NovelToon NovelToon
The Alpha'S Secret Girl

The Alpha'S Secret Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:612
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Bab 9: Bayang-Bayang di Lorong Sunyi

Gema langkah kaki Reno dan kelompoknya yang berlari terburu-buru meninggalkan koridor utama SMA Nusantara perlahan-lahan menghilang, menyisakan keheningan yang kaku di antara kerumunan siswa. Belum ada satu pun orang yang berani membuka suara setelah insiden mendebarkan barusan. Semua mata tertuju pada sosok Rangga Dewantara Aldebaran yang masih berdiri kokoh di dekat mading sekolah, dengan tangan yang kini dimasukkan santai ke dalam saku celana abu-abunya.

Rangga menoleh ke arah Keisha, yang berdiri terpaku di samping Sintia. Sorot mata kelam yang tadinya memancarkan kemunafikan dan ancaman mematikan bagi Reno kini melunak secara drastis saat beralih menatap tersebut.

"Masuk ke kelas, Keisha," kata Rangga dengan nada suara rendah yang bariton, terdengar begitu protektif namun penuh otoritas. "Jangan biarkan kejadian tadi bikin pikiran lo kacau."

Keisha menelan ludahnya susah payah. Jantungnya masih berdegup kencang, bukan karena ketakutan pada ancaman Reno, melainkan karena rasa terkejut melihat bagaimana seorang Rangga berdiri di garis terdepan untuk melindunginya secara terang-terangan di hadapan seluruh sekolah. Ia mengangguk pelan, lalu melangkah kaku menuju ruang kelasnya, diikuti oleh Sintia yang menatap kepergian Rangga dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman.

"Ya ampun, Keish..." bisik Sintia heboh begitu mereka tiba di ambang pintu kelas dan duduk di bangku masing-masing. "Sumpah, adegan tadi itu mirip banget kayak di film-film laga romantis! Rangga keren banget waktu nyengkeram kerah si Reno. Lu sadar nggak sih kalau seluruh sekolah sekarang fix bakal nganggep lu sebagai pawang sang ketua geng?"

Keisha merapikan buku catatannya di atas meja dengan tangan yang masih sedikit gemetar. "Jangan ngaco, Sin. Aku sama sekali nggak pengen jadi pusat perhatian kayak gini. Ini malah bikin aku makin cemas... Anak-anak Viper pasti nggak bakal tinggal diam setelah dipermalukan di depan umum tadi."

Sintia terdiam sejenak, menyadari ada benarnya juga ucapan sahabatnya itu. Konflik antara Black Raven dan Viper memang sudah lama mengakar, dan menyeret nama Keisha ke dalam pusaran perseteruan mereka sama artinya dengan menempatkan gadis itu di atas bara api.

Sementara itu, di markas rahasia Black Raven yang terletak di ruko tua kawasan pinggiran kota usai jam sekolah berakhir, suasananya tampak jauh lebih tegang dari biasanya. Beberapa anggota inti geng sedang berkumpul di dekat meja biliar, mendiskusikan insiden pagi tadi di koridor sekolah.

Satria melempar kunci inggris kecil ke atas meja dengan bunyi dentingan nyaring. Ia menatap tajam ke arah Rangga yang sedang duduk melipat tangan di sofa panjang sambil menyalakan sebatang rokok kretek, meskipun ia tidak berniat menghabiskannya.

"Bos, tindakan lo tadi pagi di sekolah agak terlalu berisiko," buka Satria dengan nada serius. "Lo nunjukkin secara terang-terangan di depan ratusan siswa kalau si Keisha itu kelemahan lo. Kalau Viper sampai tahu titik lemah itu, mereka pasti bakal ngincer cewek itu buat jatungin mental lo."

Rangga mengembuskan asap rokoknya perlahan ke udara, membiarkan kepulan abu-abu itu menipis di bawah temaram lampu neon ruangan. Wajahnya tampak tenang, namun rahang tegasnya mengeras. "Gua tahu apa yang gua lakuin, Sat."

