Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.
Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.
Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.
Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.
Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.
Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Perjanjian di Atas Dek Perak
Angin dingin dari Samudra Langit menghembus ujung gaun satin putih milik Clara, membuatnya berkibar seperti bendera menyerah.
Di atas dek kapal layar terbang The Sky Leviathan, dunia di bawah sana terlihat begitu kecil dan tidak berarti.
Kota kelahirannya, Valenica, hanya tampak seperti hamparan kotak mainan yang diselimuti kabut tipis.
Clara mencengkeram pembatas kayu kapal yang berlapis perak, berusaha menahan gemetar di lututnya. Bukan karena ia takut pada ketinggian, melainkan karena ia takut pada masa depan yang baru saja ia tandatangani di atas selembar perkamen emas.
Hari ini, Clara resmi menjadi istri dari Kapten Alden, Sang Penakluk Badai Barat.
Pernikahan ini tidak dihadiri oleh riuh rendah tamu undangan, tidak ada taburan bunga kelopak mawar langit, ataupun musik altar yang megah. Hanya ada keheningan dek kapal, aroma kayu ek yang terbakar, dan bau anyir badai yang samar dari jubah hitam pria yang kini berdiri beberapa langkah di sampingnya.
Clara menoleh perlahan, memberanikan diri menatap suaminya. Kapten Alden berdiri tegak seperti tiang utama kapalnya. Pria itu memiliki rahang yang tegas, dengan luka gores tipis di pipi kiri yang justru menambah kesan garang.
Sepasang matanya yang sewarna abu-abu badai sedang menatap lurus ke garis cakrawala, mengabaikan keberadaan Clara seolah wanita itu hanyalah salah satu barang kargo baru yang dimuat ke dalam kapalnya.
"Kau tahu mengapa kau berada di sini, Clara?" Suara Alden terdengar berat, memecah kesunyian di antara deru baling-baling sihir di bagian belakang kapal.
Clara menarik napas dalam-dalam, berusaha menstabilkan suaranya. "Untuk menjadi ibu dari anak-anakmu, Kapten."
Alden membalikkan tubuhnya. Sepatu bot kulitnya yang tebal melangkah mendekat, menciptakan ketukan yang bergaung intimidatif di atas dek kayu.
Ketika jarak mereka hanya tersisa dua langkah, Clara bisa merasakan aura magis yang pekat menekan dadanya. Itu adalah aura seorang petarung langit, sesuatu yang dulu mungkin bisa ia tangani dengan mudah saat sihir penyembuhnya masih utuh.
Namun sekarang, tanpa inti sihir yang telah hancur akibat pengkhianatan masa lalu, Clara merasa sekecil debu di hadapan Alden.
"Tepatnya, seorang pengasuh yang memiliki pengetahuan magis," koreksi Alden dengan nada dingin tanpa emosi. "Aku tidak butuh seorang istri untuk menghangatkan ranjangku, dan anak-anakku tidak butuh ibu pengganti untuk memanjakan mereka. Yang aku butuhkan adalah seseorang yang cukup pintar untuk memastikan ketiga anakku tidak membakar kapal ini atau mengutuk seluruh kru saat aku pergi bertugas ke perbatasan langit utara."
Clara mengepalkan tangannya di balik lipatan gaun. Ia tahu reputasi Alden. Pria itu adalah komandan militer terhebat di Kekaisaran Langit, tetapi ia juga seorang ayah tunggal yang kewalahan.
Tiga anak blasterannya, yang mewarisi darah makhluk mistis dari mendiang ibu kandung mereka, memiliki kekuatan liar yang tidak bisa dikendalikan oleh pengasuh biasa.
Itulah alasan Alden mencarinya. Clara, meski telah kehilangan kemampuan mengeluarkan sihir, masih memiliki otak dan pengetahuan seorang mantan Penyembuh Agung. Ia tahu anatomi makhluk mistis, ia tahu teori penstabilan energi, dan yang paling penting, keluarganya di Valenica berutang budi besar pada militer Alden. Pernikahan kontrak ini adalah satu-satunya jalan keluar.
"Aku mengerti," jawab Clara tegap, menolak untuk terlihat lemah. "Aku telah mempelajari catatan tentang ketiga anakmu selama perjalanan menuju ke sini. Aku akan melakukan yang terbaik untuk menjaga mereka."
Alden menatap Clara lekat-lekat, seolah sedang mencari celah kebohongan atau ketakutan di mata bulat wanita itu.
