NovelToon NovelToon
Pembalasan Senyap Sang Istri Sah

Pembalasan Senyap Sang Istri Sah

Status: tamat
Genre:Pelakor / Cerai / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:210.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

Selama ini Tania hidup dalam peran yang ia ciptakan sendiri: istri yang sempurna, pendamping yang setia, dan wanita yang selalu ada di belakang suaminya. Ia rela menepi dari sorot lampu demi kesuksesan Dika, mengubur mimpinya menjadi seorang desainer perhiasan terkenal, memilih hidup sederhana menemaninya dari nol hingga mencapai puncak kesuksesan.
Namun, kesuksesan Dika merenggut kesetiaannya. Dika memilih wanita lain dan menganggap Tania sebagai "relik" masa lalu. Dunia yang dibangun bersama selama lima tahun hancur dalam sekejap.
Dika meremehkan Tania, ia pikir Tania hanya tahu cara mencintai. Ia lupa bahwa wanita yang mampu membangun seorang pria dari nol, juga mampu membangun kembali dirinya sendiri menjadi lebih tangguh—dan lebih berbahaya.
Tania tidak menangis. Ia tidak marah. Sebaliknya, ia merencanakan pembalasan.

Ikuti kisah Tania yang kembali ke dunia lamanya, menggunakan kecerdasan dan bakat yang selama ini tersembunyi, untuk melancarkan "Balas Dendam yang Dingin."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Dika dan Tania sudah berada di dalam kamar mereka. Begitu pintu tertutup rapat, suasana yang tadinya dipenuhi harapan di mata Dika, langsung berubah menjadi medan perang dingin di mata Tania. Sampai di dalam kamar, Tania segera melepaskan tangan Dika yang melingkari pinggangnya, seolah melepaskan belenggu najis.

Dika menahan tangan Tania, tatapannya penuh harapan, dan mencoba menarik Tania mendekat. Tania mendorong pelan dada Dika, menolak kedekatan itu dengan halus namun tegas.

"Mas, maaf, aku capek banget," ujar Tania, suaranya lembut tapi penuh jarak. "Aku juga kurang enak badan. Maaf ya, kita istirahat aja yaa."

Bahu Dika langsung merosot drastis. Wajahnya menunjukkan kekecewaan yang kentara. Harapannya untuk menghabiskan waktu bersama Tania malam ini, setelah sekian lama, lenyap begitu saja.

Dika pun memilih keluar kamar, langkahnya gontai, penuh kekecewaan.

"Kamu duluan aja istirahat," kata Dika, suaranya terdengar hampa. "Mas mau minta ibu buatin kopi bentar yaa."

Pintu kamar Tania pun tertutup rapat, bersamaan dengan bayangan Dika yang menghilang di balik pintu. Tania menghela napas panjang. Ia tersenyum tipis penuh kemenangan. Ia yakin Dika pasti memiliki harapan setelah melihat penampilannya malam ini, dan alasan sakit adalah alasan paling ampuh untuk menolak Dika. Tania sengaja membuat alasan itu, untuk menghindari kedekatan Dika yang membuatnya benar-benar tidak nyaman.

"Satu langkah lagi," pikir Tania, seringainya semakin lebar.

...----------------...

Dika kembali masuk ke dalam kamarnya setelah meminta kopi dari ibunya. Dia duduk di sofa kecil yang ada di depan nakas samping tempat tidur mereka. Dika menatapi Tania yang sudah tertidur lebih dulu, dengan susah payah ia menelan air liurnya.

Dika tidak tahu, Tania hanya pura-pura tidur. Saat mendengar langkah kaki Dika yang akan masuk ke kamarnya, Tania dengan gerakan cepat berbaring, Tania juga mengatur posisi tidurnya dengan lekuk tubuh yang menggoda.

Melihat hal tersebut, Dika menelan ludahnya dengan susah payah. Hasratnya benar-benar tidak bisa lagi ditahan. Dika menyeruput kopinya kasar, matanya menatap penuh nafsu ke arah Tania.

Dika meletakkan kasar gelas kopinya dan menghampiri Tania. Dika langsung menindih Tania dan menciumi paksa Tania.

"Mas, kamu kenapa sih?" Tania berpura-pura terkejut. "Lepasin aku, Mas!"

"Sayang... kita sudah lama nggak melakukannya," desak Dika, suaranya sarat gairah. "Dan sekarang Mas ingin, setelah ini Mas janji nggak akan ganggu tidur kamu lagi, Sayang."

Dika kembali menciumi ceruk leher Tania dengan penuh nafsu.

"Mas, berhenti dulu! Lepasin aku!" Tania mendorong kuat Dika.

"Kamu kenapa sih Tania?" Dika marah karena penolakan Tania. "Baru kerja aja kamu udah kaya gini sama Mas, kalo bukan kamu yang memuaskan Mas, siapa lagi? Kamu mau Mas cari kepuasaan di luar?" Dika meluapkan kekesalannya.

