Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.
Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.
Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Kediaman Dominic.
Cahaya matahari menyusup melalui celah tirai kamar Ricardo Dominic. Sinar keemasan menerangi sebagian ranjang besar yang berantakan, sementara suasana kamar masih terasa sunyi.
Ricardo perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa berat, seolah-olah ada sesuatu yang terus berdenyut di dalamnya. Ia mengerang pelan sambil mengangkat tangan untuk memijat pelipis.
“Brengsek … kepalaku sakit sekali,” gumamnya serak.
Ricardo, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Namun, ingatannya terasa samar. Ia hanya mengingat dirinya datang ke kamar dalam keadaan mabuk, lalu meluapkan kekesalannya kepada Amerda.
Setelah itu, semuanya terasa kabur. Ricardo hendak bangkit ketika menyadari sesuatu yang aneh. Selimut tebal menutupi tubuhnya hingga ke dada, tetapi ketika ia menggeser sedikit selimut tersebut, matanya seketika membelalak. Ia tidak mengenakan pakaian apa pun di baliknya.
“Apa-apaan ini?” bisiknya.
Ricardo segera menarik selimut kembali, lalu menoleh ke sisi ranjang. Di sana, Amerda masih terlelap dengan rambut berantakan dan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
Ricardo membeku, dia menatap perempuan yang kini berstatus sebagai istrinya itu cukup lama, seolah-olah berharap pemandangan di hadapannya akan berubah jika ia berkedip beberapa kali. Tetapi, Amerda tetap berada di sana.
Perlahan, Ricardo memejamkan mata. Ia berusaha menyusun kembali ingatan semalam, mencari satu peristiwa yang dapat menjelaskan mengapa mereka berdua berada dalam keadaan seperti ini.
“Apa yang sebenarnya terjadi semalam?” gumamnya.
Ia ingat dirinya datang ke kamar dalam keadaan mabuk. Ia juga ingat mengucapkan nama Gia berulang kali, bahkan mengakui bahwa perempuan yang seharusnya menjadi istrinya adalah Gia, bukan Amerda. Kemudian, samar-samar ia mengingat suara Amerda yang terdengar marah. Perempuan itu sempat menyuruhnya pergi.
Ricardo, kembali menoleh kepada Amerda. Dadanya terasa sesak oleh kebingungan yang bercampur dengan rasa bersalah pada Gia, seakan dia mengkhianati wanita itu.
Pikirannya semakin kacau. Ia tidak pernah berniat menyakiti Gia, tetapi pernikahannya dengan Amerda telah menyeret mereka ke dalam keadaan yang rumit.
Ricardo mengusap wajahnya kasar, “Tidak mungkin ….”
Namun, kenyataan yang berada di hadapannya membuatnya sulit menyangkal kemungkinan tersebut. Ia dan Amerda berada di ranjang yang sama, tanpa mengenakan pakaian, dengan ingatan yang tidak utuh tentang malam sebelumnya.
Di sampingnya, Amerda akhirnya bergerak. Perempuan itu mengerjapkan mata beberapa kali sebelum membuka matanya sepenuhnya. Ketika melihat Ricardo sudah terbangun, ia tidak langsung berbicara. Ia hanya menatap pria itu dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Ricardo segera menarik selimut lebih tinggi.
"Amerda,” panggilnya dengan suara berat.
“Hmm?” Amerda menjawab seolah-olah baru saja terbangun dari tidur yang nyenyak.
Ricardo menatapnya tajam, “Apa yang terjadi semalam?”
Amerda terdiam sesaat. Kemudian, ia mengalihkan pandangan sambil merapikan rambutnya yang kusut.
“Kau tidak ingat?”
“Aku sedang mabuk. Bagaimana mungkin aku mengingat semuanya?” Ricardo menahan napas, berusaha mengendalikan emosinya. “Aku ingat datang ke kamar, tetapi setelah itu ingatanku berantakan. Jadi, katakan padaku, apa yang terjadi?”
Amerda tidak menjawab.
"Amerda!” bentak Ricardo frustrasi.
Perempuan itu tersentak kecil, lalu menoleh kepadanya.
