Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 MALAM MENCEKAM
Langit Kota Bandung sore itu berubah menjadi kelabu legam, menggantung rendah seolah menahan beban jutaan ton uap air yang siap tumpah kapan saja ke atas permukaan aspal yang panas. Raka Ardian berdiri terpaku di trotoar Jalan Cicaheum, menatap lurus ke arah sebuah plang kayu usang berwarna kuning pudar yang digantung di depan sebuah rumah petak kumuh:
KOS PUTRA - PETAK , RP 500.000/BULAN.
Uang di dalam saku celana jins usangnya kini tinggal dua lembar uang sepuluh ribuan dan beberapa keping uang logam recehan. Jumlah yang bahkan tidak cukup untuk membeli sebungkus nasi padang, apalagi melunasi sisa uang sewa kamar kos yang sudah ditagih keras oleh sang pemilik kos berwajah sangar sejak kemarin siang.
"Kalau sampai besok sore kau belum bisa melunasi uang kamar, bungkus barang-barangmu dan pergi dari sini! Jangan bikin aku rugi!" bentakan pemilik kos yang bernada tinggi dan berbau rokok murah itu masih terngiang-ngiang jelas di telinga Raka, mendengung bersamaan dengan denyut kepalanya yang pusing akibat belum makan sejak pagi buta.
Raka mengembuskan napas panjang. Kepulan uap putih tipis keluar dari bibirnya yang kering. Ia tidak pernah menyangka bahwa kerasnya rimba beton di kota besar akan menyambutnya dengan cara yang begitu kejam. Di desanya, di lereng Pegunungan Kendeng, kelaparan tidak pernah menjadi ancaman nyata karena tanah selalu menyediakan hasil bumi bagi siapa saja yang mau merawatnya.
Namun di sini, di tengah kota yang bermandikan lampu-lampu neon terang-benderang, manusia bisa mati kelaparan di atas hamparan beton jika tidak memegang uang kertas di tangan mereka.
Ia berjalan tertatih-tatih menyusuri trotoar yang mulai basah oleh tetesan gerimis pertama.
Kakinya terasa berat, bukan karena kelelahan fisik—sebab latihan Welingan Sejati di Hutan Mandalagiri telah menempa otot dan tulangnya sekuat baja—melainkan karena beban mental yang menghimpit dadanya. Raka belum berhasil mendapatkan pekerjaan tetap. Ia mencoba peruntungan mendatangi toko-toko kelontong, pabrik tekstil kecil, hingga kedai-kedai makanan di sepanjang jalan ditolak mentah-mentah hanya karena ia tidak memiliki ijazah sekolah formal tingkat menengah atau kartu identitas penduduk kota yang sah.
Apakah perjalananku akan terhenti di sini? Apakah aku harus pulang dengan menanggung malu dan kekalahan, membiarkan tanah leluhur dirampas begitu saja? bisik hati kecilnya diliputi keraguan.
Di tengah lamunannya yang kelam, penciumannya mendadak menangkap aroma harum yang begitu khas di antara polusi asap knalpot kendaraan. Aroma harum nasi beras pulen yang dimasak bersama santan kelapa, daun jeruk, serai, dan teri medan yang digoreng garing—aroma masakan rumahan yang seketika membangkitkan kenangan hangat tentang dapur ibunya di Desa Ciherang.
Raka menoleh ke samping. Di bawah naungan terpal plastik biru yang ditopang oleh tiang kayu seadanya di sudut sebuah gang sempit, seorang wanita paruh baya bertubuh kurus sedang berjuang sendirian mengangkat sebuah panci aluminium berukuran besar. Wajah wanita itu tampak basah oleh keringat dan air mata, sementara napasnya terengah-engah menahan berat beban panci yang hampir terlepas dari pelukannya.
Tanpa memikirkan kondisi perutnya sendiri yang kosong, Raka langsung bergerak cepat. Dengan langkah sigap, ia menerobos rintik gerimis yang mulai membesar dan menghampiri wanita paruh baya tersebut.
"Biar saya bantu, Bu," ucap Raka ramah sambil sigap mengambil alih sisi kiri panci aluminium yang panas tersebut.
Wanita paruh baya itu terperanjat kaget, matanya yang sayu menatap Raka dengan rasa curiga sesaat sebelum akhirnya berubah menjadi kelegaan yang luar biasa.
"Ya Allah, Nak... tolong pegang sebentar. Panci ini mau tumpah karena kayunya patah," ucap wanita itu dengan suara bergetar nyaris menangis.
Dengan tenaga dalam yang terlatih rapi, Raka mengangkat panci besar sarat muatan itu dengan mudah dan memindahkannya ke atas meja kayu tempat berjualan dengan posisi yang aman dan stabil.
Wanita itu—yang mengenakan apron kain kusam bernoda kecap—mengelus dadanya berulang kali, menarik napas panjang untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. "Terima kasih banyak, Nak. Kalau nasi liwet ini tadi tumpah ke jalan, dagangan hari ini habis sudah modalnya. Ibu tidak tahu harus bayar utuh ke pasar pakai apa."
