NovelToon NovelToon
KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.

Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.

Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesan yang Tak Sengaja Terbaca

Hujan baru reda ketika Laras selesai melipat baju terakhir dari keranjang. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Dari ruang tengah terdengar suara televisi yang dibiarkan menyala tanpa ada yang menonton.

Sudah tiga bulan Dimas pulang larut Malam. Sudah tiga bulan pula Laras belajar mengucapkan satu kalimat yang sama, seolah kalimat itu bisa menenangkan dadanya sendiri: *Mas lagi sibuk. Di Kantor lagi banyak kerjaan.*

Ia menaruh tumpukan kemeja di atas ranjang, lalu duduk sebentar. Punggungnya pegal. Seharian ia mengurus rumah, mengantar Kenzo ke sekolah, menjemputnya, menyuapinya makan, lalu menidurkannya. Kenzo, anak lelaki mereka yang baru berumur enam tahun, kini sudah terlelap di kamar sebelah dengan boneka dinosaurus di pelukannya.

Pintu depan terbuka pelan. Laras mendengar langkah kaki yang ia hafal di luar kepala.

"Mas Kamu sudah pulang?" Ia keluar dari kamar sambil tersenyum, senyum yang sudah ia siapkan sejak sore.

Dimas melepas sepatu di dekat rak. Kemejanya kusut, dasinya sudah longgar, tapi wajahnya segar. Terlalu segar untuk orang yang katanya baru lembur sampai larut.

"Iya,Aku Capek banget," katanya singkat, tanpa menatap Laras.

"mas,kamu Mau makan? Aku hangatkan dulu sayur lodehnya, ya."

"Nggak usah. Tadi Aku sudah makan sama klien."

Laras mengangguk. Sudah makan sama klien. Kalimat itu juga sudah sering ia dengar. Dulu, sesibuk apa pun, Dimas selalu menyempatkan makan masakannya. Dulu, ia bahkan akan memeluk Laras dari belakang di dapur dan berkata bahwa masakan istrinya adalah alasan ia ingin cepat pulang.

Dimas masuk ke kamar mandi. Ponselnya ia tinggalkan di atas meja makan, layar menghadap ke bawah.

Laras tidak pernah memeriksa ponsel suaminya. Sepuluh tahun menikah, ia memegang prinsip bahwa kepercayaan adalah fondasi, dan ia tidak mau jadi istri yang mengendus-endus seperti polisi. Ibunya dulu mengajarkan hal yang sama: istri yang baik itu percaya, bukan curiga.

Tapi malam ini, ponsel itu bergetar.

Sekali. Dua kali. Lalu layarnya menyala, dan karena Dimas menaruhnya dengan posisi miring, sebagian layar itu terlihat dari tempat Laras berdiri.

Sebuah pesan masuk. Nama pengirimnya hanya satu huruf: **V**.

*"Sayang, aku masih kepikiran yang tadi. Jangan lupa besok ya. Aku sudah pesan kamar yang sama. Rasanya nggak sabar. 😘"*

Laras berhenti bernapas.

Ia membaca pesan itu sekali lagi, dan sekali lagi, seakan huruf-hurufnya akan berubah jika ia menatapnya cukup lama. Tapi huruf-huruf itu tetap sama. *Sayang. Kamar yang sama. Nggak sabar.*

Dari kamar mandi terdengar suara air mengalir. Tangannya gemetar saat meraih ponsel itu. Ia tidak tahu kata sandinya, tapi layarnya masih menyala. Satu notifikasi lagi masuk, dan ia sempat membaca potongannya:

*"Istrimu nggak curiga kan? Kasihan ya dia, terlalu polos."*

Laras meletakkan ponsel itu kembali persis seperti semula, layar menghadap ke bawah. Gerakannya pelan, hampir tanpa suara, seperti orang yang takut membangunkan sesuatu yang berbahaya.

Lalu ia berdiri di sana, di tengah dapur yang hangat dan beraroma sayur lodeh, dan merasakan seluruh rumahnya mendadak menjadi asing. Meja makan tempat mereka sarapan bersama. Foto pernikahan di dinding. Gambar crayon Kenzo yang ditempel di kulkas, bergambar tiga orang bergandengan tangan: Ayah, Ibu, dan Kenzo.

*Terlalu polos.*

Air di kamar mandi berhenti.