"Kamu tuh ngomong apa sih, Mas?" balas Tania, pura-pura terkejut, tapi dalam hati dia tersenyum penuh kemenangan. "Apa jangan-jangan selama ini kamu cari kepuasan di luar? Karena sudah lama kamu nggak pernah meminta ke aku, Mas?"

Dika tersentak. Karena emosinya, ia benar-benar tidak sadar akan apa yang baru saja ia ucapkan.

"Jangan lupa, Mas, kita punya perjanjian pra nikah," lanjut Tania, suaranya kini dingin dan penuh peringatan. "Kalo aku sampe dapat bukti kamu selingkuh, semua harta yang sudah kamu hasilkan akan jadi milik aku."

"Nggak, Sayang, aku nggak begitu," Dika gelagapan. "Maksud aku bukan begitu, Sayang."

"Bukan begitu gimana? Kamu sendiri yang bilang tadi, Mas, soal mencari kepuasan di luar, cuma karena malam ini aku nggak bisa melayani kamu, aku lagi datang bulan, Mas, gimana caranya aku layani kamu?" teriak Tania, berhasil membuat Dika terpojok.

Dika merasa bersalah, dan juga khawatir Tania akan curiga karena perkataannya yang baru saja keceplosan.

"Maaf, Sayang, Mas nggak tahu kamu lagi datang bulan," ujar Dika, penuh penyesalan. "Maaf ya, Mas udah maksain kamu, habis malam ini kamu benar-benar bikin Mas nggak tahan. Maaf, Sayang... ayo kita tidur."

Setelah ketegangan mereda, Dika merebahkan tubuhnya di samping Tania. Namun, matanya tetap terjaga, menatap langit-langit kamar yang gelap. Hasrat yang tadi sempat membuncah kini tertahan di ujung tanduk, menciptakan gejolak yang menyiksa. Ia merasa gelisah; tubuhnya panas, dan denyut di kepalanya mulai terasa nyeri akibat keinginan yang tak tersalurkan.

Ia menoleh ke samping, menatap lekuk tubuh Tania yang membelakanginya. Ingin sekali ia menyelinap keluar saat ini juga, menuju kamar Farah untuk mendapatkan pelampiasan yang ia butuhkan. Namun, logikanya masih bekerja. "Terlalu dini," pikirnya gusar. Ia khawatir Tania yang biasanya peka akan terbangun dan mendapati sisi tempat tidur suaminya telah kosong.

Dengan geram, Dika memaksakan dirinya memejamkan mata. Setiap detik terasa lambat dan menyiksa, sementara kepalanya semakin berdenyut hebat. Ia sedang bertarung dengan rasa haus yang ia ciptakan sendiri.

Waktu berdetak lambat hingga jarum jam menunjuk ke angka dua dini hari. Suasana rumah benar-benar sunyi, hanya suara detak jam yang menemani kegelapan. Dika membuka matanya. Ia bergerak perlahan, menahan napas sambil memperhatikan ritme napas Tania. Setelah yakin istrinya itu tertidur lelap, ia menyibak selimut dengan gerakan sehalus mungkin.

Tanpa suara, Dika turun dari ranjang. Ia berjalan berjinjit, membuka pintu kamar dengan sangat hati-hati agar engselnya tidak berderit. Setelah berhasil keluar, ia menutup kembali pintu itu dan segera melangkah cepat menuju kamar tamu.

Dengan jantung berdegup kencang—campuran antara gairah dan rasa takut tertangkap—Dika menyelinap masuk ke dalam kamar Farah. Ia tidak menyadari, bahwa di kegelapan kamar utama, sepasang mata terbuka lebar segera setelah pintu tertutup. Tania tidak tidur; ia sedang menghitung waktu kehancuran suaminya.

Dika mengembuskan napas lega yang panjang saat daun pintu kamar Farah tertutup rapat. Keamanan semu ini membuatnya merasa bebas. Tanpa membuang waktu, ia langsung menerjang ke arah ranjang, menyambar tubuh Farah yang setengah terbangun dan menindihnya dengan kasar.

Farah sempat terkejut dan mencoba memberontak, namun gairah yang dibawa Dika segera meluluhkan pertahanannya. Ia membalas sentuhan itu, membiarkan dirinya terhanyut dalam permainan Dika. Namun, di tengah pergulatan yang memanas, sebuah kata meluncur dari bibir Dika tanpa ia sadari.

"Tania..." bisik Dika parau.

Seketika, atmosfer di kamar itu membeku. Farah membelalakkan mata, amarah menyambar harga dirinya. Dengan kekuatan penuh, ia mendorong dada bidang Dika hingga pria itu terjatuh ke sisi tempat tidur dengan suara debum yang cukup keras.