Namun, Clara hanya membalasnya dengan tatapan jernih dan tenang. Setelah beberapa detik yang menegangkan, Alden akhirnya mendengus pelan, seulas senyum sinis yang hampir tak terlihat muncul di sudut bibirnya.
"Bagus kalau kau punya kepercayaan diri, Clara. Tapi bersiaplah, karena teori di dalam buku tidak akan menyelamatkanmu dari apa yang ada di dalam kapal ini," kata Alden sambil berbalik memunggungi Clara kembali.
"Kapal ini akan lepas landas menuju rute patroli dalam satu jam. Masuklah ke dalam kabin utama. Pelayan kapal akan mengantarmu ke kamarmu. Dan satu hal lagi...." Alden menoleh sedikit, menyipitkan matanya. "Jangan pernah pergi ke dek bawah tanpa seizinku."
Tanpa menunggu jawaban dari Clara, Kapten Alden melangkah pergi menuju ruang kemudi, jubah hitamnya berkibar tertiup angin kencang. Meninggalkan Clara sendirian di bawah langit yang mulai merambat senja, mengubah warna awan menjadi keunguan yang magis sekaligus mencekam.
Clara mengembuskan napas yang sejak tadi ia tahan. Ia memandangi cincin perak polos yang kini melingkar di jari manisnya.
Di dunia ini, cerita rakyat selalu menggambarkan ibu tiri sebagai penyihir kejam yang membuang anak-anak suaminya ke hutan terlarang atau mengutuk mereka menjadi batu. Namun di sini, di atas The Sky Leviathan, justru Clara-lah yang merasa seperti domba yang masuk ke sarang serigala.
Dengan memantapkan hatinya, Clara melangkah menuju pintu kayu besar yang mengarah ke bagian dalam kapal. Lorong kapal terbang itu diterangi oleh lentera sihir yang memancarkan cahaya kekuningan yang temaram.
Lantainya dilapisi karpet tebal untuk meredam suara langkah kaki. Suasana di dalam sangat sunyi, hanya ada getaran konstan dari mesin sihir kapal yang terasa di bawah telapak kakinya.
Seorang pelayan pria tua dengan pakaian rapi sudah menunggu di ujung lorong. Ia membungkuk hormat saat melihat Clara mendekat.
"Selamat datang di The Sky Leviathan, Nyonya Clara. Nama saya Bernet kepala pelayan di kabin utama," sapa pria tua itu dengan ramah, yang sedikit memberikan rasa hangat di hati Clara.
"Saya akan mengantarkan Anda ke kamar Anda yang berada di sayap kanan kapal."
"Terima kasih, Bernet" jawab Clara dengan senyum tulus. "Apakah... anak-anak ada di kamar mereka saat ini?"
Ekspresi Bernet sempat menegang sesaat sebelum kembali normal, sebuah detail kecil yang tidak luput dari pengamatan tajam Clara.
"Benar, Nyonya. Tuan Muda Leo, Nona Rin, dan Tuan Muda Toby berada di kamar mereka di sayap kiri. Kapten Alden telah meminta mereka untuk tetap di dalam sampai kapal mencapai ketinggian stabil."
Clara mengangguk mengerti. Namun, baru saja ia hendak melangkah mengikuti Bernet sebuah guncangan hebat tiba-tiba melanda kapal raksasa itu.
Guncangan ini bukan berasal dari turbulensi awan atau angin luar. Getaran ini berasal dari dalam kapal, disusul oleh suara dentuman keras yang menggema dari arah sayap kiri.
BOOM!
Dinding-dinding kapal bergetar hebat. Lentera sihir di langit-langit lorong berkedip-kedip tidak stabil. Sedetik kemudian, hawa panas mendadak merayap di sepanjang lorong, membawa serta aroma bulu terbakar dan belerang yang menyengat.
Bernet membelalakkan matanya, wajahnya mendadak pucat pasi. "Oh, demi Dewa Langit... Tuan Muda Leo mengamuk lagi."
Sebelum Bernet sempat mencegahnya, Clara sudah mengangkat ujung gaun putihnya dan berlari secepat yang ia bisa menuju sumber ledakan di sayap kiri kapal.
Sembari berlari, jantungnya berdegup kencang. Babak baru dalam hidupnya telah dimulai, dan badai pertamanya tidak datang dari langit, melainkan dari anak tirinya sendiri.
Jangan lupa dukung karya Author ya. Dan folow profilnya.