NovelToon NovelToon
Private Military Company

Private Military Company

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Epik Petualangan
Popularitas:548
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".

Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Benturan Dua Dunia

Angin kencang menderu-deru ganas di antara dua sosok yang berdiri berhadapan itu, menerbangkan debu halus, pasir tajam, dan sisa-sisa puing-puing bangunan ke segala arah seolah alam pun ikut merasakan ketegangan yang meluap-luap. Di atas sana, kapal raksasa milik Kerajaan Langit itu melayang diam dan sunyi, bayangannya yang luas dan gelap menutupi seluruh wilayah bekas Kota Kegelapan itu, seolah menjadi atap kubah raksasa yang mengurung mereka semua di dalamnya, menjadi saksi bisu yang dingin dan tak berperasaan atas apa yang akan terjadi selanjutnya. Di bawah sana, ribuan pasukan Garuda dan Elang Bebas menahan napas, mulut mereka tertutup tangan, mata mereka terbelalak lebar menatap ke depan, hati mereka berdebar kencang antara harap dan cemas yang menyakitkan.

Mereka sadar betul, apa yang sedang terjadi di depan mata mereka ini bukan lagi sekadar pertempuran antar pasukan, bukan lagi perang antar manusia, dan bukan lagi konflik yang bisa diukur dengan senjata atau strategi militer biasa. Ini adalah benturan dua dunia yang berbeda jauh tingkatan, asal-usul, dan kekuasaannya. Di satu sisi, ada Raka Pratama—manusia bumi biasa yang lahir dari tanah dan debu, pewaris kekuatan Sumber Unggul, pemuda yang baru beberapa bulan lalu masih berlatih dasar kemiliteran, yang kekuatannya tumbuh dan berkembang seiring perjalanan panjang, berdarah, dan penuh pengorbanan ini. Di sisi lain, ada Komandan Elara—makhluk agung dari Kerajaan Langit, panglima perang berpengalaman ribuan tahun, makhluk yang terlahir dengan kekuatan murni di dalam darahnya, yang menguasai pengetahuan, seni bertarung, dan hukum alam yang jauh di luar jangkauan akal manusia mana pun.

Namun, meski terlihat kecil, lemah, dan tertatih di hadapan makhluk setingkat dewa itu, Raka tidak mundur selangkah pun. Ia tidak menunduk, tidak berlutut, dan tidak memalingkan wajah sedikit pun. Cahaya biru murni terus menyala terang dan stabil di seluruh tubuhnya, membungkusnya seperti selubung api yang dingin namun membakar semangat siapa pun yang melihatnya. Di matanya yang biru menyala itu, tidak ada rasa takut, tidak ada rasa ragu, tidak ada rasa menyesal. Yang ada hanyalah tekad baja yang tak tergoyahkan dan keyakinan mutlak bahwa apa yang ia perjuangkan ini benar, dan bahwa tanah tempat ia berpijak ini layak dibela sampai titik darah penghabisan.

Elara masih berdiri tegak kokoh di tempatnya, bilah pedangnya sudah terhunus sepenuhnya dan terangkat sejajar dengan bahu, memancarkan cahaya keemasan yang begitu menyilaukan hingga sulit untuk dilihat langsung dengan mata telanjang. Aura yang keluar dari tubuhnya begitu padat, begitu berat, dan begitu pekat hingga membuat tanah di jari-jari kakinya perlahan amblas ke dalam, menciptakan lekukan bundar yang dalam karena tekanan gravitasi yang ia ciptakan sendiri. Wajahnya yang tampan dan mulus masih dingin, angkuh, dan penuh rasa percaya diri mutlak, namun kini ada kilatan rasa hormat yang samar terselip di balik tatapan matanya—rasa hormat terhadap keberanian yang jarang sekali ia temukan pada makhluk rendahan mana pun di seluruh alam semesta ini.

