Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Besi
DOR! Aris mengarahkan moncong revolvernya ke atas dan menarik pelatuk. Kilatan api keluar dari laras senjata. Burung-burung malam seketika terbang berhamburan dari dahan pohon, dan gema tembakan itu memantul di antara tebing-tebing batu.
Ketiga pria bertopeng iblis itu langsung merunduk, nyali mereka menciut seketika. Di tahun 1989, suara letusan senjata api kaliber .38 masih menjadi momok yang sangat menakutkan, bahkan bagi warga faksi radikal yang nekat sekalipun.
Nirmala yang berada di dalam karung goni menjerit ketakutan, sementara pria yang menggendongnya, jatuh terduduk di atas lumpur.
"Tembakan berikutnya tidak akan mengarah ke langit!" gertak Aris, matanya menatap tajam. Sorot senter National di tangan kirinya tetap mengunci pergerakan mereka tanpa goyah sedikit pun.
"Turunkan anak itu dan mundur lima langkah, sekarang!" Pria yang memegang clurit panjang tampak ketakutan. Dia menatap temannya, lalu perlahan menurunkan senjatanya ke tanah.
Keberanian mereka untuk membalas dendam runtuh di hadapan dinginnya besi panas milik sang detektif. Pria yang menggendong Nirmala perlahan menggeser tubuh anak itu ke atas tanah berlumpur, lalu bangkit berdiri sambil mengangkat kedua tangannya.
"Kau mungkin bisa membawa anak ini malam ini, Detektif," desis pria bertopeng iblis.
"Tapi kau tidak akan bisa menyelamatkan rekanmu yang ada di desa. Kelompok kami sudah bergerak ke rumah pusaka untuk mengeksekusinya!"
Mendengar kalimat itu, Faksi radikal ini ternyata tidak hanya bergerak ke kota untuk menculik Nirmala, tetapi mereka juga melakukan kudeta di dalam desa untuk menghabisi Januar dan menggulingkan wanita tua berambut putih.
Tanpa menunggu perintah kedua, ketiga pria itu langsung berbalik dan berlari, menghilang di balik kepekatan kabut dan rimbunnya hutan pakis. Aris segera menurunkan senjatanya dan berlari menghampiri karung goni di atas tanah. Dengan tangan gemetar,
dia membuka ikatan tali goni tersebut. Wajah mungil Nirmala muncul dengan air mata yang membasahi pipinya yang kotor oleh lumpur.
"Om Aris..." bisik Nirmala lirih sebelum akhirnya pingsan karena syok dan kelelahan. Aris menggendong tubuh lemah anak itu.
Surat tanah adat ada di mobilnya, Nirmala sudah berada di tangannya, namun nyawa Januar di dalam Desa Talas kini berada di ujung tanduk. Waktu miliknya bukan lagi tiga puluh hari, melainkan hitungan menit.
Aris berlari sekuat tenaga, mendekap tubuh kecil Nirmala yang masih pingsan. Begitu mencapai mobil miliknya yang tersembunyi di balik semak, dia membuka pintu belakang dengan cepat.
Dia merebahkan Nirmala di jok kain corduroy abu-abu yang longgar, lalu menyelimuti anak itu dengan jaket kulit cokelat miliknya yang tebal. Setelah memastikan semua pintu terkunci rapat dari dalam, Aris melompat ke kursi kemudi.
Dia mengambil surat penyerahan tanah dari dasbor dan memasukkannya ke dalam saku. Vreeeem! Mesin Corolla DX itu meraung setelah dua kali distarter. Aris menggeser tuas transmisi ke gigi satu. Kali ini, dia tidak berniat menyelinap lagi. Nyawa Januar di dalam Desa Talas sedang dihitung mundur oleh faksi radikal bertopeng iblis.
Dia harus bertindak cepat. Aris menyalakan lampu jauh mobilnya. Menerangi jalan setapak berlumpur yang menanjak. Mobil tua itu melaju kencang, berguncang hebat menghantam batu-batu jalanan hutan. Ranting-ranting pohon jati mencakar bodi mobil, menciptakan suara gesekan. Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, gerbang akar raksasa Desa Talas telah muncul di depan.
Di bawah gerbang, dua orang penjaga dari faksi radikal bertopeng iblis sedang berdiri memegang obor. Melihat ada seonggok besi tua berlampu terang meluncur ke arah mereka tanpa tanda-tanda mengerem, mereka langsung panik.
"Minggir!" teriak Aris dari dalam kabin, tangannya mencengkeram setir dengan urat-urat yang menegang. Dia menginjak pedal gas dalam-dalam. BRAAAAK! menghantam pembatas kayu dan anyaman akar tebal di gerbang desa. Benturan keras itu membuat kaca depan retak seribu, namun kekuatan mesin tua itu berhasil menjebol pertahanan desa.
Kedua penjaga bertopeng iblis melompat menyelamatkan diri ke dalam parit lumpur di sisi jalan. Mobil Aris meluncur liar memasuki pelataran tengah Desa Talas, ban mobilnya slip di atas tanah, berputar 180 derajat sebelum berhenti dengan suara decitan keras tepat di depan rumah panggung utama.
Asap putih mengepul dari balik kap mesin yang ringsek. Aris keluar dari mobil, memegang pistol revolver di tangan kanan dan senter National di tangan kiri. Suasana di pelataran tengah desa sudah menjadi ladang kekacauan.
Di atas panggung rumah utama, Januar tampak berlutut dengan tangan terikat ke belakang pada tiang eksekusi. Seorang pria bertopeng iblis merah sudah mengangkat sebilah celurit besar di atas kepala Januar.
Sementara di sudut lain, wanita tua berambut putih tampak terkunci di dalam lingkaran penjaga, tidak berdaya mempertahankan kekuasaannya yang telah dikudeta.
"Hentikan!" suara Aris menggelegar.
Ujung senjatanya langsung membidik pria algojo di atas panggung. Ketegangan kini berada di titik puncaknya di pelataran desa!