NovelToon NovelToon
The Porch Light

The Porch Light

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan mewah Rowan Vale-Knight dan Cathez hampa tanpa kehadiran buah hati.

Terobsesi pada kebebasan, Cathez terus menolak hamil hingga melontarkan tantangan gila: mengizinkan Rowan mencari wanita lain untuk melahirkan keturunannya.

Dikuasai rasa dikhianati, Rowan menerima tantangan tersebut.

Di malam yang sama, takdir mempertemukannya dengan Rossi Widmer—gadis terbuang yang nekat melompati mobil Rowan demi melarikan diri dari jebakan penjualan diri oleh ayahnya sendiri.

Terdesak ancaman bahaya dan pengaruh obat perangsang, penyatuan tak terduga terjadi di antara mereka.

Rowan yang terkesan oleh kemurnian Rossi memboyong gadis itu dalam pernikahan sah demi mendapatkan anak, tanpa menyadari rahasia besar bahwa Rossi sebenarnya adalah adik kandung Istrinya yang diasingkan sejak kecil.

Di antara keputusasaan, perlindungan tulus, dan intrik masa lalu yang membayangi, akankah benih cinta sejati tumbuh di tengah hubungan transaksi mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#11

Malam telah melingkupi kawasan elit Bel Air dengan tirai hitam yang dingin dan lembap. Gerbang besi berukir rumit milik Kediaman Utama Keluarga Vale-Knight terbuka lebar secara otomatis, menyambut kedatangan mobil yang dikendarai oleh Rowan.

Bangunan megah bergaya Neoklasik itu berdiri kokoh di atas lahan berhektar-hektar, memancarkan keagungan, kekuasaan, sekaligus tekanan tersendiri bagi siapa pun yang melangkah masuk ke dalamnya.

Di mansion utama inilah Rowan dan Cathez tinggal. Tepatnya di area Sayap Barat—sebuah paviliun mewah dua lantai yang terhubung langsung dengan bangunan utama, namun memiliki privasi tersendiri.

Rowan mematikan mesin mobilnya di area carport khusus. Ia menghela napas panjang di balik kemudi, menatap bayangan jendela lantai dua Sayap Barat yang memancarkan cahaya kekuningan samar. Di sana, di dalam kamar suite utamanya, ia tahu sebuah badai sedang menunggunya.

Dengan langkah kaki yang tenang dan teratur, Rowan melintasi aula utama mansion yang berdinding marmer mahal. Suasana mansion sangat sepi; para pelayan telah mengundurkan diri ke Paviliun belakang, sementara orang tua Rowan kemungkinan besar sudah beristirahat di Sayap Timur.

Sepatu kulit Rowan menghentak lantai kayu keras koridor Sayap Barat, menciptakan ketukan berirama yang bergema di sepanjang dinding berhiaskan lukisan-lukisan minyak.

Ketika Rowan memutar gagang pintu kayu jati yang tebal dan melangkah masuk ke dalam kamar tidur pribadinya, sebuah bayangan melintas cepat.

PLAK!

Suara tamparan keras memecah keheningan ruangan bersuhu dingin tersebut.

Sentakan itu begitu kuat hingga kepala Rowan terdorong ke samping. Rasa panas dan perih langsung menjalar di kulit pipi kirinya.

Namun, Rowan tidak meringis, tidak menutupi wajahnya, dan sama sekali tidak membalas. Pria itu hanya menghentikan langkahnya, berdiri kaku dalam posisinya sembari perlahan-lahan menegakkan kembali kepalanya.

Di hadapannya, Cathez berdiri dengan napas memburu. Gaun malam sutra berwarna merah menyala yang dikenakannya tampak sedikit kusut di bagian dada. Wajah cantiknya yang biasa terpoles sempurna kini tampak merah padam akibat amarah yang tak tertahan. Matanya menyalang penuh kebencian dan tuduhan.

"Kau berengsek, Rowan!" jerit Cathez dengan suara melengking, kehilangan seluruh keanggunan seorang Nyonya Muda Vale-Knight.

"Di mana kau seharian ini?! Kau tidak pulang semalam, kau mengabaikan panggilan teleponku, kau membolos dari rapat direksi, dan kau membiarkan para komisaris mempertanyakan kebenaran posisimu di perusahaan!"