"Kau tahu apa perbedaan terbesar dan paling mendasar antara kita, Raka?" tanya Elara pelan, suaranya terdengar jelas, tenang, dan berwibawa di tengah deru angin kencang itu. Ia mengayunkan pedangnya perlahan ke samping kiri dan kanan, menciptakan lengkungan cahaya emas yang membelah udara hingga berdesir tajam, seolah memotong ruang dan waktu di sekelilingnya. "Kau memegang kekuatan itu, kau memanfaatkannya, kau mengarahkannya untuk menyerang atau bertahan... tapi kau tidak mengerti dasarnya, kau tidak mengerti asal-usulnya, dan kau tidak mengerti hukum yang mengaturnya. Energi itu bagimu hanyalah senjata, hanyalah alat bertahan hidup, hanyalah api yang kau nyalakan dalam kegelapan. Sementara bagiku... energi itu adalah udara yang kuhirup ke paru-paruku, tanah tempat aku berpijak, air yang mengalir di tubuhku, dan darah yang berdenyut di nadiku. Aku adalah satu dengan kekuatan itu. Aku menguasainya sejak aku lahir. Dan kau... kau hanyalah wadah kosong yang belum tahu cara menggunakan isinya dengan benar. Kau seperti anak kecil yang memegang pedang raksasa milik ksatria besar... kau bisa mengayunkannya, tapi kau tidak mengerti bobotnya, dan kau tidak mengerti bahayanya."

Raka tidak menjawab dengan kata-kata yang panjang. Ia hanya mengepal kedua tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih, lalu perlahan mengangkat kedua tangannya ke depan dada, membentuk kuda-kuda bertarung yang sederhana namun kokoh, stabil, dan seimbang—kuda-kuda dasar yang ia pelajari dari ayahnya, dari Jenderal Agus, dan dari setiap pertarungan mati-matian yang pernah ia lalui seumur hidupnya. Cahaya biru di tubuhnya semakin berkumpul, semakin padat, semakin pekat, dan semakin tajam, membentuk lapisan pertahanan yang tebal namun lentik di seluruh permukaan kulitnya, seolah ia mengenakan baju zirah yang ditempa dari cahaya murni itu sendiri.

"Kata-kata indah dan pembicaraan tinggi saja tidak akan membuktikan apa pun, Komandan Elara," jawab Raka tegas, suaranya tenang, rendah, namun penuh tantangan yang menusuk langsung ke sasaran. Ia menatap mata emas itu tajam ke tajam. "Kalau kau merasa dirimu begitu hebat, begitu sempurna, begitu jauh di atasku, dan begitu mengerti segala hal... tunjukkanlah itu lewat tindakan. Tapi ingat satu hal penting yang mungkin lupa kau catat di buku-buku pengetahuan kerajaannya: Di tanah ini, di bawah langit ini, di tempat kami lahir dan tumbuh besar... aturan kami yang berlaku. Dan aturan utama kami yang paling dasar, yang paling utama, dan yang tidak akan pernah berubah sampai kiamat... adalah kami tidak pernah menyerah, kami tidak pernah berlutut, dan kami tidak pernah diam saja sebelum napas terakhir kami habis dari tubuh kami."

Elara tersenyum miring, senyum yang penuh rasa kasihan, penuh rasa menghina, namun juga penuh rasa antusiasme yang dingin untuk segera memulai pembuktian itu.

"Baiklah. Kalau kau sudah begitu ingin merasakan, begitu ingin tahu, dan begitu ingin mengerti betapa kecil, lemah, dan tidak berdayanya dirimu sebenarnya... aku akan berikan kepadamu. Aku akan ajarkan kau pelaran paling mahal, paling menyakitkan, dan paling berkesan dalam hidupmu. Aku akan buat tubuhmu, pikiranmu, dan jiwamu mengerti arti perbedaan tingkatan makhluk yang sesungguhnya."

