NovelToon NovelToon
ASMARA DI HATIKU

ASMARA DI HATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"

Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.

Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.

Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.

PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 (PROLOG) KEPUTUSAN BAPAK

...🕑🕑🕑🕑🕑...

.......

Suara detak jarum jam dinding berbentuk bundar di atas papan tulis itu terdengar lebih nyaring dari biasanya.

Di dalam ruangan berpendingin udara yang suhunya disetel pada angka enam belas derajat celcius ini, Wira Aji Pratama, salah satu murid kelas XI itu justru merasa gerah. Keringat halus sebesar biji jagung perlahan menetas di pelipisnya.

Bukan karena ia takut, melainkan karena ia benci situasi ini. Situasi di mana ia harus duduk berhadapan dengan meja kayu jati besar, diawasi oleh tatapan tajam bagaikan mata elang dari pria berkumis tebal di seberangnya.

Pak Haris, Kepala Sekolah SMA Pelita 1 Bogor, melipat kedua tangannya di atas meja.

Di depannya tergeletak sebuah map merah yang sudah sangat Wira kenal. Itu adalah rekam jejak kenakalannya selama dua tahun terakhir dia bersekolah di SMA ini.

"Tiga kali... Tiga kali, Wira!" suara berat Pak Haris memecah keheningan yang sejak sepuluh menit lalu mencekik kerongkongan.

"Tiga kali kamu terlibat perkelahian dengan sekolah luar dalam semester ini saja, Wira! Belum lagi rekor bolosmu, dan juga insiden minggu lalu saat kamu dan teman-temanmu tertangkap basah nongkrong di warung belakang sekolah saat jam pelajaran Matematika."

Wira mendengus pelan, nyaris tak terdengar. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, mencoba mencari posisi nyaman. Tangannya ia masukkan ke dalam saku celana abu-abunya yang ujungnya sengaja ia buat sedikit ketat. Seragam putihnya sudah kusut, dasinya entah hilang ke mana sejak jam istirahat pertama tadi.

"Saya cuma ngebela temen, Pak! Anak SMA Bintang itu duluan yang nyari gara-gara di parkiran!" Wira membela diri, nadanya santai namun sedikit tinggi, seolah ia sedang menceritakan alur film aksi yang baru saja ditontonnya semalam.

Sifat begajulan dan tak mau kalah itu memang sudah mendarah daging dalam dirinya. Rasa penasaran yang besar dan selalu ingin ikut campur urusan teman adalah kelemahan terbesarnya.

"Cukup, Wira!"

Kali ini bukan Pak Haris yang membentak, melainkan pria paruh baya yang duduk di sebelah Wira.

Pak Aji. Ayah kandungnya.

Pria yang biasanya selalu tersenyum ramah melayani ratusan pelanggan di warung sate maranggi miliknya itu kini memancarkan aura kemarahan yang pekat. Wajahnya merah padam, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya terlihat jelas.

Ibu Wira, Bu Sari, yang duduk di sebelah kiri Wira, hanya bisa menundukkan kepala sambil meremas sapu tangan. Terdengar isakan kecil dari bibirnya. Tangisan ibunya itulah satu-satunya hal di ruangan ini yang berhasil membuat nyali Wira sedikit menciut.

"Mohon maaf, Pak Aji, Bu Sari..." Pak Haris kembali bersuara, kali ini nadanya sedikit melembut, mengasihani kedua orang tua Wira.

"Kami pihak sekolah sudah memberikan toleransi maksimal. Surat Peringatan Pertama dan Kedua sudah kami berikan bulan lalu. Tapi melihat insiden tawuran kemarin yang nyaris melibatkan pihak kepolisian, dengan sangat berat hati, sekolah harus mengeluarkan Surat Peringatan Ketiga." tambah Pak Haris.

Pak Haris menggeser selembar kertas putih dengan kop surat sekolah ke arah Pak Aji. "Ini adalah SP terakhir. Jika Wira melakukan satu saja pelanggaran disiplin lagi, baik itu bolos apalagi berkelahi atau tawuran, kami terpaksa harus mengembalikan Wira kepada Bapak dan Ibu."

Pak Aji menatap kertas itu sejenak sebelum mengambil pena di atas meja. Tangannya yang kasar—tangan pekerja keras yang setiap hari berhadapan dengan panasnya arang dan kepulan asap sate—tampak sedikit bergetar saat membubuhkan tanda tangan. Harga dirinya sebagai seorang ayah yang bekerja keras demi pendidikan anak satu-satunya itu terasa diinjak-injak.

"Terima kasih, Pak Haris. Saya jamin, Wira nggak akan membuat masalah lagi di sekolah ini," ucap Pak Aji tegas.

Wira menoleh, sedikit lega.

"Baguslaaah..." batinnya.

Setidaknya urusan ini selesai sampai di sini.

Namun, kelegaan Wira hanya bertahan seumur jagung.

