NovelToon NovelToon
BANGKITNYA PENDEKAR TERKUAT

BANGKITNYA PENDEKAR TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: GEELANG

aku akan mengguncang dunia persilatan, aku yang memiliki ingatan masa depan memiliki keunggulan yang akan menghacurkan segala yang merebut waktu dan duniaku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 - Benih Tenaga Dalam

Pagi belum benar-benar pecah di Lembah Batu Pecah. Langit masih berwarna kebiruan pekat dan kabut tebal merayap dingin di antara celah-celah tebing saat Chou Tian melangkah masuk ke dalam gubuk bambu. Pria tua itu tidak memanggil atau mengetuk pintu. Ia memukul tiang utama gubuk menggunakan gagang kayu kapaknya, menciptakan suara dentuman keras yang menggetarkan seluruh isi ruangan.

Sun Chen langsung membuka mata. Dalam hitungan detik, tubuh kecilnya sudah siap berdiri tegak di atas lantai bambu. Jiwa seorang prajurit veteran yang tertanam di dalam dirinya membuat refleksnya tetap tajam meski raga fisiknya baru terbangun dari tidur.

Chou Tian menatap muridnya tanpa ekspresi hangat. Tidak ada kata pujian atas keberhasilan Sun Chen merasakan percikan energi di dantiannya tadi malam, tidak pula ada pertanyaan apakah tubuh kecil itu masih merasa pegal akibat latihan berat hari pertama.

"Bangun," kata Chou Tian dingin. "Apa yang kau rasakan dan penderitaanmu kemarin hanyalah pemanasan kecil. Hari ini latihanmu yang sebenarnya baru dimulai."

Tanpa menunggu balasan Sun Chen, Chou Tian berbalik dan melangkah keluar menuju keabuan pagi. Sun Chen segera menyusul, merapatkan jubah sederhananya untuk menahan tusukan udara dingin pegunungan.

Chou Tian membawa Sun Chen menuju bagian belakang lembah, tempat sebuah air terjun kecil mengalir deras dari tebing batu setinggi sepuluh meter. Airnya berwarna jernih kebiruan, memuncratkan uap dingin yang membuat bulu kuduk berdiri.

Pria tua itu menunjuk ke sebuah batu datar yang berada tepat di bawah kucuran air terjun yang paling deras.

"Naik ke atas batu itu," perintah Chou Tian seraya bersedekap. "Berdiri di sana dan jangan jatuh."

Sun Chen menatap derasnya air yang menghantam permukaan batu. Bagi seorang anak berusia empat tahun, deburan air itu setara dengan benturan puluhan palu kayu yang dijatuhkan secara bersamaan dari tempat tinggi. Namun, tanpa mengajukan pertanyaan atau memperlihatkan rasa ragu, Sun Chen melangkah masuk ke dalam kolam air yang dingin menusuk tulang, lalu memanjat naik ke atas batu datar tersebut.

Begitu tubuhnya masuk ke bawah kucuran air terjun, hantaman keras langsung menimpa kepala dan bahunya.

Bruk!

Seketika itu juga, Sun Chen hilang keseimbangan dan terpental jatuh ke dalam kolam air di bawahnya. Air dingin masuk ke dalam hidung dan mulutnya, membuatnya terbatuk-batuk hebat saat berusaha bangkit berdiri.

"Kau menahan air itu menggunakan otot bahumu!" seru Chou Tian dari tepi kolam, suaranya lantang menembus gemuruh air terjun. "Air itu jauh lebih berat dari tubuhmu. Jika kau melawannya dengan kekuatan kasar, kau hanya akan patah!"

Sun Chen menyapu air dari wajahnya, lalu kembali memanjat batu datar tersebut. Sekali lagi, begitu air menghantam pundaknya, tubuh kecilnya goyah dan jatuh tercampak.

"Tekuk sedikit lututmu!" petunjuk Chou Tian bergema lagi. "Turunkan pusat gravitasimu ke bawah! Bernapaslah melalui perut, alirkan tekanan air dari bahumu turun melewati tulang punggung, menembus pinggul, dan tancapkan seluruh beban itu ke dalam batu melalui telapak kakimu!"

Sun Chen memanjat untuk ketiga kalinya. Ia berdiri di atas batu, menekuk lututnya agak dalam, membusungkan dada sedikit, dan menyelaraskan napasnya dengan gemuruh air. Saat hantaman air terjun kembali menimpa kepala dan bahunya, rasa sakit luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya. Otot-ototnya menjerit, tetapi kali ini Sun Chen tidak mencoba membusungkan bahu untuk melawan arus. Ia mengingat instruksi gurunya, membiarkan aliran air mengalir menyusuri lekuk tubuhnya dan menyalurkan guncangan itu langsung ke pijakan kakinya.