Tiba-tiba, tanpa aba-aba, tanpa suara peringatan, dan tanpa gerakan persiapan apa pun... Elara bergerak.

Ia tidak berlari, ia tidak melompat, ia tidak mendorong tanah dengan kakinya. Ia seolah lenyap dari tempatnya berdiri seketika, berubah menjadi kilatan cahaya emas yang tipis, tajam, dan memanjang yang melesat ke depan dengan kecepatan yang melampaui pandangan mata manusia biasa, melampaui batas reaksi saraf, dan melampaui apa pun yang pernah dilihat atau dialami Raka selama ini. Di tempat ia berdiri sedetik yang lalu, tanah keras dan beton yang tebal itu meledak ke atas terbawa sisa gerakannya, menciptakan kawah kecil yang dalam dan berasap.

Dalam sekejap mata, dalam waktu yang kurang dari kedipan mata, ujung pedang emas yang tajam itu sudah berada tepat di depan dada Raka, mengarah langsung ke jantungnya, bergerak begitu cepat hingga meninggalkan jejak bayangan panjang yang bergetar di udara. Angin hantamannya begitu kuat, begitu panas, dan begitu tajam hingga seragam Raka bergetar hebat seolah akan terkoyak, dan kulit wajah Raka terasa perih seolah disayat ribuan pisau kecil sekaligus.

Di bawah sana, di antara barisan pasukan Garuda, banyak yang berteriak kaget histeris, banyak yang menutup mata mereka dengan tangan gemetar karena yakin mutlak bahwa Raka sudah tamat riwayatnya detik itu juga, sudah mati, sudah terbelah dua sebelum sempat sadar. Jenderal Agus, Karin, Reza, Dedi, Bara, dan Rio pun sudah bersiap melompat maju untuk membantu, meski dalam hati mereka sadar betul bahwa tindakan itu percuma, sia-sia, dan mungkin hanya akan menambah jumlah korban saja.

Namun, Raka bukan lagi pemuda yang sama persis seperti saat pertama kali ia memegang kekuatan ini. Ia bukan lagi pemuda yang kaku, yang hanya mengandalkan kekuatan kasar, atau yang hanya melihat apa yang ada di depan matanya. Selama pertempuran panjang melawan Aditya, selama energi Sumber Unggul itu menyatu sepenuhnya dengan darah, tulang, dan jiwanya, ia telah belajar dan mengembangkan satu kemampuan paling penting dan paling berharga: ia bisa merasakan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya, bahkan sebelum sesuatu itu terjadi. Ia bisa merasakan pergeseran udara yang paling halus sekalipun, perubahan suhu yang sedikit saja, pergeseran aliran energi, dan bahkan niat gerakan musuh jauh lebih dulu daripada mata bisa melihatnya atau telinga bisa mendengarnya.

Saat ujung pedang emas yang mematikan itu hanya berjarak satu sentimeter dari dadanya, saat cahayanya sudah hampir menembus selubung pelindung biru yang tipis itu... Raka bergerak.

Ia tidak mundur ke belakang, ia tidak melompat ke samping, dan ia tidak mencoba menangkis atau menahan senjata yang jauh lebih kuat itu. Ia hanya sedikit memiringkan tubuhnya ke kanan, gerakan yang sangat kecil, sangat sederhana, sangat alami, namun dilakukan dengan ketepatan waktu yang sempurna mutlak dan perhitungan jarak yang presisi.

WUSSSSHHH!!!

Pedang emas itu melesat lewat di samping kirinya, hanya berjarak sehelai rambut saja dari kulitnya, membelah udara menjadi dua bagian, dan menghantam tanah keras di belakangnya dengan kekuatan yang luar biasa dahsyat.

DERRRR!!!

