Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.
Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.
Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Pertemuan di Gubuk Hutan
Dua minggu setelah percakapan terakhir dengan si pedagang keliling, kabar yang dinanti akhirnya datang. Kali ini bukan lewat gerobak kelontong, melainkan lewat Timin, yang meski sudah kembali ke Sumberwungu bersama keluarganya, tetap sesekali membantu sebagai kurir kecil untuk urusan-urusan yang membutuhkan orang tak mencurigakan.
"Kang Zaki," bisik Timin, menyelinap ke sudut halaman tempat Zaki sedang menjemur kitab, "ada pesan dari Paman pedagang. Katanya, malam ini."
"Malam ini apa?"
"Katanya Kang Zaki tahu maksudnya," jawab Timin, lalu berlari pergi secepat kedatangannya, seperti biasa, dengan kelincahan yang membuat siapa pun sulit mencurigainya.
Zaki mengerti maksud pesan singkat itu. Ia segera mencari Ustaz Malik, menyampaikan kabar tersebut, dan mereka berdua bergegas menemui Kiai Wahid untuk mengonfirmasi langkah selanjutnya.
"Kalau malam ini benar akan ada pertemuan," kata Kiai, wajahnya serius, "kita perlu memastikan ada saksi yang cukup kredibel, dan sebisa mungkin, pihak berwajib Republik sudah siap bertindak begitu bukti didapat."
"Saya siap membantu, Kiai," kata Zaki, meski hatinya berdebar memikirkan risiko yang mungkin dihadapi.
"Tidak, Nak Zaki," kata Kiai tegas. "Kali ini biar pihak laskar dan mata-mata yang sudah terlatih yang menangani langsung. Tugasmu cukup sampai di sini, menyampaikan kabar dan menjaga kerahasiaan. Saya tidak ingin membahayakan dirimu lebih jauh dari yang sudah-sudah."
Zaki mengangguk, meski ada bagian dari dirinya yang ingin terlibat lebih jauh, memastikan sendiri bahwa keadilan akan ditegakkan bagi komunitas yang telah ia cintai ini. Tapi ia juga memahami kebijaksanaan Kiai, bahwa setiap orang memiliki perannya masing-masing, dan perannya kali ini sudah selesai sampai penyampaian kabar.
Malam itu terasa sangat panjang bagi Zaki, yang menghabiskan waktu dengan gelisah di asramanya, sesekali berbincang pelan dengan Kang Fadil yang meski tidak tahu detail situasinya, cukup peka merasakan ketegangan yang menyelimuti sahabatnya.
"Kang, kamu kenapa? Dari tadi mondar-mandir terus," tanya Kang Fadil.
"Ada sesuatu yang saya pikirkan, tapi belum bisa cerita sekarang," jawab Zaki, mencoba menenangkan diri.
Menjelang tengah malam, terdengar suara ribut-ribut dari arah desa, cukup jauh untuk tidak terlalu jelas terdengar, tapi cukup untuk membuat beberapa santri terbangun dan bertanya-tanya apa yang terjadi.
Zaki, yang sudah menduga bahwa itu berkaitan dengan operasi yang telah direncanakan, tidak bisa menahan diri untuk tetap berbaring tenang. Ia bangun, mengenakan sarungnya, dan berjalan diam-diam ke arah gerbang pondok, berharap bisa mendapat kabar lebih cepat tentang apa yang terjadi.
Di sana, ia mendapati Ustaz Malik juga sudah berdiri, wajahnya tegang menatap ke arah desa yang gelap.
"Ustaz, apa yang terjadi?"
"Saya juga belum tahu pasti, Nak. Tapi sepertinya operasi malam ini sedang berlangsung," jawab Ustaz Malik, suaranya penuh kekhawatiran yang berusaha ditahan.
Mereka berdua menunggu dalam kegelapan, mendengarkan setiap suara yang mungkin memberi petunjuk tentang apa yang sedang terjadi di kejauhan. Setelah beberapa waktu yang terasa sangat lama, sosok-sosok bergerak mendekat dari arah desa, diterangi obor yang dibawa beberapa orang.
Ketika rombongan itu semakin dekat, Zaki bisa melihat beberapa anggota laskar, termasuk pedagang keliling yang ternyata memang salah satu mata-mata dari markas Gus Hanif, berjalan mengawal seseorang yang tangannya terikat, kepalanya tertunduk.
Pak Lurah Suryo.
"Tertangkap basah, Kiai," lapor pemimpin rombongan itu kepada Kiai Wahid yang sudah keluar dari kediamannya, bersama beberapa ustaz senior lain yang juga terbangun oleh keributan tersebut. "Pertemuan dengan dua orang yang diduga mata-mata Belanda, di gubuk hutan seperti yang kami curigai. Kami berhasil menangkap Pak Lurah dengan barang bukti berupa catatan-catatan yang berisi informasi tentang pergerakan laskar di sekitar sini."
Pak Lurah Suryo mengangkat wajahnya, matanya penuh ketakutan sekaligus keputusasaan, mencari-cari pembelaan yang mungkin sudah terlambat untuk diucapkan.
"Kiai, saya... saya terpaksa," katanya, suaranya bergetar. "Keluarga saya diancam. Mereka bilang, kalau saya tidak memberikan informasi, keluarga saya di kota akan dicelakai."
Kiai Wahid menatapnya dengan campuran kesedihan dan kekecewaan yang mendalam. "Suryo, apa pun alasannya, tindakanmu telah membahayakan banyak nyawa. Anak-anak yang kita jaga bersama, para pejuang yang mempertaruhkan hidup mereka untuk kemerdekaan ini, semua terancam karena informasi yang kamu berikan."
"Saya tahu, Kiai. Saya menyesal," Pak Lurah menunduk dalam, air mata mulai mengalir di wajahnya yang lelah dan ketakutan.
"Penyesalan tidak bisa mengembalikan apa yang mungkin sudah hilang karena tindakanmu," kata Kiai, suaranya berat tapi tidak sepenuhnya tanpa belas kasihan. "Tapi keputusan mengenai hukuman apa yang pantas, bukan wewenang saya sepenuhnya. Ini harus diserahkan kepada pihak berwajib Republik untuk diproses sesuai hukum yang berlaku."
Pemimpin laskar mengangguk, memberi isyarat kepada anak buahnya untuk membawa Pak Lurah pergi, kemungkinan menuju markas untuk pemrosesan lebih lanjut sebelum diserahkan kepada otoritas yang berwenang.
Zaki menyaksikan semua itu dengan perasaan yang campur aduk: lega karena ancaman yang selama ini mengintai akhirnya bisa ditangani, tapi juga sedih menyaksikan seorang tokoh desa yang dulu ia kenal ramah, kini harus menanggung akibat dari pilihan yang diambilnya di tengah tekanan dan ketakutan yang mungkin sulit ia hadapi sendirian.
"Kadang," gumam Ustaz Malik di sampingnya, seolah membaca pikiran Zaki, "orang tidak selalu jahat karena ingin jahat, Nak. Kadang mereka terjebak dalam pilihan sulit, dan akhirnya salah memilih jalan. Itu tidak membenarkan tindakannya, tapi mengajarkan kita untuk tetap punya empati, sekaligus tegas terhadap kesalahan yang telah diperbuat."
Zaki mengangguk, merenungkan kata-kata bijak itu dalam-dalam, sementara malam mulai kembali tenang, meski desa yang sebelumnya diliputi kecurigaan diam-diam, kini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa pengkhianatan bisa datang dari mana saja, bahkan dari orang yang selama ini dipercaya sebagai pemimpin komunitas mereka sendiri.