Tujuh belas tahun Yao Conti hidup dalam penyamaran, bernapas hanya untuk satu tujuan: menuntut balas atas pembantaian keluarganya di Milan. Langkahnya membawanya menembus jantung kekuasaan keluarga Moretti, tempat ia bertemu Gerald Moretti—Don muda yang dingin, tajam, dan tidak pernah membiarkan siapa pun mendekatinya.
Bagi Yao, Gerald adalah kunci menuju pembunuh ayahnya. Bagi Gerald, Yao adalah teka-teki berbahaya yang memikat sekaligus mengancam wilayahnya. Di tengah benturan intrik politik lima keluarga mafia Italia hingga ancaman persekutuan gelap yang membentang ke Hong Kong, batas antara taktik dan perasaan perlahan mengabur.
Saat rahasia paling kelam tentang malam pembantaian itu akhirnya terkuak, mereka dipaksa memilih: menuntaskan dendam yang diwariskan oleh orang tua mereka, atau menyelamatkan cinta yang terlahir di atas tanah bersimbah darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yao na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 — Sepuluh Hari dalam Sangkar
Sepuluh hari berikutnya adalah yang paling menyiksa dalam hidup Yao sejak malam pembantaian itu sendiri.
Ia ditahan di kamar sayap timur, jendelanya diberi jeruji tersembunyi di balik tirai yang elegan, pintunya dijaga bergantian oleh dua pria yang tidak pernah menjawab satu pun pertanyaannya. Makanan diantar tiga kali sehari tanpa sepatah kata. Tidak ada Sofia, tidak ada Marco, tidak ada kabar dari dunia luar sama sekali. Yao menghitung hari-hari itu dengan menggores dinding lemari menggunakan kancing yang ia congkel dari gaunnya sendiri — kebiasaan lama yang ia pelajari dari Sofia, dari masa-masa mereka bersembunyi di apartemen-apartemen asing di seluruh Eropa.
Pada hari ketiga, seorang wanita yang tidak ia kenal masuk membawa nampan makanan, dan alih-alih pergi segera, ia berhenti sejenak. "Signor Moretti bertanya," katanya hati-hati, seolah kalimat itu sendiri berbahaya untuk diucapkan, "apakah kau tahu nama lengkap kontakmu di Jenewa. Orang yang membantumu masuk ke Italia."
Yao menyipitkan mata. Ini bukan pertanyaan biasa — ini ujian. Gerald tidak sedang mencari informasi; ia sedang menguji apakah Yao akan berbohong lagi, atau apakah ia akan cukup bodoh untuk membocorkan Marco pada orang asing yang mengaku hanya "bertanya". "Katakan pada Signor Moretti," jawab Yao pelan, "bahwa jika ia ingin tahu sesuatu dariku, ia bisa bertanya sendiri. Bukan melalui perantara yang bahkan tidak mau menyebutkan namanya."
Wanita itu tidak menjawab, hanya mengangguk kecil dan pergi. Yao tidak pernah tahu apakah ia lulus ujian itu atau tidak.
Di luar kamar itu, Gerald menghabiskan sepuluh hari yang sama dengan cara yang jauh berbeda namun sama menyiksanya. Ia tidak menyelidiki Enzo atas dasar kepercayaan pada Yao — ia menyelidikinya seolah Yao sama sekali tidak pernah ada, membangun kembali setiap kecurigaan dari nol, memeriksa ulang catatan keuangan keluarga selama dua dekade terakhir dengan tangannya sendiri, memanggil kapten-kapten senior satu per satu untuk introgasi tertutup tentang loyalitas mereka pada Enzo.
"Kau belum mengunjunginya sekali pun," kata Marco suatu malam, satu-satunya orang yang cukup berani mempertanyakan Don muda itu secara langsung — dan bahkan itu pun dengan hati-hati, karena Marco sendiri tahu posisinya masih rentan; jika Gerald memutuskan Yao adalah ancaman, Marco sebagai kaki tangannya kemungkinan besar akan menyusul nasib yang sama. "Sepuluh hari, Gerald."
"Aku tidak berutang kunjungan pada seseorang yang menghabiskan berbulan-bulan berbohong padaku," jawab Gerald dingin, tidak menoleh dari tumpukan dokumen di mejanya. "Aku sedang memverifikasi klaimnya. Itu saja."
"Dan jika klaimnya benar?"
Gerald terdiam lama sebelum menjawab, dan ketika ia akhirnya bicara, suaranya kehilangan sedikit ketegasannya. "Maka aku akan tahu aku pernah jatuh cinta pada seseorang yang direncanakan untuk menghancurkanku sejak awal. Entah mana yang lebih buruk, Marco — mengetahui dia berbohong, atau mengetahui aku tidak cukup pintar untuk menyadarinya lebih awal."
Pada hari kedelapan, bukti pertama muncul: catatan transfer kecil dari rekening pribadi Enzo ke sebuah perusahaan cangkang di Zurich, tersembunyi rapi di balik lapisan dokumen pajak yang membosankan — sesuatu yang tidak mungkin ditemukan Yao sendiri tanpa akses penuh ke arsip keuangan keluarga. Gerald menatap angka-angka itu selama hampir satu jam penuh, sesuatu di dadanya mengeras dan runtuh secara bersamaan.
Pada hari kesepuluh, ia akhirnya membuka pintu kamar sayap timur sendiri, tanpa mengetuk.
Yao berdiri seketika, waspada, tidak yakin apakah ini akhirnya pembebasan atau sesuatu yang lebih buruk.