Suara benturan itu menggelegar hebat seperti petir menyambar tepat di samping telinga, mengguncang seluruh tanah di bawah kaki mereka hingga bergoyang seperti gelombang laut. Tanah, beton, dan bebatuan besar di belakang Raka terbelah dalam dan panjang, retakan itu menjalar ratusan meter ke segala arah, menelan puing-puing dan debu ke dalam jurang baru yang tercipta seketika itu juga. Kepulan debu dan asap tebal mengepul tinggi ke udara, menutupi pandangan seketika, membuat suasana menjadi kelabu dan samar.

Raka sendiri terlempar ke depan sekitar lima langkah karena tekanan sampingan yang luar biasa itu, kakinya menggesek tanah keras hingga meninggalkan dua garis panjang yang dalam dan berasap. Ia mengayunkan tubuhnya sedikit untuk menyeimbangkan diri, lalu perlahan menegakkan kembali punggungnya yang tegap. Ia menyeka sedikit debu yang menempel di pipinya dengan punggung tangan, lalu tersenyum tipis—senyum lega sekaligus senyum tantangan. Napasnya sedikit memburu, jantungnya berdegup kencang karena adrenalin yang meluap, namun matanya semakin bersinar tajam dan waspada.

"Kecepatan yang luar biasa," gumam Raka pelan, suaranya terdengar jelas meski tertutup suara angin. "Cara menyerang yang indah, presisi, dan mematikan. Aku akui itu. Tapi... ternyata... masih bisa diikuti. Masih bisa diantisipasi."

Di tengah kepulan debu dan asap tebal yang perlahan turun itu, Elara muncul kembali, berdiri tegak di dasar retakan besar yang ia buat sendiri. Wajahnya yang dingin dan angkuh kini sedikit berubah, ada kerutan kening samar yang terlihat jelas, ada kilatan kaget yang nyata di mata emasnya. Ia menatap Raka lekat-lekat, meneliti setiap gerakan, setiap ekspresi, dan setiap getaran energi yang keluar dari tubuh pemuda bumi itu.

"Kau menghindarinya..." ucap Elara pelan, suaranya bergetar sedikit karena rasa tidak percaya yang mendalam. Ia mengangkat kembali pedangnya yang masih berkilauan terang itu, menunjuk tepat ke arah Raka. "Kau manusia tanah, makhluk yang mata dan sarafnya lambat, yang pemikirannya sederhana, dan yang kekuatannya kasar... kau bisa menghindari serangan kecepatan penuhku? Serangan yang bahkan banyak panglima perang Kerajaan Langit pun sulit dihindari? Tidak mungkin. Ini tidak masuk akal. Kecuali... kau tidak melihat gerakanku dengan matamu. Kau tidak mengandalkan penglihatan biasa."

Elara perlahan melangkah naik keluar dari retakan itu, setiap langkahnya kini membuat udara di sekelilingnya bergetar hebat dan panas. Cahaya emas di tubuhnya menyala semakin terang, semakin pekat, dan semakin ganas.

"Ternyata aku sedikit meremehkanmu, Raka Pratama. Kau memang bukan manusia biasa, bahkan menurut ukuran bumi sekalipun. Kau punya bakat yang langka, insting yang tajam, dan yang paling mengejutkan... kau sudah mengembangkan kemampuan merasakan aliran energi di sekitarmu. Itu adalah kemampuan tingkat tinggi yang dasar-dasarnya saja sulit dipahami oleh kebanyakan makhluk cerdas di alam semesta ini. Dan kau... kau menguasainya secara naluriah, hanya dalam waktu singkat. Ini menarik. Sangat menarik."

Elara berhenti melangkah, kini ia berdiri kembali di tanah rata, berjarak sekitar lima puluh meter dari Raka. Ia mengangkat kedua tangannya ke samping, membiarkan aura emas yang dahsyat itu menyebar luas ke segala arah, menerbangkan debu dan batu-batu kecil di sekitarnya hingga melayang di udara tanpa gravitasi.

