MY IDOL MY SUGAR DADDY Disya Putri, mahasiswi ekonomi yang berjuang menopang hidup dan ibunya, terpaksa menyetujui tawaran tak terduga dari Min Jae—idol papan atas yang dikenal dengan nama panggung Zelo. Hubungan mereka bermula dari perjanjian tanpa cinta: ia melayani, ia dibayar. Namun perlahan transaksi itu berubah menjadi rasa tulus, hingga masa lalu kelam Min Jae kembali hadir. Li Bora, mantan kekasih sekaligus produser yang dulu pergi tanpa penjelasan, kini kembali membawa ancaman dan rahasia besar. Di tengah tekanan publik, penolakan keras ayah Min Jae yang menganggap latar belakang Disya tidak setara, serta bukti perjanjian awal yang dijadikan senjata, mereka diuji hingga ke titik terberat. Di saat yang sama, tersembunyi kebenaran mengapa Li Bora dulu pergi, dan siapa yang sebenarnya mengatur semua ini dari balik layar. Akankah cinta yang tumbuh di antara keterpaksaan mampu bertahan melawan ambisi keluarga, masa lalu yang kelam, dan dunia yang menentang? Atau mereka justru menyadari bahwa pertemuan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan takdir yang telah lama disiapkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~PENGAKUAN DIBALIK KERAHASIAAN
Jack berjalan mendahului menuju halaman parkir bawah tanah, langkahnya berat dan penuh kekhawatiran. Sesampainya di samping mobil berwarna hitam pekat yang berkilau, ia berhenti sejenak, lalu membukakan pintu penumpang untuk Disya. Itu adalah Mercedes-AMG SL, mobil sport mewah dengan atap yang bisa terbuka dan tertutup secara otomatis, serta pintu yang terbuka ke atas layaknya sayap burung—mobil yang sering membuat orang berdecak kagum sekilas melihatnya.
Disya berdiri diam di tepi pintu terbuka itu. Ia menarik napas panjang, menghirup udara dingin parkiran dalam-dalam berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih berpacu cepat. Ia tahu tak ada jalan lain selain ikut Jack, dan ia tahu percuma mencoba lari dari tatapan tajam sahabatnya itu. Perlahan ia menunduk masuk ke dalam kabin mobil yang luas dan nyaman.
Jack melangkah ke balik kemudi, menyalakan mesin yang menderu halus namun bertenaga besar, lalu perlahan mengarahkan mobil itu meninggalkan area pusat perbelanjaan. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil hening total. Disya menatap ke luar jendela, melihat gedung-gedung kota berlalu begitu saja, sementara Jack sesekali meliriknya sekilas lewat kaca spion tengah. Ia tahu gadis di sebelahnya sedang menyembunyikan sesuatu yang besar, dan ia tak akan berhenti sampai mengetahui kebenarannya.
Tak butuh waktu lama hingga mobil berhenti di area parkir pribadi apartemen eksklusif di pusat kota—tempat persembunyian rahasia Disya dulu saat ia ingin lari dari lelahnya bekerja dan kesulitan hidup, sebelum ia mengenal kehidupan yang lebih nyaman. Jack membuka pintu atap otomatis sebentar membiarkan angin sore masuk, lalu mereka berdua masuk ke dalam unit apartemennya yang luas namun sederhana, hanya berisi barang-barang yang benar-benar ia butuhkan.
Mereka kini duduk berhadapan di ruang keluarga. Disya duduk di tepi sofa, tubuhnya meringkuk sedikit, tangannya meremas ujung bajunya dengan kuat—gerakan yang selalu ia lakukan saat gugup atau gelisah. Jack sangat paham kebiasaan kecil itu. Ia duduk di hadapannya, menyandarkan punggung di sandaran sofa, menyilangkan satu kakinya di atas paha, dan menatap Disya lekat-lekat tanpa berkedip, seolah ingin membaca apa yang tersembunyi di balik kepala gadis itu.
"Kamu pikir kamu bisa diam saja selamanya?" tanya Jack pelan namun tegas. "Lihat dirimu sekarang, Sha. Kamu berubah drastis. Uang, pakaian, tempat tinggal... semuanya di luar kemampuanmu dulu. Darimana semua itu berasal?"
Disya hanya menunduk lebih dalam, bibirnya terkatup rapat seolah terkunci.
