Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.
Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.
Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.
Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.
Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Jin Islam Yang Berkhianat
Tulisan darah hitam di Batu Lingga "KALAU BUKAN SARI, ADIKMU - RANIA" itu aku foto pakai HP. Tangan ku gemetar.
Rania. Adik kandung ku umur 17 tahun, kelas 2 SMA di Surabaya. Dia tidak pernah injak Banyuwangi, tidak tahu apa-apa tentang Jin, tentang Beringin Kembar, tentang Banaspati. Kenapa Banaspati tahu nama dia? batinku.
Aku lari pulang ke rumah. Rumah warisan kakek, yang selama ini di jaga 300 Jin Islam, dijaga Kiai Jirji sekeluarga.
Aku masuk rumah, aku kunci pintu, aku teriak, "KIAI JIRJI! KELUAR! SIAPA YANG BOCORKAN NAMA ADIK SAYA KE BANASPATI?!"
Rumah yang biasanya terang cahaya putih, malam itu redup. Cahaya putihnya berkedip seperti lampu mau mati, seperti Malik waktu hampir berkhianat.
Dari dapur, muncul Kiai Jirji. Tapi wajahnya tidak seperti biasanya yang teduh senyum. Wajahnya pucat, jubah hijaunya kotor, dan di belakangnya, istrinya dan 2 anaknya menunduk, tidak berani tatap aku.
"Arga..." suara Kiai Jirji berat. "Maafkan kami..."
"MAAFKAN APA?! RANIA ITU ADIK SAYA! DIAl DI SURABAYA! KALAU BANASPATI AMBIL DIA, SAYA BUNUH SEMUA JIN DI RUMAH INI! teriakku.
Aku angkat tongkat cendana Malik, tongkat yang masih ada sisa cahaya perang Alam Seberang.
Kiai Jirji bersujud. Seorang Jin Islam berusia 200 tahun, bersujud di depan manusia 24 tahun sepertiku.
"Arga, tiga hari lalu, waktu kamu perang di sungai melawan Ulo Sowo waktu semua Jin Islam di rumah ini jaga Sari yang kesurupan paku, ada satu Jin Islam yang tidak ikut jaga. Anak saya yang bungsu, Jamil...."ucap Kiai Jirji.
Dari belakang Kiai Jirji, keluar anak kecil Jin Islam, umur 10 tahun, yang selama ini selalu main di sumur belakang rumah, yang selalu aku kasih permen.
Jamil menangis, cahayanya sudah bukan putih, tapi abu-abu, setengah hitam.
"Maafkan saya, Kak Arga... saya yang kasih tahu..."ucap Jamil.
Aku membeku.
"Jamil, apa yang kau kasih tahu? tanyaku.
Jamil terisak, "Waktu Kak Arga tidur, HP Kak Arga menyala, ada foto cewek cantik pakai jilbab biru, di wallpaper. Saya lihat, saya tanya ke Bu Lastri, Bu Lastri bilang itu adik Kak Arga namanya Rania di Surabaya. Saya... saya kesepian, Kak... saya 80 tahun jadi Jin Islam di rumah ini, saya tidak bisa main sama anak manusia, saya tidak bisa sekolah, saya tidak bisa mati..."jawab Jamil.
"Terus? tanyaku lagi.
"Kemarin waktu santet salah alamat Banaspati datang ke saya di sumur, waktu saya sendirian ambil air. Dia bilang, dia bisa jadikan saya manusia lagi, dia bisa kasih saya tubuh manusia, sekolah, main bola, kalau saya kasih satu nama perawan lain selain Sari. Karena Sari sudah suci, tidak bisa dipakai. Dia butuh darah perawan baru untuk obat lukanya... saya... saya kasih foto wallpaper itu... saya kasih nama Rania..."jawab Jamil.
Jin Islam yang berkhianat. Bukan Malik, tapi Jamil, anak Kiai Jirji, Jin kecil yang aku anggap adik sendiri..."batinku.
