NovelToon NovelToon
Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Fantasi
Popularitas:424
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.

Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Kapten Valerie melompat tinggi ke udara dengan tebasan pedang besarnya yang membara. Senyuman buas terukir di balik pelindung wajah bajanya saat ia membayangkan tubuh Ren yang akan terbelah dua di atas lantai batu andesit merah. Baginya, prajurit jelata ini hanyalah serangga pengganggu yang kebetulan beruntung melewati beberapa lantai sebelumnya, dan membantainya adalah tugas pembersihan yang wajar demi kemuliaan wangsa Ravensburg.

Tepat di titik koordinat tempat bilah pedang api itu seharusnya mendarat, sosok Ren telah bergeser cepat.

Ren menekan tuas pelepas uap di pergelangan tangan kirinya sepersekian detik sebelum ayunan pedang Valerie mencapai titik jatuhnya. Semburan uap panas bertekanan tinggi dari inti mekanik kuno mendorong tubuh Ren meluncur rendah menyusuri lantai batu di bawah sela kaki sang kapten ksatria. Udara panas berdesir menyengat kulitnya saat ia meluncur mulus.

Pedang raksasa Valerie menghantam lantai kosong dengan ledakan api yang memekakkan telinga. Hantaman seberat ratusan kilogram itu menghancurkan ubin batu menjadi kawah berdiameter dua meter, memercikkan bara api dan serpihan batu merah ke udara tanpa menyentuh sehelai pun pakaian Ren. Getaran hebat merambat ke seluruh penjuru amfiteater.

"Apa?!" seru Valerie dengan mata membelalak lebar di balik celah helm bajanya, kehilangan keseimbangan akibat tenaga serangannya yang menghantam ruang hampa.

Sebelum sang kapten sempat memutar tubuhnya yang berat, Vargas telah bergerak dengan kecepatan tinggi. Sang veteran memutar tubuhnya setengah lingkaran, memanfaatkan momentum untuk melemparkan rantai gergaji baja hitam yang mereka bawa dari tungku peleburan Lantai 12 sekuat tenaga ke arah pilar basal di sudut barat daya altar.

Rantai bergerigi berbahan baja hitam itu meluncur di udara dengan suara desingan logam yang tajam. Ujung rantai melilit erat pilar batu kuno, mata rantainya yang bergerigi menggores ukiran mata raksasa dan menciptakan jembatan konduktif yang menghubungkan sirkuit lantai dengan puncak penampung energi. Percikan api magis berwarna biru menyembur dari titik benturan, menandakan bahwa aliran energi telah tersambung secara sempurna di sepanjang alur batu.

"Riku, tembak sekarang!" teriak Vargas dengan suara menggelegar yang memecah riak pertempuran.

"Terimalah ini!" seru Riku seraya menarik tali busur kayu hitamnya hingga batas maksimal kelenturan kayu.

Anak panah berujung kantung kristal melesat cepat melintasi udara, menembus kabut asap dan menghunjam tepat ke dalam cekungan parit di pilar sudut timur laut. Kantung kristal itu pecah berkeping-keping saat membentur dinding parit, menumpahkan lumpur miasma ungu pekat dari rawa beracun Lantai 11 yang langsung meresap ke dalam jalur aliran darah kuno. Reaksi kimia magis mendesis keras saat racun tersebut membakar alur rune purba.

Di saat yang sama, Ren yang meluncur di atas kedua lututnya tiba di dasar tugu obelisk di tengah altar.

Tangan kanannya menghunus belati taring. Ujung bilah kitin hitamnya mencakar ukiran rune utama di dasar tugu, membalikkan polaritas aksara kuno dari penyerapan biasa menjadi resonansi penarikan mana murni. Setiap guratan belati dilakukan dengan presisi mutlak yang telah ia petakan berulang kali dalam memorinya.

Goresan terakhir diselesaikan tepat pada hitungan detik kedua puluh sembilan.

Dengungan magis yang berat meledak dari kedalaman kolam tembaga di tengah panggung. Getaran itu merambat melalui lantai batu, membuat seluruh amfiteater berguncang hebat bagai dilanda gempa dahsyat. Dinding-dinding obsidian bergetar, dan debu batu berjatuhan dari kubah setinggi puluhan meter.

