Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Suasana di dalam kamar tidur mewah itu menjadi sangat tegang setelah Bima mengucapkan taruhan mengerikan tersebut.
Tante Vina menelan ludahnya sendiri dengan susah payah melihat kilatan membunuh di mata pemuda desa itu.
"Bagus, aku akan memegang kata-katamu itu, anak sombong."
"Kita lihat saja siapa yang akan kehilangan tangannya hari ini jika ramuan sampahmu itu gagal."
Tante Vina membuang muka dan berjalan keluar dari kamar dengan langkah kaki yang dihentakkan kuat-kuat.
Tuk tuk tuk.
Suara hak sepatu tingginya bergema menjauh di sepanjang lorong lantai dua menunjukkan kekesalannya.
Setengah jam kemudian, bahan-bahan herbal yang dipesan oleh Bima akhirnya tiba di rumah mewah tersebut.
Bima membawa kantong plastik kresek hitam itu menuju dapur utama yang ukurannya sangat luas.
Di dalam dapur itu terdapat tiga orang koki bule berpakaian putih bersih yang sedang sibuk memasak hidangan mahal.
"Hei anak muda, kau tidak boleh sembarangan masuk ke dapur mewah ini dengan baju murahmu itu."
Seorang koki kepala berkumis tebal menegur Bima dengan bahasa Indonesia yang terdengar kaku.
"Pak Herman yang menyuruhku meracik obat di sini, jadi tolong jangan menggangguku."
Bima menjawab santai sambil mencuci jahe merah dan akar alang-alang di wastafel marmer yang mengkilap.
Ketiga koki itu menatap jijik ke arah bahan-bahan murah yang dicuci oleh Bima.
Srek srek srek.
Tangan Bima tiba-tiba bergerak sangat cepat memotong jahe merah itu menjadi irisan tipis yang ukurannya sama persis.
Pisau daging besar di tangannya menari-nari dengan lincah seolah memiliki nyawa sendiri.
Para koki bule itu langsung ternganga melihat teknik memotong tingkat tinggi yang ditunjukkan oleh Bima.
"Teknik pisau macam apa itu, dia memotong tanpa melihat pisaunya sama sekali."
Bima mengabaikan gumaman koki itu dan memasukkan bahan-bahan tersebut ke dalam panci kecil.
Dia menyalakan kompor gas dan mengatur apinya agar menyala dengan sangat kecil.
Bima meletakkan kedua telapak tangannya di sisi luar panci kecil tersebut.
Wush.
Hawa panas dari sisa tenaga dalam Bima perlahan dialirkan untuk mempercepat proses ekstraksi sari pati tanaman herbal itu.
Blubuk blubuk blubuk.
Air rebusan di dalam panci itu mendidih dengan cepat dan berubah warna menjadi merah kecokelatan.
Bau jamu yang sangat tajam dan menyengat langsung menyebar ke seluruh penjuru dapur mewah tersebut.
"Uhuk uhuk, bau apa ini, rasanya hidungku mau copot menciumnya."
Salah satu koki menutup hidungnya dengan serbet sambil berlari keluar dari dapur karena tidak tahan.
Bima tersenyum puas melihat hasil rebusannya lalu menaburkan sedikit bubuk mutiara hitam di atasnya.
"Selesai, ramuan ini pasti bisa membersihkan sisa hawa dingin di dinding lambungnya."
Bima menuangkan ramuan yang masih mengepul panas itu ke dalam sebuah mangkuk keramik putih.
Dia berjalan perlahan membawa mangkuk itu kembali menuju kamar Clara di lantai dua.
Sesampainya di dalam kamar, Clara masih terbaring lemah dengan Pak Herman yang duduk setia di sampingnya.
Tante Vina ternyata juga sudah kembali ke ruangan itu dan duduk di sofa dengan wajah penuh kemenangan.
"Waktumu sudah habis, mana ramuan ajaib yang kau banggakan itu?"
Tante Vina langsung menodong Bima dengan pertanyaan sinis begitu pemuda itu melangkah masuk.
Bima tidak menjawab dan terus berjalan lurus mendekati sisi ranjang Clara.
Bau menyengat dari mangkuk keramik itu langsung membuat Clara menutup hidungnya rapat-rapat.
"Ya ampun, bau apa ini, busuk sekali seperti air lumpur."
Clara memalingkan wajahnya dan menolak menatap mangkuk yang disodorkan oleh Bima.
"Ini adalah ramuan pengusir hawa dingin di lambungmu, Nona Clara."