"Jangan diam!" suara Jack mulai meninggi sedikit, terlihat ia mulai menahan emosi. "Saya sahabatmu. Saya orang yang paling berhak tahu apa yang terjadi padamu! Apa kamu terlibat masalah? Apa kamu meminjam uang dari lintah darat? Atau..."
Ia berhenti sejenak, lalu berdiri dengan gerakan tiba-tiba. Rasa cemas yang berlebihan membuatnya tak sadar mencengkeram kedua bahu Disya kuat, hingga memaksa gadis itu ikut berdiri dari posisinya duduk.
"Jangan buat saya menebak-nebak hal buruk, Sha! Katakan saja apa yang sebenarnya terjadi!" bentaknya.
Namun tak ada jawaban yang keluar dari mulut Disya. Yang dilihat Jack justru sepasang mata yang mulai memerah, lalu air mata jatuh membasahi pipi mulusnya satu per satu. Disya tak menangis tersedu, hanya air matanya mengalir deras tanpa suara, seolah semua beban yang ia tahan selama ini akhirnya tumpah begitu saja.
Melihat itu, Jack seketika meluruh. Ia melepaskan cengkeramannya di bahu Disya secepat ia memegangnya tadi, mundur selangkah sambil menepuk-nepuk wajahnya sendiri dengan kasar, lalu menarik rambutnya ke belakang dengan frustrasi.
"Sial... maaf... maafkan aku..." gerutunya pelan, lalu tiba-tiba berteriak keras hingga membuat tubuh Disya gemetar ketakutan. "AKU TIDAK BERNIAT MENAKUTIMU! AKU HANYA TAKUT SESUATU YANG BURUK TERJADI PADAMU!"
Suasana kembali hening, hanya terdengar isak halus Disya. Jack menghela napas panjang, berbalik perlahan, lalu merentangkan pelukannya. Tanpa kata ia menarik tubuh Disya masuk ke dalam pelukannya yang hangat dan melindungi. Ia mengusap punggung Disya pelan berusaha menenangkan gadis itu.
"Aku menyayangimu, Sha. Kamu tahu itu," bisiknya lembut di telinga Disya. "Tolong jelaskan semuanya padaku sebelum aku cari tahu sendiri. Dan kamu pasti tahu apa yang akan terjadi jika aku yang turun tangan mencari tahu kebenarannya. Aku tidak akan diam saja jika kamu disakiti."
Disya menempelkan telinganya di dada bidang Jack, mendengar detak jantung sahabatnya yang kencang karena khawatir. Ia menggeleng pelan di sana, hatinya berperang hebat antara kesetiaan pada janji rahasia dengan Min Jae dan kepercayaannya pada Jack.
"Baiklah..." suaranya terdengar parau. "Aku akan jujur. Tapi aku mohon... rahasiakan ini. Jangan cari tahu lebih jauh, dan jangan sakiti dia karena aku memintanya."
Jack mengangguk di atas kepala Disya. "Aku janji akan mendengarkan dulu."
Disya menarik napas panjang, lalu mulai bercerita dengan suara gemetar. "Aku... aku menjalin hubungan dengan seseorang. Seseorang yang sangat terkenal, seorang idol yang sangat dihormati. Dia yang memberikan semua ini, membantuku dan ibuku, memberiku kehidupan yang layak. Kami saling menyayangi... tapi dia tidak ingin hubungan ini diketahui siapa pun. Jadi tolong jangan tanya siapa namanya, cukup kamu tahu saja seperti ini."
Mendengar itu, dada Jack terasa seperti ditusuk benda tajam sekaligus dipanaskan api. Ia tahu betul dunia hiburan, ia tahu betul bagaimana kebanyakan idol bersikap. Hatinya penuh kekhawatiran. Ia tahu betul reputasi para idol yang sering menyembunyikan hubungan, sering memanfaatkan orang di bawah bayang-bayang, dan sering bergonta-ganti pasangan tanpa peduli perasaan orang lain.
"Kamu sadar kan dunia mereka seperti apa?" tanya Jack dengan nada bergetar karena emosi. "Mereka penuh kepalsuan, Sha! Kamu yakin dia benar-benar tulus padamu? Kamu yakin kamu tidak cuma jadi pelarian atau mainan saat dia bosan?"
