NovelToon NovelToon
Pembalasan CEO Gemuk

Pembalasan CEO Gemuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Time Travel
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.

Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Umpan untuk Sang Pemangsa

Di ruang kerja pribadi Alya yang bernuansa minimalist modern di lantai teratas gedung Nusantara Industri Utama, hening merayap pelan. Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui dinding kaca tebal, membiaskan bayangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta di atas meja kayu mahoni milik Alya.

Di atas meja itu terhampar dua dokumen penting. Dokumen pertama adalah persetujuan pengalihan wewenang anggaran proyek tahap kedua senilai empat belas miliar rupiah yang sudah ditandatangani oleh Rendy sejam lalu dengan senyum lebar yang hampir tak bisa disembunyikannya. Dokumen kedua adalah salinan draf audit internal rahasia yang disiapkan oleh tim forensik Kai.

Alya duduk terpaku di kursi pimpinannya. Tangannya yang memegang pena memutih karena genggaman yang terlalu erat. Jemarinya sedikit bergetar.

Meskipun Alya tahu persis betapa kejamnya Rendy dan Siska di kehidupan pertamanya—betapa dinginnya cara mereka merampas hak-haknya, memanipulasi mentalnya, hingga akhirnya merenggut nyawanya—ada bagian kecil dari sisi kemanusiaan Alya yang mendadak bergolak pelan.

Apakah aku sudah berubah menjadi monster yang sama dinginnya dengan mereka? batin Alya bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Siska dulu adalah satu-satunya orang yang memanggilku teman di masa-masa tersulitku... Walaupun semuanya palsu, apakah tindakan menjebak mereka ke dalam tindak pidana berat sebesar ini tidak terlalu melampaui batas?

Suara ketukan pintu yang teratur memecah keheningan ruangan.

Kai melangkah masuk tanpa menunggu jawaban, membawa dua cangkir kopi hitam yang masih mengepulkan uap tipis. Pria itu mengenakan kemeja abu-abu gelap dengan lengan yang dilipat rapi hingga ke siku. Aura kepemimpinannya yang tenang dan berwibawa seketika memenuhi ruangan.

Kai meletakkan salah satu cangkir di sebelah dokumen yang dipegang Alya, lalu menarik kursi di hadapan Alya dan duduk dengan santai.

"Kamu belum menyentuh sarapanmu pagi ini," kata Kai lembut, matanya yang tajam langsung menangkap perubahan raut wajah Alya yang tampak letih dan muram. "Dan raut wajahmu memperlihatkan kalau pikiranmu sedang bekerja terlalu keras untuk hal yang salah."

Alya menghela napas panjang, meletakkan penanya di atas meja. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, memandangi cangkir kopi di hadapannya sebelum menatap mata Kai.

"Kai..." panggil Alya dengan suara yang pelan, sarat akan keraguan yang mendalam. "Apakah aku... keterlaluan?"

Kai menaikkan sebelah alisnya, tidak langsung menjawab. Ia mengambil cangkir kopinya sendiri, menyesapnya perlahan, lalu menatap Alya lurus. "Maksudmu soal wewenang anggaran empat belas miliar yang baru saja kamu serahkan ke tangan Rendy?"

Alya mengangguk pelan, jari-jarinya menaut tegang di atas meja. "Aku sengaja memberi mereka akses tanpa batas ke dana sebesar itu. Aku tahu persis Siska akan tergiur memalsukan kuitansi dan Rendy akan mentransfer sebagian besarnya ke rekening penampung. Aku seperti... sengaja menuntun mereka masuk ke dalam jurang pidana mati bagi karir dan hidup mereka."

Alya menundukkan kepalanya, suaranya terdengar makin parau. "Kemarin malam di ruang tahanan, aku melihat betapa leganya Siska saat aku tersenyum dan berpura-pura maafkan dia. Dia begitu percaya padaku. Siska dulu pernah jadi orang yang menemani hari-hariku saat aku sangat kesepian... Kadang aku berpikir, kalau saja aku memberi mereka peringatan keras dan memecat mereka baik-baik tanpa harus menghancurkan masa depan mereka secara total di penjara... apakah itu bukan jalan yang lebih berperikemanusiaan?"

Keheningan melingkupi ruangan itu selama beberapa detik.

Kai meletakkan cangkir kopinya kembali ke atas meja. Tatapan matanya yang tadinya hangat kini berubah menjadi sangat serius dan tegas, namun tetap dipenuhi oleh rasa kasih dan kelembutan yang mendalam untuk Alya.