Laras menarik napas dalam-dalam. Ia menyeka sudut matanya dengan punggung tangan, lalu memaksa wajahnya kembali tenang. Bukan karena ia kuat, melainkan karena ia tahu satu hal: kalau ia meledak malam ini, ia tidak akan tahu siapa perempuan itu, sejauh apa semuanya sudah berjalan, dan apa yang sebenarnya direncanakan suaminya.

Dimas keluar dengan handuk di bahu. "Kamu kenapa berdiri di situ?"

"Nggak apa-apa, Mas," jawab Laras. Suaranya terdengar aneh di telinganya sendiri, terlalu datar. "Aku cuma mau tanya, besok Mas pulang jam berapa? Kenzo minta ditemani nonton pertandingan sekolahnya."

Dimas meraih ponselnya. Sekilas Laras melihat rahangnya mengeras saat membaca layar, lalu cepat-cepat berubah santai.

"Besok aku ada dinas diluar kota. Mungkin pulang nya lusa."

"Dinas di Luar kota?"

"Iya. Proyek di Surabaya. Mendadak." Ia tidak menatap mata Laras. "Kamu tahu sendiri Kan kerjaan kantor."

*Kamar yang sama*, pikir Laras. Hatinya seperti diremas, tapi bibirnya justru tersenyum.

"Oh, ya sudah. Hati-hati ya, Mas. Nanti aku siapkan bajunya."

Dimas tampak lega. Terlalu lega. Ia mengecup kening Laras sekilas, ciuman yang terasa seperti tanda tangan di atas kertas, hanya formalitas, lalu masuk ke kamar.

Laras berdiri sendirian di dapur.

Ia mendengar suara pintu kamar ditutup. Ia mendengar Dimas menjawab telepon dengan suara rendah. Dan di antara semua itu, ia mendengar sesuatu yang lain, sesuatu yang retak di dalam dirinya.

---

Malam itu Laras tidak tidur.

Ia berbaring di samping Dimas yang sudah mendengkur, menatap langit-langit kamar dalam gelap. Setiap kali pria itu bergerak, tubuh Laras menegang. Dulu, hangat tubuh Dimas di sampingnya adalah rumah. Sekarang rasanya seperti berbaring di sebelah orang asing yang kebetulan memakai wajah suaminya.

Menjelang subuh, ia bangkit pelan-pelan dan keluar ke ruang tengah. Dari tas kerja Dimas yang tergeletak di sofa, ia mengambil sesuatu yang tadi sempat dilihatnya mencuat: sebuah struk.

Hotel Mahkota Indah, Surabaya. Pemesanan atas nama Dimas Prasetyo. Dua malam. Satu kamar. Tanggal pemesanan: dua minggu lalu.

Dua minggu lalu.

Laras memejamkan mata. Jadi "dinas mendadak" itu sudah direncanakan sejak lama. Mendadak hanya untuk dirinya.

Ia memotret struk itu dengan ponselnya, lalu mengembalikannya ke tempat semula. Tangannya sudah tidak gemetar lagi. Anehnya, semakin ia tahu, semakin dingin kepalanya.

Ia duduk di sofa, memeluk lutut. Matanya jatuh pada foto keluarga di meja kecil: dirinya, Dimas, dan Kenzo yang tersenyum lebar di pantai. Foto itu diambil dua tahun lalu. Dimas merangkulnya erat dalam foto itu, dan Laras ingat betul, saat itu ia berpikir bahwa hidupnya sudah cukup sempurna.

"Terlalu polos," bisiknya.

Air matanya akhirnya jatuh, satu demi satu, tanpa suara. Ia menangis seperti orang yang sedang berduka, karena memang itulah yang terjadi. Ada sesuatu yang mati malam ini. Bukan Dimas, bukan pernikahan mereka secara hukum, tapi *Laras yang dulu*, perempuan yang percaya sepenuh hati dan mengira cinta cukup untuk menjaga segalanya.

Setelah lama, ia mengusap wajahnya. Ia meraih ponsel sekali lagi dan membuka galeri. Tadi, ketika Dimas di kamar mandi, tangannya sempat memotret layar ponsel suaminya saat pesan kedua masuk. Ia sendiri hampir tidak sadar melakukannya. Di foto itu, di bawah nama **V**, terlihat sebagian foto profil: seorang perempuan berambut panjang bergelombang, tersenyum ke arah kamera, dengan tangan menggenggam sebuah gelas kopi.

