NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Zaman Kuno

Terlempar Ke Zaman Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Transmigrasi / Ruang Ajaib
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Jia Li adalah seorang dokter genius dari modern. Meski begitu, keluarganya sendiri tidak pernah menghargainya dan lebih menyayangi kakak laki-laki nya yang menjadi pengangguran.

Tepat setelah Jia Li selesai melakukan operasi. Sebuah tamparan menantinya di pintu keluar. Awal dari segalanya.

Jiwa Jia Li terseret ke zaman kuno, lebih tepat nya memasuki raga Lin Jia. Lin Jia adalah putri dari Kaisar Lin Dong dan selir kedua. Diam - diam di belakang Kaisar. Lin Jia di remehkan karena tidak memiliki Elemen apapun dalam tubuhnya.

Namun semua berubah saat jiwa Jia Li menempati raga Lin Jia. Berkat bantuan sistem dan ruang ajaib. Jia Li akan mengubah takdir Lin Jia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kaisar Yun Shang

Langkah kaki terdengar tergesa-gesa. Hanya gesekan kain dan sepatu dengan rumput tipis di bawah pijakan yang menjadi melodi samar, memecah keheningan hutan yang membeku. Seorang pria dengan pakaian bangsawan yang berlumur debu menghentikan langkahnya dengan napas terengah-engah.

Matanya menangkap sesosok tubuh tangguh yang amat ia kenali. Pria itu seketika menundukkan kepala dalam-dalam saat melihat tuannya tengah bersandar tenang pada sebuah pohon besar.

"Yang Mulia!" seru pria itu, suaranya bergetar antara lega dan cemas. "Kenapa Yang Mulia pergi begitu saja? Aku mencari Yang Mulia ke mana pun, karena khawatir." Tanya pria bernama Chen itu, berusaha mengatur napasnya namun tetap menjaga nada bicaranya penuh dengan rasa hormat yang mutlak.

Chen kemudian merogoh jubahnya dan mengeluarkan sebuah benda. "Ini obatnya, Yang Mulia." Chen menyerahkan sebuah botol obat kecil yang terbuat dari keramik putih halus dengan tangan yang sedikit gemetar kepada sang Tuan.

Pria yang semula bersandar pada batang pohon itu perlahan berdiri tegak. Postur tubuhnya yang tinggi tegap mengintimidasi. Dia membalikkan badannya lambat-lambat, menampilkan paras rupawan yang dingin bagai pahatan es.

"Aku tidak membutuhkan obat itu lagi, Chen," kata pria itu dengan suara berat yang bergaung rendah. Pria itu tak lain adalah sang penguasa tiran, Kaisar Yun Shang; dari Kekaisaran Awan Emas.

Chen terkejut seketika, matanya membelalak tak percaya. "Yang Mulia, tubuh Anda...?" Suara Chen tercekat di tenggorokan, diliputi rasa tidak percaya dan lega sekaligus.

"Aku sudah menemukan obat yang lebih baik," kata Kaisar Yun Shang.

Sembari berucap, matanya melirik tajam ke arah jalur perginya Lin Jia beberapa saat lalu.

Namun, jelas ada sesuatu yang sangat berbeda dari tatapan matanya kali ini. Sebuah binar kehangatan yang asing dan lembut sempat melintas di sana.

Kehangatan itu adalah sesuatu yang belum pernah Chen lihat sebelumnya selama bertahun-tahun mengabdi.

Namun, kelembutan itu hanya bertahan beberapa detik, sebelum akhirnya tenggelam dan digantikan oleh kilatan amarah yang membara, memancar pekat di wajah sang Kaisar.

"Kita kembali ke Kekaisaran Awan Emas sekarang," titahnya dingin.

Dalam sekejap mata, sebelum angin sempat berembus lagi, tubuh Kaisar Yun Shang lenyap bagai kabut. Chen mengikuti sang Tuan dan menghilang secepat kilat dari tempat itu.

