NovelToon NovelToon
(Bukan) Benih Titipan Sang CEO

(Bukan) Benih Titipan Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Janda / Anak Kembar / Identitas Tersembunyi
Popularitas:53.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mom Ilaa

"Aku tidak butuh pernikahan. Tak ada satupun wanita yang bisa menggantikan posisi cinta pertamaku.”

Di usianya yang sudah matang, Arsen Winston, pewaris tunggal Winston Group berada di puncak kejayaan. Namun, tekanan keluarga menuntutnya untuk segera berumah tangga. Menolak menyerah pada pendirian sang putra, Adrian, sang ayah, merancang rencana gila dengan menyewa seorang wanita malam demi mendapatkan keturunan.

​Namun, sebuah kesalahan fatal terjadi. Wanita yang menghabiskan malam dengan Arsen bukanlah wanita sewaan sang ayah, melainkan seorang gadis misterius yang menghilang tanpa jejak.

​Lima tahun berlalu…

​Di atas kapal pesiar mewah, sebuah insiden mengerikan hampir merenggut nyawa seorang bocah perempuan. Arsen bertindak cepat untuk menyelamatkannya. Namun, saat tatapan mereka bertemu, jantung Arsen seolah berhenti berdetak.

​Anak menggemaskan itu memiliki garis wajah yang sangat identik dengannya, bahkan punya alergi sepertinya.

“Hai bocah, kamu tidak suka kacang?”

“Ndak cuka, bikin gatal-gatal badan Lupia. Paman Endut ndak cuka kacang juga?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cari Papa Sultan

"Baik-baik! Bibi tidak akan mengirim mereka ke orang lain," ucap Rosa dengan terpaksa, menatap keponakannya yang amat defensif itu.

"Makasih, Bibi!" Senyum Adara mengembang penuh. Dengan lembut, ia memeluk ketiga bayi mungil nan polos itu ke dadanya, menyelimutinya dengan kasih sayang yang melimpah.

Bulan demi bulan berlalu dengan susah payah. Adara melewati hari-harinya dengan merawat, membesarkan, dan mencintai ketiga malaikat kecilnya. Tidur malam yang terputus-putus, tangisan bersahutan saat salah satu bayi terbangun, hingga popok yang harus diganti tanpa henti menjadi rutinitas harian yang menguras energi. Namun, lelah itu sirna setiap kali Adara menatap mata bulat dan polos milik buah hatinya.

Hingga suatu hari, momen manis yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.

Adara yang sedang melipat pakaian di ruang tengah mendadak shock saat melihat si kembar tiga di atas karpet. Dengan susah payahnya, ketiga mungil itu tegak menekuk punggung dan berhasil duduk tegak secara bersamaan.

"Bibi! Bibi Rosa! Cepat ke sini!" jerit Adara heboh, suaranya melengking melintasi lorong menuju dapur.

Rosa yang sedang mengaduk sup langsung berlari panik sambil masih memegang sendok sayur kayu. "Ada apa?! Ada kebakaran?! Rumah kita ketahuan?!"

"Bukan! Lihat! Anak-anakku sudah bisa duduk!" tunjuk Adara dengan mata berbinar-binar.

Rosa pun menghembuskan napas lega sekaligus takjub. Si kembar tiga menunjukkan aksi menggemaskan yang sangat berbeda satu sama lain.

Si sulung, Lucian, duduk tegak dengan bibir mungil yang dirapatkan rapat-rapat. Matanya melirik ke arah Adara dan Rosa dengan tatapan datar, sok dingin bagaikan mini CEO yang sedang mengawasi anak buahnya. Walau sesekali tubuhnya masih sedikit bergoyang hampir tumbang, ia tetap menahan napas demi menjaga harga diri sebagai anak tertua.

Sementara, si anak tengah, Lucky, menyunggingkan senyum lemah lembut yang amat manis. Tangan mungilnya bertepuk tangan pelan merayakan pencapaiannya sendiri, menatap ibunya dengan binar mata yang begitu tenang.

