NovelToon NovelToon
Jenderal, Rotiku Bukan Untukmu

Jenderal, Rotiku Bukan Untukmu

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Transmigrasi / Fantasi / Tamat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.

Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1

Udara malam yang menyesakkan rongga dada menghantam Shania tanpa ampun, seolah ia baru saja ditarik paksa keluar dari kedalaman air laut yang gelap gulita. Matanya tersentak terbuka, menangkap siluet pilar-pilar kayu mahoni berukir rumit yang menjulang tinggi, dinaungi oleh tirai kain sutra berat berwarna merah anggur yang menjuntai megah dari atas ranjang kanopi raksasa.

Bukan kamar tidurnya yang sempit dan berantakan di apartemen sewaan lantai lima. Bukan pula aroma detergen murah dan bau kertas ujian menumpuk yang biasa ia hirup semalam sebelum tertidur kelelahan di meja belajar.

Bau yang menyergap indra penciumannya kini adalah aroma kayu manis panggang yang mahal, dupa mawar putih yang lembut, dan bau kemewahan kuno yang menyesakkan.

Shania mencoba menarik napas, tetapi tenggorokannya terasa tercekat. Dadanya naik-turun dengan cepat, napasnya memburu, tersengal-sengal dalam kepanikan yang teramat sangat. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul tulang rusuknya seperti burung terperangkap yang ingin keluar. Ia mengangkat tangan kanannya yang gemetar hebat—bukan lagi tangan kurus dengan ujung kuku yang terkelupas karena stres deadline, melainkan jemari lentik bercincin safir biru besar, dengan kulit seputih porselen yang mulus tanpa cela.

'Aku lapar sekali, tapi dimana aku? Kenapa aku ada disini?' batinnya menjerit putus asa.

Namun, sebelum kesadarannya sepenuhnya pulih, sebuah hantaman rasa sakit yang luar biasa tiba-tiba meledak di dalam kepalanya. Sensasi itu bagaikan ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk-nusuk otaknya secara bersamaan. Shania mengerang tertahan, mencengkeram kepalanya sendiri dengan kedua tangan, meringkuk di atas kasur empuk bersprei satin yang terasa bagai duri tajam.

Ingatan-ingatan asing, bukan miliknya, merangsek masuk dan membanjiri kesadarannya dengan kejam.

Nama itu bergema di kepalanya: Aurelia Valerius.

Nama seorang tokoh antagonis wanita dari novel fantasi-sejarah berlatar era kekaisaran klasik yang baru saja ia baca setengah habis semalam sebelum matanya menyerah pada kelelahan. Aurelia, putri bangsawan manja yang terkenal karena sifat kejam, arogan, dan obsesinya yang gila untuk menaklukkan hati suaminya sendiri—sang jenderal agung Kekaisaran yang dingin, kejam, dan ditakuti di medan perang, Damian Valerius.

Ingatan itu terus berputar, menampilkan adegan-adegan mengerikan dari bab-bab akhir novel tersebut. Adegan yang membuat darah Shania mendadak membeku di dalam pembuluh darahnya.

Ia melihat bayangan dirinya—atau lebih tepatnya, tubuh Aurelia—diseret oleh para pengawal istana dengan rantai besi melingkari pergelangan kakinya. Ia melihat tatapan mata dingin tanpa ampun dari seorang pria berambut perak kelam dengan seragam militer penuh medali kehormatan. Damian Valerius. Pria yang berdiri di atas panggung eksekusi di alun-alun kota, menjatuhkan vonis mati atas tuduhan pengkhianatan dan percobaan pembunuhan terhadap selir kesayangannya.

Dalam ingatan itu, Aurelia tidak hanya mati di tiang gantung. Novel tersebut mendeskripsikan hukumannya dengan detail yang teramat kejam: tubuhnya dimutilasi di depan ribuan rakyat jelata yang bersorak gembira merayakan kematian sang penyihir darah—julukan yang disematkan pada Aurelia. Kepala yang terpenggal dipajang di atas tombak besi selama tiga hari tiga malam sebagai peringatan bagi siapapun yang berani mengusik kedamaian sang Jenderal.

"Tidak... tidak mungkin..." Shania menggelengkan kepalanya dengan liar di atas bantal beludru. Air matanya tumpah seketika, mengalir deras membasahi pipinya yang dingin.

Serangan panik itu merambat semakin cepat, melumpuhkan seluruh fungsi motoriknya. Napasnya tersengal-sengal, pendek dan terputus-putus. Sensasi terbakar menjalar di dadanya, membuatnya merasa seolah-olah oksigen di ruangan seluas aula ini telah habis tersedot. Ia tidak bisa bernapas. Tenggorokannya terasa tertutup rapat oleh rasa takut yang luar biasa.

Didorong oleh insting bertahan hidup yang membabi buta, Shania meronta turun dari atas ranjang mewah itu. Tubuhnya yang lemas terpelanting jatuh ke lantai marmer dingin. Lututnya menghantam permukaan batu yang keras, namun ia tidak merasakan sakit fisik sedikit pun; rasa sakit di dalam dadanya jauh lebih mendominasi.

