Enam bulan setelah Kirei Zhaklyn—perempuan tangguh di balik kesuksesan industri teknologi—tewas tragis dalam kecelakaan akibat sabotase keji, hidup Vaxerion Mahendra ikut hancur. Konglomerat otomotif itu memilih mundur dari dunia bisnis, hidup seperti cangkang kosong yang didera kedukaan mendalam.
Namun, di sebuah malam gala internasional, pintu aula terbuka. Di sana muncul sepasang manusia: Andi Clark, miliarder pemegang kendali perbankan global asal Swiss, menggandeng seorang wanita yang memiliki wajah, sorot mata, dan senyuman yang seratus persen persis dengan almarhumah Kirei.
Dia adalah Kirei Alexandra. Datang dari Eropa dengan pembawaan ketus, jutek, dan dingin, dia langsung menepis kasar pelukan Vaxerion: "Jaga jarak Anda, Tuan Mahendra. Saya bukan barang peninggalan masa lalu Anda."
Apakah wanita jutek ini adalah Kirei yang bangkit dari kubur untuk membalas dendam, atau ada rahasia adopsi yang sengaja dikubur sejak bayi? Di tengah adu kekayaan tingkat tinggi dan gesekan harga diri melawan Andi Clark, takdir baru yang jauh lebih berbahaya siap menggoncang Jakarta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Badai di Lantai Empat Puluh Lima
Dua jam sebelum peluncuran global Zhaklyn OS, ruang kendali utama Zhaklyn Mobile mendadak berubah jadi neraka. Suara klakson dari kemacetan gila di bawah Jalan Sudirman sama sekali tidak kedengaran, mati total diredam kaca kedap suara Vancort Tower. Tapi di dalam ruangan, suasananya jauh lebih panas dari jalanan Jakarta.
Brak!
"Gimana cerita data cadangan bisa hilang semua dari server?!"
Suara Kirei Zhaklyn memotong kepanikan di ruangan itu kayak pisau tajam. Punggungnya yang biasa tegak lurus langsung menegang. Kedua telapak tangannya menekan pinggiran meja marmer tempat komputer utama berada. Di balik kemeja sutra champagne yang melekat pas di tubuh rampingnya, dada Kirei naik-turun menahan napas yang mendadak terasa sesak.
"Kami nggak tahu, Nona Kirei," jawab kepala divisi IT dengan suara gemetaran. Jari-jarinya yang kaku masih nekat mengetik barisan kode di keyboard dengan panik. Keringat dinginnya sampai menetes ke meja. "Seseorang pakai akses administrator level tertinggi sepuluh menit lalu. Sistem dihancurkan dari dalam, firmware demo buat acara nanti... hilang total."
Kirei merem sebentar, giginya rapat menahan geram. Layar digital di dinding terus berjalan mundur, menunjukkan angka 01:45:22. Kurang dari dua jam lagi, ratusan investor kakap dan wartawan teknologi bakal memenuhi aula utama buat melihat ponsel pintar buatan lokal yang Kirei bangun pakai darah dan air mata selama lima tahun ini. Kalau acara ini gagal total, Zhaklyn Mobile bukan cuma bangkrut, tapi nama baik almarhum ayah angkatnya juga bakal hancur lebur diinjak-injak saingan bisnis mereka.
Ponsel di saku celana palazzo hitam Kirei tidak berhenti bergetar. Dewan komisaris mulai menelepon karena mendengar desas-desus sabotase ini. Kirei sengaja membiarkannya. Dia menarik napas panjang, memaksa jantungnya yang berdegup gila untuk kembali tenang. Dia tahu betul, panik di saat kayak begini cuma bakal bikin otaknya tumpul.
"Maya," panggil Kirei, suaranya mendadak berubah dingin sedingin es, mengembalikan wibawa CEO yang tidak bisa dibantah siapa pun.
"Iya, Nona?" Maya, sekretaris setianya, langsung maju selangkah sambil memegang tablet dengan tangan gemetar.
"Kunci semua pintu keluar gedung. Nggak ada satu pun staf IT yang boleh keluar dari lantai ini sebelum saya tahu siapa bajingan muka dua yang menjual kode akses kita," desis Kirei, matanya yang bening memancarkan kemarahan yang pekat. "Panggil tim cadangan dari lantai dua puluh buat bantu susun ulang sistem enkripsi."
"Tapi Nona... susun ulang dari awal itu butuh waktu minimal empat jam. Kita nggak punya waktu sebanyak itu," potong kepala IT dengan nada putus asa.
Kirei mengepalkan tangannya di bawah meja sampai kuku-kukunya memutih. Sialan. Topeng kuatnya rasanya hampir runtuh. Di balik pakaian mahalnya, Kirei mendadak merasa kayak kembali jadi gadis kecil sebelas tahun yang gemetar ketakutan di gubuk pinggir rel Jakarta Timur, melihat satu-satunya sepatu sekolahnya hanyut dibawa banjir. Hari ini, di lantai empat puluh lima, dia bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun menghanyutkan impiannya lagi.
Brak!