Tubuhnya bergetar hebat, tetapi ia berhasil bertahan selama sepuluh detik sebelum akhirnya kembali terpeleset jatuh.

Sun Chen merayap naik lagi. Di dalam hatinya, sebuah pemahaman baru mulai mekar. Tenaga sejati seorang pendekar bukanlah sekadar tumpukan otot yang keras atau kepalan tangan yang besar. Tenaga sejati berasal dari keseimbangan murni, struktur tubuh yang benar, dan koordinasi sempurna antara napas dan pijakan bumi.

Matahari sudah meninggi saat Chou Tian menyuruh Sun Chen menyudahi latihan air terjun. Tubuh anak kecil itu tampak memar-memar dan pucat akibat kedinginan, tetapi matanya bersinar jauh lebih terang dari sebelumnya.

Setelah mengeringkan diri di dekat perapian dan menikmati rebusan akar obat hangat, Chou Tian mengambil sebatang ranting kayu kering. Pria tua itu mengajak Sun Chen duduk bersila di tanah datar depan gubuk.

"Kau sudah merasakan kehangatan samar di dalam perutmu tadi malam," buka Chou Tian seraya mulai menggoreskan ujung ranting ke atas tanah kering. "Itu adalah langkah awal. Namun, banyak pendekar bodoh yang salah mengerti tentang apa itu tenaga dalam atau Qi."

Chou Tian menggambar siluet tubuh manusia yang sederhana di tanah, lalu menarik garis-garis rumit yang saling terhubung dari bawah perut menuju dada, bahu, dan telapak tangan.

"Qi bukanlah sesuatu yang bisa kau panggil secara paksa dengan amarah atau kehendak buas," jelas Chou Tian tegas. "Qi adalah energi alam yang disaring melalui napas dan ditampung di dalam raga. Tubuhmu adalah wadah, dan pembuluh darah serta meridianmu adalah jalurnya."

Ranting kayu itu berhenti di sebuah titik di bawah pusar pada gambar tersebut.

"Ini adalah Dantian. Dan garis-garis ini adalah dua belas meridian utama. Banyak sekte sesat memaksa membuka jalur energi ini menggunakan ramuan keras atau menyerap energi asing secara ganas. Hasilnya? Pembuluh darah mereka robek, Qi bergejolak merusak organ dalam, dan mereka menjadi gila atau tewas mengenaskan sebelum mencapai puncak."

Sun Chen menatap gambar garis-garis meridian di atas tanah itu dengan cermat. Di kehidupan lalunya bersama Kultus Demonic, para tetua selalu menyuruh para calon Jenderal Demonic untuk menyerap energi kematian dan darah secara paksa, menerobos pembuluh darah dengan cara yang sangat menyakitkan demi kenaikan tingkat yang instan.

Kini, mendengarkan penjelasan Chou Tian yang begitu runtut, ilmiah, dan menghormati tatanan alami tubuh, Sun Chen tersadar betapa sesatnya jalan yang dulu pernah ia tempuh. Metode gurunya saat ini adalah jalan murni yang sejati.

"Sekarang, bersilalah," kata Chou Tian seraya membuang ranting kayunya. "Jangan paksa energi itu keluar. Cukup atur napasmu, kosongkan pikiranmu, dan biarkan udara murni pegunungan ini mengisi wadahmu secara alami."

Sun Chen memejamkan mata. Ia membuang jauh-jauh pikiran tentang dendam, ingatan kehidupan lalu, ataupun ambisi untuk segera menjadi kuat. Ia membiarkan dirinya larut dalam suara angin yang berhembus di antara pepohonan pinus dan gemericik air terjun di kejauhan.

Napasnya menjadi sangat lambat dan dalam. Tarik melalui hidung, tahan sejenak di bawah pusar, hembuskan perlahan melalui mulut.

Satu jam berlalu. Dua jam berlalu.

Di dalam pusat dantiannya yang semula gelap, seberkas udara hangat perlahan-lahan mulai terkumpul. Kali ini, rasa hangat itu bukan lagi sepercik api liar, melainkan seutas aliran tenaga yang sangat tipis dan jernih, mirip dengan benang sutra berwarna keemasan yang berkilau halus. Aliran itu berputar pelan di dalam dantiannya, memancarkan rasa nyaman yang mengalir ke seluruh persendian tubuhnya yang memar.