Begitu mereka keluar dari gerbang sekolah dan masuk ke dalam mobil SUV hitam milik ayahnya, suasana berubah menjadi neraka es. Hujan gerimis yang mulai turun membasahi aspal kota Bogor seolah mewakili mendungnya suasana hati di dalam kabin mobil.

Tidak ada yang bicara sepanjang perjalanan menuju rumah yang berada satu kompleks dengan warung "Sate Maranggi Pak Aji". Aroma daging bakar yang gurih dan kepulan asap putih yang mengepul dari cerobong warung menyambut mereka.

Suara riuh pelanggan dan teriakan pelayan yang sibuk lalu lalang biasanya menjadi pemandangan yang menenangkan bagi Wira.

Namun hari ini, Pak Aji bahkan tidak mampir ke warung. Beliau langsung memarkir mobil di garasi rumah belakang dan melangkah masuk dengan langkah lebar-lebar.

"Duduk!" perintah Pak Aji membentak, menunjuk sofa ruang tengah. Suaranya keras, dan cukup tajam untuk mengiris udara.

Wira menurut, melempar tas ranselnya ke lantai dengan sembarangan dan menghempaskan tubuhnya ke sofa.

Bu Sari berjalan ke dapur, pura-pura sibuk membuatkan teh hangat, tak sanggup melihat pertengkaran yang ia tahu akan segera meledak.

"Bapak capek, Wir!! Capek!! Tau nggak kamu?!" Pak Aji memulai, berdiri berkacak pinggang di depan layar televisi yang mati.

"Ngasuh kamu itu rasanya jauh lebih berat daripada ngurusin pesenan sate seribu tusuk di hari libur!! Tiap minggu ada aja laporan dari sekolah!! Kamu pikir Bapak sama Ibu banting tulang cari uang dari pagi sampai malam buat apa? Buat biayain kamu tawuran, hah?!"

"Kan Wira udah bilang, Pak, itu karena anak-anak—"

Belum sempat selesai, ayahnya itu segera memotong.

"Bapak nggak peduli alesanmu!! Sekarang SP tiga udah turun!! Kamu mau dikeluarin?! Mau jadi preman terminal?!"

Wira mendecak pelan, memalingkan wajahnya.

"Ya nggak gitu juga, Pak... Wira janji deh, besok-besok nggak ikut-ikutan lagi. Lagian cowok wajar kali Pak, berantem dikit."

"Hah?! Wajar kamu bilang?!" Pak Aji memijat pangkal hidungnya.

Beliau lalu menatap istrinya yang baru saja datang membawa nampan berisi tiga gelas teh. Pak Aji mengangguk pelan pada istrinya, seolah mereka tengah memberikan kode atas sebuah kesepakatan rahasia.

Pak Aji menghela napas panjang, menatap Wira lekat-lekat.

"Bapak dan Ibu udah diskusi semalem, Wira. Kami udah memikirkan kemungkinan paling buruk kalau hari ini pihak sekolah bener-bener memberikan SP terakhir. Dan keputusan kami udah bulat."

Alis Wira berkerut. Entah kenapa, ada firasat tidak enak yang tiba-tiba merayap naik ke tengkuknya.

"Keputusan apa? Kan Wira udah janji nggak bakal bolos lagi, Pak..."

"Janji kamu itu udah nggak ada harganya di mata Bapak!" jawab ayahnya telak.

"Kamu udah terlalu nyaman di Bogor! Terlalu banyak temen-temen yang bawa pengaruh buruk, dan kamu merasa selalu ada Bapak dan Ibu yang akan jadi tameng setiap kali kamu bikin masalah!"

Pak Aji diam sejenak, membiarkan keheningan mengambil alih sebelum menjatuhkan vonisnya.

"Minggu depan, kamu pindah ke Jogja!"

Mata Wira terbelalak lebar.

Jantungnya serasa berhenti berdetak selama satu detik. Ia langsung menegakkan posisi duduknya.

"Maksud Bapak?! Pindah ke Jogja? Ngapain?! Wira kan sekolah di sini!"

"Bapak udah ngurus surat pindahmu ke salah satu SMA di Jogja. Semuanya udah diurus lewat kenalan Bapak di sana," timpal ayahnya, wajahnya datar tanpa ruang untuk negosiasi.

"Nggak! Wira nggak mau!" Wira berseru, suaranya naik satu oktaf. Kepanikan mulai menjalar di dadanya.

Jogja?

Kota yang menurutnya terlalu lambat, terlalu santai, dan membosankan itu?

Ia tidak punya siapa-siapa di sana.

"Lagian Wira tinggal sama siapa di Jogja, Pak? Ngekos? Kalo ngekos ya malah makin bebas dong!" jawab Wira dengan entengnya.

Bu Sari menaruh nampannya perlahan dan duduk di samping suaminya. "Kamu nggak ngekos, Le... Kamu bakal tinggal di rumah Bude Ning."