Di Kekaisaran Awan Emas

Atmosfer di dalam Aula Agung Kekaisaran tampak begitu menekan dan tajam, seolah-olah langit-langit ruangan itu akan runtuh menimpa mereka.

Semua orang yang ada di sana—para pengawal, pelayan, hingga pejabat—menundukkan kepala mereka sedalam mungkin ke arah lantai.

Mereka tidak berani bersuara, bahkan untuk bernapas pun terasa berat karena harus berhadapan langsung dengan kemarahan Sang Kaisar yang membubung tinggi. Energi kekuatan spiritualnya yang dahsyat meluap tak terkendali, membuat ruangan luas itu tampak terasa panas membakar sekaligus dingin membeku di waktu yang bersamaan.

BRAKK!

Pintu Aula Agung terbuka lebar secara paksa. Chen melangkah masuk dengan wajah tanpa ampun, menyeret seorang wanita muda berpakaian mewah beserta seluruh anggota keluarga bangsawan yang cukup besar di Kekaisaran Awan Emas. Dengan satu sentakan kasar, mereka semua didorong hingga jatuh tersungkur di tengah aula.

Bangsawan Cheng, sang kepala keluarga, seketika bersujud dengan dahi menempel di lantai yang dingin. Tubuhnya gemetar hebat seperti daun kering ditiup angin.

"Ya--Yang Mulia.. t--tolong ma--maafkan hamba... Hamba y--yang ti--tidak becus mendidik Putri Hamba hingga berani melakukan kelancangan ini!" katanya dengan suara bergetar hebat dan patah-patah karena rasa takut yang mencengkeram dadanya.

Cheng Lin, wanita yang diseret tadi, merangkak maju dengan lututnya yang gemetar. Wajahnya yang semula cantik kini pucat pasi bagai mayat. "Ya--Yang Mulia... I--ini semua kesalahan hamba. Hamba yang berdosa..." katanya dengan peluh keringat dingin yang terus bercucuran membasahi pakaian sutranya.

Sementara itu, anggota keluarga Cheng yang lain hanya terdiam seribu bahasa dalam posisi bersujud. Napas mereka tertahan di tenggorokan karena mereka tahu betul reputasi sang Kaisar. Mereka tahu apa yang akan terjadi setelah ini—bahwa murka dari Kaisar Yun Shang tidak akan menyisakan apa pun selain abu dan penyesalan.

Kaisar Yun Shang dikenal sebagai penguasa berdarah dingin yang tidak mengenal kata ampun. Ia adalah sosok tirani yang sangat membenci wanita. Rumor yang beredar di seluruh penjuru negeri bukanlah isapan jempol belaka; ia tidak akan pernah segan-segan mencabut nyawa wanita mana pun yang berani mendekatinya, bahkan meski hanya seujung kuku.

Mendengar ratapan memilukan itu, Kaisar Yun Shang sama sekali tidak membalas dengan kata-kata. Keheningan yang menyiksa bergulir di dalam aula. Perlahan, sang Kaisar bangkit dari singgasananya yang megah. Jubah kebesarannya yang hitam berhias sulaman naga emas berdesir pelan saat ia melangkah turun, menapaki satu demi satu anak tangga menuju ke tengah aula.

Seluruh pejabat, jenderal, dan menteri yang hadir di aula itu seketika menahan napas serentak. Atmosfer di sekitar mereka mendadak terasa begitu pekat dan berat, seolah oksigen telah lenyap dari ruangan. Tidak ada satu pun jiwa yang berani bersuara, jangankan untuk membela, melirik pun mereka tidak berani.

Saat langkah kaki Kaisar Yun Shang berhenti tepat di hadapan barisan keluarga Cheng, suasana mencapai titik nadir ketakutan.

CRASH!

Kejadian itu berlangsung begitu cepat, melampaui kecepatan kedipan mata manusia biasa. Pedang api milik Kaisar Yun Shang telah lepas dari sarungnya dalam satu gerakan tak kasat mata.

