Tiga tahun berbakti sebagai istri seolah tak ada artinya bagi Aira ketika Radit diceraikannya secara mendadak tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka.
Demi kehadiran sekretaris cantik, Aira terpaksa melangkah menembus hujan deras membawa kopernya. Kemalangan tak berhenti di situ; di tengah jalan ia diserang sekelompok preman hingga tak berdaya.
Di saat kritis, sosok pria tinggi bertato bernama Lucas datang menyelamatkannya. Namun, pertolongan itu membawa takdir baru. Dalam pengaruh obat akibat dijebak, Lucas membawa Aira ke hotel. Dengan bisikan "Jangan takut, aku mandul," Aira yang hancur akhirnya memejamkan mata dan pasrah.
Esok harinya, Aira pergi memulai hidup baru dari nol—mencari kontrakan dan pekerjaan. Namun beberapa minggu kemudian, garis dua di alat tes kehamilan meruntuhkan dunianya. Jika Radit sudah lama tak menyentuhnya, maka janin itu jelas milik Lucas. Lantas, apakah pengakuan mandul itu hanya kebohongan manis, atau ada rahasia besar yang sengaja Lucas sembunyikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Aira menarik napas panjang seraya jemarinya bergerak cepat di atas layar ponsel.
Di tengah rintik hujan yang mulai turun, ia membuka aplikasi mobile banking.
Sebuah hembusan napas lega keluar dari mulutnya saat melihat nominal saldo yang tersisa.
"Untung saja selama ini aku selalu menyisihkan uang simpanan," bisiknya pada diri sendiri.
"Aku harus segera cari kontrakan murah dan pekerjaan baru. Aku pasti bisa bertahan."
Dengan koper besar di genggaman, Aira menyusuri trotoar jalanan kota yang kian sepi dan mencekam. Kegelapan malam seolah menelan harapan-harapannya yang tumpah di rumah Radit.
Namun, kemalangan rupanya belum selesai mengujinya.
Dari balik semak-semak jalanan yang remang, tiga orang pria bertubuh gempal melangkah keluar mengadang jalan Aira. Bau alkohol menyengat tajam dari napas mereka.
"Wah, ada cewek cantik sendirian malam-malam begini," goda salah satu preman dengan seringai menjijikkan.
Tangannya yang kotor mulai terulur hendak mencengkeram bahu Aira.
"Mau kemana, Cantik? Ikut abang yuk, hangat di dalam."
"Jangan sentuh aku! Pergi!" jerit Aira panik, berusaha mundur sembari menarik kopernya.
Preman kedua terkekeh dan langsung mengepungnya dari belakang, mengunci pergerakan Aira.
"Halah, jangan jual mahal. Malam dingin begini enak main-main sebentar."
Cittt!!
Suara decitan ban mobil mewah membelah keheningan malam.
Sorot lampu tembaknya yang menyilaukan langsung mengarah tepat ke wajah para preman.
Seorang lelaki berpostur tinggi tegap melangkah keluar dari pintu pengemudi.
Wajahnya yang tegas berhias brewok tipis dan hidung mancung menatap tajam, sementara tato artistik mengintip dari balik lengan kemejanya yang tergulung.
"Hentikan!" tegas pria itu. Suaranya berat dan penuh intimidasi.
"Lepaskan dia, atau aku yang akan menghajar kalian!"
Para preman itu tertawa terbahak-bahak, meremehkan pria tunggal di depan mereka.
"Jangan sok jadi pahlawan, Bos! Mau cari mati?!"
Tanpa membuang kata-kata, pria bertato itu melangkah maju kilat.
Bugh!
Satu pukulan mentah mendarat telak di rahang preman pertama hingga tersungkur.
Bugh!
Tendangan kerasnya menghantam perut preman kedua hingga meliuk kesakitan.
Melihat rekannya dihajar dalam hitungan detik, preman ketiga ketakutan setengah mati dan langsung melarikan diri, diikuti dua temannya yang merangkak kabur.
Aira berdiri gemetar, dadanya naik turun karena ketakutan.
"T-terima kasih, Tuan."
Pria itu menoleh. Peluh membasahi pelipisnya dan napasnya terdengar memburu tidak wajar.
Matanya merah dan sayu—jelas menunjukkan ia sedang berada di bawah pengaruh obat perangsang yang kuat.
"Nanti saja terima kasihnya, sekarang tolong aku," bisik pria itu serak.
Tanpa menunggu persetujuan, ia menarik lengan Aira dengan cepat dan memasukkannya ke dalam kursi penumpang.
Mobil itu pun melaju kencang menembus hujan menuju hotel berbintang terdekat.
Di dalam kamar hotel yang minim pencahayaan, hembusan napas panas terasa makin menghimpit ruang.
Pria itu mengunci pintu dan langsung menyandarkan tubuhnya pada dinding, tampak sangat menderita menahan sesuatu dalam darahnya.
"Tuan, tolong jangan seperti ini," cicit Aira ketakutan.
Ia mundur hingga punggungnya menempel pada tepi ranjang.