"Mas! Kamu keterlaluan!" teriak Farah dengan suara tertahan namun tajam. Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun menahan amarah. "Buka mata kamu! Lihat siapa yang ada di depan kamu sekarang! Aku bukan Tania, aku Farah!"

Dika meringis kesakitan, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang sempat kabur. Ia segera bangkit dan mendekati Farah, mencoba meraih tangan wanita itu untuk membujuknya.

"Sayang... maafin aku. Aku benar-benar nggak sadar," ujar Dika dengan nada memelas yang dibuat-buat. Ia menatap mata Farah, mencoba menanamkan kebohongan baru. "Ini semua karena aku sedang sangat kesal sama Tania. Pikiran aku kacau karena sikapnya seharian ini."

Dika menarik Farah ke dalam pelukannya, berbisik di telinganya dengan nada meremehkan yang ditujukan untuk istrinya sendiri. "Dia nggak jauh lebih baik dari kamu, Farah. Tania dingin, dia kaku. Dia nggak akan pernah bisa memberikan kepuasan yang luar biasa seperti yang kamu berikan, Sayang."

Mendengar pujian beracun itu, ego Farah kembali terangkat. Amarahnya memudar, digantikan oleh senyuman puas yang licik. Ia merasa telah memenangkan persaingan malam ini.

Sementara itu, di kamar utama yang gelap, cahaya redup dari layar ponsel menerangi wajah Tania. Ia duduk bersandar di kepala ranjang, memperhatikan setiap jengkal adegan di kamar tamu melalui aplikasi kamera tersembunyi.

Saat mendengar Dika membandingkannya dengan Farah dan menghinanya di depan selingkuhannya, Tania tidak menangis. Sebaliknya, ia menyandarkan kepalanya dan tertawa kecil—sebuah tawa dingin yang meremehkan.

"Bodoh sekali kamu, Mas Dika," gumam Tania pelan. Suaranya terdengar sangat tenang namun mematikan. "Teruslah menghinaku di depannya. Semakin dalam kamu berbohong padanya, semakin hancur kalian saat aku menarik talinya nanti."

Tania mematikan layar ponselnya, lalu memejamkan mata dengan tenang. Ia sudah mendapatkan lebih dari cukup amunisi malam ini.

Bersambung...

1
Rini Utami
terlalu lm menyimpan perzinahan didlm rmh
Dwi Setyaningrum
trus ibunya Dika kemana thor
cinta semu
g di mana2 calon pelakor tumbuh subur ..vibes ny beda tapi tujuan ny sama : memiliki & menghancurkan..
Eve_Lyn: di dunia nyata juga kek gtu kan hehehe
total 1 replies
cinta semu
suka sekali
Eve_Lyn: makasih kak..hehehe
total 1 replies
WHATEA SALA
Tania terlalu santai dan membiarkan rumahnya untuk perzinaha
Omah Tien
g sk cr nya meding prg dr rmh so pintar
Eve_Lyn: hihihi..kalo alurnya kita buat tania pergi dri rumah..gak seru omah..nanti ada gongnya kok hehehehe...makasih ya omah..
total 1 replies
Saya Sayekti
mantap...
Saya Sayekti
Alhamdulillah... author,makasih ya, ceritanya bagus banget.kita d ajarin untuk cerdas
Saya Sayekti
hidup tania g pernah tenang ya,ada aja
yudi yudistira
kenapa manggil nya rei rei aja ya gxsopan banget sama suaminya
Betty
Bagus
༻♛A̷͙ͭͫ̕ḑ̴̞͛̒ỉ͔͖̜͌r̴̨̦͕̝a̤♛༺
seru🙂
YuWie
aneh aja aku... kepemilikan adrian hy 20%, harta tania bisa dibekukan dan perusahaan diambil alih...rumus dari mn w0 % menang dr 40% tania..dan belum punya Rei..hmmm
Eve_Lyn: hahaha...matematikanya authir nilanya 40 kak wkwkwk...
total 2 replies
YuWie
doble kill rai...bgmn klo kamu sama bianca aja
YuWie
apakah sdh coxok jika rei dihempas juga
YuWie
bwtulkah rei begitu gampang terlena..lupakah perjuangannya mendapatkan tania
YuWie
salahmu sendiri tan..sandiwaramu kesuwen. Bukti sdh banyak mau nunggu apa lagi
Eve_Lyn: nunggu gongnya kak...hehehe..makasih yaa
total 1 replies
YuWie
Luar biasa
guntur 1609
bagus Thor maha karyanu
Eve_Lyn: terimakasih kak...gak mudah yaa baca sampe 82 bab hehehe...
total 1 replies
D Mamie...
Ceritamu Keren sangat Thor, lope lope sekebon 💞😍
Eve_Lyn: makasih kak..hehehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!