Elara terjebak dalam novel–bukan sebagai pahlawan, bukan juga sebagai penjahat, melainkan selir yang bahkan namanya kerap terlupa.
Lebih dari itu, ia adalah orang yang hanya ingin hidup tenang, bermalas-malasan, bahkan terlalu malas untuk melafalkan dialog yang ditetapkan untuknya.
Oleh sebab itu, sebagai tokoh pendukung yang bangkit dari kematian, ia tak berniat menuntut balas? Ia memilih tak ikut campur sedikit pun.
Namun, bagaimana jika alur malah berbalik dan membuatnya menjadi tokoh utama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Saat mereka berjalan keluar dari Ruang Kematian, Elara tidak melihat bayangan sosok wanita anggun yang mengintip dari balik pilar koridor di ujung sana.
Putri Mahkota, tokoh utama wanita dalam novel ini, sedang menatap punggung Elara dengan tatapan yang tidak bisa dibaca. Dalam alur asli, Elara seharusnya mati hari ini. Kematiannya adalah katalis yang membuat Putri Mahkota merasa bersalah dan mulai mendekati Kaisar untuk "menebus dosa".
Tapi sekarang? Elara hidup. Dan lebih parah lagi, dia dipindahkan ke Paviliun Matahari Terbit.
“Dia... bangun?” bisik Putri Mahkota pada dayangnya. “Dan Kaisar... memindahkannya ke sebelah kamar beliau?”
Dayang itu mengangguk takut-takut. “Kabar burung mengatakan Selir Elara merayu Kaisar dengan... menari telanjang di atas meja mayat, Yang Mulia.”
Putri Mahkota membelalak. “Apa?!”
Di ujung koridor lain, Elara bersin keras.
“Siapa yang memfitnahku?” gumamnya sambil menggosok hidung. “Padahal aku cuma makan kue.”
Alur cerita baru saja berbelok tajam, dan Elara, si figuran yang malas, sedang terseret masuk ke dalam pusaran badai yang bahkan terlalu malas ia hadapi.
***
Paviliun Matahari Terbit ternyata bukanlah paviliun. Itu adalah istana mini.
Elara berdiri di tengah ruangan utama, menatap langit-langit yang dilukis dengan motif phoenix emas, lalu menatap karpet sutra yang begitu tebal hingga kakinya tenggelam dua inci setiap kali ia melangkah.
“Nira,” panggil Elara, suaranya terdengar bergema di ruangan yang terlalu besar itu.
“Y-Ya, Yang Mulia?” Nira berdiri di ambang pintu, membawa tumpukan pakaian yang terlihat cukup berat untuk mematahkan leher seseorang.
“Di kamar tidurku yang lama, kasurku keras. Itu bagus untuk tulang punggung. Tapi kasur di sini... empuk sekali. Aku takut kalau aku tidur, aku akan tenggelam dan mati lemas tanpa ada yang sadar.”
“Y-Yang Mulia, itu adalah kasur bulu angsa impor dari Utara…”
“Bagus. Tolong ambilkan selimut tambahan. Dan satu lagi, atur jam bangun pagi. Kita tidak akan pernah bangun sebelum matahari benar-benar tinggi. Aku tidak peduli dengan upacara pagi.”
Nira memucat. “Tapi Yang Mulia! Upacara teh pagi dengan Kaisar! Itu wajib untuk semua selir yang tinggal di sayap utama! Jika kita terlambat, Kepala Pelayan akan mencambuk kita!”
Elara menghela napas panjang. Ia menatap Nira dengan tatapan seorang manajer yang menyadari bahwa timnya tidak mengerti konsep *work-life balance*.
“Nira. Dengarkan aku. Di dunia… eh, di istana ini, aturan dibuat untuk dipatuhi. Tapi aturan juga dibuat untuk orang-orang yang punya energi. Aku baru saja mati. Secara teknis, aku sedang dalam masa pemulihan. Jika Kepala Pelayan mau mencambukku, biarkan saja. Mungkin rasa sakitnya akan membuatku merasa hidup.”
“Y-Yang Mulia, itu bukan bercanda!”
“Lima belas menit lagi kita berangkat,” potong Elara, menyerah. “Tapi tolong, pakaiankan aku sesuatu yang tidak berat. Aku merasa seperti akan dipakaikan zirah perang.”
***
Dua puluh menit kemudian, Elara berjalan tertatih-tatih menuju Ruang Kerja Pribadi Kaisar.
Ia memakai gaun berwarna biru pucat dengan bordir bunga plum yang indah. Rambutnya disanggul rumit dengan jepitan giok. Nira terlihat sangat bangga, tetapi Elara merasa lehernya sedang ditarik oleh lima belas ekor kucing sekaligus.
Ini adalah penyiksaan, di kantorku dulu, dresscode-nya cuma kemeja biru dan celana bahan. Di sini, aku harus memakai enam lapis kain hanya untuk minum teh.
Pintu Ruang Kerja Pribadi Kaisar terbuka. Pengawal istana mengizinkan Elara masuk.
Ruangan itu berbau tinta, kayu cendana, dan ambisi. Di ujung ruangan, duduk Kaisar Lucian. Ia sedang menumpuk dokumen, matanya menatap sebuah peta besar di meja. Aura di sekitarnya begitu padat hingga Elara merasa seperti baru saja masuk ke dalam ruang rapat direksi saat laporan keuangan sedang buruk.
“Hamba memberi salam pada Yang Mulia,” ucap Elara, membungkuk dalam-dalam. Punggungnya berbunyi *kretek*. Ia mengabaikan rasa sakit itu.
“Angkat,” suara Kaisar Lucian terdengar tanpa ia mendongak dari petanya. “Tuangkan teh.”
Elara berjalan menuju meja teh di sudut ruangan. Tangannya yang terbiasa mengetik di keyboard kini gemetar memegang teko porselen yang sangat ringan namun terasa sangat berat secara mental.
Ia menuangkan teh ke dalam cangkir kecil. Uap panas mengepul, membawa aroma melati yang menenangkan.
Satu teguk. Aku hanya perlu menghidangkannya, tersenyum palsu, dan pergi, batin Elara.
Ia mengangkat nampan, berjalan menuju meja Kaisar, dan meletakkan cangkir itu dengan hati-hati.
“Teh Anda, Yang Mulia,” ucap Elara.
Kaisar Lucian akhirnya mendongak. Matanya yang tajam menatap Elara. “Kau terlihat lelah.”
“Saya baru saja bangkit dari kematian, Yang Mulia. Dan gaun ini berat. Sanggul ini membuatku tidak bisa menoleh ke kiri. Jika ada orang berdiri di sisi kiri saya, saya tidak akan bisa melihatnya sampai leher saya patah.”
Kaisar Lucian menatapnya datar. “Kau selalu sejujur ini?”
“Kejujuran menghemat kalori, Yang Mulia. Berbohong butuh banyak energi untuk mengingat detailnya.”
Kaisar Lucian menatap cangkir tehnya, lalu kembali menatap Elara. “Duduk. Temani aku melihat dokumen ini. Aku ingin melihat bagaimana reaksi seorang selir Tingkat Enam terhadap laporan pajak provinsi selatan.”
Elara menatap tumpukan kertas di meja itu. Tumpukan kertas yang penuh dengan angka, grafik, dan tulisan tangan yang kecil-kecil.
Otak Elara yang baru saja pulih dari racun langsung melakukan *shutdown*. Ini adalah mimpi buruk. Ini lebih buruk dari audit tahunan.
“Dengan senang hati, Yang Mulia,” ucap Elara