Kilatan api berkobar memotong udara, langsung memenggal kepala Cheng Lin dan seluruh anggota keluarganya dalam sekali tebas, disusul oleh kobaran api yang langsung melahap dan membakar habis tubuh mereka hingga menjadi abu dalam hitungan detik.

Semua orang di aula itu refleks memejamkan mata erat-erat, memalingkan wajah dengan dada bergemuruh. Mereka tidak terkejut, karena akhir tragis seperti inilah yang memang sudah mereka prediksi sejak awal.

"Aku paling benci..." Suara Kaisar Yun Shang memecah keheningan. Nadanya terdengar begitu datar, tenang, dan dingin, namun getaran di dalamnya mampu membuat sumsum tulang siapa pun yang mendengar bergetar ketakutan. "...mereka yang tidak tahu diri."

Tanpa membersihkan pedangnya yang kini padam, Kaisar Yun Shang berbalik. Ia melangkah lebar keluar dari Aula Keagungan, meninggalkan kepulan asap hitam dan sisa-sisa abu pembakaran dari keluarga bangsawan Cheng yang malang.

Setelah bayangan sang Kaisar benar-benar menghilang di balik pintu gerbang, barulah seluruh petinggi kekaisaran bisa mengembuskan napas yang sedari tadi mereka tahan. Beberapa di antara mereka bahkan nyaris jatuh terduduk karena lemas.

"Ini sudah keterlaluan..." bisik salah satu menteri tua sambil mengusap dada, suaranya sarat akan keputusasaan. "Bagaimana bisa Kaisar membasmi satu keluarga bangsawan besar hanya dalam satu kedipan mata?"

"Lalu apa yang bisa kita lakukan?" sahut jenderal di sebelahnya dengan nada frustrasi yang tertahan. "Kaisar Yun Shang sangat berbeda dengan mendiang ayahnya yang lemah lembut dan penuh kasih. Kaisar kita yang sekarang tidak akan segan-segan membunuh siapa pun—tanpa pandang bulu—jika orang itu dianggap mengganggu ketenangannya."

Seorang petinggi istana lain menimpali sambil menunjuk ke arah sisa abu di lantai dengan tangan gemetar. "Kalian lihat sendiri hasilnya, bukan? Putri dari bangsawan Cheng dengan bodohnya berusaha menyelinap dan naik ke atas ranjang tidur Sang Kaisar... dan lihat bagaimana seluruh klannya harus membayar harga dari ambisi bodoh itu."

"Jika terus seperti ini, Kekaisaran Awan Emas tidak akan pernah memiliki pewaris takhta!" keluh menteri lain dengan wajah cemas.

"Bagaimana bisa kita berharap Kekaisaran ini memiliki seorang pewaris, jika setiap putri bangsawan yang dikirim ke istana ini selalu ditolak, atau berakhir menjadi abu seperti mereka?" sambung yang lain dengan nada getir.

Aula yang megah itu kini dipenuhi oleh bisik-bisik penuh kekhawatiran. Namun pada akhirnya, tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki solusi. Semua orang di ruangan itu hanya bisa saling pandang dan menggelengkan kepala pasrah, meratapi masa depan kekaisaran yang dipimpin oleh sang tirani berdarah dingin.

1
Cty Badria
up lg ni hadiah /Rose/
Mydar Diamond
lanjuutt upnya mungkin calon suami masa depan telah di temukan🤔
Dewiendahsetiowati
apakah ini calon imam Lin Jia
Hendri Wirawan
bagus....lanjutkan
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Anonim
ceritanya bagus, masih awal tapi menarik buat dibaca. lanjut semangat yaaa/Determined//Rose/
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. semangat✍️👈😍☺
Ardella Ardellaarcell
lanjut
Dania
semangat tor di tunggu upnya
Ardella Ardellaarcell
lanjut kak bgus crita'y😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!