Kai berdiri dari kursinya, berjalan memutari meja mahoni besar itu, lalu berhenti tepat di samping kursi Alya. Kai berlutut dengan satu kaki di lantai, membuat posisinya sedikit lebih rendah dari Alya agar mereka bisa berhadapan mata secara sejajar.

Kai merai kedua tangan Alya yang dingin, menggenggamnya rapat-rapat di dalam telapak tangannya yang besar dan hangat.

"Alya, dengarkan saya baik-baik," ujar Kai dengan suara berat yang menggelegar tenang, menembus sampai ke relung hati Alya yang terdalam. "Kamu tidak pernah menuntun siapa pun masuk ke dalam jurang. Yang kamu lakukan hanyalah membukakan pintu, dan mereka sendiri yang memilih untuk melangkah masuk karena keserakahan di dalam dada mereka."

"Tapi Kai—"

"Alya," potong Kai lembut namun tak terbantahkan, ibu jarinya mengusap punggung tangan Alya. "Kalau kamu ingin menangkap harimau pemangsa di dalam hutan, umpan yang kamu pasang di dalam perangkap tidak bisa berupa potongan roti atau sayuran. Harimau tidak akan pernah tertarik pada roti. Harimau hanya akan mendekati daging segar yang paling berdarah."

Alya tertegun, matanya yang berkaca-kaca menatap iris mata kecokelatan Kai.

"Rendy dan Siska adalah pemangsa, Alya," lanjut Kai dengan ketegasan seorang pimpinan korporat yang telah melintasi berbagai intrik bisnis tingkat tinggi. "Mereka bukan orang yang khilaf. Mereka adalah orang-orang yang secara sadar dan dingin memanfaatkan ketulusanmu selama bertahun-tahun. Kalau kamu hanya memberi mereka teguran, memecat mereka, atau memberi mereka uang pesangon agar mereka pergi... apakah kamu yakin mereka akan bertobat?"

Alya terdiam. Di kehidupan pertamanya, bahkan ketika Alya memberikan segalanya—jabatan, fasilitas, rumah, dan cintanya—Rendy dan Siska tidak pernah merasa cukup. Mereka justru makin haus dan berakhir dengan merencanakan pembunuhan terhadap dirinya.

"Tidak," jawab Alya bisik-bisik, menggelengkan kepalanya pelan. "Mereka tidak akan pernah berhenti."

"Tepat," tegas Kai, matanya memancarkan sinar protektif yang begitu kuat. "Pria seperti Rendy dan wanita seperti Siska akan menganggap kebaikanmu sebagai kelemahan. Kalau kamu melepas mereka begitu saja hari ini, besok lusa mereka akan mencari cara lain untuk menyerangmu dari belakang. Mereka akan memfitnahmu di media, merusak reputasi ayahmu, atau mencoba mencelakaimu secara fisik saat kamu sedang tidak bersama saya."

Kai mempererat genggaman tangannya, menatap Alya dengan kejujuran yang murni. "Menyerahkan anggaran empat belas miliar itu bukan bentuk kejahatanmu, Alya. Itu adalah Ujian Moral bagi mereka. Kalau di dalam hati mereka masih ada satu persen saja rasa hormat, rasa bersalah, atau kejujuran padamu sebagai teman dan pimpinan... mereka akan mengelola uang itu dengan benar dan terbukti tidak bersalah. Tapi jika mereka memilih untuk mencurinya..."

Kai jeda sejenak, memberikan penekanan pada setiap kata yang diucapkannya. "...maka yang menghancurkan hidup mereka bukan kamu, melainkan keserakahan mereka sendiri. Kamu hanya membiarkan hukum alam dan hukum negara bekerja sebagaimana mestinya."

Kata-kata Kai bagaikan air dingin yang menyiram membakar kepalanya yang penuh guilt trip. Rasa ragu dan cemas yang sempat menyiksa batin Alya perlahan-lahan runtuh, digantikan oleh pemahaman yang utuh dan rasional.

Alya menarik napas panjang. Beban di dadanya terangkat seketika. Kai benar. Ia tidak sedang membalas dendam dengan cara menjadi jahat; ia sedang menegakkan keadilan dan melindungi masa depannya dari orang-orang beracun yang tidak akan pernah berhenti memangsa.

