Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.
Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.
Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 - HARGA SEKEPING TEMBAGA
Empat hari berlalu sebelum ayahnya mengizinkan Lin Feng ikut ke pasar dusun.
Rusuknya masih terasa kaku kalau ia tertawa atau membungkuk, tetapi ia sudah bisa berjalan tanpa tersengal. Ibunya tetap menyuruhnya membawa mantel meski langit cerah. Ayahnya memberinya tugas ringan: membawa keranjang kosong dan tidak mengangkat apa pun yang lebih berat daripada beberapa ikat daun.
“Aku bukan anak kecil,” kata Lin Feng.
“Kalau begitu, buktikan dengan tidak membuat ibumu khawatir.”
Ia tak punya balasan untuk itu.
Mereka berjalan menyusuri jalan tanah menuju pusat dusun. Lin Feng membawa keranjang kecil, sementara ayahnya memikul seikat kayu bakar yang hendak ditukar dengan tepung. Sepanjang jalan, beberapa orang menyapa mereka. Seorang lelaki tua bertanya apakah Lin sudah pulih; seorang gadis kecil menatap goresan di tangannya, lalu berlari mengejar anjing kurus yang membawa sandal.
Lin Feng mencoba membalas setiap sapaan dengan wajar. Sebagian wajah terasa asing. Sebagian lain membangkitkan potongan ingatan: berlari melewati sumur saat kecil, dimarahi karena mencuri buah, duduk di bawah pohon ketika orang dewasa membicarakan hasil panen. Ia tidak tahu apakah ingatan itu miliknya atau milik tubuh ini, tetapi keduanya terasa lebih kuat ketika ia mendengar nama-nama orang disebut.
Pasar dusun tidak memiliki gerbang atau papan besar. Hanya tanah lapang dekat sumur tua, dengan kios-kios kayu yang dibuka pada hari tertentu. Kain-kain sederhana dipasang sebagai atap. Orang-orang berdiri rapat sambil menimbang sayuran, menawar kain, atau menukar barang. Tidak ada penanda yang menunjukkan tempat mana yang penting. Tidak ada suara yang mengumumkan barang langka.
Yang ada hanya panas dari wajan, bau ikan asin, teriakan anak-anak, dan percakapan yang saling bertindihan.
Lin Feng mengenali kegaduhan itu sebagai kehidupan. Ia tidak bisa menghentikan waktu untuk memeriksa satu kios. Ia tidak bisa mengulang percakapan jika melewatkan nama. Saat seseorang membeli seikat bawang, transaksi itu selesai, dan penjual segera melayani orang berikutnya.
Ayahnya menukar kayu dengan satu karung tepung kecil dan beberapa keping uang. Lin Feng memperhatikan prosesnya. Penjual menghitung kayu, memeriksa bagian yang masih lembap, lalu mengurangi tawaran. Ayahnya menawar balik. Tidak ada yang merasa harus selalu menang; mereka mencari angka yang bisa diterima sebelum matahari tinggi.
“Kayu itu masih bisa dibakar,” kata ayahnya.
“Bisa, tapi harus dikeringkan dulu.”
“Kalau begitu, harganya jangan disamakan dengan kayu basah.”
Mereka mencapai kesepakatan di tengah. Ayahnya menyimpan uang itu tanpa menghitungnya lagi. Lin Feng berpikir bahwa mungkin ia seharusnya mencatat harga. Namun ia tak tahu apakah harga tersebut wajar atau hanya kebetulan hari ini.
Di ujung lapangan, seorang pedagang menjajakan bahan kering dalam keranjang-keranjang kecil. Lin Feng melihat rumpun berdaun perak yang telah diikat bersama batang tipis. Bentuknya mirip tanaman yang tumbuh di kebun Wu Shun, tetapi warna keringnya jauh lebih kelabu.
Ia berhenti. “Itu rumput urat perak?”
Penjualnya memandangnya dari balik timbangan. “Daunnya, ya. Yang ini tumbuh di lereng basah. Harganya lebih rendah.”
“Kenapa?”
“Seratnya tipis, mudah hancur saat dikeringkan. Tabib tertentu masih mau, tapi alkemis biasanya memilih yang tumbuh di tanah berbatu.”
Lin Feng menahan keinginan untuk bertanya lebih banyak. Ada variasi bahan yang tak tercantum dalam informasi dasar game. Atau mungkin pernah tercantum di catatan pemain yang belum ia baca. Ia tidak bisa memastikan. Yang ia tahu hanya bahwa barang serupa punya kualitas dan harga berbeda.
“Yang mana lebih baik?” tanyanya.
“Untuk apa?” Penjual itu mengangkat bahu. “Kalau kau belum tahu resepnya, jangan beli.”
Lin Feng tersenyum kecil. “Aku hanya ingin belajar.”