Jin Islam yang berkhianat karena ingin jadi manusia lagi. Sama seperti Malik yang hampir berkhianat demi anaknya, Bedanya, Jamil benar-benar berkhianat.
Kiai Jirji menangis, "Arga, saya gagal didik anak saya. Dalam kitab Jin, kalau Jin Islam berkhianat dan bocorkan nama manusia ke Jin Kafir, dia akan langsung jadi Jin Kafir. Tidak bisa balik lagi. Dan sekarang, Jamil sudah setengah hitam, lihat cahayanya abu-abu..."ucap Kiai Jirji.
Aku menatap Jamil yang menangis abu-abu itu. Aku marah, tapi aku juga kasihan. Dia 80 tahun jadi Jin penjaga rumah, tidak pernah merasakan jadi manusia.
Tapi pengkhianatannya fatal. Sekarang Banaspati tahu Rania, tahu wajahnya dari wallpaper HP ku, tahu dia di Surabaya, tahu dia perawan.
Malik datang dengan anaknya yang sudah jadi santri kecil. Malik melihat Jamil abu-abu, dia langsung paham.
"Jamil... kau sudah buka pintu. Banaspati sekarang punya alamat gaib Rania. Dia tidak perlu ke Surabaya. Dia bisa tarik Rania lewat mimpi. Malam ini juga...."ucap Malik.
Aku panik, aku telpon Rania di Surabaya. Tidak aktif. Aku telpon Ibu angkat di Surabaya. Ibu bilang, "Rania dari sore demam tinggi, mengigau, bilang ada kepala kerbau di kamarnya, Arga..."
Demam itu adalah tanda darah perawan untuk tumbal sedang diincar dari jarak jauh.
Jamil yang berkhianat itu, karena takut, lari ke sumur belakang rumah, sumur yang dulu hitam karena Ulo Sowo.
Dia mau bunuh diri, mau terjun ke sumur.
Aku kejar dia.
"JAMIL! JANGAN! Teriakku.
Tapi terlambat. Jamil loncat ke sumur.
Begitu tubuh abu-abunya masuk sumur, sumur yang sudah bening sejak itu langsung hitam lagi. Hitam pekat, mendidih, dan dari dalam sumur keluar tawa Banaspati.
"TERIMA KASIH, JIN KECIL! KAU SUDAH BUKA JALAN! SEKARANG AKU PUNYA DARAH PERAWAN BARU! RANIA! RANIA!" ucap Banaspati.
Jamil yang berkhianat, tubuhnya jadi jembatan. Sumur di rumahku jadi gerbang baru Banaspati menuju Surabaya, menuju Rania.
Malik berteriak, "Tutup sumur itu, Arga! Pakai tongkat cendana! Tancapkan!"
Aku tancapkan tongkat cendana Malik ke dalam sumur hitam yang mendidih itu.
Blarr! Sumur meledak, air hitam muncrat, dan dari dalam sumur, aku lihat wajah Jamil yang sudah full hitam, mata hitam total, tersenyum, jadi anak buah Banaspati sepenuhnya.
Jin Islam yang berkhianat, sekarang resmi jadi Jin Kafir. Anak Kiai Jirji, penjaga rumahku, sekarang jadi musuh.
Kiai Jirji jatuh terduduk, menangis, melihat anak bungsunya jadi hitam dan hilang ditelan sumur.
"Anakku..."teriak Kiai Jirji.
Aku pegang HP, telpon Ibu angkat lagi, "Bu, bawa Rania ke masjid sekarang! Jangan tidur di kamar! Bawa ke masjid! Perintahku.
Di seberang telpon, Ibu menjerit, karena di kamar Rania, dindingnya meneteskan darah hitam dari sumur rumahku di Banyuwangi.
Pengkhianatan satu Jin kecil, membuka perang yang lebih besar. Perang yang tidak lagi di Krajan, tapi sampai ke Surabaya.
Dan Banaspati, yang terluka parah, sekarang tertawa dari dalam sumur rumahku, karena dia dapat dua hal: Jamil sebagai prajurit baru, dan Rania sebagai tumbal baru.