Menikah muda dan Kirana menyerahkan seluruh masa depannya untuk menjadi penopang di balik kesuksesan Gibran. Lima belas tahun ia setia mengabdi sebagai ibu rumah tangga, merawat anak-anak dan memastikan nama suaminya bersinar sebagai pria sempurna yang dipuja publik.
Namun, ketika harta dan tahta telah tergenggam, Gibran justru menganggap Kirana bab lama yang harus dibuang demi wanita lain.
Surat gugatan cerai dilayangkan. Satu kali, dua kali, hingga tiga kali.
Gibran mengira Kirana akan menangis mengemis cinta. Betapa naifnya. Bagi Kirana, ketenangannya bukanlah kepasrahan, melainkan strategi catur dingin.
Saat Gibran sibuk bertarung di ruang sidang, Kirana melangkah anggun menikmati masa mudanya yang tertunda. Kirana sengaja menjaga nama baik suaminya tetap bersih memastikan aset yang dibangun bersama berada di puncak nilai tertinggi.
Ketika Gibran mulai kehabisan napas, Kirana melayangkan pukulan balik. Ia mengincar delapan puluh lima persen harta gono-gini dan secara takt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Sah Yang Tak Sudi Diceraikan
Suara deru angin laut yang lembut berhembus menembus pelataran eksklusif sebuah resort mewah berbintang lima di tepi Pantai Siloso, Sentosa. Langit siang di atas Singapura membiru jernih, membiaskan pendar cahaya matahari yang hangat memantul di atas permukaan air laut yang berkilau bagaikan hamparan kristal.
Aku duduk santai di atas daybed empuk berpayung putih di tepi kolam renang infinity yang menghadap langsung ke Samudra Hindia. Hari ini, aku mengenakan gaun panjang berbahan linen halus berwarna pasir pantai yang melambai anggun ditiup angin kasual, dipadukan dengan hijab sifon bernuansa pastel yang terikat sempurna. Sepasang kacamata hitam berbingkai emas melindungi mataku dari sengatan matahari siang.
Di tanganku, sebuah gelas kaca tinggi berisi fresh mocktail markisa dingin memancarkan kesegaran yang menggoda. Di sampingku, tiga sahabatku Dena, Nela, dan Sherin tampak menikmati suasana dengan tawa renyah yang mengalun bebas di udara.
Selama beberapa hari di negara singa ini, tidak ada satu pun bayangan tentang rumah mewah yang dingin di Jakarta, tidak ada teriakan mertua yang menuntut, dan yang paling penting, tidak ada pusingnya memikirkan kelakuan Gibran serta wanita simpanannya. Di sini, aku benar-benar memanjakan diriku sendiri.
"Kirana, coba deh kamu lihat foto-foto kita pas shopping di Marina Bay Sands kemarin," seru Nela seraya menunjukkan layar tabletnya dengan mata berbinar. "Perhiasan zamrud sama tas kulit edisi terbatas yang kamu ambil itu benar-benar makin menonjolkan aura Ratu kamu! Anggun banget."
Dena yang sedang mengoleskan sunscreen di lengannya tertawa menanggapi. "Iya, betul! Aku suka banget cara Kirana menggesek kartu kredit utama dari Gibran tanpa kedip. Biarkan saja tagihannya menumpuk puluhan ribu dolar! Biar suamimu itu sadar kalau biaya hidup seorang Ratu sah itu memang berkelas, bukan kaleng-kaleng."
Aku menyunggingkan senyuman paling manis, menyesap minuman dinginku dengan sangat tenang.
"Gibran yang memilih untuk bermain api," ucapku dengan suara halus yang mengalun lembut. "Jadi, wajar saja kalau dia harus membayar mahal untuk setiap bara yang dia nyalakan sendiri. Aku hanya menjalankan hakku sebagai seorang istri sah yang selama belasan tahun ini sudah cukup berhemat dan berkorban untuk kesuksesannya."
"Setuju seratus persen." sahut Sherin mantap. "Ngapain kita pusing-pusing memikirkan pria yang tidak tahu cara menghargai wanita? Lihat dirimu sekarang, Kirana. Kulitmu makin berseri, pikiranmu tenang, dan kamu kelihatan jauh lebih muda sepuluh tahun."
Tawa kami kembali pecah menembus semilir angin laut. Rasanya sudah sangat lama aku tidak merasakan kebebasan murni seperti ini kebebasan di mana aku tidak perlu merawat mertua yang rewel, tidak perlu menyiapkan pakaian suami yang berkhianat, dan tidak perlu memendam makan hati di dalam ruangan yang megah namun hampa.
Tiba-tiba, ponsel mewahkan yang tergeletak di atas meja bundar kecil berdenting pelan. Sebuah pesan singkat masuk dari Kayla.
Aku membuka kacamata hitamku perlahan, lalu menyentuh layar ponsel.
