NovelToon NovelToon
Suara Untuk Dia

Suara Untuk Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Balas Dendam / Idola sekolah
Popularitas:153
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Putra Satria Hsb

【Perjuang keras meraih cinta+Cerita di waktu SMA+Romantis nonfiksi】Seseorang yang jatuh cinta kepda perempuan terpintar di sekolah... Meskipun dia bukan pria yang pandai dalam akademi tapi dia ingin membuktikan jika dia layak mendapatkan perempuan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17- Ritme Masa Putih Abu-Abu

Panggilan Maknar ternyata tidak cuma bertahan di meja kelompok kami. Diko yang mulutnya tidak bisa diam itu beberapa kali keleposan memanggil Nara dengan julukan itu di depan anak-anak kelas lain. Alhasil, sebagian teman sekelas mulai ikut-ikutan tertawa tiap kali melihat Nara mulai mengomeli aku atau Diko pas pelajaran eksak.

Nara tentu saja selalu merespon julukan itu dengan lirikan mata super tajam, atau sabetan penggaris plastik ke lengan kami. Tapi uniknya, dia tidak pernah benar-benar marah besar. Seolah-olah di balik tameng cewek pintarnya yang dingin dan kaku, ada rasa nyaman tersendiri ketika dia diposisikan sebagai sosok 'pelindung' akademis bagi kami berdua.

Hari Rabu siang, udara di dalam kelas X IPA 2 terasa cukup mendung. Pak Ridwan, guru Fisika kami yang terkenal irit bicara, baru saja menyelesaikan penjelasan materi Hukum Newton tentang Gerak. Tiga puluh menit sisa jam pelajaran dipakai untuk latihan soal mandiri.

Di meja depan, Nara sibuk membolak-balik lembaran modul tebalnya. Wajahnya kelihatan agak pucat. Lingkaran hitam tipis di bawah matanya makin mempertegas kalau cewek ini kurang tidur gara-gara menanggung beban ganda: materi kelas dan persiapan Olimpiade Fisika tingkat kabupaten yang tinggal dua minggu lagi.

Aku yang memperhatikan dari meja belakang langsung mengambil pulpen gel hitamku, merobek sedikit ujung kertas binder, lalu menuliskan satu baris pesan singkat:

"Maknar, mukamu lemes banget. Kalau pusing, merem bentar gih. Nanti kalau Pak Ridwan keliling tak kasih kode."

Aku melipat kertas itu jadi bentuk segitiga kecil, lalu mencolek pelan bahu Nara dari belakang dan menjatuhkan kertas itu di atas mejanya.

Nara kaget sedikit, lalu mengambil lipatan kertas itu. Dia membaca tulisannya, lalu menoleh sedikit ke belakang. Pandangan matanya yang biasanya tajam kali ini kelihatan agak sayu.

Dia mengambil pulpennya, membalas di kertas yang sama, lalu melempar balik segitiga kertas itu ke mejaku.

"Gak usah sok perhatian. Kerjain soal nomor 3 sama 4 itu, awas kalau salah rumus lagi!"

Aku terkekeh pelan membaca balasan khas darinya. Walau lagi lelah dan pusing, naluri mengomeli murid-muridnya tetap nomor satu. Aku membalas singkat dengan gambar emoticon monyet menutup mata, lalu menunjukkannya dari kejauhan. Nara yang melihat itu cuma bisa menggelengkan kepala sambil menyembunyikan senyum tipis di balik telapak tangannya.

Tepat pukul tiga sore, bel tanda berakhirnya jam pelajaran sekolah berbunyi nyaring. Anak-anak lain mulai berhamburan pulang menuju parkiran motor atau gerbang depan.

Aku langsung merapikan bukuku, berpamitan dengan Diko yang mau nongkrong di warung depan, lalu berjalan cepat menuju ruang ganti aula bawah. Pukul tiga sore adalah jadwal sakral latihan pemusatan silat bersama Mas Teguh dan Pelatih Utama.