"Tapi ingat satu hal penting, anak manusia... kemampuan merasakan itu saja, insting tajam itu saja, dan keberanian itu saja... belum cukup untuk menyelamatkanmu dari kematian. Kau baru melihat satu perseratus dari apa yang aku miliki. Aku belum menggunakan bahkan sepersepuluh dari kekuatan asli dan penuhku. Dan sekarang... karena kau sudah membuatku tertarik, karena kau sudah membuatku sedikit terkejut... aku akan naik tingkat sedikit saja. Aku akan tunjukkan padamu perbedaan besar antara 'bisa merasakan bahaya' dan 'tidak berdaya sama sekali meski sudah tahu bahayanya'."

Elara kembali mengayunkan pedangnya ke udara, kali ini tidak menyerang ke depan, melainkan mengayunkannya membentuk lingkaran besar di atas kepalanya, gerakan yang lambat namun penuh kekuatan dahsyat yang tersimpan. Cahaya emas itu berputar semakin cepat, semakin besar, semakin terang, membentuk pusaran angin kencang yang menyedot segala benda di sekitarnya masuk ke tengah, menciptakan badai mini yang berpusat tepat di atas kepala Komandan Langit itu.

"Hukum Langit: Hantaman Gravitasi Mutlak!"

Teriak Elara dingin dan kaku, suaranya bergetar memantul di udara. Seketika itu juga, seluruh wilayah sejauh satu kilometer di sekitar mereka berubah drastis, seolah alam, ruang, dan fisika di tempat itu ditulis ulang sepenuhnya. Gravitasi di tempat itu meningkat seratus kali lipat lebih berat dari biasanya, berat yang begitu dahsyat hingga seolah ada gunung raksasa yang baru saja diletakkan di atas pundak setiap makhluk hidup di sana.

Raka merasakan beban yang luar biasa berat mendadak menindih seluruh tubuhnya dari segala arah sekaligus. Tulang-tulangnya berderik keras dan nyeri seolah akan patah dan hancur seketika. Lututnya terasa berat tak tertahankan, mendesak ke bawah memaksanya berlutut, merayap, atau bahkan terbenam ke dalam tanah. Kepalanya terasa pening hebat, darahnya sulit mengalir ke atas, napasnya tersendat dan sesak seolah ada bantal tebal yang menutupi dadanya, membuatnya hampir tidak bisa bernapas sama sekali.

Di belakangnya, ribuan pasukan Garuda dan Elang Bebas berjatuhan ke tanah sekaligus, tidak ada satu pun yang mampu berdiri tegak, semua terhimpit tak berdaya di atas tanah yang kini menjadi jauh lebih berat dari timah cair. Banyak dari mereka berdarah dari hidung dan telinga karena tekanan udara yang ekstrem itu. Bahkan Jenderal Agus, Karin, Reza, Dedi, dan Bara pun terpaksa berlutut, keringat dingin membanjiri seluruh tubuh mereka, wajah mereka memerah dan menegang habis-habisan menahan beban yang tidak masuk akal itu.

Namun, di tengah tekanan maut itu, di tengah rasa sakit yang luar biasa yang menusuk setiap sarafnya, di tengah rasa sesak yang membuat nyawa melayang itu... Raka tidak berlutut. Ia tidak jatuh. Ia tidak menyerah.

Ia menggertakkan giginya sampai rahangnya sakit dan nyut-nyutan, matanya melotot menahan sakit yang tak terbayangkan, kakinya menancap kuat ke dalam tanah yang lunak karena tekanan itu hingga masuk sampai ke betis, meninggalkan lekukan kaki yang dalam. Selubung cahaya biru di tubuhnya menyala semakin terang, semakin padat, semakin ganas, berjuang mati-matian melawan kekuatan gravitasi emas yang menindihnya itu, mendesak ke luar, menciptakan lapisan perlindungan tipis namun kokoh di sekitar kulitnya yang menahan sebagian besar beban itu.

