NovelToon NovelToon
Di Antara Dua Bayangan

Di Antara Dua Bayangan

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Bad Boy / Tamat
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Pesta Ulang Tahun Caren

Lampu-lampu kristal memancarkan cahaya keemasan di ballroom hotel bintang lima kawasan Jakarta Selatan. Musik pop bertempo cepat menggema, membaur dengan gelak tawa puluhan remaja dari kalangan atas yang menghadiri pesta ulang tahun Caren yang ke-18.

Caren tampil memukau dengan gaun malam merah menyala, berdiri di tengah lingkar pertemanan elitnya sambil memegang segelas minuman. Di sampingnya, Vino berdiri anggun dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Namun, meski tatapan mata orang-orang tertuju padanya, pikiran Vino sama sekali tidak berada di pesta itu.

Matanya terus bergerak gelisah, melirik ke arah sudut ruangan dekat meja prasmanan.

Di sana, Aira berdiri canggung mengenakan seragam pelayan hitam-putih yang disewakan khusus untuk acara ini. Tugas Aira malam ini sangat jelas: memastikan gelas-gelas tamu VIP tetap terisi dan membersihkan tumpahan makanan.

Aira terpaksa berada di sini karena tuduhan Caren kemarin sore yang menyebut Aira sengaja merusak tas merek ternama miliknya di sekolah. Sebagai gantinya, Caren menuntut Aira menjadi "pelayan pribadi" di acara ulang tahunnya jika tidak ingin dilaporkan ke pihak sekolah.

"Vin, kamu kok melamun terus sih dari tadi?" keluh Caren manja seraya menggelayutkan tangannya di lengan Vino. "Lihat deh, dekorasinya bagus kan? Papaku yang sewa seluruh ballroom ini."

Vino menarik tangannya pelan, berpura-pura memperbaiki jam tangan mewahnya. "Bagus kok, Ren."

"Tuh, lihat babu kamu," tunjuk Caren dengan dagunya ke arah Aira, tertawa meremehkan bersama teman-temannya. "Kerjanya lumayan juga. Pas banget tempatnya di sana, cocok sama statusnya."

Dada Vino mendadak terasa sesak. Bayangan tatapan dingin Darel di bawah pohon taman kemarin malam kembali melintas di benaknya. Vino tahu ada yang tidak beres dengan Darel, dan membiarkan Aira dipojokkan seperti ini di depan banyak orang justru makin mempermudah Darel masuk sebagai pahlawan.

"Ren, gak usah berlebihan deh," cetus Vino datar. "Udah malam, suruh dia pul—"

"Lho, kan aku yang bayar sewa dia malam ini, Vin!" potong Caren tak mau kalah, matanya berkilat jahat. "Lagian acara baru mulai."

Caren melangkah sengaja menuju meja prasmanan tempat Aira berdiri. Ia mengambil segelas jus buah pekat dari nampan yang dipegang Aira.

"Aira, pegang nampannya yang bener dong. Goyang-goyang gitu, gak becus banget," tegur Caren dengan suara keras hingga memancing perhatian beberapa tamu di sekitar mereka.

"Maaf, Caren... tangan aku agak pegal..." bisik Aira pelan, matanya menunduk takut.

"Pegal?" Caren tersenyum sinis. Tanpa peringatan, Caren berpura-pura tersenggol oleh tamu yang lewat, lalu menumpahkan seluruh jus merah pekat itu ke bagian depan baju seragam Aira dan gaunnya sendiri.

Pyar!

Gelas kaca itu jatuh pecah ke lantai.

"Aduh! Aira! Kamu gimana sih?!" jerit Caren histeris, membuat seluruh musik dan obrolan di ballroom seketika terhenti. "Gaun mahal aku kotor gara-gara kamu! Kamu sengaja ya?!"

Aira panik setengah mati. Tubuhnya gemetar hebat, melihat noda merah pekat di bajunya dan pecahan kaca di lantai. "Nggak, Caren! Demi Tuhan aku nggak sengaja... tadi kamu yang—"

"Masih mau ngeles?!" bentak Caren, mengangkat tangannya seolah hendak menampar Aira di depan semua orang.

Aira memejamkan matanya rapat-rapat, bersiap menerima pukulan itu sambil meremas bajunya yang basah.

Namun, tamparan itu tak pernah mendarat.

Sebuah tangan jangkung berbalut kemeja putih melingkar di pergelangan tangan Caren dengan cengkeraman yang sangat kuat—cukup kuat untuk membuat Caren meringis kesakitan.

"Cukup, Caren."

Darel berdiri di sana. Ia tampil begitu menawan dengan setelan jas gelap yang sangat rapi. Wajahnya tampak tenang, namun matanya memancarkan kedalaman yang dingin dan berbahaya.

"Darel?! Lepasin tangan aku!" ringis Caren, mencoba menarik tangannya.

Darel melepaskan tangan Caren dengan gerakan menghempas yang halus namun tegas. Ia lalu melepaskan jas mewahnya, membentangkannya, dan menyampirkan jas hangat itu ke bahu Aira—menutupi noda jus merah dan tubuh Aira yang gemetar.

"Kamu enggak apa-apa, Aira?" bisik Darel sangat lembut, berlutut sejenak untuk memeriksa apakah ada pecahan kaca yang melukai kaki Aira.

Aira mendongak, matanya yang basah oleh air mata menatap Darel dengan keharuan yang tak membendung. "Kak Darel..."

Dari jarak beberapa meter, Vino melangkah cepat menghampiri mereka. Pemandangan Darel yang memeluk bahu Aira dengan jasnya membakar emosi dan gengsi Vino.

"Darel! Lu ngapain di sini?!" bentak Vino tajam, berdiri di hadapan sepupunya.

Darel bangkit berdiri, menatap Vino dengan senyuman tipis penuh ejekan tersembunyi. "Gue diundang sama orang tua Caren, Vin. Dan gue gak bisa cuma diam lihat calon tunangan lu dipermalukan seperti binatang di depan umum."

"Dia bukan—"

"Kalau kamu emang gak bisa jaga Aira," potong Darel dengan nada suara merendah namun sangat menekan, "biar gue yang bawa dia keluar dari tempat sampah ini."

Darel merangkul bahu Aira, menuntun cewek itu berjalan melewati kerumunan tamu yang berbisik-bisik.

Aira menyenderkan tubuhnya yang lemas pada Darel, merasa begitu dilindungi dari kekejaman dunia di luarnya. Ia tidak menoleh lagi pada Vino.

Vino berdiri mematung di tengah ruangan yang ramai. Tangannya mengepal begitu erat di samping tubuhnya, matanya menatap tajam punggung Darel yang membimbing Aira pergi. Ada rasa bersalah, benci, dan dorongan ketakutan yang hebat dalam dada Vino—rasa takut bahwa ia baru saja menyerahkan Aira tepat ke dalam mulut serigala berbulu domba.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!