Benih Qi pertama telah benar-benar berakar dengan sempurna di dalam raganya.

Sun Chen membuka mata dan menarik napas panjang.

Chou Tian yang duduk di hadapannya mengangguk pelan. Tidak ada senyum berlebihan di wajah kaku pria tua itu, tetapi sorot matanya memancarkan kepuasan yang mendalam.

"Bagus," kata Chou Tian singkat. "Kau tidak terburu-buru, dan wadahmu menerima energi itu tanpa penolakan. Namun ingat, ini barulah langkah pertama dari jalan panjang yang penuh duri. Benang sutra itu harus kau tempa setiap hari hingga menjadi tambang besi yang sanggup mengguncang gunung."

Sementara itu, beberapa li di luar batas lembah, di tengah kerapatan hutan perbatasan yang gelap.

Empat orang pria berbadan kekar melangkah perlahan menembus semak belukar. Mereka mengenakan pakaian kulit kasar dan membawa golok panjang di pinggang. Di barisan paling depan, seorang pria paruh baya berkulit gelap duduk merunduk, memperhatikan permukaan tanah yang tertutup daun-daun kering.

Pria itu adalah pelacak terbaik dari karavan pedagang budak.

tangannya yang kasar memungut sehelai kain kecil yang tersangkut di duri semak-semak. Kain itu berwarna kusam, identik dengan pakaian yang dikenakan oleh anak-anak budak di dalam gerobak besi.

"Ketua," panggil sang pelacak seraya berdiri dan menunjukkan potongan kain itu kepada pria berwajah seram yang berdiri di sampingnya. "Ada jejak langkah kaki anak kecil di sini. Ditambah lagi, ada patahan ranting pohon yang rapi. Seseorang yang sangat ahli membawa bocah itu menembus hutan ini menuju ke arah atas pegunungan."

Pemimpin kelompok pemburu itu menyeringai dingin, memperlihatkan deretan giginya yang kuning.

"Pria tua berengsek itu berpikir bisa bersembunyi di pegunungan ini," kata sang pemimpin dengan nada tebal kecurigaan. "Bocah itu terlalu berharga untuk dilepaskan. Jika kita membawanya kembali, Tuan Agung akan memberi kita imbalan yang cukup untuk hidup mewah seumur hidup."

Ia memalingkan wajahnya ke arah tiga anak buahnya yang lain.

"Sebarkan barisan! Kita bagi menjadi dua kelompok dan ikuti aliran sungai ini ke atas. Siapa pun yang menemukan tempat tinggal mereka lebih dulu, beri isyarat! Ingat, jangan bertindak gegabah sebelum kita semua berkumpul!"

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, memancarkan warna merah jingga yang membakar langit pegunungan. Udara lembah perlahan berubah menjadi semakin dingin saat malam bersiap turun.

Di depan gubuk bambu, Chou Tian sedang mengayunkan kapaknya untuk membelah kayu bakar. Gerakan mengayun kapaknya sangat teratur dan bertenaga.

Brak!

Sebongkah kayu jati keras terbelah dua dengan sempurna. Namun, saat Chou Tian hendak mengambil bongkahan kayu berikutnya, tangannya yang memegang gagang kapak mendadak berhenti di udara.

Pria tua itu berdiri diam. Matanya yang tajam menyipit, beralih dari tumpukan kayu bakar menuju ke arah kegelapan hutan di luar batas lembah.

Di tempatnya duduk bermeditasi, Sun Chen merasakan perubahan aura yang mendadak dari tubuh gurunya. Tekanan halus namun sangat pekat mendadak memancar dari raga Chou Tian, membuat udara di sekitar gubuk terasa sedikit lebih berat.

Chou Tian tidak membalikkan badan. Tanpa menoleh sedikit pun kepada Sun Chen yang sedang memperhatikannya, pria tua itu bergumam dengan suara yang sangat pelan namun terdengar tegas.

"Besok, latihanmu mungkin harus ditunda."

Sun Chen tidak bertanya. Ia langsung menegakkan tubuhnya, mengerti sepenuhnya arti di balik ucapan sang guru. Keheningan malam yang baru saja turun terasa mencekam, membawa firasat buruk yang mengendap di udara.

Jauh di balik kerapatan pohon-pohon pinus yang diselimuti kegelapan malam, di balik semak-semak yang berjarak beberapa ratus langkah dari gubuk, sepasang mata liar sedang mengawasi halaman rumah itu dalam keheningan yang mematikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!