Darah segar menetes perlahan dari hidung dan telinganya, menetes ke tanah yang amblas itu, namun Raka tetap memaksakan dirinya berdiri tegak. Ia mengangkat kepalanya perlahan, dengan susah payah dan napas yang tersengal berat, menatap Elara yang berdiri santai dan tenang di tengah pusaran emas itu, tidak terganggu sedikit pun oleh kekuatannya sendiri.

"Kau pikir... beban seberat ini... cukup untuk membuatku berlutut dan memohon ampun?" seru Raka parau, suaranya bergetar hebat namun penuh tantangan yang membara. Ia perlahan mengangkat satu kakinya yang beratnya seperti besi tuang, lalu melangkah maju selangkah. Tanah di bawahnya amblas makin dalam, namun ia tetap berjalan. "Kau pikir beban ini berat? Kau salah besar, Komandan Langit! Aku sudah menanggung beban yang jauh lebih berat dari ini seumur hidupku! Beban dendam! Beban janji setia pada ayahku! Beban tanggung jawab atas nyawa ribuan orang yang ada di belakangku! Beban menjadi harapan terakhir umat manusia! Beban-beban itu... jauh lebih berat, jauh lebih menyakitkan, dan jauh lebih sulit ditanggung daripada sekadar gravitasi buatanmu yang remeh ini!"

Setiap kata yang keluar dari mulut Raka, setiap langkah berat yang ia ambil, setiap tetes keringat dan darah yang jatuh ke tanah... membuat cahaya biru di tubuhnya semakin menyala, semakin melawan, dan semakin mendesak balik kekuatan emas itu. Tekanan gravitasi yang dahsyat itu mulai bergoyang, mulai tidak stabil, mulai terdesak mundur oleh tekad baja yang luar biasa dari pemuda bumi itu.

Elara tertegun. Matanya melebar tak percaya melihat apa yang terjadi di depannya. Ia sudah menggunakan kekuatan yang cukup untuk meratakan seluruh kota besar menjadi tanah datar dalam hitungan detik saja, kekuatan yang cukup untuk menindih makhluk biasa menjadi adonan daging dan tulang dalam sekejap... tapi makhluk kecil di depannya ini tidak hanya bertahan hidup... ia bahkan berjalan mendekat. Ia berjalan maju menuju sumber bahaya itu sendiri.

"Mustahil..." gumam Elara kaget, amarah mulai tersulut karena rasa tidak percaya itu. Ia menurunkan kedua tangannya, pusaran gravitasi itu sedikit melemah namun masih sangat dahsyat. "Apa yang ada di dalam dirimu? Energi apa yang kau gunakan? Kenapa ia bisa menolak kekuatan hukum alam Kerajaan Langit kami? Kenapa ia tidak tunduk pada aturan yang berlaku bagi seluruh makhluk di alam semesta ini?!"

"Karena kekuatan ini berbeda dengan kekuatanmu!" teriak Raka sekuat tenaga, mengumpulkan sisa tenaga yang ada di paru-parunya. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas kepalanya, mengumpulkan seluruh cahaya biru yang ada di sekelilingnya, mengumpulkan seluruh kekuatan yang tersisa di tubuhnya, bahkan menarik sisa energi alam dari tanah dan udara di sekitarnya, menyedotnya masuk ke dalam dirinya. Cahaya biru itu berkumpul menjadi satu bola raksasa yang menyilaukan, bergetar hebat seolah menahan ledakan besar yang siap meledak kapan saja.

"Kekuatanmu adalah kekuatan untuk menindas, untuk menguasai, untuk merendahkan, dan untuk menghancurkan siapa pun yang kau anggap rendah! Tapi kekuatan ini... kekuatan Sumber Unggul ini... adalah kekuatan untuk melindungi! Kekuatan untuk bertahan! Kekuatan untuk menjaga! Dan kekuatan untuk melawan siapa pun yang berani mengancam kehidupan, kebebasan, dan masa depan kami!"