Nama itu menghantam kepala Wira layaknya palu godam.

Bude Ning... Kakak kandung perempuan ayahnya.

Sosok perempuan paruh baya yang terkenal dengan kedisiplinannya yang setajam silet. Wanita kolot yang sangat memegang teguh aturan, tata krama, dan unggah-ungguh Jawa.

Terakhir kali Bude Ning berkunjung ke Bogor saat Lebaran dua tahun lalu, Wira diomeli habis-habisan hanya karena cara berjalannya yang dianggap 'kurang sopan' dan karena ia bangun lewat dari jam lima pagi.

"Tinggal sama Bude Ning?!" Wira nyaris melompat dari sofa.

"Bapak sama Ibu gila ya?! Bisa mati konyol Wira di sana! Bude Ning itu kan kolot banget, Pak, Bu! Aturannya banyak! Nggak, Wira nggak mau pindah. Titik!" kata Wira kesal.

"Ini bukan tawaran, Wira! Ini perintah!" tegas Pak Aji, nadanya final.

"Kamu butuh didikan keras! Kamu butuh belajar apa itu tanggung jawab, kesopanan, dan rasa hormat. Dan Bapak rasa, udara Jogja dan tangan besi Bude Ning bakalan jadi satu-satunya obat buat penyakit begajulanmu itu!"

"Tapi Pak—" Wira mencoba menyanggah ucapan ayahnya itu.

"Keputusan Bapak sudah bulat! Mau kamu teriak sampe urat lehermu putus pun, tiket kereta ke Stasiun Tugu udah Bapak belikan untuk hari Minggu besok! Sekarang, masuk ke kamarmu dan mulai beresin semua barang-barangmu!"

Wira menatap ayahnya dengan rahang mengeras. Ia mencari celah di mata ayahnya, berharap pria itu hanya sedang menggertaknya. Namun yang ia temukan hanyalah dinding batu yang tak bisa ditembus.

Ia beralih menatap ibunya, namun Bu Sari hanya memalingkan wajah, menyeka air matanya. Tak ada pembelaan. Tak ada kompromi.

Dengan napas memburu, Wira menyambar tas ranselnya dari lantai. Ia berbalik dan melangkah lebar-lebar menuju kamarnya.

Brakkk!!!

Pintu kamar dibanting dengan keras hingga engselnya berderit protes. Wira melempar tasnya ke atas kasur dan mengacak-acak rambutnya frustrasi.

"Aaaarrrggghhh!!!" gerutu Wira frustasi.

Ia menatap ke sekeliling kamarnya. Poster band rock favoritnya, gitar akustik kesayangannya di sudut ruangan, dan jaket kebesarannya yang tergantung di balik pintu. Semua kenyamanannya, semua kebebasannya di kota hujan ini, akan segera direnggut.

"Jogja?!" desis Wira dengan nada penuh kebencian, giginya bergemeretak.

Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih pudar. Otaknya yang selalu penasaran kini berputar cepat, mencari cara untuk membatalkan vonis ini.

Namun ia tahu ayahnya. Jika Pak Aji sudah berkata 'A', maka tak ada kekuatan apa pun yang bisa mengubahnya menjadi 'B'.

"Oke!" gumam Wira pada dirinya sendiri, sebuah senyum sinis yang miring perlahan terbentuk di bibirnya. Matanya menyipit, memancarkan kilat perlawanan yang membara.

"Bapak pikir ngirim gue ke Jogja bakal bikin gue jadi anak alim yang kerjanya nunduk-nunduk? Lihat aja nanti... Gue bakal bikin kota tua itu yang pusing ngadepin diri gue!"

Bocah begajulan itu telah membulatkan tekad. Ia menolak untuk ditaklukkan.

Namun, Wira belum tahu saja, bahwa di kota yang selalu ia anggap membosankan itu, takdir telah menyiapkan sebuah pertemuan.

Sebuah pertemuan dengan seseorang yang memiliki senjata jauh lebih ampuh dari sekadar amarah dan tangan besi; seseorang yang akan menaklukkan pemberontakannya dengan kesabaran selembut sutra.

Hari Minggu besok, kereta itu akan membawanya.

Tiket sekali jalan dari Bogor, menuju pusat kebudayaan...

Menuju sebuah pusaran konflik...

Dan menuju seseorang bernama...

ASMARA.

.............

.......

.......

...Hai, para pembaca semua!...

...Ketemu lagi sama DENI TINT....

...Jangan lupa buat tinggalkan jejak (Like dan Komentar) kalian, ya......

...Dan, selamat membaca sampai tamat!...

1
Kesya Ohilitean
aku senang sekali kerana novel mau membantu aku untuk mehilakan sertes
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih banyak, Kak Kesya... 😍😍😍

Semoga Kakak selalu sehat, ya... Selalu bahagia juga buat Kak Kesya... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!