“Kalau begitu, belajarlah dengan mata dan hidung. Uang bukan bahan belajar yang murah.”
Ayahnya sudah menunggu di belakang. Ia mengangguk singkat kepada penjual, lalu berjalan lagi. Lin Feng mengikuti sambil mengingat kalimat itu. Bahan alkimia bukan sekadar ikon yang bisa dimasukkan ke menu. Bahkan rumput dengan nama sama memiliki asal, kualitas, dan cara pengeringan yang berbeda.
Di dekat sumur, seorang pedagang gerobak sedang berbicara kepada beberapa warga. Gerobaknya penuh kain dan perkakas besi. Dua ekor keledai berdiri di belakang, mengibaskan ekor mengusir lalat.
“Kau datang dari kota?” tanya Lin Feng.
Pedagang itu menoleh. “Dari jalan selatan. Aku akan masuk ke Azure Cloud City setelah mengumpulkan barang di dua dusun lagi.”
“Berapa lama dari sini ke kota?”
“Kalau jalan kering dan kau punya kaki yang sehat, dua hari. Dengan gerobak, bisa lebih lama kalau muatan berat. Hujan kemarin membuat jalur bukit buruk.”
Lin Feng teringat peta yang ia bawa. Jembatan kayu, jalan timur, dan catatan tentang gerobak. Peta itu bukan gambar yang bisa ia ikuti tanpa berpikir; keadaan jalan mengubah waktu perjalanan.
“Kau berangkat kapan?”
“Lusa pagi. Aku bisa membawa penumpang kalau mereka tidak keberatan duduk di antara karung.” Pedagang itu menunjuk sisi gerobak. “Satu keping tembaga sampai rumah singgah. Dua sampai gerbang kota. Tapi aku tak menunggu orang yang terlambat.”
Dua keping tembaga. Lin Feng menyentuh kantongnya. Ia memiliki enam. Harga itu mungkin masuk akal, tetapi perjalanan akan menghabiskan hampir seluruh cadangan jika ia perlu membeli makanan di jalan.
Ayahnya menangkap gerakan itu. “Kau belum sembuh sepenuhnya.”
“Aku hanya bertanya.”
“Bagus. Bertanyalah. Jangan berangkat hanya karena satu jalan terbuka.”
Pedagang itu tertawa. “Ayahmu benar. Kota tidak akan lari. Pekerjaan juga tidak selalu menunggu, tapi orang yang datang tanpa makan dan tanpa kenalan biasanya cepat pulang.”
Lin Feng memandangi gerobak. Ia ingat kota itu sebagai pusat awal perdagangan, pasar bahan, dan cabang guild alkemis. Dalam ingatannya, tempat tersebut penuh kesempatan. Pedagang ini melihatnya sebagai perjalanan dengan biaya, muatan, dan risiko tidak mendapat pekerjaan.
Ia tidak memutuskan apa pun.
Di kios makanan, ia membeli satu kue kukus kecil dengan sekeping tembaga. Adonan berasnya padat, hangat, dan agak hambar, tetapi ia memakannya sampai habis. Rasa kenyang yang datang perlahan membuatnya lebih memahami nilai uang daripada melihat angka di layar mana pun.
Ia menyisakan lima keping di kantong.
Dalam perjalanan pulang, ayahnya berjalan lebih lambat agar ia tidak tertinggal. Lin Feng ingin berkata bahwa ia bisa berjalan sendiri, tetapi tidak mengatakannya. Ia menyadari bahwa bantuan tidak selalu berarti orang lain menganggapnya lemah. Kadang-kadang mereka hanya memilih untuk menyesuaikan langkah.
“Kalau aku pergi ke kota nanti,” katanya, “aku ingin mencari pekerjaan yang berhubungan dengan bahan obat.”
Ayahnya mengangguk, belum menyetujui atau menolak. “Cari tahu dulu siapa yang membayar dan pekerjaan apa yang diminta. Jangan percaya hanya karena seseorang menggunakan kata alkemis.”
Nasihat itu sederhana, tetapi sesuai dengan dunia yang sekarang ia hadapi. Ia tidak tahu siapa yang jujur, siapa yang berpengalaman, atau apakah kota akan menyerupai ingatannya. Ia hanya tahu bahwa perjalanan dua hari tidak bisa diselesaikan dengan memilih ikon peta.
Sesampainya di rumah, Lin Feng menaruh keranjang kosong dan menghitung lima keping tembaga yang tersisa. Ia sudah belajar harga satu kue, harga perjalanan ke kota, dan satu alasan mengapa rumput urat perak dari lereng basah dijual lebih murah.
Tidak satu pun informasi itu memberinya kekuatan.
Namun semuanya membantunya melihat bahwa hidup di dunia ini memiliki hitungan sendiri, dan ia harus belajar membaca sebelum melangkah lebih jauh.