"Sumber Unggul: Pilar Pembela Bumi – Ledakan Penolak Langit!"

Dengan satu hantaman keras kedua tangannya ke depan, bola cahaya raksasa itu melesat keluar dari genggamannya, berubah menjadi pilar biru yang kokoh, lebar, dan memanjang, bergerak semakin cepat semakin jauh, menembus tekanan gravitasi emas yang dahsyat itu, membelah pusaran angin kencang itu menjadi dua bagian, dan menghantam langsung ke arah dada Elara dengan kekuatan penuh.

BOOOOMMMM!!!

Ledakan dahsyat mengguncang seluruh wilayah itu hingga terasa seperti gempa bumi berkekuatan besar. Cahaya biru dan emas bertabrakan, bertumbukan, dan beradu kekuatan, menciptakan kilatan cahaya yang begitu terang hingga membuat siapa pun yang melihatnya menjadi buta sejenak. Gelombang kejut yang luar biasa meledak ke segala arah, menerbangkan puing-puing, batu, dan debu ke ketinggian ratusan meter, menghancurkan apa saja yang ada di jangkauannya, dan meratakan tanah di sekitar titik benturan itu.

Tekanan gravitasi yang mencekam itu lenyap seketika seolah tidak pernah ada. Pasukan yang berlutut di bawah sana kembali bisa bernapas lega, kembali bisa berdiri, kembali bisa melihat, dan kembali berteriak sorak semangat. Mereka menengadah ke atas, menahan napas, ingin tahu siapa yang menang, siapa yang mundur, dan siapa yang terluka di tengah kepulan asap dan debu tebal itu.

Perlahan, debu itu turun dan menipis. Di tengah lubang besar yang baru saja tercipta, Raka terlihat terhuyung-huyung hebat ke belakang, napasnya tersengal berat dan pendek-pendek, tubuhnya penuh luka baru dan lama, darah mengalir dari banyak bagian tubuhnya, kakinya gemetar hebat menahan berat tubuhnya yang hampir kehabisan tenaga, namun ia masih berdiri tegak. Ia masih belum jatuh.

Di depannya, sekitar sepuluh meter jauhnya, Elara mundur terhuyung-huyung ke belakang, kakinya menggesek tanah hingga menciptakan dua alur panjang yang dalam sebelum akhirnya ia bisa berhenti dengan menancapkan ujung pedangnya ke tanah keras untuk menahan tubuhnya agar tidak mundur lebih jauh lagi. Baju zirah peraknya yang indah, berkilauan, dan tidak pernah ternoda itu kini ada beberapa bagian yang retak, hangus, dan meleleh karena panasnya benturan. Di dada bagian kirinya, ada noda hitam besar bekas sentuhan cahaya biru Raka. Wajah tampannya penuh kaget, penuh amarah yang meluap-luap, dan penuh rasa tidak percaya yang mendalam.

Ia perlahan mengangkat tangan kanannya, menyeka sedikit noda hitam di pipinya—bekas sentuhan angin hantaman serangan Raka. Ia menatap noda itu di ujung jarinya lama sekali, lalu perlahan menatap Raka dengan pandangan yang berubah total. Kini tidak ada lagi rasa kasihan, tidak ada lagi rasa merendahkan, tidak ada lagi rasa acuh tak acuh. Yang ada hanyalah rasa marah yang membara, rasa malu yang terhina, dan rasa bahaya yang nyata.

"Kau... kau benar-benar berhasil melukai aku..." ucap Elara perlahan, suaranya dingin, kaku, dan mengerikan, bergetar karena amarah yang ditahan sekuat tenaga agar tidak meledak sepenuhnya. "Aku, Komandan Besar Pasukan Pengawas Wilayah Bumi... aku, makhluk agung dari Kerajaan Langit... aku yang tak terkalahkan selama ribuan tahun... aku dilukai, aku didesak mundur, dan aku dibuat malu... oleh makhluk dari tanah rendahan... oleh wadah kosong yang belum mengerti apa-apa... oleh manusia yang seharusnya hancur hanya dengan satu jentikan jariku saja..."

