Bagi Rahma Wulandari, Sakti Prawira adalah sosok kakak asuh masa kecilnya yang galak dan protektif. Namun, garis takdir mendadak berubah ketika impiannya menjadi dokter terancam kandas akibat kesulitan ekonomi. Satu-satunya jalan keluar yang ditawarkan orang tuanya adalah sebuah perjodohan. Demi masa depan, Rahma akhirnya pasrah. "Gak apa-apa deh nikah sama Kak Sakti, dia sudah aku anggap seperti kakaku sendiri!"
Di sisi lain, Sakti seorang Komandan TNI AD yang terkenal tegas, kaku, dan berhati dingin sejak ditinggal menikah oleh masa lalunya merasa tak habis pikir. "Kenapa aku harus menikah dengan gadis bau kencur dan masih ingusan itu?" protesnya keras. Baginya, menikahi sahabat adiknya sendiri adalah hal yang konyol.
Namun, titah orang tua tak bisa diganggu gugat. Pernikahan beda usia dan prinsip ini pun tetap terjadi.
Mampukah pernikahan yang terbentur perbedaan usia, prinsip, dan watak ini menumbuhkan benih-benih asmara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Suasana di dalam aula mendadak hening total ketika Sakti dan Rahma dipersilakan duduk berdampingan di depan meja akad. Di hadapan Sakti, Pak Salim duduk dengan posisi tegap, didampingi oleh seorang penghulu dari KUA di sisi kanannya serta para saksi nikah dari kedua belah pihak keluarga.
Ketegangan begitu terasa di udara. Rahma meremas jemarinya yang tersembunyi di balik kain kebayanya, sementara Sakti menatap lurus ke arah mata Pak Salim dengan pandangan yang tajam dan fokus, bersiap memikul tanggung jawab besar yang sesaat lagi akan berpindah ke pundaknya.
Sambil mengucapkan solawat dan bismillah, sang Penghulu memulai khotbah nikah dengan khidmat. Hingga akhirnya, tibalah momen yang paling sakral. Pak Salim mengulurkan tangan kanannya, menjabat erat telapak tangan kokoh Sakti.
Dengan suara yang terdengar tegas namun sedikit bergetar karena menahan gejolak haru yang luar biasa di dalam dadanya, Pak Salim mulai berucap, "Saudara Sakti Prawira Kusuma, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Rahma Wulandari, dengan mas kawin emas 20 gram dan uang sebesar 150 juta rupiah dibayar tunai."
Tangan Pak Salim mengayun sekali dengan tegas. Tanpa jeda sedetik pun, Sakti langsung menyambutnya dengan suaranya yang menggelegar lantang, mantap, dan tanpa ada hambatan sedikit pun.
"Saya terima nikah dan kawinnya Rahma Wulandari binti Salim Baharudin dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
Mendengar janji suci itu terucap dalam satu tarikan napas yang begitu sempurna, pertahanan Rahma runtuh seketika. Air matanya pecah, mengalir membasahi pipinya yang merona. Rasa haru, bahagia, dan tak percaya bercampur menjadi satu di dalam dadanya. Detik itu juga, ia telah resmi menjadi seorang istri.
"Bagaimana para saksi, sah?" tanya Pak Penghulu dengan senyum lebar.
"Sah...!" jawab para saksi, Sersan Arsen, Letnan Yudha, serta seluruh keluarga besar yang hadir di dalam aula secara serempak.
"Alhamdulillahirabbil'alamin..." doa pun dipanjatkan, menutup prosesi ijab kabul yang sakral tersebut.
Di barisan kursi keluarga, Pak Wirahadi dan Bu Farida saling berpandangan lalu tersenyum dengan perasaan lega yang teramat sangat. Beban besar yang selama ini menghimpit pundak mereka kini sirna. Sakti sudah sah menjadi seorang suami. Mereka tidak perlu lagi mengkhawatirkan masa lalu kelam sang putra yang selama ini membuatnya menutup diri dan sulit membuka hati untuk wanita lain.
