Siapa aku, seorang pecundang?
Mengikuti kisah Lyan Clament, seorang penyihir tingkat Saint. Walaupun masih remaja, ia mengejutkan banyak orang dengan kemampuannya. Tapi kekuatan sihir bukanlah penentu utama.
Di dunia ini, Benua Ostland menjadi tempat Kekaisaran melakukan invasi tanpa henti. Tidak ada yang murni baik atau buruk; semua orang memiliki alasan masing-masing untuk bertahan hidup.
Tingkat Saint? Hah...
Gelar itu tidak membuat Lyan spesial di antara puluhan penyihir lainnya. Meski hanya satu dari seratus orang yang bisa menggunakan sihir, untuk apa kemampuan tersebut jika dihadapkan dengan kekuatan Kekaisaran?
Lyan baru saja kehilangan kedua orang tuanya, dan tetap bernapas sampai sekarang adalah sebuah keajaiban. Dendam di dalam hati sempat membutakannya untuk membalas kematian orang tuanya. Namun, semua itu perlahan berubah ketika ia bertemu dengan Steven dan Sandra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lamunan Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10 Misi Sampingan Dimulai!
Setelah beristirahat semalaman, Sandra yang tidak sabaran langsung melesat bangun begitu mendengar bunyi bel sihir yang kupasang.
"... Tunggu!"
Sebelum Sandra memutar kenop pintu, seorang pelayan berteriak memanggil. Kami menoleh dan mendapati lima pelayan di sana sudah menyiapkan puluhan piring makanan dengan berbagai menu yang belum pernah kami lihat seumur hidup. Sandra yang tadinya sangat bersemangat untuk pergi, seketika mengurungkan niatnya. Ia membanting tubuhnya ke kursi bar lalu melahap sup ikan di hadapannya.
Tak ingin menyia-nyiakan kebaikan tuan rumah, aku ikut bergabung, tentu saja dengan tetap menjaga tata krama.
"Selamat pagi!"
Si pemabuk malam tadi membanting pintu depan, lalu duduk ikut menyantap hidangan tanpa diundang. Aku membiarkannya saja agar tidak merusak suasana, meski aroma alkohol dari tubuhnya masih menyengat.
"Oi, Leograd! Kenapa kau tidak pernah menyajikan makanan seenak ini untukku sebelumnya?!"
"Dasar tua bangka! Ini Guild, bukan panti asuhan! Kami cuma menyajikan ini kalau ada pelanggan yang bayar!"
"Anak muda zaman sekarang memang selalu kurang ajar pada orang tua~"
"Siapa yang kau sebut kurang..."
Dari keributan itu, aku baru tahu nama pelayan muda itu adalah Leograd. Ia masih sangat muda untuk ukuran pekerja Guild. Melihat prospek kehidupannya, jujur saja bekerja di bidang administrasi publik terasa jauh lebih aman daripada menjadi petualang yang berhadapan dengan Kematian.
Meski begitu, menjadi mitra petualang punya keuntungannya sendiri. Bayaran yang didapat bergantung pada tingkat kesulitan misi, berbeda dengan staf Guild yang terikat gaji tetap berdasarkan kontrak.
"... Kalau begitu, kami siap menjalankan misi!" seru Sandra mantap.
Steven meletakkan garpunya, lalu mengemas beberapa roti keras ke dalam ransel. Melihat itu, aku bergegas memasukkan makanan apa saja yang muat ke dalam saku. Perjalanan menuju dungeon di Puncak Zantur diperkirakan memakan waktu hingga seminggu lebih. Puncak Zantur sendiri masih termasuk dalam gugusan kaki Pegunungan Sigmund, kawasan pegunungan terluas di Ostland. Jika tidak ada halangan, setelah membereskan sarang goblin ini kami bisa langsung bergerak menuju sisi lain pegunungan.
Masalah utamanya adalah melacak keberadaan Jenderal Iblis Zigurad. Informasi yang diberikan Kaslana sangat minim, hanya bersumber dari rumor warga lokal. Kemungkinan untuk menemukan sosoknya di sana bisa dibilang amat kecil. Bahkan terlintas di pikiranku, apakah Zigurad sebenarnya sudah mati sejak lama?
Asumsi itu cukup masuk akal. Catatan sejarah menyebutkan Jenderal Iblis seperti Zigurad dan Almentis telah berusia ratusan tahun. Sehebat apa pun ras demon dan sepanjang apa pun rentang hidup mereka, mereka tetaplah makhluk bernyawa yang bisa mati karena usia tua.
"... Lyan?"
Saat aku hendak melangkah keluar dari Guild, si pemabuk mendadak memanggilku. Tanpa basa-basi, ia menyerahkan secarik kertas ke telapak tanganku lalu mengatupkan jemariku. Baru saja aku mau bertanya, pria tua itu hanya tersenyum samar lalu melangkah mundur tanpa mengucap sepatah kata pun.
Tidak ingin ambil pusing, aku menyelipkan kertas rahasia itu ke balik jubahku.