Sementara si bungsu satu-satunya perempuan, Luvia. sama sekali tidak bisa diam. Baru saja berhasil duduk, bocah pecicilan itu langsung menggoyangkan badannya kegirangan. Ia tertawa melengking kencang hingga keseimbangannya hilang dan ia terguling telentang di atas karpet seperti kura-kura terbalik.

"Aww! Cucu-cucuku pintar sekali!" puji Rosa tak sanggup menahan gemas, langsung berlutut dan mencium pipi gembul Luvia bertubi-tubi.

"Muach! Muach! Muaaaaach!"

Adara tertawa senang melihat tumbuh kembang ketiga buah hatinya. Rasa hangat memenuhi dadanya. Ia benar-benar merasa bersyukur dan beruntung. Semua kebahagiaan ini tak akan pernah terwujud tanpa kerja keras dan perlindungan Rosa yang tak lelah menghidupi mereka.

Lima tahun berlalu begitu cepat.

Tiga bayi mungil itu kini telah tumbuh menjadi bocah-bocah super menggemaskan berusia empat tahun dengan kepribadian yang makin kuat dan unik. Adara sendiri kini tidak lagi sekadar dilindungi. Ia telah beradaptasi dan ikut bekerja menjadi agen informasi profesional bersama Rosa di London.

Suatu sore, Rosa menyodorkan sebuah tiket eksklusif ke atas meja kerja Adara.

"Gantikan Bibi ke acara ini besok," ujar Rosa.

"Apa ini?"

"Itu pesta di kapal pesiar mewah para konglomerat dunia. Targetmu adalah mengumpulkan informasi tentang seorang wanita pengusaha yang menjadi klien kita. Bibi tidak bisa datang karena masih harus menyelesaikan tugas di luar kota."

Adara mengernyit dan langsung menggeleng pelan. "Aku menolak, Bi. Kalau Bibi di luar kota dan aku ke kapal pesiar, siapa yang menjaga anak-anak?"

Belum sempat Rosa menjawab, tiga kepala mungil tiba-tiba menyembul bertumpuk dari balik pintu kamar.

"Kami ikut! Lupia mau jaga, Mommy!" pinta Luvia dengan suara cadelnya yang nyaring.

Bocah perempuan itu berlari-lari kecil mendekat dan melompat-lompat kegirangan. "Lupia mau jadi agen cepelti Nenek! Boleh ya, Mommy? Boleh yaaaa?"

Lucky berjalan mendekati Adara dengan anggun, memegang ujung gaun ibunya seraya tersenyum lembut. "Mommy tidak boleh sendirian... Nanti kalau ada orang jahat, Lucky bantu jagain Mommy."

Sementara Lucian menyandarkan punggungnya di kusen pintu, bersedekap dada dengan wajah datar persis pria dewasa. "Cuma kapal pesiar. Aku akan awasi Mommy dari jauh supaya tidak dibohongi orang."

Adara mengelus dadanya, menatap ketiga anaknya dengan perasaan campur aduk antara gemas dan pasrah. Mengingat tidak ada pilihan lain untuk menitipkan mereka, Adara akhirnya mengangguk setuju.

"Baiklah... tapi kalian harus janji, jangan nakal dan ikuti semua perintah Mommy," tegas Adara.

"Siiiiiiaaaappp! Komandan!" seru Luvia penuh semangat sambil memberi hormat asal-asalan. Trio cilik itu langsung bergegas kembali ke kamar untuk menyiapkan alat-alat agen rahasia milik mereka.

Di dalam kamar, Luvia sibuk memasukkan pistol gelembung sabun dan kacamata hitam plastik ke dalam tas punggung kelincinya. Mata bulatnya berbinar-binar membayangkan kemewahan kapal pesiar yang sering ia tonton di televisi.

"Ndak cabaaal hati ini caliin Mommy cuami cultan. Kila-kila ada ndak ya mau cama Mommy?" ucap Luvia polos, menengadah ragu.

Ternyata, niat tersembunyi triplet L ikut ke kapal pesiar bukan sekadar menjaga Adara, melainkan mencari calon ayah baru bernilai sultan untuk ibu mereka.