"Minumlah selagi masih hangat agar efeknya bisa bekerja dengan maksimal di dalam perutmu."
"Aku tidak mau meminum air kotor itu, singkirkan dari hadapanku sekarang juga."
Clara menggelengkan kepalanya dengan kuat menolak pengobatan tradisional yang menjijikkan baginya tersebut.
Pak Herman mencoba membujuk putrinya dengan suara yang sangat lembut dan penuh kasih.
"Sayang, minumlah sedikit saja demi kesembuhanmu sendiri."
"Nak Bima sudah bersusah payah meraciknya khusus untukmu di dapur bawah."
"Papa jahat, masa Papa tega menyuruhku meminum ramuan berbau aneh ini."
Air mata Clara mulai menetes membasahi pipinya yang masih terlihat pucat pasi.
Tante Vina langsung berdiri dari sofa dan menepuk tangannya dengan gaya mengejek yang dibuat-buat.
"Sudah terbukti kan Kak Herman, ramuan gembel ini sama sekali tidak layak dikonsumsi oleh manusia waras."
"Sebaiknya kita panggil pengawal sekarang untuk memotong tangan penipu ini sesuai janjinya tadi."
Bima menghela nafas panjang melihat kelakuan keluarga kaya raya yang sangat merepotkan ini.
Dia meletakkan mangkuk keramik itu di atas meja nakas tepat di samping bantal Clara.
Sret.
Tangan kiri Bima tiba-tiba bergerak secepat kilat menekan sebuah titik saraf di pangkal leher Clara.
"Ah."
Clara tanpa sadar membuka mulutnya lebar-lebar karena rahangnya mendadak terkunci tak bisa ditutup.
Sebelum ada yang menyadari apa yang terjadi, tangan kanan Bima sudah mengambil mangkuk itu kembali.
Gluk gluk gluk.
Bima menuangkan seluruh isi ramuan herbal itu ke dalam mulut Clara yang terbuka paksa.
"Apa yang kau lakukan pada putriku, hentikan sekarang juga!"
Pak Herman berteriak panik melihat tindakan kasar yang dilakukan oleh pemuda desa tersebut.
Tante Vina menjerit histeris dan berniat melemparkan gelas kaca ke arah kepala Bima.
Namun Bima sudah selesai meminumkan ramuan itu dan langsung melepaskan totokan nya di leher Clara.
Uhuk uhuk uhuk.
Clara terbatuk hebat sambil memegangi dadanya yang terasa panas terbakar oleh aliran jamu tersebut.
"Air apa yang kau paksa masukkan ke tenggorokanku ini, rasanya sangat pahit dan perih."
Clara menatap Bima dengan pandangan penuh kebencian dan air mata yang berlinang deras.
"Kurang ajar kau anak kampung, beraninya kau menyiksa keponakanku seperti itu."
Tante Vina maju selangkah bersiap menampar wajah Bima dengan tangan kanannya yang dipenuhi cincin.
Namun sebelum tangan wanita itu mendarat, sebuah kejadian mengejutkan menghentikan pergerakannya di udara.
Krucuk krucuk krucuk.
Suara gemuruh yang sangat keras tiba-tiba terdengar dari dalam perut ramping Clara.
Gadis cantik itu langsung meringkuk sambil memegangi perutnya dengan ekspresi kesakitan yang luar biasa.
"Papa, perutku sakit sekali, rasanya seperti ditusuk ribuan jarum tajam dari dalam."
Clara menjerit histeris membuat Pak Herman dan Tante Vina pucat pasi ketakutan melihatnya.
"Tuh kan, aku bilang juga apa Kak, anak ini sengaja meracuni Clara untuk merampok harta kita."
"Cepat panggil ambulans dan lapor polisi sekarang juga sebelum terlambat."
Tante Vina berteriak kegirangan dalam hati karena merasa tebakan buruknya terbukti benar.
Bima tetap berdiri tenang tak bergeming dengan kedua tangan dilipat santai di depan dada.
"Jangan panik, itu adalah reaksi normal dari ramuan jahe merah yang sedang mengikis gumpalan es di dinding lambungnya."
"Tahan sebentar saja Nona Clara, rasa sakitnya akan segera hilang dalam hitungan detik."
Bima berbicara dengan nada sedingin es untuk menenangkan kepanikan massal di ruangan mewah itu.
Benar saja, hanya beberapa saat setelah Bima berbicara, tubuh Clara mendadak berhenti kejang.
Gadis itu menarik nafas panjang lalu tiba-tiba bersendawa dengan sangat keras tanpa bisa ditahan.