“Jangan membentakku, Ricardo. Aku juga baru bangun.”
“Aku tidak sedang ingin berdebat denganmu!” Ricardo mengusap wajahnya frustrasi. “Aku hanya ingin tau apa yang terjadi di antara kita semalam.”
Amerda menatapnya cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Kau datang ke kamar dalam keadaan mabuk. Kau mengoceh tentang Gia, mengatakan bahwa dia perempuan yang seharusnya kau nikahi. Kau juga mengatakan bahwa aku hanyalah pengganti.”
Rahang Ricardo mengeras. Ia tidak bisa membantah karena samar-samar mengingat pernah mengucapkan kata-kata itu.
“Lalu?” tanyanya.
“Aku menyuruhmu pergi, tetapi kau tidak mau mendengarkan. Kau malah berbaring di ranjang ini dan akhirnya tertidur.”
“Kalau begitu, bagaimana bisa kita—”
Ricardo menghentikan ucapannya. Ia tidak sanggup menyelesaikan kalimat itu. Amerda menunduk, berpura-pura menyembunyikan kegugupannya, padahal itu memang rencananya.
“Aku tidak tau harus mengatakan apa kepadamu.”
Jawaban itu membuat Ricardo menatapnya semakin tajam.
“Kau tidak tau? Bagaimana bisa kau tidak ingat, kau jelas-jelas sadar, Amerda!"
"Aku juga tidak bisa mengingat semuanya dengan jelas,” jawab Amerda, suaranya melemah. “Yang ku tau, pagi ini kita bangun di ranjang yang sama.”
Ricardo terdiam, dia tidak tahu apakah harus mempercayai perkataan perempuan itu atau justru mencurigai sesuatu yang belum mampu ia pahami. Ia menarik napas panjang, lalu memalingkan wajah.
“Dengarkan aku, Amerda. Aku tidak ingin membuat kesimpulan sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak ingat semuanya, dan aku tidak ingin kita saling menuduh tanpa bukti. Kau pasti menjebakku,”
Wajah Amerda sedikit menegang. Ia tampaknya mengharapkan reaksi yang berbeda dari Ricardo.
"Jadi, kau menganggap aku melakukan sesuatu kepadamu?” tanyanya, mulai meninggikan suara.
“Aku tidak mengatakan itu.”
“Tetapi kau mencurigaiku!”
Ricardo menoleh kembali. “Aku hanya bertanya karena kita berdua berada dalam keadaan seperti ini. Apa kau bisa menyalahkanku karena ingin mengetahui kebenarannya?”
Amerda terdiam, bibirnya mengatup rapat. Ricardo kemudian menyingkap selimut sedikit, mencari pakaiannya yang berserakan di sekitar ranjang. Kepalanya masih terasa sakit, tetapi ada sesuatu yang jauh lebih mengganggunya daripada sisa mabuk semalam.
'Setelah ini pasti kau tidak bisa menyangkal dan lari lagi dari hubungan ini, Ricardo.' Amerda tertawa dalam hatinya menatap pria di depannya yang sibuk memungut pakaiannya.
Qta semua membelanya,, mendukung nya...,, eh malah dia yg nawarin diri utk bertahan d rumahnya Sadam. Kecuali kalo dirimu kuat,, d jahatin bisa balas,, d pukul bisa balas memukul,, bisa mu hanya menangis saja...,, Qta perempuan memang makhluk lemah....,, tapi jangan melemahkan dirimu kayak gitu juga Gia. Kau berharap ayahmu Sadam akan terharu....,, hingga akhirnya menyayangimu....,, seperti berharap salju turun d tengah hutan yang terbakar....,, mustahil.
ngapain nyari amerda dirumah Adam GK langsung tempat mertuanya 🤔
berharap Adam membuka jati diri siapa amerda siih ,,
ayahmu saja menginginkan kematianmu,, tak usah lah jadi orang yang terlalu baik,, karna pada akhirnya hanya akan d injak2 saja .
lngsung ilang ingatan Dy kaki ny kebentur meja ,,
otak ny di kaki sih jdi bgtu sikap ny,, 😒😒😒😒😒😒