"Pasti ada," kata Lucian singkat, datar, dan begitu meyakinkan bagai seorang ahli strategi.

Lucky pun mengangguk setuju seraya merapikan jepitan rambut Luvia. "Kamu tenang saja, Luvia. Mommy cantik, hebat, dan pintar. Pasti ada banyak Paman kaya di luar sana yang mau."

Luvia tersenyum sumringah. Namun sesaat kemudian, raut wajah cantiknya mendadak pudar saat teringat sebuah fakta tentang Ibu mereka.

"Tapi, Abang... Mommy ndak pintal macak. Goleng naci kecap caja cuka gocong—"

Luvia langsung membungkam mulut mungilnya sendiri dengan kedua tangan. Wajahnya pucat panik, takut Adara mendadak muncul dan mendengar perkataan jujurnya yang bisa memicu bencana.

Lucian dan Lucky saling pandang. Manik mata kedua bocah itu mengerjap lambat, mendadak teringat kenangan horor bulan lalu saat Bibi Rosa menangis histeris karena rice cooker baru yang dibeli mahal-mahal hangus dan meleleh akibat eksperimen memasak ibu mereka.

"Kita... cari Paman sultan yang punya koki pribadi saja," cetus Lucian tenang tanpa mengubah ekspresi datarnya, memberi solusi paling masuk akal bagi masa depan perut mereka.

Lucky terkekeh lembut sambil mengelus-elus kepala adiknya. "Benar. Supaya Mommy tidak perlu repot-repot bikin nasi kecap lagi."

“Tapi Lupia paling cuka naci kecap, Abang!” celetuk Luvia tidak ingin masakan Ibunya itu diblacklist dari daftar makanannya.

Lucian yang diam-diam memperhatikan adiknya cemberut di sana pun mendadak tersenyum tapi cepat-cepat membuang muka saat Luvia menoleh ke arahnya. Tetapi kemudian Luvia kembali sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam ransel.

“Daddy… tunggu Lupia.”

___

1
Eka Haslinda
selamat ya thoorr.. semangaatt
Ilfa Yarni
ank2 arsen pinter2 lebihw Lucia Ada aja idenya buat menjerat arsen tidur bareng adara
Lisa Halik
alhamdulillah...semangat yaa thor
Rani R.I
up yg byk thourr,,kami slalu berdoa agar slalu lancar 🤲🤲🤲🔥🔥🔥🔥💪💪💪💪💪
Rani R.I
Alhamdulillah,, semoga lancar trus yea thourr,, cerita nya sgttt bagus 💪💪💪💪🔥🔥🔥🔥🥰🥰🥰🥰🥰
Kasih Sklhqu
ditunggu updatenya thor 🙏
Farida Irwanq
Alhamdulillah.. akhirnya lulus kontrak juga ya kak thor. selamat kak. biar tambah semangat juga up nya. 🙏
zhelfa_alfira
selamat kk...saat nya semangat up lagi
tia
crazy update mbak dia
Mifta Afandi
jangan lupa up ya banyak ya kak
Dew666
Selamat selamat… hari ini update banyak-banyak dong
Abinaya Albab
Alhamdulillah kak🌹
Iffanaya 😽
waah akhirnya selamat ya thor 🥰
Sastri Dalila
👍👍
Iffanaya 😽
mau nyelametin si kembar aja pake drama mereka bertiga ini 🤣🤣
Elina thea
masih kurang thor~~~
Ilfa Yarni
apa tujuan lauren menculik ank2 adara Dan arsen
Rani R.I
Adara seharusnya dari tadi kek bicara sama Arsen,knp pulaa harus ada drama dlm keadaan genting...
Rani R.I
up lg donk thourr,, kok cuman satu bab saja,, ituu si Lauren menghipnotis si kembar kok bisa si kembar tiba tiba nurut begitu saja
Arsen hancur kan mereka,,, ingat yea Adara jgn mudah tertipu dan luluh sama ibu yg sudah membuang mu
Eka Haslinda
si kembar diculik nenek yg satunya.. ada udang dibalik bakwan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!