

Dengan Raffi yang masih dua tahun di gendonganku, yang ikut menangis karena takut mendengar keributan.

Aku berlutut. Lututku menyentuh lantai dapur yang dingin dan berminyak.

"Maafkan saya Bu,maaf saya yang salah."

Ibu Ratna langsung berhenti menangis. Seketika. Air matanya kering seperti keran yang ditutup. Senyum tipis penuh kemenangan muncul di bibirnya.

"Nah begitu dong. Jadi istri harus tahu diri. Kamu itu numpang di rumah ini, Alya. Jangan melawan mertua, nanti kualat!"

Arman menghela napas lega seolah masalah sudah selesai. Ia masuk kamar, memakai kemeja dan parfum. Ia tidak mencium keningku. Tidak mencium Nisa dan Raffi. Ia hanya menghampiri ibunya dan mencium tangannya dengan takzim.

"Ma,Arman berangkat ya. Mama jangan banyak pikiran,jangan capek-capek."

"Iya anak gantengku, hati-hati ya,kerja yang rajin biar dapat banyak uang."

Stelah itu Arman keluar dan terdengar

Braaak

Pintu dibanting, Arman pergi kerja tanpa berpamitan tanpa menatapku atau anak-anaknya.

Aku masih berlutut di lantai. Nisa memelukku dari belakang dengan suara kecilnya.

"Mama kenapa minta maaf terus? Kan Mama tidak salah. Tadi kan Nenek yang marah-marah sama mama.

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya memeluk Nisa dan Raffi erat sambil menangis tanpa suara. Aku tidak mau mereka melihat betapa hancurnya aku.

Siang harinya teror itu datang lagi. Aku sedang menyuapi Raffi yang susah makan, Nisa sedang menggambar di lantai.

Ibu Ratna keluar dari kamarnya sambil membawa dompet kecilnya.

"Alya! Sini kamu!"

"Ya Bu?"

"Uang Ibu hilang seratus ribu! Tadi Ibu taruh di meja, sekarang hilang! Kamu yang ambil ya! Ngaku!"

Jantungku berhenti berdetak.

"Hah? Uang apa Bu? Saya tidak ambil Bu,saya dari tadi di sini menyuapi Raffi..."

"Jangan bohong! Di rumah ini cuma ada ibu dan kamu! Pasti kamu ambil buat beli bedak! Buat beli baju! Dasar perempuan tidak benar! Maling! Sudah boros, maling pula!"

"Bu, demi Allah, demi Nisa, demi Raffi, saya tidak ambil Bu..."

"Bohong! Dasar maling!"

Ibu Ratna berteriak sampai ke luar rumah. Sampai Bu RT dan tetangga sebelah keluar dan menonton.

"Eh ada apa Bu Ratna?"

"Maling! Menantuku maling! Uang saya hilang seratus ribu diambil dia!"

Semua mata menatapku seolah Menghakimiku ,nisa lagi-lagi memelukku ketakutan.

Malamnya Arman pulang,tanpa bertanya, tanpa mengecek, ia langsung menatapku dengan tatapan benci.

Entah mendapat kabar dari siapa tiba-tiba dia datang mendekat dengan wajah penuh amarah.

"Alya, balikin uang Ibu. Jangan bikin malu keluarga."

Aku tidak mencuri uang itu. Sumpah demi Allah, demi kedua anakku, aku tidak mencuri.

Tapi malam itu untuk pertama kalinya aku tidak minta maaf. Aku hanya diam. Air mataku jatuh tanpa henti.

Bersambung...

1
Atha Diyuta
iya mau balik tapi Alya udah nolak😄
Dewi kunti
sampai ak ngitung disini bilang man sampai 8x🤭
Atha Diyuta: 😅😅😅😅😅😅
total 3 replies
Dewi kunti
balik lagi Man🤭🤭🤭🤭
Dewi kunti
biasanya manggil cm man,sekarang tumben mas
Atha Diyuta: 😄😄😄😄😄😄😄
total 5 replies
Dewi kunti
mending ngekost man ,drpd hidup sama msk Lampir
Atha Diyuta: semoga Arman berkenan 😅
total 9 replies
Dewi kunti
ibu po mama iki🤭🤭🤭🤭🤭
Dewi kunti
lha bukannya nisa sudah paham ya mereka pergi dari rumah karena dimarahi nenek dan ayahnya,bahkan lihat ibunya yg ditampar
Atha Diyuta: yah anak kcil critanya cuman tau pergi dan akan kembali🤭🤭
total 1 replies
Dewi kunti
terlunta2 dijalanan 🤭
Dewi kunti
memperlihatkan kejulidannya mungkin
Atha Diyuta: Aduuh iya k typo lagi , trimakasih nanti direvisii 🙈🙈
total 1 replies
Dewi kunti
nama kamu hrsnya
Atha Diyuta: baik ka trimakasih nnti direvisi ☺️☺️
total 1 replies
Atha Diyuta
Asiap ka trimakasih sudah mampir
senjani jingga
semangat thor!, kalau berkenan mampir juga di novel baruku ya😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!