Cahaya merah darah yang menyala di dinding monolit mendadak berubah menjadi ungu kehitaman pekat. Aliran energi di dalam parit-parit altar berbalik arah secara paksa, mencari sumber mana dengan kepadatan tertinggi yang berada di dalam arena.

"A-apa yang terjadi dengan zirahku?!" jerit seorang ksatria pengawal Ravensburg saat lambang zirah emas di dadanya tiba-tiba memancarkan pendar merah membara yang membakar kulitnya hingga melepuh.

Dari dalam parit altar di lantai, puluhan sulur cairan darah pekat meledak ke udara bagaikan cambuk hidup yang haus mangsa. Sulur energi darah itu meliuk-liuk di udara, memancarkan bau uap panas yang menyengat. Sulur-sulur tersebut melewati para prajurit jelata dan kuli angkut yang hampir tidak memiliki aliran mana di dalam tubuh mereka.

Sebaliknya, sulur darah itu melesat lurus ke arah para ksatria elit bangsawan yang memancarkan pendar mana murni paling pekat di arena.

"Aaaargh!"

Kapten Valerie menjerit tertahan saat lima sulur darah menembus pelat zirah dadanya, meremukkan lapisan pelindung sihir yang selama ini ia banggakan dan mengunci aliran mana di sekujur tubuhnya.

Selain Valerie, sembilan ksatria pengawal elit Ravensburg lainnya yang sedang bersiap menerjang para kuli angkut seketika terangkat ke udara oleh sulur darah tersebut. Senjata sihir mereka yang bertatahkan permata terjatuh ke lantai, berdentang di atas batu andesit merah. Jeritan putus asa para perwira bangsawan menggema di antara kepulan uap merah yang mendidih.

Suara hisapan energi terdengar bergemuruh di seluruh amfiteater. Cairan darah altar menyedot intisari mana murni dari tubuh para ksatria berdarah murni, mengalirkannya kembali ke dalam parit-parit altar dengan kecepatan sepuluh kali lipat lebih deras daripada darah prajurit biasa.

Wajah para ksatria bangsawan yang tadinya angkuh kini berubah menjadi pias dalam hitungan detik. Kulit mereka pucat pasi dan bibir mereka meracau tanpa suara saat kekuatan mana yang mereka banggakan dikuras habis oleh altar kuno tersebut untuk mengisi daya gerbang menara.

Para prajurit jelata dan kuli angkut yang berkerumun ketakutan menatap pemandangan itu dengan mata membelalak lebar. Mereka yang beberapa detik lalu menjadi mangsa tak berdaya kini menyaksikan para penindas mereka terjerat dalam perangkap maut rancangan mereka sendiri. Rasa cemas di dada mereka perlahan berganti menjadi kelegaan yang luar biasa.

Pendar merah di dinding monolit melesat naik dengan kecepatan tinggi. Darah dan intisari mana dari sepuluh ksatria elit menghasilkan energi pengorbanan yang setara dengan puluhan prajurit biasa sekaligus.

"T-tidak mungkin..." bisik Penyihir Gunter dari barisan belakang dengan tubuh gemetar hebat dan bibir membiru. "Zirah sihir bertatahkan emas itu... justru menjadi penuntun bagi hisapan darah altar?!"

Julius von Ravensburg mematung di tengah arena.

Sepasang mata birunya menatap kehancuran barisan ksatria elitnya sendiri dengan keterkejutan mendalam. Seluruh skenario pembantaian yang ia susun—menjadikan rakyat jelata sebagai tumbal murah demi membuka jalan bagi dirinya—hancur total hanya dalam rentang waktu tiga puluh detik oleh tindakan prajurit kontrak yang ia remehkan. Keangkuhan aristokrasinya tercabik-cabik di hadapan puluhan pasang mata pasukannya sendiri.

"Ren..." geram Julius, suaranya bergetar oleh amarah yang meluap.

Rahang sang komandan muda mengatup rapat, sementara napasnya memburu menahan murka. Ia mengarahkan pedang rapier kristalnya lurus ke arah Ren yang masih berdiri di atas panggung altar.

"Kau... berani-beraninya kau menyentuh darah para ksatria kebanggaan Wangsa Ravensburg!"