Dan di pergelangan tangan perempuan itu melingkar sebuah gelang perak berbentuk rantai kecil dengan liontin huruf V.

Laras menatap foto itu lama sekali. Ada sesuatu yang terasa familier. Bukan wajahnya, karena sebagian besar tertutup bayangan, melainkan gelangnya. Ia merasa pernah melihat gelang itu di suatu tempat, belum lama ini.

Tapi di mana?

Pikirannya berputar, mencari. Arisan? Pengajian? Wali murid di sekolah Kenzo?

Lalu, perlahan, ingatannya menemukan jawabannya, dan seluruh tubuhnya terasa dingin.

Minggu lalu. Teras rumah tetangga baru di sebelah. Seorang perempuan cantik yang tersenyum ramah sambil membawa sekotak kue, memperkenalkan diri sebagai Vania, lalu menggenggam tangan Laras dengan hangat dan berkata, "Mohon bantuannya ya, Mbak. Aku baru pindah, belum kenal siapa-siapa. Mbak Laras kelihatan baik banget."

Gelang perak itu berkilau di pergelangan tangannya saat itu.

Laras menutup mulutnya dengan telapak tangan. Napasnya tersendat.

Perempuan itu bukan orang asing yang menjauh. Ia tinggal di rumah sebelah. Hanya terpisah satu dinding dari kamar tidur Laras sendiri. Ia sudah datang ke rumah ini, minum teh di ruang tamu ini, memuji masakan Laras, bahkan menggendong Kenzo sambil tertawa.

Sambil menyimpan pesan-pesan itu di ponselnya.

Dari luar jendela, matahari mulai naik. Cahaya tipis menyelinap lewat celah gorden, jatuh tepat di wajah Laras yang basah. Dan di balik pagar rumah sebelah, ia melihat sebuah mobil sedan putih terparkir. Seorang pria berkemeja rapi baru saja keluar dari pintu rumah itu, menenteng tas kerja, mengecup kening seseorang di ambang pintu.

Pria itu tampan, berwibawa, dengan jam tangan mahal di pergelangannya. Ia tersenyum hangat pada perempuan yang mengantarnya, perempuan berambut bergelombang dengan gelang perak di tangan.

Itu suami Vania.

Laras memperhatikan pria itu dari balik gorden. Cara ia membukakan pintu mobil. Cara ia menoleh sekali lagi, memastikan istrinya masuk ke rumah dengan aman. Cara tatapannya melembut saat bicara pada Vania.

Lelaki itu mencintai istrinya. Dan istrinya, sama seperti suami Laras, sedang mengkhianati rumahnya sendiri.

Sesuatu bergeser di dalam dada Laras. Bukan kemarahan yang meledak-ledak. Bukan tangis. Sesuatu yang jauh lebih tenang dan jauh lebih berbahaya.

Ia menurunkan gorden perlahan.

"Kau pikat suamiku," bisiknya pada udara kosong di ruang tamu yang masih remang, pada dinding yang memisahkan dua rumah mereka. Suaranya pelan, nyaris tak terdengar, tapi setiap katanya jatuh dengan berat.

Ia menatap foto Kenzo di meja, lalu menatap bayangannya sendiri di kaca jendela: mata sembap, rambut kusut, wajah yang dulu sering disebut "terlalu lembut".

"Baik, Vania," lanjutnya, dan untuk pertama kalinya malam itu, ujung bibirnya terangkat. Bukan senyum bahagia. Senyum yang dingin, seperti sesuatu yang baru saja terbangun dari tidur panjang. "Kalau kau bisa mengambil milikku..."

Dari kamar, terdengar suara Dimas batuk dan bergerak. Pagi sudah datang, dan Laras tahu, ia harus kembali menjadi istri yang polos selama beberapa saat lagi.

Tapi di dalam kepalanya, sesuatu sudah dimulai.

"...maka aku pun bisa mengambil milikmu."

1
Shankara Senja
hurufnya emang dibuat miring ya...dan tebal
Nuna_Pena: hehe.. iy
total 1 replies
Shankara Senja
bagus....lo jual,gw beli..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!