NovelToon NovelToon
Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Asrial

Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.

Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.

Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Struk Belanja dan Kesombongan

Suara mesin mobil Laras yang menjauh perlahan menghilang, menyisakan keheningan yang mencekam di teras rumah megah tersebut. Ibu Melati masih berdiri mematung dengan tangan yang menggantung di udara, wajahnya yang penuh kerutan kini tampak pucat pasi. Siska, yang sejak tadi sibuk merekam dengan ponselnya, perlahan menurunkan alat canggih itu dengan jemari yang gemetar hebat. Layar ponselnya masih menyala, menampilkan rekaman terakhir saat Laras membalikkan punggung dengan begitu angkuh.

"Apa yang baru saja terjadi?" gumam Siska dengan suara yang nyaris tidak terdengar. "Ibu, katakan padaku kalau Kak Laras tadi hanya membual tentang pengosongan rumah ini."

Ibu Melati tidak menjawab, napasnya memburu dengan ritme yang tidak beraturan. Ia menoleh ke arah Bagas yang masih berdiri kaku di ambang pintu, menatap gerbang yang kini tertutup rapat. Bagas merasa dunianya seolah runtuh dalam hitungan detik. Selama ini, ia selalu menganggap Laras sebagai pelengkap rumah yang bisa dibentak kapan saja, namun hari ini, ia melihat sosok wanita itu sebagai pemilik sah dari segalanya.

"Bagas, cepat kejar dia!" teriak Ibu Melati sambil mengguncang lengan anaknya dengan kasar. "Jangan biarkan dia pergi begitu saja setelah menghina kita seperti tadi! Ambil kunci mobilnya, atau seret dia kembali ke sini!"

Bagas menepis tangan ibunya dengan gerakan kasar yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Sorot matanya kosong, dipenuhi oleh ketakutan yang kini mulai menguasai akal sehatnya. Ia tahu betul siapa itu Laras, wanita yang selama tiga tahun terakhir selalu menuruti permintaannya tanpa banyak bertanya, namun kini telah berubah menjadi predator yang siap menerkam.

"Ibu pikir aku bisa mengejarnya?" tanya Bagas dengan suara sinis yang parau. "Dia sudah memegang kendali hukum. Jika dia sudah melibatkan pengacara, itu artinya semua aset ini benar-benar tidak lagi atas namaku. Kita sudah kehilangan segalanya."

Siska terbelalak, ia segera memeriksa aplikasi perbankan di ponselnya dengan panik. Jari-jarinya mengetuk layar dengan cepat, mencoba mengakses saldo rekening yang biasanya selalu terisi cukup untuk kebutuhan belanja hariannya. Wajahnya berubah drastis dari cemas menjadi horor saat melihat notifikasi akses ditolak yang muncul di layar.

"Ibu! Rekeningku!" pekik Siska dengan suara melengking yang memecah ketenangan pagi. "Semuanya tidak bisa diakses! Kartu kredit yang diberikan Kak Laras juga sudah diblokir. Kita benar-benar tidak punya uang sama sekali!"

Ibu Melati terduduk lemas di atas kursi teras yang mahal, perhiasan emas yang melingkar di pergelangan tangannya kini terasa begitu berat dan tidak berarti. Ia mencoba mengatur napasnya, namun dadanya terasa sesak seolah oksigen di rumah itu telah habis dikonsumsi oleh kebenaran yang baru saja terungkap. Selama ini, ia merasa nyaman hidup dari hasil keringat menantu yang ia benci, dan kenyataan bahwa sumber penghidupan itu telah diputus membuatnya merasa sangat kecil.

"Ini tidak mungkin benar," gumam Ibu Melati dengan tatapan kosong ke arah taman. "Laras tidak mungkin setega itu membiarkan mertuanya sendiri terlantar. Dia pasti hanya ingin menakut-nakuti kita agar kita tunduk padanya lagi."

Bagas berjalan gontai menuju meja tamu, ia menuangkan air ke dalam gelas dengan tangan yang bergetar hebat. Ia menatap sekeliling ruangan, melihat perabotan mewah yang selama ini ia klaim sebagai miliknya di depan teman-teman kantornya. Tiba-tiba, ia menyadari betapa kosongnya rumah itu, karena ia sendiri tidak pernah memberikan kontribusi apa pun untuk mengisinya dengan kenangan yang tulus.

"Jangan bodoh, Bu," ucap Bagas tajam tanpa menoleh ke arah ibunya. "Tadi dia bilang gugatan cerai sudah masuk. Dia tidak sedang bermain-main. Dia sudah membuang kita seperti sampah yang sudah tidak diperlukan lagi."

Siska mulai menangis, air mata yang membasahi pipinya tidak lagi terlihat dramatis seperti saat ia bersandiwara di media sosial. Kali ini, tangisannya adalah tangisan ketakutan akan masa depan yang suram tanpa fasilitas mewah. Ia mencoba mencari nomor telepon Laras, namun ia baru menyadari bahwa nomornya telah diblokir sejak sepuluh menit yang lalu.

"Kak Bagas, apa yang akan kita lakukan sekarang?" isak Siska sambil meremas ujung bajunya. "Kita tidak punya tabungan, rumah ini akan disita, dan orang-orang di media sosial pasti akan menertawakan kita setelah mereka tahu bahwa kita sebenarnya bangkrut!"