"Tidak!" potong Disya cepat, matanya menatap tajam namun penuh harap ingin meyakinkan. "Dia tidak seperti itu! Dia memang dingin di luar, dia memang punya banyak aturan ketat, tapi dia menghormatiku. Hubungan kami... tidak seperti yang kamu kira. Kami hanya berpegangan tangan, berbincang, saling menemani. Tidak ada sentuhan yang melampaui batas, tidak ada ciuman, tidak ada hal kotor yang kamu bayangkan. Dia menjaga batas sama seperti aku. Dia berbeda, Jack. Tolong percayalah padaku."
Disya berbohong besar soal sifat hubungan mereka, tapi ia berusaha sekuat tenaga menutupi sisi transaksional dan kewajiban fisiknya. Ia takut Jack akan menghancurkan Min Jae jika tahu kebenarannya.
Jack menatap mata Disya lekat-lekat lama sekali, berusaha mencari kebohongan di sana. Namun ia hanya melihat ketakutan, rasa bersalah, dan keyakinan buta gadis itu. Akhirnya ia menghela napas pasrah, meski kekhawatirannya tak kunjung hilang.
"Baiklah... aku percaya untuk sekarang," ucapnya pelan. "Tapi jika kamu menangis karena dia, jika dia menyakitimu sedikit saja... aku tidak akan diam."
Sore itu berubah menjadi suasana yang lebih tenang. Disya meminta izin untuk mandi, dan setelah selesai ia mengenakan kaos oblong besar berwarna abu-abu dan celana panjang milik Jack yang kebesaran di tubuh mungilnya. Sementara itu Jack sibuk di dapur, menyiapkan makanan ringan, kue kering, dan camilan kesukaan Disya untuk menemani mereka menonton film.
Saat menunggu makanan matang, Disya mengambil ponselnya. Tak ada satu pun pesan atau panggilan dari Min Jae. Ia membuka media sosial, dan berita teratas langsung menampilkan foto Min Jae—Zelo—yang sedang tiba di bandara untuk melakukan sesi pemotretan khusus di Paris, Prancis. Berita itu baru diunggah dua jam yang lalu.
Disya menatap layar ponselnya lama sekali, senyum tipisnya perlahan memudar. Ia mengingat kembali aturan yang ia buat sendiri, mengingat posisinya yang sebenarnya. Dia pergi ke luar negeri jauh-jauh pun tidak perlu memberitahuku. Siapa aku baginya? Kami cuma sebatas perjanjian, cuma sebatas transaksi. Aku tidak berhak menuntut perhatian atau kabar darinya.
Ia menekan tombol kunci layar dengan perasaan yang terasa dingin, lalu berjalan kembali ke ruang tengah.
Di sana Jack sudah menyiapkan segalanya. Di meja rendah tersedia berbagai camilan lezat, sebotol anggur merah untuk dirinya, dan segelas besar susu rasa stroberi kesukaan Disya. Di lantai ruang tamu yang luas sudah terhampar kasur lipat empuk, lengkap dengan bantal lembut dan selimut tebal untuk mereka berdua.
Mereka pun duduk bersandar di tumpukan bantal, menyalakan film komedi romantis yang ringan. Awalnya mereka tertawa bersama, saling melempar camilan, dan berbicara pelan mengomentari adegan di layar. Namun perlahan rasa lelah melanda Disya. Ia menyandarkan kepalanya di lengan Jack yang ditekuk menjadi bantal, lalu perlahan memejamkan matanya. Suara film yang samar dan kehangatan di sampingnya membuatnya terlelap tanpa sadar.
Jack menoleh saat merasakan beban ringan di lengannya. Ia melihat wajah Disya yang tenang saat tidur, matanya yang tertutup rapat, dan rambutnya yang berantakan menutupi sebagian dahi. Dengan lembut ia menyisir rambut itu menggunakan jari-jarinya, lalu tersenyum sedih.
"Tidurlah dengan tenang, Sha..." bisiknya pelan agar tidak membangunkan gadis itu. "Selama aku ada di sini, aku pastikan tidak ada yang berani menyakitimu. Bahkan jika itu orang yang kamu percayai sekarang."
Ia membiarkan Disya tidur pulas di sana, sementara matanya sendiri tetap terjaga menatap layar yang kini menampilkan adegan penutup. Di dalam hatinya, kekhawatiran itu masih membekas dalam—ia tahu Disya menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar, dan ia tahu masalah ini belum selesai.