Alena berdiri dengan gugup di depan cermin rias yang memantulkan wajahnya yang begitu cantik memukau. Gaun pengantin yang membalut tubuhnya menambah kecantikan gadis itu. Hari itu adalah hari pernikahannya dengan Reno, pria yang sudah 3 tahun menjalin cinta dengannya.
Namun, hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia itu hancur karena satu telepon dari calon suaminya.
“Alena… aku tidak bisa datang. Selena pingsan dalam perjalanan ke hotel. Kita tunda pernikahannya ya”
Wajah Alena mengeras, bukan satu dua kali hal ini terjadi, dia hafal betul seperti apa kakaknya itu. Bahkan kedua orang tuanya juga selalu memihak pada Selena.
Dengan wajah tegas, Alena berdiri di depan semua orang.
"Saya, Alena Bagaskara, menyatakan pernikahan antara saya dan Reno Sebastian dibatalkan!"
Aula pernikahan menjadi riuh, namun Alena tak peduli. Dia melangkah keluar bahkan mengabaikan ancaman dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09
.
Menjelang sore di kediaman keluarga Bagaskara, sebuah mobil berhenti tepat di depan teras.
Tak lama kemudian, Tuan Gunawan dan Nyonya Miranda turun lebih dulu, disusul Selena yang baru diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Wajah gadis itu masih tampak pucat, sandiwara yang ingin ia tunjukkan di depan kedua orang tuanya.
"Pelan-pelan, Sayang," ujar Nyonya Miranda sambil menggenggam lengan putri sulungnya. "Dokter bilang kamu masih harus banyak istirahat."
"Iya, Ma," jawab Selena tersenyum lembut.
Begitu memasuki ruang tamu, pandangan Selena langsung menyapu seluruh ruangan. Rumah itu terasa begitu sunyi, meskipun ada beberapa pelayan yang berjalan mondar-mandir sambil melakukan pekerjaan mereka.
Biasanya selalu ada Alena duduk di meja makan sambil membuka laptop atau membaca laporan perusahaan sebelum berangkat ke kantor. Namun sore itu, tak ada bayangan adiknya sama sekali.
Selena berpura-pura menoleh ke sana kemari.
"Ma..." panggilnya pelan.
"Iya, Sayang?"
"Adik mana?"
Nyonya Miranda dan Tuan Gunawan saling berpandangan mendengar pertanyaan Selena.
Nyonya Miranda menghela napas panjang. "Alena... sudah pergi," ucapnya enteng
"Pergi?" Selena mengernyit seolah tidak mengerti. "Pergi ke mana?"
Tuan Gunawan menjawab dengan nada datar. "Papa sudah mengusirnya semalam."
"Apa?” Selena membelalakkan kedua matanya. Senyum penuh kemenangan muncul di sudut bibirnya, tapi buru-buru gadis itu merubah rautnya menjadi sedih. Tidak ingin papa dan mamanya mengetahui apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
"Papa... mengusir Adik?" tanya Selena dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa Papa tega melakukan itu?"
Nyonya Miranda mengangguk pelan. "Dia terlalu keras kepala, tetap menolak menikah dengan Reno padahal Papa sudah membujuknya baik-baik."
Tuan Gunawan mendengus kesal. "Bukan hanya menolak. Dia juga berani melawan orang tuanya. Lalu Papa menyuruhnya keluar karena dia tidak mau menurut. Siapa sangka dia langsung pergi tanpa pikir panjang."
"Ya Tuhan…” Selena menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Jadi Adik benar-benar pergi?"
"Iya. Semalaman dia tidak pulang."
Selena perlahan menundukkan kepalanya, mengusap air mata yang sebenarnya sama sekali tidak keluar. Tidak ada yang tahu, di balik rambut yang menutupi sebagian wajahnya… Sudut bibir gadis itu perlahan terangkat.
'Akhirnya...' batinnya. 'Akhirnya kau benar-benar keluar dari rumah ini, Alena. Mulai sekarang tidak akan ada lagi orang yang selalu puji-puji di rumah ini selain aku. Tidak akan ada lagi yang menghalangi jalanku. Semua yang ada di rumah ini, harta dan kasih sayang, semua hanya boleh menjadi milikku.”
Selena tersenyum puas dalam hati. Selama beberapa tahun ia selalu merasa kesal setiap kali mendengar para direktur perusahaan memuji kecerdasan Alena. Padahal dirinya yang lebih dulu masuk perusahaan. Tetapi orang selalu hanya melihat Alena. Setiap kali orang membandingkan mereka berdua. Bahkan dulu waktu masih kecil, papa dan mamanya juga selalu memuji-muji Alena. Tetapi kini… orang yang selama ini menjadi bayang-bayangnya telah pergi. Namun tentu saja, semua kegembiraan itu hanya ia simpan di dalam hati.
Selena segera kembali mengangkat wajahnya dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
"Papa..." ucapnya lirih. "Apa Papa tidak terlalu keras? Kasihan adik, Pa. Adik marah juga ada alasannya."