Ia tersungkur di lantai kamar yang luas, meringkuk dalam posisi yang memalukan. Kedua tangannya mencengkeram erat gaun tidurnya yang berbahan sutra tipis di dekat dada, meremasnya seolah-olah ia bisa meredakan denyut jantungnya yang menggila. Isakannya pecah menjadi tangisan histeris yang tertahan di tenggorokan. Suaranya berubah parau, gemetar hebat, memantul di dinding-dinding kamar tidur utama kediaman Valerius yang sunyi dan megah.

"Aku harus keluar... aku harus pergi dari sini..." bisiknya terbata-bata di sela-sela isakannya yang memilukan.

Matanya yang sembab menatap sekeliling kamar tidur itu dengan pandangan ngeri. Tempat tidur berkanopi megah ini bukan lagi simbol status atau kemewahan seorang bangsawan tinggi. Di mata Shania saat ini, kamar dengan hiasan emas berkilauan itu tidak lebih dari sebuah sangkar emas yang dirancang khusus oleh takdir untuk mengurungnya sebelum digiring menuju rumah pemotongan hewan.

Sangkar emas. Tempat di mana algojonya tinggal bersama-sama di bawah atap yang sama.

Aku tidak boleh mati di sini, batinnya terus merapal doa keputusasaan, mencakar lantai marmer dengan ujung jemarinya yang gemetar. Aku bukan Aurelia si jalang arogan itu! Aku hanya pembaca yang salah masuk buku! Kenapa harus aku? Kenapa aku harus menanggung hukuman mati yang begitu mengerikan? Aku harus lari... malam ini juga, aku harus kabur sebelum Damian kembali dari perbatasan!

Di tengah isak tangisnya yang semakin tak terkontrol, suara derit pelan terdengar dari arah pintu kamar utama yang terbuat dari kayu ek tebal. Pintu itu bergeser terbuka beberapa senti.

"N-Nona muda...?"

Sebuah suara lembut yang dipenuhi rasa cemas terdengar dari balik pintu. Itu adalah Martha, pelayan pribadi Aurelia yang paruh baya—satu-satunya orang di kediaman ini yang kerap menunjukkan sedikit rasa iba di tengah kebencian pelayan lain terhadap perangai sang nyonya.

Martha melangkah masuk dengan ragu-ragu, membawa nampan berisi kendi air perak di tangannya. Namun, begitu manik matanya menangkap pemandangan di hadapannya, nampan di tangannya hampir terlepas dan berdenting nyaring menghantam lantai marmer.

Aurelia Valerius—nyonya besar kediaman yang biasanya selalu menyambut pagi dengan amukan, melempar vas bunga, atau meneriaki para pelayan dengan kata-kata hinaan—kini tengah terduduk di lantai sudut kamar. Rambut panjangnya yang biasanya tersisir rapi kini kusut masai menutupi wajahnya yang pucat pasi. Tubuhnya bergetar hebat, air mata membasahi seluruh wajahnya, dan ia meringkuk seperti anak kecil yang kehilangan dunianya.

"Ya ampun, Nona! Ada apa? Apa ada yang menyakiti Anda? Perlu saya panggilkan tabib istana?" Martha bergegas menjatuhkan diri berlutut di samping majikannya, tangannya terulur dengan ragu-ragu, takut namun khawatir.

Shania mendongak perlahan. Menatap wajah pelayan tua itu dengan mata yang menyiratkan teror mendalam. Bibirnya bergetar hebat saat ia membuka mulut, mengeluarkan suara yang nyaris tak berwujud, begitu rapuh dan jauh dari kesan angkuh seorang Aurelia.

"M-Martha... selamatkan aku..." bisik Shania terbata-bata, jemarinya yang dingin mencengkeram erat pergelangan tangan pelayan itu dengan putus asa. "Dia... dia akan membunuhku... Jenderal... dia akan memenggal kepalaku..."

Martha terpaku, mengerjap bingung melihat ketakutan yang begitu nyata dan tulus terpancar dari manik mata majikannya. "N-Nona... siapa yang akan membunuh Anda? Tuan Jenderal masih berada di garis depan perbatasan utara, beliau belum pulang..."

Belum sempat Martha menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara menghentikan aliran udara di ruangan itu.

Brak!

Bukan suara ketukan biasa. Ketukan pintu yang berat, lambat, namun sarat akan wibawa dan kekuasaan mutlak menggema di seluruh penjuru kamar. Suara ketukan dari buku jari baja yang menghantam permukaan kayu ek tebal pintu utama kamar tidur itu menghentikan detik jam dinding seketika.

Ketukan pertama. Disusul ketukan kedua yang lebih tegas.

Shania terkesiap, napasnya seketika tersangkut di tenggorokan. Matanya melebar ngeri menatap pintu besar di seberang ruangan.

Pintu yang perlahan mulai berderit...

1
Murni Dewita
finish
Dian Utami
shania petakut thor harus nya pemberani
Ketoprak Encok: huhuhu.... makasih koreksinya kak
total 1 replies
Renjana
👣
mampir diceritaku juga ya😊
Murni Dewita
lanjut dan tetap semangat
Murni Dewita
gantung thor
Murni Dewita
gantung thor double up donk
Ketoprak Encok: sip kak
total 1 replies
Murni Dewita
👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!