Mami! Foto-foto Mami di Singapura cantik banget, Mami kelihatan fresh banget di sana! Mami tenang saja ya, semalam Kayla sama Evan sukses memeras Papi pas makan malam di rumah. Evan minta motor sport 250cc cash beserta perlengkapannya, dan Kayla minta mobil SUV baru buat ke kampus. Papi cuma bisa pasrah dan setuju! Biar kapok uangnya ludes sama anak-anak kandungnya sendiri daripada dipakai memanjakan wanita gatal itu. Mami nikmati liburannya ya, muah!
Membaca pesan dari putri sulungku, kekehan halus tak sanggup kutahan. Kerlingan bangga membuncah hangat di dalam dadaku. Anak-anakku tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang tegar, tetapi mereka juga paham betul bagaimana cara membalas dendam secara elegan tanpa perlu mengotori tangan mereka.
"Pesan dari anak-anakmu ya, Kirana?" tanya Dena penasaran melihat senyum di bibirku.
"Iya," jawabku seraya memasukkan kembali ponsel ke dalam tas kulitku. "Anak-anak baru saja meminta mobil baru dan motor sport pada Papi mereka. Dan Gibran menyetujuinya tanpa sanggup membantah."
Nela dan Sherin langsung bertepuk tangan kegirangan. "Luar biasa! Kayla dan Evan benar-benar anak-anak yang cerdas! Mereka tahu kapan harus menyerang kelemahan Papi-nya."
"Gibran saat ini sedang panik dan kebingungan," kelakarku santai seraya menyandarkan punggung ke daybed. "Dia kehilangan wibawa di depan anak-anaknya, kehilangan pelayan gratis untuk ibunya, dan sekarang tabungannya digerogoti dari segala sisi oleh keluarga sahnya sendiri. Sementara wanita simpanannya pasti sedang merajuk menuntut kepastian yang tak akan pernah bisa dia berikan."
"Itu yang dinamakan strategi tanpa menyentuh fisik!" puji Dena seraya mengangkat gelas minumannya ke udara. "Mari kita cheers untuk kebebasan dan kemenangan Kirana."
"Cheers!" sahut kami serentak, membenturkan gelas porselen dan kaca kami di bawah pendar sinar matahari Singapura yang hangat.
Sore harinya, kami melanjutkan liburan dengan memesan sesi perawatan spa eksklusif di salah satu pusat kebugaran dan kecantikan paling ternama di Orchard Road. Tubuhku dimanjakan dengan pijatan aromaterapi minyak mawar, lulur rempah mewah, hingga perawatan wajah berteknologi tinggi.
Saat berbaring menikmati pijatan lembut dari terapis profesional, aku memejamkan mata. Benakku melayang membayangkan betapa kontrasnya kehidupanku saat ini dengan kehidupan Gibran di Jakarta. Di sana, Gibran mungkin sedang pusing memikirkan tagihan puluhan juta untuk suster ibunya yang tak kunjung cocok, pusing menghadapi tuntutan mobil dan motor dari anak-anak, serta tertekan oleh rengekan Melani yang menagih cincin lamaran dua tahun lalu.
Sedangkan di sini, aku berdiri tegak di puncak ketenangan. Aku tidak perlu mengamuk, aku tidak perlu memohon cinta, dan aku tidak perlu menyerahkan posisiku sebagai nyonya rumah. Aku cukup menikmati setiap detik dari hidupku, membiarkan waktu dan hukum alam yang bekerja meruntuhkan kesombongan pria yang telah menduakan ketulusanku.
Malam harinya, kami berempat menikmati makan malam di sebuah restoran mewah berkonsep fine dining di atas ketinggian lantai lima puluh lima sebuah pencakar langit. Pemandangan kerlap-kerlip lampu kota Singapura yang membentang indah di bawah sana menjadi latar belakang malam kami yang sempurna.
Dengan gaun malam sutra berwarna hitam elegan dan kalung berlian yang melingkar anggun di leherku, aku berdiri di dekat jendela kaca besar, memandangi lanskap malam.
Gibran, kau mengira dengan melayangkan gugatan cerai kau bisa membuatku hancur dan mengemis padamu. Kau lupa bahwa sejak awal, akulah yang memegang peta dari seluruh kejayaanmu. Nikmatilah neraka kecil yang kau ciptakan sendiri di Jakarta, karena liburanku baru saja dimulai... dan saat aku kembali nanti, aku pastikan skakmat terakhir akan mendarat tepat di atas papan caturmu.
ga sbr nunggu bukti lain d sebar di medsos,biar mkin nyungsep tu suami n pelakor ga tau diri....biar aja mreka mkin d rujak,abs tu kna mntal....😡😡😡
pelakor lngsng kabooorrrr....
tp dia sntai aja krna smua bukti udh dia pegang,tnggal lmpar dannnn....
booommmm.....
tnang kk,crta barumu udh msuk rak...abs ni aku otw....🏃♀🏃♀🏃♀