Beranjak dari takhtanya sebagai penguasa berdarah di perbatasan selatan.
Lin Xiao kini melangkahkan kaki ke dalam pusaran konspirasi mematikan Kota Awan Suci, tempat di mana eksistensi Jiwa Murni berkeliaran layaknya prajurit biasa dan Empat Sekte Suci mengendalikan langit.
Di musim kedua ini, tirai misteri Makam Para Raja perlahan ditarik lebih lebar melalui sebuah ekspedisi menegangkan ke dalam reruntuhan dimensi kuno yang tidak hanya menguji batas kekuatannya untuk menembus ranah Jiwa Murni, tetapi juga menguak luka, penyesalan, serta masa lalu dari para roh kaisar yang bersemayam di dalam tubuhnya.
Ditemani oleh Xue Mingyue, raksasa setia Meng Shan, dan seorang gadis bercadar misterius yang menyimpan rahasia terdalam dari pusat benua, Lin Xiao harus menyeimbangkan ambisi penaklukannya dengan ikatan emosional yang semakin kuat, membuktikan bahwa di balik arogansi dan kekejaman seorang Kaisar Bayangan, terdapat jiwa manusiawi yang terus berjuang mendobrak takdir para dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Kapal Terbang Spiritual milik Lin Xiao akhirnya mendarat di sebuah lembah tersembunyi yang berjarak beberapa mil dari gerbang Kota Awan Suci.
Mereka bertiga melompat turun dari geladak, lalu Lin Xiao segera menyembunyikan kendaraan raksasa itu ke dalam Cincin Penyimpanannya.
Tap. Tap.
"Mulai dari titik ini, kita bukan lagi penguasa perbatasan selatan." ucap Lin Xiao sambil melemparkan dua helai jubah usang kepada Xue Mingyue dan Meng Shan.
"Kita hanyalah tiga orang kultivator pengelana miskin yang datang ke pusat benua untuk mencari peruntungan kecil."
Xue Mingyue menangkap jubah berwarna cokelat lumpur itu dengan ujung jarinya seolah sedang memegang bangkai tikus yang bau.
"Apakah aku benar-benar harus memakai kain kotor ini, Lin Xiao?" keluh gadis pewaris es utara itu dengan wajah cemberut.
"Wajah cantikmu itu hanya akan mengundang masalah dari para tuan muda mesum di kota ini, Xue'er." jawab Lin Xiao dengan senyum mengejek.
"Kecuali kau ingin aku memenggal kepala setiap pria yang menatapmu di jalanan, pakailah jubah itu dan tutup separuh wajahmu."
'Dia selalu saja memiliki alasan yang masuk akal namun sangat menyebalkan.' batin Xue Mingyue sambil mendengus pelan dan memakai jubah tersebut.
Di sisi lain, Meng Shan sedang berusaha keras memasukkan tubuh raksasanya ke dalam jubah abu-abu yang jelas terlalu kecil untuknya.
Srak.
"Tuan Lin Xiao, kain ini merobek sisik batu di punggung saya." lapor Meng Shan dengan wajah memelas layaknya anak kecil.
"Tahan saja keluhanmu, raksasa bodoh, setidaknya itu bisa menutupi kilauan kulit metalikmu yang mencolok itu." balas Lin Xiao menggelengkan kepalanya.
Lin Xiao kemudian menggunakan teknik kamuflase dari Kaisar Roh Kematian untuk menekan aura Inti Emas Menengah miliknya.
Dia membatasi fluktuasi energinya hingga hanya terlihat seperti kultivator Pembentukan Dasar tingkat delapan, sama halnya dengan kedua sekutunya yamg juga membatasi ranah kultivasinya.
"Ayo kita jalan kaki dari sini, jangan membuat keributan sampai kita mengetahui aturan main di kota ini." perintah Lin Xiao memimpin langkah.
Mereka bertiga berjalan menyusuri jalan setapak yang perlahan bergabung dengan jalan utama yang terbuat dari batu pualam putih.
Semakin dekat mereka dengan gerbang Kota Awan Suci, semakin padat pula lalu lintas manusia yang mereka temui.
Ribuan kultivator dengan berbagai macam pakaian dan senjata berlalu lalang, mengendarai monster terbang atau kereta yang ditarik oleh binatang buas.
"Energi spiritual orang-orang yang lewat ini rata-rata berada di tahap Pembentukan Dasar puncak." bisik Xue Mingyue merapatkan jubahnya.
"Bahkan penjaga gerbang kota itu memiliki aura Inti Emas awal."
"Selamat datang di pusat dunia, di mana mantan ketua sekte kalian bisa dipekerjakan sebagai satpam gerbang kota." canda Lin Xiao dengan nada sarkastis.
Mereka bertiga membayar pajak masuk menggunakan beberapa keping batu spiritual rendah dan berhasil melewati gerbang tanpa dicurigai.
Pemandangan di dalam Kota Awan Suci benar-benar membuat Meng Shan dan Xue Mingyue menahan napas karena takjub.
Jalanan kota itu lebarnya mencapai seratus meter, diapit oleh bangunan-bangunan pencakar langit yang terbuat dari logam spiritual dan kaca giok.
"Tujuan pertama kita adalah mencari pasar gelap terbesar di sudut kota ini." ucap Lin Xiao menatap peta kota yang baru dia beli dari pedagang kaki lima.
"Kita perlu mencairkan sebagian senjata dan batu giok hitam dari sekte selatan menjadi mata uang yang diakui di pusat benua ini."
"Apakah kita akan merampok pasar gelap itu lagi seperti yang kau lakukan di asrama sekte dulu?" tanya Meng Shan dengan suara polos yang keras.
Bugh.
Lin Xiao langsung memukul bagian belakang kepala Meng Shan menggunakan sarung pedangnya.
"Tutup mulut besarmu itu jika di tempat umum, raksasa bodoh." desis Lin Xiao dengan tajam.
"Di kota ini, pengelola pasar gelap pasti dilindungi oleh ahli Jiwa Murni atau bahkan Transformasi Jiwa, kita datang untuk berdagang secara damai." jelas Lin Xiao.
Setelah berjalan selama dua jam melewati labirin kota, mereka akhirnya tiba di depan sebuah bangunan bawah tanah yang tampak kumuh dari luar.
Kriet.
Lin Xiao mendorong pintu kayu lapuk tersebut, menampilkan tangga batu yang menurun tajam ke arah kegelapan.
Begitu mereka tiba di dasar tangga, pemandangan yang sangat kontras menyambut mata mereka.
Sebuah aula bawah tanah yang luar biasa megah dan diterangi oleh ribuan kristal cahaya terhampar luas di hadapan mereka.
Ratusan konter transaksi berjejer rapi, dipenuhi oleh kultivator yang sedang menawar artefak kuno, pil beracun, hingga budak monster.
"Aromanya persis seperti kampung halamanku." bisik Lin Xiao menghirup udara yang dipenuhi oleh keserakahan dan niat membunuh yang disembunyikan.
Mereka berjalan menuju salah satu konter penilai barang yang terlihat sedikit sepi di sudut ruangan.
Di balik konter itu, seorang pria tua sedang mengamati sebuah belati menggunakan kaca pembesar beraura spiritual.
"Aku ingin menjual seratus senjata pusaka tingkat rendah dan puluhan keranjang batu giok hitam murni." ucap Lin Xiao meletakkan satu cincin spasial di atas meja.