"Oi! Cepat sedikit!" teriak Sandra yang sudah bertengger di dalam karavan.
"Tunggu aku~"
Begitu aku memanjat naik, sang kusir yang masih tampak mengantuk mulai memacu kudanya. Tapi di saat bersamaan, Leograd berlari kencang dari dalam Guild dan mendadak menghadang di tengah jalan. Kusir yang terkejut setengah mati refleks menarik tali kekang sekuat tenaga hingga terputus. Beruntung, dua kuda di depan berhasil mengerem sebelum menabraknya.
"Kenapa kau malah menghalangi jalan?!" bentak sang kusir sengit.
"Izinkan aku berbicara sebentar dengan Sandra!" seru Leograd napasnya terengah-engah.
"Ada apa?" tanya Sandra sambil memunculkan kepalanya dari jendela karavan.
"Kalian tidak bisa pergi menggunakan karavan ini!"
"Ha...?"
"Turunlah sebentar, ada sesuatu yang harus kuperlihatkan."
Kami bertiga saling pandang, lalu mengangguk dan melompat turun. Leograd langsung membentangkan sebuah gulungan peta topografi wilayah Istarloth yang cukup rinci di atas kap karavan.
"Memangnya ada apa dengan rute ini?" tanya Steven mengamati garis-garis di peta.
"Puncak Zantur tidak bisa diakses oleh transportasi apa pun," terang Leograd sambil menunjuk area bergaris merah. "Kalau kalian memaksa, karavan ini paling jauh hanya sampai di Desa Qianlo. Setelah melewati desa itu, ada tebing curam yang cuma bisa dilewati dengan mendaki. Lagi pula, suara derap kaki kuda hanya akan memancing gerombolan goblin untuk menyergap kalian di tengah jalan."
Penjelasannya cukup masuk akal. Namun, Sandra langsung meronta protes.
"Itu merepotkan sekali! Bayangkan berapa minggu waktu kita yang terbuang kalau harus berjalan kaki!"
"Cuma tiga hari kalau lewat jalur pintas," potong Leograd tenang sambil menggeser jarinya ke titik lain. "Kalian bisa menembus cabang ruang bawah tanah yang ada di Balai Kota Qianlo."
"Kenapa tidak bilang dari tadi, sih?!" bentak Sandra gemas.
"Lalu, bagaimana kami bisa mengenali bangunan itu?" timpalku menengahi.
"Gampang. Semua rumah di Qianlo tidak ada yang lebih dari dua lantai. Kalau kalian menemukan bangunan megah setinggi empat lantai di pusat desa, itulah balai kotanya."
Leograd mendadak menghentikan kalimatnya. Tatapannya berubah serius, penuh kewaspadaan.
"Tapi ada satu hal yang wajib kalian waspadai," tambahnya dengan nada suara merendah. "Ruang bawah tanah itu menyimpan cerita kelam. Dulu tempat itu jalan menuju Quarry, sampai sebuah insiden misterius terjadi—delapan penambang hilang tanpa jejak."
Kami bertiga terdiam menyimak.
"Seminggu kemudian, hanya satu orang yang berhasil keluar hidup-hidup. Tapi ingatan pria itu sudah hancur; ia cuma bisa tertawa histeris tanpa menjelaskan apa pun," lanjut Leograd sambil menghela napas panjang. "Entah itu cuma rumor atau fakta, yang jelas kalian harus tetap waspada. Di dalam sana, setidaknya ada sarang slime dari tingkat Rookie hingga Professional."
Melihat kami tidak memiliki pertanyaan lagi, Leograd kembali menggulung petanya.
"Apakah ada pertanyaan lagi?"
"Tidak ada!" sahut Sandra cepat.
"Bagus kalau begitu." Sebelum melangkah kembali ke dalam Guild, Leograd berbalik dan berteriak kepada kusir kami. "Selama mereka bertiga menjalankan misi, kamu bisa menginap di Guild sepuasmu gratis!"
Kusir kami tidak memberi tanggapan. Ia sibuk mengelus kuda kesayangannya sambil memasang tali kekang yang baru. Steven menghampirinya untuk menjelaskan bahwa kami tidak akan membutuhkan karavan selama beberapa hari ke depan.
Awalnya pria itu sempat menolak tawaran menginap di Guild. Namun, setelah Steven meyakinkannya tentang betapa berisikonya wilayah luar saat ini, ia akhirnya pasrah dan mengangguk setuju.
"... Aku hanya perlu mengantar kalian sampai Desa Qianlo saja?"
"Benar, pak."
"Kalau begitu, naiklah!"
Setelah memastikan semua perlengkapan siap, kusir kembali memacu Kudanya.
"Desa Qianlo..." gumamku pelan.
Sepanjang perjalanan, tidak ada ancaman berarti yang menghadang. Kami hanya disuguhi hamparan pastoral dan padang rumput hijau yang luas hingga akhirnya tiba di tujuan. Tepat di hadapan benteng palisade tua, gerbang kayu yang mulai melapuk tampak terbuka lebar. Tak ingin membahayakan karavan lebih jauh, kami meminta kusir untuk menurunkan kami cukup sampai di depan gerbang saja. Sebelum ia berbalik arah menuju Guild, aku menyerahkan belati milikku kepadanya untuk perlindungan diri.
