Cinta Terhalang Dinding Pesantren
Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.
Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.
Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.
Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 - Mundur Satu Langkah
Rapat keluarga di ndalem selesai. Tamu pulang. Ndalem yang tadi ramai, sekarang sepi.
Kiai Hasyim tidak langsung ke masjid. Dia masuk kamar, pintu ditutup pelan. Tidak keluar sampai Maghrib.
Nyai Maryam tidak langsung nyusul. Dia tahu, suaminya bukan marah sama Jay. Dia malu sama dirinya sendiri. Seumur hidup ngajarin santri berani ngomong dengan adab, pas anaknya sendiri yang berani ngomong dengan adab, dia malah malu.
Habis Isya, teh sore sudah dingin. Nyai Maryam masuk pelan.
Di dalam, Kiai Hasyim masih pakai peci, tasbih di tangan tapi tidak diputar.
"Bi, masih kepikiran?" tanya Nyai Maryam duduk di sebelahnya.
Kiai Hasyim hela napas panjang.
"Bukan marah, Mi. Abi kecewa sama diri sendiri. Abi yang ngajarin keberanian, tapi pas Jay berani, Abi malah gengsi."
Nyai Maryam senyum tipis.
"Bi, ingat gak 15 tahun lalu waktu kita janji di atas sajadah itu niatnya apa?"
Kiai Hasyim diam.
"Kita pengen anak kita dapat jodoh sholeh yang bisa jaga agama. Niatnya buat anak, Bi, bukan buat nama pesantren. Kalau sekarang kita paksa nikah bulan depan biar gosip wali santri berhenti, itu buat anak atau buat gengsi kita?"
Kena.
Kiai Hasyim menunduk. Dia ingat dulu waktu dijodohkan sama Nyai Maryam, bapaknya ngasih waktu 6 bulan buat ta'aruf. Gak langsung akad. Karena dikasih waktu itu, cintanya tumbuh beneran, bukan karena paksaan.
"Umi benar. Abi takut," kata Kiai pelan. "Takut kalau dikasih jeda kelamaan, Muthi'ah berubah pikiran. Takut janji sama Pak Haris jadi sia-sia."
Nyai Maryam pegang tangan suaminya.
"Janji kita itu bukan hutang, Bi. Itu doa. Doa gak ada tanggal kadaluarsa. Kalau jodoh, dikasih jeda dua tahun pun tetap jodoh. Kalau gak jodoh, dipaksa bulan depan pun bakal pisah."
Lama hening. Jangkrik di luar mulai bunyi.
Akhirnya Kiai Hasyim berdiri.
"Panggil Jay, Mi. Abi mau minta maaf, bukan mau ngatur lagi."
Jay masuk, masih nunduk. "Abi."
Kiai Hasyim kali ini gak bahas khitbah lagi. Karena keputusan tunda udah dibuat di ruang tamu tadi sore di depan semua orang. Ini beda.
"Nak, maaf ya tadi Abi agak keras di depan besan. Bukan karena kamu salah. Kamu bener. Abi yang salah cara melindunginya."
Jay kaget.
"Abi kira mempercepat khitbah itu melindungi Muthi'ah dari gosip. Padahal yang melindungi dia itu bukan status, tapi kita kasih dia ruang buat kuliah, buat jadi dirinya sendiri."
Jay matanya berkaca-kaca.
"Jadi mulai hari ini Abi mundur satu langkah. Bukan mundur karena kalah sama anak, tapi mundur biar bisa maju dengan cara yang bener."
Jay cium tangan Abinya lama.
"Syukron, Abi."
Kiai Hasyim nepuk pundak Jay.
"Cuma satu pesan Abi. List beasiswa yang kamu kasih lewat Heeseung itu Abi tahu. Bagus. Lanjutkan. Tapi ingat ya, jaga jarak yang sehat, bukan jarak yang bikin dia merasa ditinggalkan. Jaga dengan adab, bukan dengan menghilang."
"Inggih, Abi. Saya janji."
Malam itu Nyai Maryam cuma kirim pesan singkat ke Ibu Muthi'ah: Bu, Kiai sudah mantap. Khitbah ditunda, kasih anak-anak waktu kuliah dulu.
Gak perlu telepon panjang-panjang lagi, karena Pak Haji tadi sore udah dengar langsung keputusan Kiai di ruang tamu.
Di kamar putri, Muthi'ah belum tahu apa-apa tentang drama ndalem. Dia lagi baca list beasiswa tulisan tangan yang miring ke kanan itu sambil hafalan.
Dia gak tahu, malam itu satu bata dinding yang mau maksa dia nikah bulan depan baru aja runtuh.
Bukan karena dindingnya didobrak Jay.
Tapi karena ayahnya Jay berani mundur satu langkah, buat maju yang lebih benar.