"Tapi buktinya si Reno tadi makin berani nyari gara-gara di wilayah kita," sahut Bara yang berdiri menyandar di dekat dinding sambil melipat tangan. "Kalau anak-anak Viper mulai main kotor di luar jam sekolah dan nyulik cewek itu pas lagi nggak dijaga, gimana?"

Mendengar kata-kata Bara, sorot mata kelam Rangga mendadak menajam setajam silet. Ia mematikan puntung rokoknya di asbak kaca dengan gerakan tegas. "Mereka nggak bakal punya kesempatan buat nyentuh Keisha. Gua bakal pastikan pengawalan di sekitar cewek itu diperketat dua kali lipat mulai hari ini."

Satria menghela napas panjang, menggelengkan kepalanya pelan. Ia sudah mengenal Rangga bertahun-tahun lamanya, dan baru kali ini ia melihat ketua mereka bersikap begitu obsesif dan protektif terhadap seorang perempuan—terlebih lagi seorang siswi beasiswa kutu buku yang sama sekali tidak punya latar belakang dunia jalanan.

"Terserah lo deh, Bos. Tapi kalau sampai ada apa-apa sama markas atau wilayah kita gara-gara urusan percintaan anak SMA ini, gua orang pertama yang bakal protes," kelakar Satria setengah serius, meskipun ia tahu tidak ada satupun anggota Black Raven yang berani membangkang perintah mutlak dari sang ketua.

Hari berganti sore dengan cepat. Mentari mulai condong ke barat, memantulkan cahaya jingga kemerahan di atas langit kota yang mulai berangin. Di gerbang belakang SMA Nusantara, Keisha berjalan keluar sendirian setelah menyelesaikan tugas piket kelasnya lebih lama dari biasanya. Sintia sudah lebih dulu pulang karena harus membantu ibunya di rumah.

Sesuai instruksi Rangga, Keisha seharusnya menunggu di dekat pos satpam depan. Namun, karena ia ingin segera sampai di rumah sebelum hari benar-benar gelap, ia memutuskan untuk mengambil jalan pintas menyusuri lorong samping sekolah yang tembus langsung ke halte bus kota.

Suasana di lorong samping itu tampak sepi. Dinding tembok bata merah yang ditumbuhi tanaman rambat membuat area tersebut terhalang dari pandangan utama halaman sekolah.

Langkah kaki Keisha tiba-tiba terhenti ketika ia mendengar suara derap sepatu bot yang mendekat dari arah belakang.

Krok... krok... krok...

Keisha menoleh dengan cepat ke belakang. Jantungnya langsung melompat ke tenggorokan saat melihat tiga orang pemuda berbadan tegap dengan jaket khas bertuliskan lambang Viper berjalan mendekatinya sambil menyeringai lebar. Salah satu dari mereka adalah teman dekat Reno yang pagi tadi ikut terpojok di koridor sekolah.

"Mau lari ke mana, manis?" sapa pemuda itu dengan nada suara mengejek, berjalan mendekat dan memotong jalur jalan keluar Keisha. "Bos kita pengen ngobrol sebentar sama lo. Katanya mau titip salam spesial buat si ketua Black Raven."

Keisha memundurkan langkahnya hingga punggungnya membentur dinding bata merah yang dingin. Rasa takut yang luar biasa mencengkeram dadanya. Ia terjebak.

"J-jangan mendekat!" teriak Keisha berusaha menunjukkan keberanian semu, sementara tangannya meraba-raba saku ransel untuk mencari ponselnya.

Sebelum Keisha sempat mengeluarkan ponsel dari dalam tas, pemuda berbadan tegap itu sudah melangkah maju dan merampas tasnya dengan kasar. "Wah, mau ngadu sama pahlawan kesiangan lo ya? Sayang sekali, sinyal di sini jelek, Neng."

Bruk!

Tas ransel Keisha terjatuh ke tanah, buku-buku catatannya berserakan di atas lantai berdebu. Air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa tidak berdaya di hadapan preman-preman jalanan tersebut.

Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat menyentuh lengan Keisha, sebuah suara decitan ban motor yang bergesekan keras dengan aspal terdengar memekakkan telinga dari ujung lorong luar.

Screeeet—!

Sebuah motor sport hitam besar melesat masuk ke dalam area lorong samping dengan kecepatan tinggi, lalu berhenti mendadak tepat di depan gerombolan preman Viper tersebut hingga membuat debu jalanan berhamburan ke udara.

Pengendara motor itu langsung melompat turun bahkan sebelum mesinnya sepenuhnya mati.

Rangga.

Pria itu melepas helm full-face-nya dengan kasar, melemparnya begitu saja ke atas tanah, lalu melangkah maju dengan aura kemarahan yang luar biasa gelap dan mematikan. Wajah tampannya mengeras, urat-urat di lehernya menonjol, dan sorot matanya bagaikan tatapan seekor pemangsa yang siap mencabik-cabik mangsanya tanpa ampun.

"Kalian bener-bener udah bosan hidup ya?" suara bariton Rangga menggema di seluruh sudut lorong sempit itu, terdengar sangat dingin namun penuh tekanan mengerikan.

Tiga orang anggota Viper itu sontak mematung kaget mendapati kehadiran sang ketua Black Raven datang secepat kilat di lokasi kejadian. Nyali mereka yang tadinya besar mendadak ciut dalam hitungan detik.

Tanpa memberikan kesempatan bagi mereka untuk melarikan diri atau sekadar meminta maaf, Rangga melompat maju melayangkan sebuah pukulan telak tepat di rahang pemuda yang tadi merampas tas Keisha.

Bugh!

Suara hantaman keras itu menggema di lorong sempit. Pemuda itu tersungkur jatuh ke tanah dengan darah segar mengalir di sudut bibirnya. Dua anggota Viper lainnya yang hendak melawan langsung disergap oleh kemarahan membabi buta dari Rangga, yang melampiaskan seluruh rasa geramnya karena ada orang yang berani mengusik gadis di bawah perlindungannya.

Keisha menutup mulutnya dengan kedua tangan, air matanya tumpah melihat perkelahian brutal di hadapannya. Ia belum pernah melihat sisi gelap dan mengerikan dari Rangga seperti ini sebelumnya.

"Rangga! Udah, Kak! Jangan dipukul lagi!" teriak Keisha histeris, takut pria itu berbuat terlalu jauh hingga membahayakan nyawa mereka atau dirinya sendiri berurusan dengan pihak berwajib.

Mendengar teriakan suara parau Keisha, kepalan tangan Rangga yang hendak melayangkan pukulan kedua kepada lawan di bawahnya mendadak terhenti di udara. Pria itu menarik napas berat, menegakkan tubuhnya, lalu melirik sekilas ke arah dua anggota Viper yang sudah ketakutan setengah mati dan langsung kabur terbirit-birit meninggalkan teman mereka yang terkapar di tanah.

Rangga membalikkan tubuhnya perlahan, berjalan mendekati Keisha dengan napas masih memburu.

Begitu berada di hadapan gadis itu, tanpa mempedulikan debu dan peluh yang membasahi keningnya, Rangga langsung menarik tubuh Keisha ke dalam dekapan pelukannya—membawa gadis itu rapat-rapat ke dada bidangnya, membiarkan detak jantungnya yang menggila mereda bersamaan dengan pelukan hangat yang memberikan ketenangan mutlak.

"Lo nggak apa-apa?" bisik Rangga parau tepat di dekat telinga Keisha, suaranya bergetar hebat—bukan karena kelelahan bertarung, melainkan karena rasa takut luar biasa akan kemungkinan kehilangan gadis itu jika ia terlambat datang beberapa menit saja.

Keisha memejamkan matanya, membalas pelukan itu dengan erat sambil terisak pelan di balik dada Rangga. Di tengah dunia yang kejam, penuh kekerasan, dan bayang-bayang ancaman jalanan, ia tahu persis bahwa tempat paling aman di muka bumi ini kini berada tepat di dalam dekapan sang penguasa malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!