Rowan menatap istrinya dengan pandangan yang teramat datar.

Tidak ada kemarahan di mata hitamnya, tidak pula ada rasa takut. Yang tersisa hanyalah kekosongan dan rasa muak yang sudah menumpuk hingga batas tertinggi. Kata-kata makian dan tuntutan tanggung jawab yang dilontarkan Cathez adalah lagu lama yang sudah bosan ia dengarkan selama empat tahun terakhir.

Cathez melangkah mendekat, mencengkeram kerah jas Rowan dengan kedua tangannya yang gemetar karena frustrasi.

"Jawab aku, Rowan! Kau pergi ke mana?! Dengan siapa kau menghabiskan malam semalam?! Kau pikir karena kau memegang kendali, kau bisa bersikap sesuka hatimu padaku??!"

Rowan membiarkan jemari Cathez meremas kain jasnya, tetap bungkam bagaikan patung batu marmer.

Sikap diam Rowan justru semakin membakar amarah Cathez hingga wanita itu melepaskan cengkeramannya dan mendorong dada Rowan dengan kasar.

"Lakukan saja sesukamu! Abaikan aku! Tapi jangan pernah berharap kau bisa menuntut apa pun dariku!" jerit Cathez lagi, suaranya bergema memantul di langit-langit kamar yang tinggi.

"Kau menuntut seorang anak? Kau menuntut agar aku mengurung diriku selama sembilan bulan dan mengorbankan tubuhku hanya untuk memuaskan ego gilamu?! Kau tidak tahu diri, Rowan!"

Cathez tertawa sinis, sebuah tawa pahit yang dipenuhi rasa hinaan yang mendalam saat ia menatap tepat ke dalam mata Rowan.

"Kau yang berusaha menginginkan pernikahan ini karena rasa bersalahmu padaku!" teriak Cathez menunjuk dada Rowan dengan telunjuknya yang bergetar. "Kau yang memohon agar kau berdiri bersamaku di altar pernikahan! Dan sekarang, setelah empat tahun berjalan, kau tetap saja menuntut seorang anak denganku? Licik! Kau pria yang sangat licik dan egois, Rowan!"

Rowan masih tidak bergeming, namun rahangnya perlahan mengeras.

Cathez maju satu langkah lagi, memangkas jarak di antara mereka hingga napas emosionalnya berembus menyapu wajah Rowan.

Wanita itu memiringkan kepalanya, melempar bom kata-kata yang selama ini tersimpan rapi di balik dinding tipis pernikahan mereka.

"Aku tidak pernah mencintaimu, Rowan Vale-Knight!" teriak Cathez tepat di depan wajah suaminya. "Sampai kapan pun, sampai aku mati sekalipun, aku tidak akan pernah mencintaimu! Kau tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Reagen di hatiku!"

Deg.

Tubuh Rowan mematung seketika.

Dunia di sekitar Rowan seolah kehilangan seluruh suaranya. Kalimat terakhir yang meluncur mulus tanpa belas kasihan dari bibir Cathez menghantam kesadaran Rowan bagaikan pukulan godam yang meremukkan tulang rusuknya.

Nama itu—Reagen—sekali lagi diangkat ke permukaan, membuka kembali luka lama dan kenangan kelam empat tahun lalu yang selama ini tersimpan rapat di dalam peti besi memorinya.

Pernikahan mewah antara Rowan Vale-Knight dan Cathez empat tahun lalu sama sekali tidak pernah didasari atas nama cinta.

Empat tahun lalu, sebuah pernikahan termegah abad waktu itu seharusnya digelar di katedral terluas di kota ini. Namun, mempelai prianya bukanlah Rowan, melainkan Reagen—sahabat masa kecil Rowan, pria yang sudah dianggapnya seperti saudara kandung sendiri.

Reagen adalah kekasih tercinta Cathez, pria yang dipuja dan dicintai Cathez dengan separuh jiwanya.

Namun, pada hari penting itu... tepat beberapa jam sebelum janji suci diucapkan di hadapan altar, sebuah tragedi berdarah menghancurkan segalanya.