Melalui perjodohan ini, Pak Wirahadi dan istrinya menaruh harapan besar agar Sakti dan Rahma bisa hidup bahagia sampai akhir hayat. Sejak dulu, Pak Wirahadi memang sangat mendambakan seorang menantu yang berprofesi sebagai dokter. Namun lebih dari itu, menjodohkan putranya dengan Rahma adalah niatan suci yang sudah dipendamnya sejak lama agar bisa berbesan dengan sahabat karibnya, Salim.
Tidak banyak orang yang tahu bahwa Wirahadi dan Salim sudah bersahabat sejak mereka masih kecil. Jauh sebelum Wirahadi menjadi perwira tinggi yang terpandang seperti sekarang, kedua orang tua Salim pernah menjadi dewa penolong yang menyelamatkan keluarga Wirahadi saat mereka hidup dalam keterpurukan ekonomi dan penderitaan. Dan hari ini, dengan menyatukan darah daging mereka dalam ikatan pernikahan yang suci, Pak Wirahadi akhirnya bisa membalas seluruh kebaikan masa lalu keluarga Pak Salim dengan cara memuliakan putri tunggal mereka sebagai menantu utama di keluarganya.
Setelah doa selesai dipanjatkan, sang Penghulu mempersilakan kedua mempelai untuk saling menyematkan cincin pernikahan. Sakti meraih jemari kanan Rahma, lalu dengan gerakan perlahan namun pasti, ia menyematkan cincin emas murni ke jari manis istrinya. Kini giliran Rahma yang memasangkan cincin di jari manis Sakti dengan tangan yang masih sedikit bergetar.
Setelah lingkaran logam mulia itu terpasang sempurna, Rahma meraih punggung tangan kanan Sakti, membungkuk sedikit, dan menciumnya dengan teramat takzim, sebuah bentuk kepatuhan pertama dari seorang istri kepada suaminya.
Sakti menatap puncak kepala Rahma yang berbalut hijab dan ronce melati. Ketika Rahma kembali menegakkan tubuhnya, Sakti perlahan maju satu langkah, menangkup pelan kedua bahunya Rahma, lalu menundukkan kepalanya untuk mengecup keningnya Rahma untuk pertama kalinya dalam hidup mereka.
Cup!
Kecupan hangat itu mendarat di keningnya Rahma, terasa begitu nyata dan dalam. Detik itu juga, jantung Rahma berdegup sangat kencang bagai tabuhan genderang perang. Seluruh tubuhnya mendadak kaku, terhipnotis oleh kehangatan bibir suaminya yang menyentuh kulit keningnya.
'Kak Sakti... aku merasa seperti mimpi bisa menjadi pengantinmu. Rupanya Allah telah mengijabah permintaanku sewaktu kecil dulu, di mana aku ingin sekali menjadi pengantinmu. Meskipun itu adalah permintaan yang konyol dari seorang anak kecil, namun kali ini permintaan konyolku benar-benar telah menjadi kenyataan,' ucap Rahma dalam hati dengan mata yang berkaca-kaca menahan haru.
Saat Sakti menjauhkan wajahnya, mereka saling memandang dalam diam selama beberapa detik. Manik mata tajamnya Sakti menatap lekat mata bulat Rahma. Merasa tidak kuat dengan kedekatan dan intensitas tatapan tersebut, Rahma buru-buru memutuskan kontak matanya dan kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam karena malu. Melihat tingkah lucu namun manis dari sang istri, Sakti hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan sambil menyunggingkan senyum tipis.
Kejadian spontan itu tak luput dari perhatian Salma, Syila, serta kedua sahabat dekatnya Sakti yang duduk di barisan depan.
"Duh, mereka so sweet banget sih, Kak!" ujar Salma gemas, menyenggol lengan Syila sembari memandangi sikap kaku Rahma dan gelagat kikuk kakaknya.