Pintu jati ruang kendali terbuka lebar dengan hentakan keras tanpa ada ketukan sama sekali. Suara ketukan sepatu kulit yang tegas menghantam lantai marmer dengan irama yang menantang, langsung memotong semua kepanikan staf di ruangan itu.
Kirei berbalik dengan cepat, lidahnya sudah siap menyemburkan makian tajam pada siapa pun yang berani bertingkah tidak sopan di ruangannya. Tapi kata-katanya mendadak tertahan di tenggorokan begitu matanya melihat siapa yang datang.
Vaxerion Mahendra.
Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu melangkah masuk dengan ketenangan yang tidak masuk akal di tengah badai krisis ini. Dia tidak pakai jas formalnya, cuma kemeja biru gelap yang lengannya digulung rapi sampai ke siku, memperlihatkan lengan tangannya yang kokoh. Di belakangnya, empat pria asing setelan hitam menenteng koper teknologi canggih berjalan mengikuti kayak bayangan.
Vaxerion membawa aroma maskulin yang tenang—campuran parfum kayu cendana dan samar-samar bau besi bersih dari pabrik perakitan mobil listriknya. Matanya yang tajam dan dalam langsung mengunci pandangan Kirei. Jenis tatapan mata yang intens, berwibawa, dan penuh karisma yang bisa bikin wanita mana pun di luar sana langsung salah tingkah dan meleleh dalam hitungan detik.
"Kamu kelihatan berantakan, Nona Zhaklyn," suara berat Vaxerion terdengar datar, tapi punya penekanan dewasa yang bikin suasana ruangan mendadak terasa mencekam.
Kirei menyipitkan mata, memasang kembali wajah angkuhnya dalam waktu satu detik. "Tuan Mahendra, ini ruang kendali steril Zhaklyn Mobile. Anda nggak punya hak buat masuk ke sini, apalagi bawa orang asing ke sistem keamanan saya."
Vaxerion sama sekali tidak tersinggung dengan kata-kata tajam Kirei. Sebaliknya, sudut bibirnya malah terangkat sedikit, membentuk senyuman tipis yang sangat menawan, menghapus kesan kaku di wajah tegasnya. Dia berjalan mendekati meja Kirei, mengabaikan jarak profesional di antara mereka sampai jarak mereka dekat banget.
Pria itu merogoh saku kemejanya, mengeluarkan kotak kecil permen mint, lalu meletakkannya dengan pelan di atas meja marmer, mendorongnya dengan ujung jari ke arah Kirei.
"Zhaklyn OS itu sistem operasi yang mau kupakai buat dasbor mobil listrik Mahendra Motors, jadi kegagalanmu hari ini jelas kerugianku juga," kata Vaxerion tenang, suaranya melembut tapi matanya memancarkan binar geli. "Tapi sepertinya, sebelum kita bereskan masalah ini, kamu butuh permen mint ini buat menghilangkan aroma kencur dan cabai rawit dari seblak instan yang kamu makan di laci kerjamu subuh tadi."
Pipi Kirei mendadak terasa panas menyengat. Sialan. Sisi dewasa Vaxerion tidak menjadikannya bahan ejekan yang kasar kayak orang kaya baru, tapi perhatian kecil yang dibungkus sindiran halus itu justru sukses membuat pertahanan es Kirei berantakan. Kirei langsung menyambar kotak permen itu dengan ketus buat menutupi rasa malunya yang luar biasa.
"Nggak usah bercanda, Vaxerion. Perusahaan saya lagi disabotase," desis Kirei, menantang balik pandangan intens pria di depannya.
Raut wajah Vaxerion langsung berubah dalam sekejap. Binar geli di matanya hilang, berganti jadi tatapan elang seorang pengusaha matang yang biasa mengontrol segalanya. Dia memberi isyarat dengan lambaian tangan kirinya, dan keempat pria asing di belakangnya langsung bergerak mengambil alih komputer utama tanpa menunggu izin dari Kirei.
"Mereka tim dekripsi terbaik dari konsorsiumku di London," ujar Vaxerion, suaranya berat dan penuh perhitungan. Dia mengeluarkan selembar dokumen tebal dari map kulit hitam lalu melemparnya ke meja Kirei. "Mereka bisa memulihkan servermu dalam waktu empat puluh lima menit. Tapi bisnis tetap bisnis, Kirei. Di tengah krisis kayak begini, bantuan daruratku jelas nggak gratis."
Kirei melirik dokumen itu, lalu menatap kembali mata Vaxerion yang dalam dan dingin. "Apa maumu?"
"Lima belas persen hak kontrol dan royalti atas saham distribusi Zhaklyn OS di semua unit mobil listrik Mahendra Motors ke depannya. Tandatangani ini, atau biarkan peluncuran tokomu berubah jadi pemakaman kariermu jam delapan pagi nanti."
Kirei menahan napas. Pria di depannya ini sedang memerasnya di tengah badai, memanfaatkan kerapuhannya dengan cara yang sangat dewasa, kejam, tapi luar biasa tepat sasaran. Benturan ego di antara mereka berdua seketika menyulut api yang bikin atmosfer ruang kendali terasa terbakar.
Bersambung...