"Tolong aku, Nona, aku tidak kuat lagi," rintih pria itu, suaranya dipenuhi rasa kesakitan akibat reaksi jebakan obat tersebut.
Pria bertato itu mendekat dengan langkah limbung.
Sebelum Aira sempat menghindar, ia menarik tubuh Aira ke dalam pelukannya.
Kehangatan tubuh Aira seolah menjadi satu-satunya penawar bagi siksaan di dalam dirinya.
Pria itu mendaratkan ciuman di bibir Aira dengan penuh kelembutan.
Aira terkunci dalam dekapan erat itu. Bayangan pengkhianatan Radit, penghinaan mertuanya, dan rasa hancur karena tak lagi dianggap wanita membuat pertahanan dirinya runtuh total. Ia tidak memiliki tempat pulang, tidak memiliki siapa-siapa lagi.
Pria itu menatap dalam-dalam ke mata Aira yang digenangi air mata.
Sengan bisikan serak yang mengalun lembut di telinga Aira, ia berbisik rendah, "Jangan takut, aku mandul."
Kalimat itu meruntuhkan sisa ketakutan Aira. Dalam kepasrahan dan kehancuran hatinya yang terdalam, Aira akhirnya memejamkan mata.
Di tengah keheningan malam dan rintik hujan di luar jendela kamar hotel, dua jiwa yang terluka itu larut dalam pergulatan hasrat yang intim dan intens.
Suara bisikan pasrah dan desahan napas yang memburu memenuhi setiap sudut ruang, mengikat takdir baru yang sama sekali tak pernah diprediksi oleh Aira sebelumnya.
Setelah satu jam melakukannya, mereka berdua tertidur pulas.
Jarum jam dinding di kamar hotel menunjukkan pukul lima pagi.
Semburat fajar belum sepenuhnya menyapu kegelapan, meninggalkan suasana remang yang sunyi.
Aira perlahan membuka matanya. Rasa nyeri di sekujur tubuhnya beradu dengan kepalanya yang terasa begitu berat.
Saat membalikkan badan, pandangannya tertuju pada sosok pria tinggi bertato yang masih tertidur pulas di sampingnya.
Brewok tipis di wajah tegasnya terlihat rileks saat tertidur, sangat berbanding terbalik dengan aura intens yang ia pancarkan semalam.
Ingatan akan peristiwa beberapa jam lalu berputar cepat di kepala Aira.
Pengkhianatan Radit, perlakuan kejam keluarga mantan suaminya, insiden preman di jalan, hingga momen intim di kamar ini, semuanya terasa seperti mimpi buruk yang bertubi-tubi.
Aira menggigit bibir bawahnya, menahan kepedihan yang menyusup ke dadanya.
Tanpa membangunkan pria itu, ia beranjak dari tempat tidur secepat mungkin.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, Aira memungut pakaiannya yang berserakan di lantai, mengenakannya kembali dengan terburu-buru, lalu merapikan penampilannya seadanya.
Ia menatap pria bertato yang semalam mengatakan kalau ia mandul.
Tanpa meninggalkan pesan apa pun, Aira memutar gagang pintu dan melangkah keluar dari kamar tersebut, menutupnya rapat-rapat.
Aira berjalan cepat menelusuri koridor hotel yang dingin menuju area lobi di lantai bawah.
Beruntung, koper besarnya yang semalam dibawakan oleh petugas hotel masih tersimpan aman di area penitipan barang lobi.
Setelah mengurus pengambilan koper, Aira melangkah keluar menembus udara pagi yang memeluk tubuhnya dengan rasa dingin.
Di depan area lobi, sebuah taksi kuning tampak baru saja menurunkan penumpang.
Tanpa membuang waktu, Aira melambaikan tangan menghentikan taksi tersebut.
Sopir taksi bergegas turun dan membantunya memasukkan koper besar itu ke dalam bagasi belakang.
Aira membanting tubuhnya di kursi belakang, menyandarkan kepala pada kaca jendela yang dingin.
"Mau, di antar ke mana, Mbak?" tanya sopir taksi sembari melirik dari kaca spion tengah.
Aira merogoh ponselnya, membuka catatan alamat kontrakan murah yang sempat ia cari di aplikasi malam sebelumnya. Ia menyodorkan layar ponsel itu ke arah depan.
"Pak, tolong antarkan saya ke alamat ini, ya."
Sopir taksi menganggukkan kepalanya paham.
"Baik, Mbak. Siap."
Mesin mobil pun berderu pelan, melaju perlahan meninggalkan halaman hotel.
Aira menatap ke luar jendela, menyaksikan pemandangan kota yang mulai terbangun dari tidurnya.
Hari ini, di bawah langit fajar yang kian terang, ia siap mengubur masa lalunya dan memulai segalanya dari nol.
gimana Radit, ternyata kamu yang mandul 🤣🤣 jadi anak siapa yang dalam kandungan Mila? kan pelacur murahan yah 🤣🤣
niat hati menjatuhkan chef Aira, kamu yang akan menghadapi kekuasaan Lucas
mama kandung yang waras pasti ga akan mau punya menantu pelacur murahan seperti kamu, jadi jelas sekali chef Aira kelasnya jauh di atas kamu