Gerald berdiri di ambang pintu, tidak masuk sepenuhnya, seolah masih menjaga jarak yang telah ia bangun sendiri. "Aku menemukan sesuatu," katanya, tanpa basa-basi, tanpa permintaan maaf. "Bukan karena aku mempercayaimu. Karena aku menemukannya sendiri."
"Aku tidak minta kau mempercayaiku," jawab Yao, suaranya lebih tajam dari yang ia duga akan keluar setelah sepuluh hari sunyi. "Aku hanya minta kau tidak membiarkan Enzo lolos karena kau terlalu sibuk menghukumku."
Sesuatu berkelebat di mata Gerald — bukan kehangatan, tapi semacam pengakuan tersirat bahwa Yao benar. "Kita akan bekerja sama," katanya akhirnya, "menyelidiki ini sampai tuntas. Tapi jangan salah paham, Yao Conti. Ini bukan kepercayaan. Ini transaksi. Kau membantuku menjatuhkan Enzo, dan setelah itu selesai, aku akan memutuskan apa yang pantas kau terima untuk semua kebohonganmu."
Kata-kata itu menyakitkan jauh lebih dari yang seharusnya, tapi Yao mengangguk, menerima syarat dingin itu karena tidak ada pilihan lain yang tersisa baginya. "Sepakat," jawabnya, meski sesuatu di dalam dadanya terasa retak mendengar betapa jauhnya jarak yang telah tercipta di antara mereka hanya dalam sepuluh hari — jarak yang, entah kenapa, terasa jauh lebih menyakitkan daripada tujuh belas tahun kesendirian yang pernah ia jalani sebelumnya.
Mereka bekerja sama secara rahasia selama beberapa minggu berikutnya, menyamar sebagai pasangan yang sedang berselisih di depan umum — sebuah kebohongan yang kini terasa menyakitkan justru karena begitu dekat dengan kenyataan. Setiap malam, mereka duduk di meja yang sama, memeriksa dokumen yang sama, tapi selalu menjaga jarak fisik yang canggung, dua orang yang pernah berbagi ciuman di bawah cahaya bulan Taormina kini berbicara satu sama lain dengan kesopanan kaku orang asing.
Marco, yang awalnya skeptis terhadap keputusan Gerald untuk melibatkan Yao kembali meski dengan syarat sekeras itu, perlahan mulai melihat bahwa kemarahan Gerald, meski nyata, tidak pernah benar-benar padam menjadi kebencian — hanya berubah menjadi kewaspadaan yang menyakitkan bagi keduanya.
"Kita menemukan sesuatu," kata Marco suatu malam, menunjukkan sebuah rekaman transaksi bank yang berhasil ia retas dari server luar negeri — meski butuh tiga percobaan dan hampir memicu alarm keamanan bank itu sendiri sebelum akhirnya berhasil. "Enzo memiliki rekening rahasia di Swiss, menerima transfer besar dari sumber yang tidak teridentifikasi selama bertahun-tahun terakhir — termasuk transfer besar tiga minggu lalu, tepat setelah ia mulai mencurigai identitas Yao."
Gerald memeriksa dokumen itu dengan wajah semakin gelap. "Ini dari keluarga Russo," katanya, mengenali pola transaksi yang familiar dari investigasi bisnisnya sendiri. "Enzo sedang menjual kita, Yao. Dia bersekongkol dengan Russo untuk melemahkan keluargaku dari dalam."
"Untuk apa?" tanya Yao. "Apa untungnya bagi Enzo jika keluarga Moretti hancur?"
Gerald terdiam lama, pikirannya berputar mencari jawaban yang mengerikan. "Kecuali," katanya pelan, "dia berencana mengambil alih sendiri setelah kekacauan mereda. Seorang penasihat yang setia akan selalu ada untuk 'membantu' membangun kembali apa yang tersisa."
Kebenaran itu menghantam mereka berdua seperti petir di siang bolong: Enzo Bastiani bukan hanya pembunuh masa lalu yang mencari perlindungan. Ia adalah dalang jangka panjang yang menghancurkan dua keluarga mafia besar demi ambisinya sendiri untuk berkuasa.
"Kita perlu bergerak hati-hati," kata Marco, mengumpulkan kembali dokumen-dokumen yang telah mereka analisis sepanjang malam. "Jika Enzo menyadari kita sedang menyelidikinya sebelum kita punya bukti yang cukup untuk menghadapinya secara terbuka, dia bisa saja mempercepat rencananya atau bahkan melarikan diri sepenuhnya."
"Berapa lama lagi yang kita butuhkan?" tanya Gerald, kelelahan mulai terlihat jelas di wajahnya setelah berhari-hari bekerja dalam kerahasiaan sambil tetap berpura-pura normal di depan Enzo dan seluruh keluarga.
"Beberapa hari lagi," jawab Marco. "Aku sedang melacak jejak transfer dana itu kembali ke sumbernya. Jika aku bisa membuktikan koneksi langsung antara Enzo dan keluarga Russo dalam bentuk yang tidak bisa dibantah, kita akan memiliki cukup amunisi untuk menghadapinya di depan seluruh kapten keluarga."
Yao mengangguk, meski kekhawatiran tidak sepenuhnya hilang dari wajahnya. Setiap hari yang berlalu terasa seperti bom waktu yang terus berdetak, dan ia tidak bisa menyingkirkan firasat bahwa Enzo, dengan kelicikannya yang telah teruji selama tujuh belas tahun, mungkin sudah menyadari bahwa sesuatu sedang berubah — dan bahwa jarak dingin yang masih membeku di antara dirinya dan Gerald mungkin tidak akan pernah benar-benar mencair, apa pun hasil dari investigasi ini nantinya.