Sementara itu, di sudut lain, Sersan Arsen mulai mengeluarkan jurus ledekannya. "Beuhhh... Kapten kita malu-malu meong sekarang. Kayaknya entar malam bakalan berubah jadi serigala lapar!" bisik Sersan Arsen sambil menyenggol Letnan Yudha.
"Ha... ha... ha! Kau itu bisa saja, Arsen. Tapi biasanya sih, pria galak dan dingin kalau di lapangan itu memang bakalan buas kalau sudah di atas ranjang!" balas Letnan Yudha dengan tawa cekikikan yang sengaja ditahan agar tidak ditegur oleh bapak-bapak perwira di dekat mereka.
Sesi akad nikah yang sakral pun usai, berlanjut ke acara resepsi pernikahan. Sakti dan Rahma kini telah berdiri gagah dan anggun di atas pelaminan yang berdekorasi mewah untuk menyambut para tamu undangan yang mengular ingin memberikan ucapan selamat.
Satu per satu rombongan dosen dan rekan-rekan sesama mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran mulai naik ke atas panggung. Kehadiran mereka langsung memecah suasana kaku di atas pelaminan.
"Wah, Rahma... kamu mimpi apa semalam bisa langsung dinikahi sama perwira tampan begini? Mana gagah banget lagi!" bisik Yuni, teman dekat Rahma di kampus, saat mereka sedang bersalaman dan cipika-cipiki.
Rahma tersenyum simpul, matanya melirik sekilas ke arah Sakti di sampingnya.
"Mimpi yang jadi kenyataan, Yun!" bisik Rahma pelan, nyaris berupa rahasia. Sakti sempat mendengar sekilas gumaman istrinya, namun ia tidak begitu jelas menangkap kalimat akhirnya karena ramainya suara musik latar aula.
Tak lama setelah teman-teman kampus Rahma turun, giliran Sersan Arsen dan Letnan Yudha yang naik ke pelaminan. Bukannya bersalaman dengan normal, kedua tentara gesrek ini malah memberikan hormat militer yang dilebih-lebihkan di depan Sakti, membuat adrenalin Rahma mendadak berpacu karena mengira ada urusan dinas.
"Selamat, Komandan! Akhirnya resmi jadi suami!" seru Sersan Arsen bersemangat, lalu beralih menatap Rahma. "Ibu Pengantin, mohon bersabar ya menghadapi Kapten kita ini. Kalau di markas galaknya minta ampun, tapi kalau di rumah... yah, silakan dinikmati sendiri kejutannya nanti malam!"
Wajah Rahma seketika memerah padam mendengar candaan ambigu itu. Sakti langsung menjitak pelan pundak Arsen menggunakan buku jarinya.
"Jangan mengada-ada kau, Arsen. Cepat turun, mengantri di tempat makan sana!" usir Sakti sewot, membuat kedua sahabatnya itu tertawa puas sebelum akhirnya menyalami Rahma dengan sopan.
Momen paling mengharukan adalah saat kedua orang tua mempelai wanita dan pria bergantian naik ke atas panggung pelaminan. Pak Salim, Bu Rima, Pak Wirahadi, dan Bu Farida langsung memeluk erat Sakti dan Rahma secara bergantian, membisikkan doa-doa terbaik serta restu yang mendalam bagi awal perjalanan hidup baru sepasang suami istri tersebut.
Dan acara terakhir di tutup dengan pesta pedang pora yang begitu magis dan memukau para tamu undangan.
Bersambung...
duhhh malu bgt ketahuan sm Salma, mau ngilang aj kelobang semut saking malunya🤣
sakti u itu keterlaluan sekali SM s Rahma..
cemburu s cemburu tp sadar diri donk udh mantap blm hati u nya...
hahahaha kepergok s adik nya juga,,
gimna ya cerita selanjutnya...
kepo ya kamu dengan keakraban Rahma dengan pria lain... hihihihihi