"Sama-sama, Bu," jawab Raka tersenyum tulus, memperhatikan sekeliling warung tenda sederhana yang dinamai Nasi Liwet Bu Darmi. Meja-meja kayu kecil berjajar rapi, namun tampaknya malam itu nasib baik belum berpihak pada Bu Darmi; gerimis yang turun tiba-tiba membuat para pejalan kaki enggan mampir, dan warungnya masih tampak sepi pembeli.
Bu Darmi mengamati pemuda di hadapannya lekat-lekat. Ia melihat jaket gelap yang dikenakan Raka sudah basah di bagian pundak, serta wajah pemuda itu yang tampak pucat meskipun sorot matanya menyiratkan keteguhan yang luar biasa. Sebagai seorang ibu, insting keibuan Bu Darmi langsung menangkap sinyal penderitaan di balik senyum tenang Raka.
"Kau kelihatan basah dan pucat sekali, Nak. Belum makan malam ya?" tanya Bu Darmi lembut penuh perhatian, seolah melupakan sejenak kecemasannya akan dagangan yang belum laku.
Raka tersenyum simpul, menggeleng pelan. "Ah, tidak apa-apa, Bu. Saya hanya sedang mencari jalan keluar untuk beberapa masalah kecil."
Bu Darmi mendengus pelan, sebuah senyuman hangat terkembang di bibirnya yang keriput.
"Masalah di kota besar ini tidak ada yang kecil, Nak. Datanglah duduk di bangku itu. Jangan membantah orang tua."
Tanpa menunggu persetujuan Raka, wanita paruh baya itu sigap mengambil sebuah piring seng beralaskan daun pisang segar. Ia mengambil sesendok penuh nasi liwet yang masih mengepulkan uap harum, menambahkannya dengan suwiran ayam suwir kemangi yang sedap, potongan tahu tempe goreng kecap, serta sambal terasi merah yang menggugah selera. Piring itu disodorkan tepat di hadapan Raka.
"Makanlah selagi hangat. Anggap saja ini balasan terima kasih karena kau sudah menyelamatkan panci ibu tadi," kata Bu Darmi dengan tatapan tulus yang membuat tenggorokan Raka terasa keluh oleh haru yang tiba-tiba membuncah di dadanya.
Raka tidak kuasa menolak. Rasa lapar yang luar biasa langsung mendesak perutnya begitu aroma masakan itu menyeruak masuk ke indra penciumannya. Dengan penuh rasa terima kasih, ia menyantap makanan tersebut perlahan-lahan. Setiap suapan nasi liwet buatan Bu Darmi tidak hanya mengisi perutnya yang kosong, tetapi juga menghantarkan kehangatan yang meresap hingga ke lubuk hatinya yang paling dalam, mengingatkannya pada kehangatan rumah di desa nun jauh di sana.
Sambil Raka makan, Bu Darmi kembali disibukkan dengan menata ulang meja dagangannya yang basah terkena tampias air hujan. Namun, malang tak dapat ditolak, ketika Bu Darmi mencoba meraih keranjang lauk di sisi luar tenda, kakinya terpeleset genangan air di atas aspal yang licin.
Bruk!
"Aduh!" rintih Bu Darmi kesakitan sambil memegang pergelangan kaki kanannya yang langsung membengkak merah dan sulit digerakkan.
Raka seketika meletakkan piringnya, melompat sigap menghampiri wanita paruh baya itu. "Ibu tidak apa-apa? Coba saya lihat kaki ibu."
Dengan keahlian pengobatan tradisional yang ia pelajari dari intisari Welingan Sejati di Hutan Mandalagiri, Raka meraba perlahan titik pergelangan kaki Bu Darmi yang terkilir. Jemarinya yang bertenaga mengalirkan kehangatan kecil secara presisi, memijat lembut jalur urat saraf yang terjepit.
Dalam hitungan detik, rasa sakit yang tadinya menusuk hebat di kaki Bu Darmi berangsur-angsur mereda, membuat wanita tua itu menarik napas lega.
"Ya ampun... kaki ibu rasanya langsung enteng, Nak! Ilmu dari mana itu? Kau seperti punya tangan ajaib," ucap Bu Darmi terbelalak kagum, menatap Raka seolah pemuda di depannya adalah seorang tabib muda yang turun dari langit.
Raka tersenyum merendah. "Sedikit pengetahuan warisan keluarga, Bu."
Melihat kondisi kaki Bu Darmi yang belum pulih sepenuhnya dan hari yang semakin malam, Raka membuat sebuah keputusan spontan yang mengubah jalan malam itu. Ia menatap Bu Darmi dengan penuh keyakinan.
"Ibu istirahat saja di kursi itu. Biar saya yang bantu menjaga warung ini malam ini sampai tutup," tawar Raka tulus.
Bu Darmi menatap Raka dengan sorot mata penuh rasa haru dan terima kasih yang teramat sangat.
Di tengah kerasnya kehidupan malam Kota Bandung yang egois, takdir mempertemukan seorang pemuda desa yang hampir putus asa dengan seorang ibu pedagang kecil yang kesepian. Malam itu, di bawah terpal biru yang bocor diterpa rintik hujan, Raka Ardian menemukan pijakan pertamanya di kota besar—bukan lewat kemewahan atau dokumen rahasia korporasi, melainkan lewat kebaikan hati, semangkuk nasi liwet hangat, dan tekad tulus untuk saling menolong sesama manusia.