Suasana aula bawah sore itu terasa sangat gerah. Kipas angin gantung di pojok ruangan sama sekali tidak membantu mendinginkan suhu udara.

"Semuanya merapat! Hari ini kita pemantapan teknik bantingan dan tangkisan cepat!" seru Mas Teguh tegas sambil berdiri di tengah matras. "Waktu kita tinggal sedikit sebelum seleksi resmi. Jangan ada yang main-main!"

"Siap, Mas!" sahut kami serempak.

Latihan sore dari jam tiga sampai jam enam sore itu benar-benar menguras sisa-sisa tenaga yang kupunya. Kami diminta melakukan gerakan sparing rotasi—artinya, setiap tiga menit lawan tanding diganti dengan orang baru tanpa ada waktu istirahat.

Pada putaran ketiga, aku mendapat lawan senior kelas XI yang punya jangkauan kaki sangat panjang. Tendangan lurusnya sempat mengenai rusuk kiriku cukup keras sampai aku meringis menahan sakit.

"Tahan, Satria! Jangan turunkan kuda-kudamu!" teriak Pelatih Utama dari pinggir matras.

Aku mengertakkan gigi, menahan rasa ngilu di rusuk. Mengingat lembaran rumus yang diberikan Nara kemarin dan dukungan-dukungan kecilnya di kelas, rasa menyerah langsung terbuang jauh dari kepalaku. Aku memajukan langkah, menggunakan refleks cepat untuk menghindari sabetan kaki lawan, lalu dengan satu gerakan sapuan bawah yang presisi, aku berhasil menjatuhkan senior itu ke atas matras.

Bruk!

"Bagus! Poin bersih!" puji Mas Teguh kencang.

Ketika peluit panjang tanda berakhirnya latihan berbunyi tepat pukul enam sore, seluruh tubuhku rasanya bagaikan remuk. Seragam latihan hitam yang kupakai basah kuyup oleh keringat sampai bisa diperas. Tapi ada kepuasan luar biasa yang memenuhi dadaku saat melihat kemajuan teknik tandingku dari hari ke hari.

Usai mandi dan berganti pakaian seragam sekolah di toilet aula, aku menuntun motor bebekku menyusuri lorong parkiran yang mulai sepi. Hari sudah menunjukkan pukul enam lewat seperempat, matahari sore sudah benar-benar tenggelam digantikan lampu-lampu jalanan yang mulai menyala.

Saat mendekati gerbang luar sekolah, aku melihat sosok Nara masih berdiri di dekat motor bebek merah marunnya. Dia kelihatan sibuk mengoyak-ngoyak bagian engkol (kick starter) motornya dengan raut wajah panik.

Aku langsung menghentikan motorku di sampingnya.

"Kenapa, Ra? Motornya gak mau hidup?" tanyaku sambil melepas kaca helm.

Nara menoleh kaget, mengusap pelipisnya yang agak berkeringat. "Iya nih, Sat. Dari tadi di-starter elektrik gak mau nyala, di-engkol juga berat banget. Kayaknya akinya soak deh."

"Coba tak cek," kataku sambil memasang standar samping motorku dan melangkah mendekati motornya.

Aku mencoba menekan engkol motornya beberapa kali pakai kaki. Memang terasa sangat keras dan mesinnya sama sekali tidak merespon.

"Akinya emang udah lemah ini, Ra. Mana bengkel dekat sekolah udah pada tutup jam segini," kataku sambil memandangi jam tangan yang menunjukkan pukul setengah tujuh malam.

Nara kelihatan makin cemas. "Duh... gimana ya? Rumahku kan lumayan jauh. Kalau naik angkot jam segini udah jarang yang lewat."

Melihat raut cemas di wajah cewek yang biasanya paling dominan dan galak ini, aku tidak usah berpikir dua kali.

"Yaudah, motormu titip di pos satpam sekolah aja dulu. Malam ini tak antar pulang naik motorku," tawar ku santai.

Nara menatapku agak ragu, lalu melihat ke arah motor bebek tuaku. "Nanti ngerepotin kamu, Sat. Kamu kan baru selesai latihan silat dari jam tiga tadi, pasti capek banget."

