NovelToon NovelToon
Kembali Ke Masa Muda, Tak Lagi Mengejarmu

Kembali Ke Masa Muda, Tak Lagi Mengejarmu

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Transmigrasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: mejiku

Selama enam tahun, Kinara hidup sebagai istri dari Zergan Airlangga, seorang direktur sekaligus CEO muda yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Pernikahan mereka bukanlah kisah cinta yang indah, melainkan hasil perjodohan dua keluarga besar.
Sejak awal, Kinara mencintai Zergan seorang diri. Ia bertahan dengan harapan bahwa suatu hari hati suaminya akan luluh. Namun, harapan itu tak pernah menjadi kenyataan. Bagi Zergan, hatinya telah terkubur bersama wanita yang pernah ia cintai dan telah meninggal dunia. Kehilangan itu mengubahnya menjadi pria yang dingin, acuh, dan tak pernah benar-benar melihat keberadaan Kinara sebagai istrinya.
Hingga sebuah kejadian tak terduga mengakhiri segalanya.
Saat membuka mata, Kinara mendapati dirinya kembali ke masa lalu saat usianya baru dua puluh tahun dan masih duduk di bangku kuliah. Ia kembali ke waktu sebelum perjodohan itu terjadi, sebelum enam tahun penuh luka dan penantian.
Kali ini, Kinara bertekad mengubah takdirnya. Ia tidak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29

Pagi harinya, sinar matahari yang menembus celah gorden apartemen tidak mampu menghalau atmosfer dingin di dalam kamar Kinara. Di atas nakas, ponsel gadis itu terus bergetar tanpa henti. Layarnya menyala berkali-kali, menampilkan ratusan panggilan tak terjawab dan rentetan pesan teks yang masuk bagaikan air bah.

​Semuanya berasal dari nomor yang sama: Surya Adijaya, Mika Adijaya, dan Seila Adijaya.

​Kinara yang baru saja selesai mandi berjalan mendekati nakas dengan langkah santai. Ia melilitkan handuk kecil di rambutnya yang basah, lalu mengambil benda pipih itu. Melihat angka "147 Panggilan Tak Terjawab" di layarnya, sebuah senyuman puas dan dingin terukir di bibir cantiknya.

​"Panik, ya?" gumam Kinara lirih pada keheningan kamar.

​Ponselnya kembali bergetar untuk yang kesekian kalinya. Nama sang ayah, Surya Adijaya, berkedip di layar. Kali ini, Kinara memutuskan untuk menggeser tombol hijau. Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya, namun tetap memilih bungkam, membiarkan keheningan di seberang sana tersulut lebih dulu.

​"Kinara! Akhirnya kamu angkat juga! Anak kurang ajar, apa-apaan video yang viral di media sosial itu?! Hapus sekarang juga!" Suara Surya menggelegar dari seberang telepon, sarat akan kemarahan yang bercampur dengan kepanikan yang amat sangat. Di latar belakang, sayup-sayup terdengar suara Mika yang menangis histeris dan jeritan tidak terima dari Seila.

​Kinara menjauhkan ponselnya beberapa senti, mendengus geli mendengar harga diri pria paruh baya itu yang mulai runtuh. Ia kemudian mendekatkan kembali ponselnya dan menjawab dengan nada suara yang teramat tenang, namun begitu menusuk.

​"Kenapa, Tuan Surya? Baru segitu saja sudah panik?" tanya Kinara santai, mengabaikan status pria itu sebagai ayah kandungnya. "Kenapa? Masih mau berani bermain-main lagi denganku?"

​"Kamu—! , Kinara! Gara-gara video anonim bajingan itu, saham perusahaan Adijaya Group anjlok tujuh persen dalam waktu tiga jam pagi ini! Rekan bisnis kita satu per satu membatalkan pertemuan! Reputasi keluarga kita hancur! Kamu mau menghancurkan jerih payah Ayah?!" bentak Surya, suaranya terdengar bergetar menahan frustrasi.

​Kinara bersandar pada dinding kamar, menatap kuku-kukunya dengan pandangan malas. "Jerih payah Anda tidak ada hubungannya denganku. Bukankah itu hanya konsekuensi kecil dari perbuatan anak emas kalian? Kalian yang menyalakan apinya, jadi jangan menangis saat rumah kalian mulai terbakar."

​"Hapus video itu sekarang, Kinara! Ayah perintahkan kamu untuk buat video klarifikasi dan bilang kalau itu cuma salah paham atau konten belaka! Kalau tidak, jangan harap kamu bisa mendapatkan sepeser pun harta warisan atau pengakuan dari keluarga ini!" Surya mulai menggunakan otoritasnya, mencoba menggertak seperti yang biasa ia lakukan di kehidupan lalu.

​Mendengar ancaman klise itu, tawa Kinara pecah. Itu adalah tawa sinis yang sanggup membuat bulu kuduk siapa pun merinding.

​"Harta warisan? Pengakuan?" Kinara menjeda kalimatnya, lalu mengubah intonasi suaranya menjadi sangat rendah, dingin, dan penuh dengan penekanan yang mutlak. "Dengarkan aku baik-baik, Surya Adijaya. Aku tidak butuh sepeser pun uang haram kalian, dan aku tidak sudi diakui oleh keluarga munafik seperti kalian."