Reagen ditemukan tewas mengenaskan di dalam ruang ganti mempelai pria. Pria itu mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara melompat dari lantai atas gedung tempat acara berlangsung, tanpa alasan yang jelas, meninggalkan gaun pengantin putih Cathez ternoda oleh keputusasaan dan duka yang teramat dalam.

Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia berubah menjadi neraka. Cathez bersimpuh di lantai katedral dengan gaun pengantinnya yang berantakan, menangis histeris hingga hampir kehilangan kesadarannya.

Keluarga besar berada dalam kepanikan luar biasa; skandal besar membayangi dua keluarga terpandang, dan Kehancuran mental Cathez membahayakan nyawanya sendiri.

Di tengah kekacauan dan tangisan tersedu-sedu itu, sebuah surat wasiat terakhir yang ditulis oleh tangan Reagen ditemukan di dalam saku jas mendiang.

Surat itu dipegang erat oleh Cathez yang terus melantunkan histeria. Di dalam surat tersebut, Reagen menuliskan sebuah permintaan terakhir yang teramat berat, meminta sahabat terbaiknya—Rowan Vale-Knight—untuk mengambil alih posisinya.

Reagen memohon agar Rowan menikahi Cathez, menjaga wanita yang dicintainya itu agar tidak hancur oleh kejamnya cemoohan publik dan rasa duka.

Sebagai seorang pria sejati, sebagai sahabat yang merasa berutang nyawa dan memikul rasa bersalah yang mendalam atas kematian misterius Reagen, Rowan tidak punya pilihan lain.

Hari itu juga, di hadapan altar yang masih diselimuti duka dan ketiadaan Reagen, Rowan melangkah maju dengan gagah perkasa.

Dengan kebesaran hati dan rasa tanggung jawab yang luar biasa, Rowan mengucapkan sumpah pernikahan di atas puing-puing kehancuran sahabatnya. Ia menerima wanita yang paling dicintai sahabatnya untuk dijadikan istrinya yang sah secara hukum dan agama—tanpa ada sedikit pun rasa cinta romantisme di dalam dadanya, melainkan murni atas dasar tanggung jawab, rasa iba, dan penghormatan pada amanah mending Reagen.

...°°°°°...

Selama empat tahun pernikahan itu berjalan, Rowan menelan seluruh kebingungan dan penderitaannya sendiri. Ia memperlakukan Cathez dengan sangat terhormat, memberikannya kemewahan tanpa batas, melindunginya dari segala bahaya, dan berusaha menjadi suami yang sempurna untuk menyembuhkan luka hati wanita itu.

Namun malam ini, di dalam kamar Sayap Barat yang dingin ini, cangkang rasa bersalah yang dipikul Rowan selama empat tahun akhirnya pecah tak berbekas.

Mendengar pengakuan jujur dan penuh kebencian itu keluar langsung dari mulut wanita yang selama ini dijaganya, Rowan tidak marah. Ia tidak membalas berteriak, tidak pula membanting barang-barang berharga di sekitarnya.

Sebaliknya, sebuah senyuman perlahan terukir di bibir Rowan.

Itu bukanlah senyuman amarah atau kekalahan.

Itu adalah senyuman tipis, dingin, dan sarat akan kebebasan yang mendalam—sebuah tawa lirih tanpa suara dari seorang pria yang baru saja terbebas dari rantai belenggu rasa bersalah yang mengikat lehernya selama bertahun-tahun.

Melihat senyuman aneh di wajah Rowan, Cathez mengerutkan keningnya, mendadak merasa terancam oleh ketenangan suaminya yang tidak biasa.

Rowan merapikan jasnya yang sedikit kusut akibat cengkeraman Cathez tadi. Ia menatap Cathez lurus-lurus, membiarkan pandangan matanya yang tajam menembus hingga ke dasar jiwa wanita itu.

"Aku juga tidak pernah berharap dicintai olehmu, Cathez," ucap Rowan dengan nada suara yang sangat tenang, begitu datar hingga terasa seperti embusan angin malam yang membekukan.

Cathez mematung, matanya membelalak kaget mendengar jawaban Rowan.