"Tempat ini sepi sekali... Coba aku berteriak—Oi! Ada orang tidak?!"
Sementara teriakan Sandra bergema memantul di dinding benteng, aku dan Steven bersiap menghadapi potensi ancaman. Tapi tidak ada satu pun musuh yang muncul.
Sejak berada di permukiman, tidak ada tanda kehidupan yang terlihat selain deretan bangunan terbengkalai dengan tengkorak manusia berserakan di mana-mana. Ukuran desa ini terlalu luas jika hanya disebut pemukiman kecil. Kami membutuhkan waktu hingga setengah hari untuk akhirnya menemukan bangunan yang dimaksud Leograd.
"... Kita sudah sampai!" seru Sandra gembira. "Tunggu apa lagi? Ayo masuk!"
"Tunggu, Sandra!"
Aku bergegas menahan lengannya sebelum langkah gadis itu melewati ambang pintu.
"Ada apa?"
"Aku merasakan aliran mana. Walaupun samar, tekanannya tetap berbahaya."
Steven langsung merapatkan telinga ke permukaan tanah. Ia menoleh ke arahku, mengonfirmasi keberadaan derap langkah kaki yang bergerak mendekat dari dalam. Tak ingin mengambil risiko, aku menarik tongkat sihir dari dalam jubah.
"Oh Dewi Charlotte, terangilah kegelapan ini dengan cahaya kehidupan—Flame Guard!"
Pada awalnya tidak ada ancaman yang terlihat, sampai Sandra mendorong pintu kayu di hadapan kami tanpa bertanya.
"Argh!"
Puluhan goblin bertubuh kerdil mendadak melesat keluar. Mereka menyerbu sambil mengacungkan pedang karatan dan busur kecil. Kami terpaksa bertarung jarak dekat hingga seluruh tubuh terpercik cairan hijau berbau menyengat. Usai melumpuhkan gerombolan makhluk tanpa akal itu, aku berjalan menghampiri Sandra. Dengan senyum kaku, aku mendaratkan jitakan keras di kepalanya.
"Aduh!" ringisnya sambil memegang dahi.
"Kita tidak punya waktu lagi! Terobos masuk sekarang!" teriakku mengambil alih barisan depan.
Aku berlari menyusuri lorong sambil mengibaskan tongkat sihir ke arah goblin yang terus berdatangan.
"Oh Dewi Charlotte, lindungilah hamba-Mu yang penuh kasih ini dari segala bencana—Shield Globe!"
Perisai pelindung tercipta mengelilingi tubuh kami. Tanpa menghentikan langkah, kami terus menerobos kerumunan musuh hingga berhasil mencapai akses ruang bawah tanah yang dimaksud.
Terlalu cepat untuk bersyukur. Pintu tebal berbahan granit di hadapan kami tidak bergeming sedikit pun, meski kami bertiga sudah mengerahkan seluruh tenaga untuk mendorongnya. Sementara itu, gerombolan goblin yang tadi sempat terkapar mulai bangkit kembali. Walau luka sayatan masih menganga di tubuh, rasa sakit tidak menyurutkan hasrat mereka untuk membantai kami.
"Kalian halau para goblin! Aku akan hancurkan pintu ini dengan mantra!"
Mengangguk paham, Sandra dan Steven langsung melompat menahan gempuran puluhan goblin yang bertubi-tubi mendekat. Percikan api dan benturan senjata melintas di dalam kegelapan lorong.
Silent Casting!
"Oh Dewa Leonard, hancurkanlah penghalang yang menghalangi jalanku—Punch Attack!"
Tangan kiriku yang terbungkus pancaran mana menghantam pintu granit. Pukulan pertama hanya menciptakan retakan halus, hingga akhirnya pada hantaman kelima, pintu itu hancur berantakan dan membuka akses menuju ruang bawah tanah.
Melihat jalan sudah terbuka, Sandra dan Steven yang mulai terdesak segera menarik diri. Mereka mundur lalu berlari bersamaku menerobos masuk. Demi mencegah kawanan goblin mengejar, aku menghentakkan sihir ke struktur galian, mengguncang seluruh ruangan hingga langit-langit runtuh dan menutup total akses lorong tersebut.
"Astaga! Hampir saja kita mati!" jerit Sandra terengah-engah.
"Belum!" bentakku menimpali. "Tetap angkat pedangmu, Sandra!"
"Lyan, tolong buat ruangan ini terang!" sahut Steven seraya meraba-raba dinding dalam kegelapan.
Aku menjentikkan jari, memunculkan bola api kecil yang berpijar melayang di atas telapak tanganku. Ruangan yang tadinya gelap gulita seketika tersinari cahaya remang.
"Maaf, aku tidak bisa mempertahankan sihir ini terus-menerus. Kita harus cepat menemukan rute utama dungeon!"
Bersambung...