Tuan Gunawan menghela napas. "Papa juga tidak menyangka dia benar-benar pergi."
"Tapi dia adikku, Pa." Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Selena. "Kalau dia kenapa-kenapa di luar sana bagaimana?"
Nyonya Miranda langsung memeluk putri sulungnya. "Kamu itu terlalu baik hati, Sayang. Kamu baru saja keluar dari rumah sakit, tapi masih sempat mengkhawatirkan adikmu."
Selena menggeleng pelan. "Kami ini saudara, Ma. Aku memang sering berbeda pendapat dengannya, tapi aku tidak pernah berharap dia pergi dari rumah," ucap Selena dengan suara bergetar seolah benar-benar sedih.
Nyonya Miranda mengusap rambut putri sulungnya penuh kasih sayang dan membawa gadis itu duduk di sofa panjang.
"Kamu memang benar-benar Putri mama. Kamu selalu berhati lembut. Berbeda dengan Alena yang keras kepala."
Selena kembali menundukkan wajahnya agar kedua orang tuanya tidak melihat kilatan kemenangan yang sempat muncul di matanya.
'Terus saja salahkan Alena. Semakin kalian kecewa padanya... semakin mudah bagiku mendapatkan semua yang selama ini menjadi miliknya.'
Tak lama kemudian, Selena menghapus air mata palsunya lalu memaksakan sebuah senyum tipis.
"Sudahlah, Ma. Mungkin Adik hanya sedang marah, dia hanya butuh waktu menenangkan diri. Nanti juga dia pasti pulang."
Ucapan Selena terdengar begitu penuh perhatian. Seperti seorang kakak yang benar-benar menyayangi adiknya. Padahal dalam lubuk hati yang paling dalam, Selena justru berharap Alena tidak pernah kembali lagi ke rumah keluarga Bagaskara.
*
*
*
Keesokan harinya...
Pagi itu suasana di kediaman keluarga Bagaskara sudah kembali penuh dengan aktivitas. Namun, sesuatu terlihat berbeda. Jika biasanya meja makan selalu diisi oleh empat anggota keluarga, hari ini tidak lagi. Kursi yang biasa ditempati Alena tetap berada di tempatnya, tetapi kursi itu kosong tanpa penghuni.
Tak seorang pun menyinggung keberadaan gadis itu. Seolah kepergiannya semalam hanyalah bentuk pembangkangan yang sebentar lagi akan berakhir dengan kepulangannya sambil meminta maaf. Selena bahkan bersikap semakin manja, seakan tidak menginginkan kedua orang tuanya mengingat atau menyebut nama Alena.
"Ayo berangkat," ucap Tuan Gunawan setelah mereka bertiga menikmati sarapan bersama.
Selena yang hari itu sudah tampak jauh lebih segar segera berdiri.
"Iya, Pa.”
“Serius kamu mulai ikut kembali ke perusahaan hari ini? Kamu baru saja kembali dari rumah sakit kemarin?" tanya Tuan Gunawan dengan wajah khawatir.
“Tentu saja Pa. Kita tidak boleh berlama-lama meninggalkan perusahaan bukan? Kita memiliki tanggung jawab yang besar atas orang-orang yang bekerja mencari nafkah di perusahaan kita. Apalagi saat ini aku sudah baik-baik saja."
Tuan Gunawan dan Nyonya Miranda tampak tersenyum bangga mendengar perkataan putrinya. Lalu Tuan Gunawan dan Selena segera melangkah ke depan, diikuti oleh Nyonya Miranda yang akan mengantarkan mereka sampai di teras.
Sopir yang sudah menunggu dengan sikap membuka pintu untuk mereka berdua. Selena masuk ke dalam mobil setelah mencium pipi mamanya kiri dan kanan.
"Jaga diri baik-baik ya, Sayang. Ingat, jangan memaksakan diri. Kalau kamu kembali merasa tidak enak badan, kamu harus berhenti.”
"Iya, Ma. Selena pasti akan ingat pesan Mama.”
*
Beberapa menit kemudian mobil yang membawa mereka, sudah memasuki halaman parkir Gedung Bagaskara Group. Petugas valet dengan sikap membuka pintu untuk mereka berdua. Membungkukkan sedikit badannya memberikan penghormatan. Selena turun kemudian melangkah bersama Papanya sambil mengibaskan rambutnya. Seakan dirinya ingin mengatakan pada semua orang…
“Inilah aku, pewaris tunggal Bagaskara group.”
Namun, baru beberapa langkah memasuki lobi utama, Tuan Gunawan langsung merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
Para karyawan berbisik-bisik. Beberapa orang berhenti berbicara begitu melihat mereka datang. Tatapan mereka tampak seperti sedang mencemaskan sesuatu.
Belum sempat Tuan Gunawan bertanya, sekretaris pribadinya berlari menghampiri dengan wajah pucat.
"Tuan... ada masalah besar."
si bos cemburu tuh.... 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