Huuuuk.
Sebuah uap dingin berwarna kebiruan keluar dari mulut Clara dan langsung menguap lenyap di udara.
Bersamaan dengan keluarnya uap beracun itu, wajah Clara yang tadinya pucat kini berubah menjadi merah merona.
Keringat hangat bercucuran membasahi dahi dan lehernya menandakan sirkulasi darahnya telah kembali lancar.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, Nona?" tanya Bima dengan senyum tipis yang tulus di bibirnya.
Clara menyentuh perutnya sendiri dengan kedua tangannya yang masih sedikit gemetar.
"Aneh, rasa sakit yang selalu menusuk perutku selama bertahun-tahun kini benar-benar hilang tanpa sisa."
"Badanku juga terasa sangat ringan dan hangat, aku tidak merasa kedinginan lagi seperti orang mati."
Clara menatap Bima dengan pandangan takjub dan rasa tidak percaya yang mengakar kuat di hatinya.
Pak Herman langsung memeluk putrinya erat-erat sambil menangis bersyukur kepada Sang Pencipta.
"Terima kasih Nak Bima, ramuanmu benar-benar bekerja sangat cepat seperti sebuah sihir."
Bima menoleh perlahan ke arah Tante Vina yang kini sedang berdiri kaku seperti patung batu.
Wajah wanita paruh baya itu sangat pucat seolah baru saja melihat hantu di siang bolong.
"Nah Tante Vina, sepertinya kedua tangan saya masih akan tetap menempel di tubuh saya untuk waktu yang lama."
"Apakah Anda masih ingin memanggil polisi untuk menangkap saya dengan tuduhan pembunuhan hari ini?"
Kata-kata tajam Bima bagaikan tamparan tak terlihat yang mendarat telak di wajah sombong Tante Vina.
Wanita tua itu tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas sindiran maut dari Bima.
Dia hanya mendengus kesal menahan malu lalu berbalik badan dan berjalan cepat keluar dari kamar Clara.
Brak.
Pintu kamar dibanting dengan sangat keras oleh Tante Vina untuk menutupi rasa gengsinya yang hancur lebur.
Clara menatap kepergian bibinya dalam diam lalu beralih menatap wajah Bima yang tampak sangat tenang.
Untuk pertama kalinya sejak dia terbangun dari koma, ada sebersit rasa kagum yang muncul di hati gadis metropolitan tersebut.
"Maafkan sikap kasarku tadi, Tuan Bima."
"Aku benar-benar berterima kasih karena kau sudah membuktikan ucapanmu dan menyelamatkanku dari rasa sakit."
Clara menundukkan kepalanya sedikit dengan wajah yang merona merah menahan rasa bersalahnya.
Bima hanya mengangguk pelan menerima permintaan maaf dari putri miliarder yang keras kepala itu dengan lapang dada.
"Tugas saya di rumah ini masih belum selesai seutuhnya, Nona Clara."
"Ramuan tadi hanya membersihkan bagian luarnya saja, akar dari Racun Es Seribu Tahun itu masih bersarang diam di dalam organ vitalmu."
Pak Herman kembali memasang wajah tegang dan cemas mendengar penjelasan lanjutan dari Bima.
"Lalu apa pengobatan yang harus kita lakukan selanjutnya untuk mencabut akar racun itu sampai bersih, Nak Bima?"
"Saya butuh waktu sekitar satu minggu untuk memulihkan tenaga dalam saya yang terkuras semalam."
"Setelah kondisi fisik saya prima, saya akan melakukan terapi pijat akupunktur khusus di beberapa titik meridian utama di sekujur tubuh Nona Clara."
Mendengar kata terapi pijat seluruh tubuh, wajah Clara mendadak berubah menjadi lebih merah seperti kepiting rebus.
"Pijat akupunktur di titik meridian tubuhku?"
"Apakah itu artinya kau harus menyentuh kulit dan bagian tubuhku secara langsung untuk melakukan terapi itu?"
Clara bertanya dengan suara pelan yang terdengar sangat gugup dan meremas ujung selimutnya.
Bima menatap lurus ke dalam mata Clara dengan ekspresi wajah yang datar polos tanpa beban dosa.
"Tentu saja Nona, sebagai seorang tabib saya tidak mungkin memijat Anda dari jarak jauh menggunakan kekuatan pikiran."
Jawaban kelewat jujur dan lugu dari Bima sukses membuat suasana di kamar mewah itu menjadi sangat canggung bercampur komedi seketika.