"Terima kasih, Kai..." puji Alya tulus, air mata yang sempat menggenang di pelupuk matanya berubah menjadi binar kejelasan yang tenang. "Aku... aku hampir saja membiarkan rasa trauma dan rasa kasihan yang salah tempat membutakan logikaku lagi."

Kai menyunggingkan senyum hangat yang sangat tampan, berdiri dari posisinya lalu mengusap kepala Alya dengan lembut. "Tugas saya di sini bukan cuma untuk menjadi mitramu, Alya. Tapi untuk menjadi cermin dan bentengmu saat pikiranmu mulai goyah."

Alya tertawa pelan, rasa hangat yang menjalar di dadanya makin meluap. "Kamu memang selalu tahu harus menjawab apa."

"Tentu saja," balas Kai seraya terkekeh renyah. "Itu sebabnya saya yang berdiri di samping Bu Direktur malam kemarin, bukan pria berjas merah marun yang sok tampan itu."

Alya terkikik geli mendengar sindiran Kai untuk Rendy. Atmosfer tegang yang tadinya menyelimuti ruang kerja seketika sirna, berganti menjadi suasana yang sangat manis dan penuh kehangatan.

Tepat pada saat itu, interkom di meja Alya berbunyi dua kali. Alya menekan tombol speaker.

"Bu Alya," suara Maya terdengar dari seberang garis telepon internal. "Pak Rendy dan Bu Siska baru saja keluar dari ruang keuangan. Tim pemantau siber kami melaporkan bahwa Siska baru saja menyetujui pemindahan dana muka sebesar tiga miliar rupiah ke rekening vendor fiktif bernama PT Nusa Karya Sejahtera."

Alya dan Kai saling bertukar pandang.

Tidak butuh waktu sampai dua jam setelah wewenang anggaran diserahkan, harimau-harimau pemangsa itu sudah menerkam umpan daging segar tersebut tanpa ragu sedikit pun.

"PT Nusa Karya Sejahtera..." gumam Alya dengan senyuman dingin yang kembali terulas di bibirnya. "Itu rekening penampung pribadi atas nama adik sepupu Rendy."

"Hanya butuh tiga miliar di transaksi pertama untuk memenuhi unsur tindak pidana pencucian uang dan penggelapan jabatan," ujar Kai tenang seraya mengecek jam tangan mewahnya. "Tampaknya sahabat dan mantan calon kekasihmu itu benar-benar tidak sabar untuk masuk ke balik jeruji besi."

Alya berdiri dari kursinya, membetulkan posisi blazer kremnya dengan penuh rasa percaya diri yang tak tergoyahkan. Rasa bersalahnya kini telah hilang sepenuhnya, berganti menjadi tekad baja untuk menyelesaikan permainan ini sampai akhir.

"Maya," panggil Alya melalui interkom.

"Iya, Bu Alya?"

"Biarkan transaksi tiga miliar itu lolos sampai ke rekening penampung mereka sore ini," perintah Alya dengan suara yang jernih, tegas, dan berwibawa. "Dan hubungi tim auditor kejaksaan serta kepolisian kawasan industri. Katakan pada mereka, dokumen bukti penggelapan skala besar sudah siap untuk dieksekusi besok pagi tepat saat rapat pemegang saham."

"Baik, Bu Alya! Semuanya akan dilaksanakan!" jawab Maya antusias.

Alya mematikan interkom, lalu menoleh menatap Kai yang sedang memandangnya dengan binar mata penuh kebanggaan dan cinta.

"Bagaimana, Pak Kai?" tanya Alya seraya tersenyum manis. "Apakah sang ratu sudah mengeksekusi rencananya dengan benar?"

Kai melangkah mendekat, merangkul pinggang Alya dengan lembut dan menariknya ke dalam pelukan yang hangat.

"Sempurna, Bu Direktur," bisik Kai di dekat telinga Alya, membelai rambut hitam tebal wanita itu. "Sangat sempurna. Dan besok pagi, saya akan duduk di barisan paling depan untuk menyaksikan kemenanganmu."

Alya menyandarkan kepalanya di dada Kai, mendengarkan detak jantung pria itu yang tenang dan penuh kepastian. Di dalam hatinya, Alya berjanji pada dirinya sendiri bahwa esok hari, babak kegelapan dalam hidupnya akan resmi ditutup selamanya, memberi jalan bagi masa depan yang cerah, bahagia, dan penuh cinta bersama Kai Aditya.

1
Ayu Ara12
next
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NinLugas: ok kk d tnggu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!