Ren berdiri tegak di samping obelisk hitam, jubah usangnya berkibar diterpa embusan angin panas dari parit altar. Di sudut bibirnya, setitik darah merembes keluar akibat beban saraf dari pengulangan waktu, namun tatapan matanya menatap Julius dengan ketenangan dingin.

"Darah para bangsawan mengalir sama merahnya dengan darah kaum jelata saat dihisap oleh altar ini, Tuan Muda Julius," ucap Ren dengan nada rendah dan terkontrol. "Dan tampaknya, altar purba ini jauh lebih menyukai intisari mana dari zirah emas kalian."

"Mati kau, keparat jelata!" raung Julius, melepaskan seluruh topeng keanggunannya.

Julius meledakkan simpanan mana di dalam tubuhnya. Pedang rapier kristalnya memancarkan kilatan petir biru tua yang menderu nyaring, membakar udara di sekitarnya. Dengan kecepatan tinggi, Julius melesat melintasi lantai batu, berniat memenggal kepala Ren dalam satu sabetan kilat yang mematikan.

Sebelum ujung rapier berpetir itu menyentuh anak tangga altar, sebuah dinding cahaya perak murni yang menyilaukan turun dari langit-langit kubah, menghantam lantai di antara Julius dan Ren dengan dentuman keras.

Gelombang cahaya suci itu membiaskan petir biru Julius dan memaksanya melompat mundur dengan mata menyipit tajam.

"Tahan pedangmu, Julius von Ravensburg!"

Sebuah suara lantang menggema di seluruh penjuru koloseum.

Lady Elise von Althea melangkah maju ke garis terdepan dengan jubah perak berkibar, tongkat pusaka sucinya memancarkan pendar aurora putih yang menerangi seluruh amfiteater batu darah. Wajahnya memancarkan ketegasan yang tak lagi tunduk pada doktrin kepatuhan aristokrasi. Bagi Elise, batas toleransi terhadap kekejaman telah terlampaui. Ia tidak lagi peduli pada ancaman sanksi politik senat kekaisaran atau kemarahan kadipaten Ravensburg. Di tempat terkutuk ini, kehormatan sejati diuji oleh tindakan, bukan oleh lembaran silsilah keluarga.

"Elise... apa maksud pengkhianatan ini?!" raung Julius dengan mata mendelik murka, giginya gemeletuk saat menatap sekutu bangsawannya menghadang serangannya. "Kau membela serdadu jelata ini melawan sesama perwira darah murni?!"

"Aku membela kehormatan militer dan keadilan yang kau injak-injak, Julius!" balas Elise dengan suara jernih nan menggelegar. "Wangsa Althea tidak akan pernah menjadi antek pembantaian pengecut terhadap rekan seperjuangan kita sendiri!"

Di belakangnya, tiga puluh ksatria pengawal Althea menghunus pedang perak mereka secara serempak, mengarahkan ujung bilah mereka ke arah sisa ksatria Ravensburg dan membentuk barikade pelindung di antara Julius dan para prajurit jelata. Kilatan baja perak menegaskan bahwa Wangsa Althea telah menarik garis pemisah yang tegas di medan tempur ini.

Julius mundur selangkah, napasnya memburu di balik kepalan tinjunya yang gemetar. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, kekuasaan mutlak yang ia banggakan runtuh seketika di hadapan pemberontakan terbuka sekutunya dan ketenangan dingin sang prajurit kontrak.

Ketegangan di dalam koloseum seketika memuncak. Dua wangsa bangsawan besar kini berdiri saling berhadapan dengan pedang terhunus di hadapan altar darah yang mendidih. Sementara itu, dari kedalaman kolam tembaga di tengah arena, pusaran darah mendadak berputar kencang, memancarkan gelombang kejut purba yang jauh lebih mengerikan dari perselisihan manusia di atas lantai. Waktu hitung mundur kebangkitan Sang Penguasa Berkulit Abadi kian menipis menuju detik-detik penentuan.

1
Lusiana Dewi ♥
mengerikan
Lusiana Dewi ♥
sungguh kejam 😡
Lusiana Dewi ♥
mengerikan kuku nya besar lemari /Scare/
Lusiana Dewi ♥
kasihan /Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!