Bagas terdiam, ia menatap ke arah pintu yang tertutup rapat. Keheningan di dalam rumah itu perlahan terasa sangat mencekam, seolah dinding-dinding rumah itu pun ikut bersekongkol untuk mengusir mereka. Ia teringat bagaimana Laras selalu menyambutnya dengan teh hangat saat ia pulang bekerja, namun ia selalu membalasnya dengan bentakan jika teh itu terlalu panas atau terlalu dingin.

"Kita akan bertahan di sini sampai ada surat resmi dari pengadilan," ujar Bagas akhirnya dengan nada yang mencoba tegar. "Setidaknya sampai ada petugas yang datang untuk memaksa kita keluar. Mungkin saat itu terjadi, kita bisa memohon padanya untuk memberi kita waktu lebih lama."

Ibu Melati menggeleng keras, ia tidak mau menerima kenyataan bahwa harga dirinya harus terinjak-injak seperti ini. Ia berdiri kembali dengan susah payah, menyambar tas mewahnya yang tergeletak di lantai, lalu melangkah menuju kamarnya dengan terburu-buru. Ia berniat mengemas barang-barang berharga yang bisa ia bawa, sebelum petugas hukum datang dan merampas semuanya.

"Aku tidak akan membiarkan wanita itu menang dengan mudah!" teriak Ibu Melati dari dalam kamar. "Bagas, bawa semua sertifikat tanah dan barang-barang elektronik yang bisa kita jual dengan cepat. Kita harus mengamankan apa yang kita bisa sebelum dia datang kembali dengan polisi!"

Siska segera mengikuti ibunya, wajahnya yang tadinya penuh kesombongan kini berubah menjadi wajah serakah yang penuh dengan kepanikan. Mereka berdua mulai mengacak-acak rumah, membuka laci lemari, dan mencabut hiasan dinding seolah-olah mereka adalah pencuri di rumahnya sendiri. Bagas hanya berdiri diam di ruang tengah, menatap televisi besar yang kini mati, merasa sangat kerdil di tengah kepanikan yang ia ciptakan sendiri.

Sementara itu, di dalam mobil yang melaju membelah jalanan kota, Laras menatap ke depan dengan pandangan yang tenang dan fokus. Ia tidak merasa dendam, ia hanya merasa lega karena beban yang selama ini menindih pundaknya telah ia lepaskan. Ia telah memaafkan dirinya sendiri karena terlalu lama bertahan di lingkungan yang beracun, dan sekarang, ia siap untuk membangun hidup yang baru di atas fondasi yang lebih jujur dan mandiri.

Ponselnya kembali berdering, kali ini nama Pak Hendra muncul di layar. Laras mengangkatnya dengan senyum tipis yang menghiasi bibirnya. Ia tahu bahwa proses pengosongan rumah itu akan berjalan lancar karena ia telah menyiapkan segalanya dengan sangat teliti. Tidak ada lagi ruang untuk manipulasi, tidak ada lagi ruang untuk kebohongan, dan tidak ada lagi ruang bagi orang-orang yang hanya ingin menghisap kehidupannya.

"Halo, Pak Hendra," sapa Laras dengan suara yang lembut namun tegas. "Bagaimana perkembangannya di sana? Apakah pihak pengadilan sudah memproses permohonan eksekusi rumah itu?"

Suara berat Pak Hendra terdengar di seberang telepon, memberikan jawaban yang sangat ditunggu-tunggu oleh Laras. Ia mendengar penjelasan pengacaranya tentang langkah-langkah hukum yang akan segera diambil untuk memastikan bahwa hak milik atas aset tersebut kembali ke tangan yang seharusnya. Laras mendengarkan dengan penuh konsentrasi, setiap kata yang diucapkan Pak Hendra adalah kepastian akan kebebasannya.

"Baguslah," jawab Laras singkat setelah mendengar penjelasan Pak Hendra. "Saya tidak ingin mereka memiliki waktu lebih lama lagi untuk merusak barang-barang di sana. Pastikan semuanya berjalan sesuai prosedur yang berlaku, Pak."

Setelah mematikan telepon, Laras mematikan ponselnya dan meletakkannya di kursi penumpang. Ia tidak ingin diganggu oleh siapa pun hari ini, termasuk oleh panggilan-panggilan memelas dari Bagas yang ia tahu pasti akan segera datang. Ia telah menutup pintu masa lalunya, dan kini, ia hanya ingin menatap masa depan yang cerah dan penuh dengan kendali atas pilihannya sendiri.

Ia melajukan mobilnya lebih cepat, meninggalkan area perumahan itu semakin jauh di belakang. Di benaknya, ia sudah merencanakan langkah selanjutnya untuk memastikan bahwa keadilan akan ditegakkan bagi dirinya. Perjalanan ini bukanlah tentang balas dendam semata, melainkan tentang merebut kembali harga diri yang telah lama hilang akibat kerakusan keluarga yang pernah ia cintai.

Saat matahari mulai naik lebih tinggi, menyinari gedung-gedung tinggi di pusat kota, Laras merasa seolah ia baru saja lahir kembali. Tidak ada lagi perintah kasar, tidak ada lagi makanan basi, dan tidak ada lagi penindasan yang harus ia telan sendirian. Ia tahu bahwa tantangan besar mungkin masih menunggunya, namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa benar-benar bebas dan berdaya. Ia melajukan mobilnya dengan mantap, membelah keramaian jalanan, menuju ke kehidupan yang baru yang akan ia susun dengan tangan dan kemampuannya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!