"Empat tahun lalu," lanjut Rowan, melangkah pelan mendekati Cathez yang refleks mundur satu tindak, "aku berdiri di altar itu bukan karena aku menginginkanmu, bukan pula karena aku ingin merebut posisi Reagen. Aku berdiri di sana untuk menutupi malu keluargamu, dan untuk menghormati permintaan terakhir seorang pria yang kuanggap saudara."

Rowan berhenti tepat di depan Cathez, menatap wanita itu dari ketinggian posturnya yang tegap.

"Aku sudah membayar utang rasa bersalahku pada Reagen selama empat tahun ini," bisik Rowan pelan, namun setiap kata dipenuhi oleh ketegasan yang mutlak. "Aku sudah memberimu nama besar Vale-Knight, kebebasan tanpa batas, dan kemewahan yang tidak akan pernah habis. Tapi jika kau pikir aku akan terus mengorbankan masa depanku, keturunanku, dan kebahagiaanku hanya untuk menjadi bayangan seorang pria mati... kau sangat salah."

Wajah Cathez pucat pasi. "R-Rowan... apa maksudmu?"

Rowan tersenyum lagi—senyuman asing yang membuat bulu kuduk Cathez berdiri.

"Maksudku," kata Rowan sambil berbalik menuju lemari besar untuk mengambil pakaian gantinya, "permainanmu sudah selesai. Kau boleh tetap mencintai bayangan Reagen seumur hidupmu, dan kau boleh tetap menikmati seluruh fasilitas kemewahan rumah ini sebagai Nyonya Vale-Knight di mata publik. Tapi jangan pernah sekali pun kau mencampuri urusanku lagi."

Rowan menoleh sekilas melalui bahunya, menatap Cathez yang masih berdiri mematung di tengah kamar.

"Karena mulai hari ini, aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi hakku sebagai seorang pria. Termasuk seorang anak yang tidak akan pernah lahir dari rahimmu."

Tanpa menunggu balasan atau teriakan Histeris Cathez selanjutnya, Rowan melangkah keluar dari kamar, membiarkan pintu besar itu tertutup rapat di belakangnya, meninggalkan Cathez yang berdiri sendirian dalam kehampaan dan ketakutan baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

1
Mia Camelia
hahaa rasaiin ketauan ,rowan ngumpetin anak gadis🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkww🤣
total 1 replies
alunanfiksimalam
Wanita jahat
nayla tsaqif
Uhh,, marathon bacanya thor,, tp nyampe jg bab 20🤭
Rosdianah 🌷: Waaah luar biasa kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Rossi 😍😍😍
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
bikin semua kejahatan catzhes terbongkar
Rosdianah 🌷: siap kak🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Huwaa😭 knp q ketinggalan notifnya,, tau2 udah bab 20 ajahh,,! Semangat 30 menit pasti selesai baca💪
Rosdianah 🌷: Huhuhu semangat kak reader 🥰🫶
total 1 replies
Mia Camelia
so sweet banget sih mereka brdua🥰🥳
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Mia Camelia
aduh ngenes banget ngliat rowan nanggis ky bgitu🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: hahaha🤣
total 1 replies
Mia Camelia
cathez gak tau diri banget cowo sekelas rowan di sia sia kan😔
Rosdianah 🌷: huhuhu
total 1 replies
Mia Camelia
rowan jahat banget sih cuma mau ngambil anak nya doang🤣🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: perlu digampar anak Daddy satu itu🤣
total 1 replies
Mia Camelia
rosi polos banget yaa, cocok nih sama rowan🥰🥰🥰
Mia Camelia
semua nya mudah klo rowan udh niat 😂🤣
Mia Camelia
hehe rowan kebelet banget pingin anak🤣🤣
Rosdianah 🌷: bisa bayangin lah ka🤣🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
ehmm pertemuan yg tak terduga😂
Rosdianah 🌷: hihihi🤭
total 1 replies
Mia Camelia
horeee 🥳 akhir nya kisah rowan publish juga🥰😄😂😂
aku pasti baca thor mpe abis🥰🥰🥰
Rosdianah 🌷: Huhuhu terharu, Ma'aciww kak, Semoga suka sama ceritanya.
Happy Reading 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!