"Elah, kaya sama siapa aja!" kataku terkekeh pelan. "Lagian mana tega aku nemuin Maknar terluntang-lantung sendirian di depan sekolah jam segini. Ayo, dorong motormu ke pos Pak Satpam dulu."

Nara menatap mataku agak lama. Akhirnya, rasa khawatir di wajahnya luntur digantikan oleh hembusan napas lega. "Yaudah deh... makasih ya, Satria."

Setelah menitipkan motor Nara di pos satpam dengan aman, Nara naik ke boncengan belakang motorku. Ini pertama kalinya dia duduk di boncengan motorku. Ada rasa canggung yang sempat mengudara sejenak, tapi angin malam yang dingin cepat mengikisnya.

"Pegangan yang bener, Ra. Jok belakangku agak licin," kataku setengah berteriak menembus suara mesin motor dan bisingnya jalanan kota.

Nara tidak memegang pinggangku, tapi jemari tangannya mencengkeram kuat ujung jaket parasut hitam yang kupakai.

Selama perjalanan menuju rumahnya, kami ngobrol santai menembus keremangan malam. Suara Nara yang biasanya terdengar tegas di kelas, kali ini terdengar sangat halus dan tenang tepat di belakang telingaku.

"Sat," panggil Nara pelan dari belakang.

"Ya, Ra?"

"Makasih ya udah mau bantuin. Padahal kamu pasti capek banget habis dihajar latihan silat tiga jam."

Aku tersenyum di balik helm. "Santai aja, Ra. Rasa capekku hilang kok kalau bisa menolong Juara Kelas."

"Gombal terus," cetus Nara pelan, tapi aku bisa merasakan cengkeraman tangannya di jaketku sedikit melonggar, menandakan dia makin nyaman.

Sepanjang jalan sepuluh kilometer itu, aku merasa waktu berjalan sangat lambat. Momen sederhana ini—boncengan menembus angin malam bersama cewek yang paling kusukai—terasa seperti hadiah terbaik atas seluruh tetesan keringat yang kukeluarkan di matras latihan sore tadi.

Sesampainya di depan pagar rumahnya yang asri, Nara turun dari motor dan menyerahkan helm cadanganku.

"Makasih banyak ya, Satria. Maaf udah bikin kamu pulang makin malam," kata Nara tulus sambil menatap mataku.

"Sama-sama, Maknar. Besok pagi tak jemput ya sekalian kita urus motormu di sekolah," balasku penuh semangat.

Pipi Nara memerah tipis di bawah remang lampu teras rumahnya. Dia mengangguk pelan. "Iya. Hati-hati di jalan ya, Sat. Langsung mandi sama istirahat."

"Siap!"

Aku memutar arah motorku, melambaikan tangan padanya sebelum melesat pergi menembus kegelapan malam.

Malam harinya di kamar, aku berbaring terlentang sambil memandangi atap. Badan terasa pegal luar biasa, rusuk kiriku masih agak memar bekas tendangan tanding sore tadi. Tapi anehnya, ada rasa bahagia yang membuncah memenuhi rongga dada.

HP jadoelku di meja berbunyi nyaring. Satu SMS masuk dari Nara:

"Makasih buat tumpangannya malam ini. Lukaku bekas latihan silat tadi diolesin salep ya, jangan dibiarin. Selamat tidur, Satria :)"

Aku tersenyum lebar membaca SMS itu, membalasnya dengan jemari yang lincah:

"Sama-sama, Maknar. Sampai ketemu besok pagi jam tujuh di depan rumahmu! Selamat tidur juga :P"

Malam itu aku mematikan lampu kamar dengan senyuman yang tak bisa hilang dari wajahku. Di masa-masa putih abu-abu ini, duniaku dan dunia Nara memang berjalan dalam panggung yang berbeda, tapi momen-momen kecil seperti malam ini makin meyakinkanku bahwa rasa percaya dan kebersamaan kami akan terus bertahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!