​Kinara menarik napas dalam-dalam, lalu melayangkan ancaman fatalnya secara detail.

​"Video yang beredar tadi malam itu belum ada apa-apanya. Itu baru peringatan instan. Jika dalam waktu dua puluh empat jam ke depan kalian—terutama anak emas kesayanganmu, Seila—masih berani mengganggu ketenanganku, mencari keberadaanku, atau mencoba bermain trik kotor di belakangku, aku pastikan kehancuran yang sesungguhnya akan tiba."

​"Aku memegang seluruh salinan dokumen manipulasi pajak Adijaya Group dari lima tahun lalu, lengkap dengan bukti transfer bawah meja untuk memenangkan tender proyek pemerintah di daerah Jawa Barat. Sekali saja aku menekan tombol send ke pihak Kejaksaan Agung dan media nasional, nama 'Adijaya' bukan cuma akan hancur di pasar saham, tapi kalian bertiga akan memakai baju tahanan oranye dan membusuk di dalam penjara."

​Mendengar rentetan ancaman yang begitu mendetail dan akurat mengenai rahasia paling kelam perusahaannya, Surya di seberang telepon seketika bungkam seribu bahasa. Napas pria paruh baya itu terdengar memburu, tercekat di tenggorokan karena rasa syok yang teramat sangat. Ia tidak pernah menyangka anak yang dikiranya tidak tahu apa-apa bisa memegang kartu as mematikan miliknya.

​"Jangan pernah uji batas kesabaranku lagi, Tuan Surya. Bersihkan kekacauan yang dibuat anak emasmu, atau kalian semua hancur bersamaku," ucap Kinara mutlak.

​Tanpa menunggu jawaban atau makian lebih lanjut, Kinara langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Ia melempar ponselnya ke atas kasur dengan senyuman kemenangan, tahu betul bahwa setelah ini, keluarga Adijaya tidak akan pernah berani berkutik lagi di hadapannya.

1
Nyagus Gunawan
𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙤𝙢𝙖 𝙚𝙜𝙤𝙞𝙨...𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙩𝙙𝙠 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙥𝙖 𝙮𝙜 𝙠𝙞𝙣𝙖𝙧𝙖 𝙧𝙖𝙨𝙖𝙠𝙖𝙣... 6 𝙩𝙖𝙪𝙣 𝙙𝙞 𝙖𝙗𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙖𝙠 𝙙𝙞 𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥... 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙚𝙣𝙩𝙚𝙣𝙜'𝙮 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙠𝙖 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙠𝙞𝙣𝙖𝙧𝙖 𝙠𝙚𝙢𝙗𝙖𝙡𝙞.. 𝙠𝙚𝙡𝙪𝙖𝙧𝙜𝙖 𝙚𝙜𝙤𝙞𝙨...𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣'𝙮 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙚𝙨𝙖𝙡 𝙩𝙥 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙠𝙨𝙖 𝙠𝙞𝙣𝙖𝙧𝙖..
mety
mana anak buahmu zergaaannn ????
Sfarlett Alexana
Baru nemu ceritanya, kayaknya seru😍
Tira Aneri
suuukaaa
Suhana Sulaiman
back to the future thor.. masa depan... bukan masa lalu😂😂😂😂😂
Suhana Sulaiman
halah.. otak cinta semuanya.... mati aja manatau idup lagi.... dan lagi sampai otaknya benar
Suhana Sulaiman
urus hal sendiri ajalah... x kan oma gayatri yg tersohor x ada mata2.. x tahu cucu lainnya main belakang... ishh hanya omong2 kosong... kaya tapi ompong
Suhana Sulaiman
cukupla sampai sini keterlibatan kinara dakam hidup zergan.... ku rasa haura dn arsen ada motif tersembunyi... apa yg berlaku selepas ini biar berjalan sendiri
Nyagus Gunawan
𝙘𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖'𝙮 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙣𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙏𝙝𝙤𝙧...𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙥𝙞𝙣𝙩𝙖𝙧 𝙨𝙤𝙖𝙡 𝙘𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 𝙩𝙥 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙣𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣... 𝙥𝙚𝙧𝙗𝙖𝙞𝙠𝙞 𝙡𝙜 𝙮𝙖
King Ruo
bukan nya Sherly ya,,,?? kok jadi kesyah
mety
masa mati again dirimu Kinara
Sulati Cus
👍🏻
mety
sabare sampe 6 tahun...kalo aku 6 bulan dah kabur mba 😂😂😂
Emily
klo sakit hati seharusnya pergi sejauh mungkin..ini kokmalah berkorban buat pria yg menyakitinya ..di luar nurul
Hairani Siregar
Bodoh kok di pelihara, 6 Thn yg sia2 berharap mendapat cinta dri pria dingin. Bahagiakan diri sendiri, ngapain nyiksa perasaan....
Siti Maulidah
ceritanya menarik
Erna Masliana
ngepung 2 orang doang pake bawa semua pengawal..cemen
Erna Masliana
sebenarnya gak sama kamu pun kehidupan kedua Kinara udah kuat.. hebat..kaya
Ari Sawitri
sdh tdk kuliah ya? atau memang waktu sdh berlalu sekian th? 😁😅
ayu cantik
suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!