Elara perlahan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, matanya yang berwarna emas murni kini berubah menjadi merah menyala, berkilauan ganas seperti bara api neraka. Cahaya emas di tubuhnya berubah warna menjadi warna keemasan kemerahan yang jauh lebih panas, jauh lebih pekat, dan jauh lebih berbahaya dari sebelumnya. Aura yang ia pancarkan kini tidak lagi indah dan anggun, melainkan liar, ganas, tajam, dan penuh niat membunuh yang murni. Udara di sekelilingnya menjadi begitu panas hingga tanah dan bebatuan di dekatnya mulai meleleh perlahan menjadi cairan kaca.

"Kau membuatku malu, Raka Pratama. Kau membuatku kehilangan muka di bawah kapalku sendiri, di depan pasukanmu sendiri, dan di depan seluruh saksi yang ada di sini. Kau membuatku terlihat lemah, terlihat kalah, dan terlihat tidak berdaya. Dan kesalahan terbesarmu... kesalahan yang paling tidak bisa kau ampuni... kau membuatku serius."

Elara mengangkat kembali pedangnya yang kini berubah warna menjadi merah keemasan yang menyala terang, aura di sekitarnya begitu tebal dan berat hingga udara di sekelilingnya berubah menjadi cairan panas yang berkilauan. Sayap di punggungnya melebar lebar, memancarkan angin panas yang menerbangkan apa saja.

"Aku tidak akan lagi menahan diri. Aku tidak akan lagi bermain-main. Aku tidak akan lagi membiarkanmu hidup lebih lama dari yang seharusnya. Aku akan buang sedikit saja waktuku yang berharga untukmu... tapi aku akan pastikan kau mati dengan cara yang paling menyakitkan, paling mengerikan, paling hina, dan paling menyedihkan yang pernah ada dalam sejarah perang kami."

Elara menunjuk tajam ke arah Raka dengan ujung pedangnya yang berapi.

"Persiapkan dirimu, manusia bumi. Persiapkan jiwamu untuk dikirim ke neraka. Karena sekarang... aku akan tunjukkan padamu kekuatan asli makhluk langit. Kekuatan yang akan membuatmu berharap kau tidak pernah lahir ke dunia ini. Kekuatan yang akan membuatmu mengerti... bahwa apa yang kau miliki itu... hanyalah debu jika dibandingkan dengan kekuatan sejati para dewa."

Raka tersenyum tipis dan kaku, menyeka darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan yang gemetar karena kelelahan ekstrem. Ia kembali menegakkan tubuhnya yang berat itu, mengumpulkan sisa tenaga yang ada di kedalaman dirinya, membuka akses cadangan energi yang belum pernah ia gunakan sebelumnya, menyiapkan diri untuk serangan yang jauh lebih dahsyat lagi.

"Silakan saja," jawab Raka pelan namun tegas, suaranya tidak goyah sedikit pun meski tubuhnya hampir roboh. "Aku sudah siap menerima apa pun yang kau punya. Aku sudah siap menghadapi kekuatan apa pun yang kau keluarkan. Dan aku berjanji... aku akan bertahan sampai napas terakhirku habis. Aku akan pastikan... kau pun tidak akan pernah melupakan hari ini sampai kapan pun."

Angin berhenti bertiup sepenuhnya. Suasana menjadi hening total, hening yang mencekam, hening sebelum badai terbesar, terpanas, dan terganas melanda. Di atas sana, kapal raksasa itu kini mulai memancarkan cahaya merah gelap yang berdenyut-denyut, menandakan bahwa pertempuran ini sudah memasuki fase kematian mutlak.

1
NonaAns
keren, Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!