Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.
Ia hanya ingin kaya.
Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.
Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Perang Harga dan Panen Raya
Tarik napas panjang terdengar dari pelantang suara. Pria tua di atas panggung itu memutar tuas kecil di balik podiumnya.
Sebuah tabung kaca bertekanan tinggi perlahan naik dari dasar lantai. Asap beku menyembur keluar, menyapu sepatu bot para staf keamanan di sekitarnya.
Layar holografik raksasa di belakangnya langsung menampilkan visual beresolusi tinggi. Tiga kelopak merah pekat melayang damai di dalam tabung hampa udara. Warnanya semerah arteri yang baru saja terpotong. Tidak ada cacat. Tidak ada layu sedikit pun.
"Bunga Darah," bisik juru lelang itu, suaranya nyaris tertelan gema ruangannya sendiri. "Kualitas... absolut sempurna."
Tidak ada yang bersuara di seluruh aula bawah. Ratusan elit faksi, saudagar gemuk, dan kapten hunter cacat membeku di kursi masing-masing.
Mereka sangat memahami barang apa itu. Satu tangkai saja cukup untuk menyambung nyawa yang sudah terputus setengah. Penawar racun paling mutlak yang pernah dicatat sejarah kiamat. Peningkat vitalitas dasar yang mustahil dipalsukan. Dan kini, ada tiga tangkai utuh terpampang nyata di depan hidung mereka.
'Anggap saja sumbangan kecil untuk panti asuhan,' batin Wan Chen.
Ia menggoyangkan gelas kristalnya pelan di dalam bilik VIP. Matanya menatap datar lautan manusia di bawah sana yang mendadak lupa cara menarik napas.
Dua detik merayap pergi. Udara masih terasa hampa.
Detik ketiga, sebuah plakat angka dari barisan tengah terangkat kasar hingga gagangnya nyaris patah.
"Lima juta kredit!" teriak seorang pria berparut luka melintang di wajah. Urat lehernya menonjol liar mencari pelampiasan.
Pecah sudah keheningan kaku itu. Perang brutal secara resmi dimulai.
"Tujuh juta! Tutup mulutmu, anjing!" sahut seorang kapten hunter berseragam dari sektor timur.
"Sepuluh juta! Faksi Hitam mengambil alih penawaran ini, menyingkirlah kalian semua!"
Papan-papan angka terangkat nyaris bersamaan. Saling tumpang tindih dalam kekacauan murni. Suara teriakan bergema bertabrakan hingga mikrofon sang juru lelang mendengung panjang menyakitkan telinga.
Tidak ada lagi senyum elegan. Tidak ada lagi tata krama saudagar kelas atas. Di hadapan ancaman maut dunia luar, keningratan mereka mengelupas layaknya cat murahan yang terpanggang matahari.
Mereka bersedia membuang anggaran operasional satu tahun penuh faksi mereka layaknya membuang tisu kotor.
Di bilik nomor nol yang sepi, terminal anonim terus berkedip tanpa henti. Angka hijau di layarnya melesat naik mengikuti setiap teriakan kalap dari bawah.
Lin Yu Yan berdiri sangat kaku di samping meja marmer. Matanya menganga lebar melihat digit yang berputar gila-gilaan. Napasnya tersengal seolah ia habis berlari sejauh belasan kilometer melintasi Rift.
"I-ini tidak masuk akal," gumam Lin Yu Yan. Tangannya terburu-buru bertumpu pada pinggiran meja, menopang lututnya yang mendadak terasa seperti jeli. "Sepuluh juta itu... itu angka yang cukup untuk membeli sebuah properti."
"Dua puluh juta," ralat Wan Chen pelan, suaranya sama sekali tidak memancarkan antusiasme. Ia menyandarkan punggungnya lebih dalam ke sofa empuk itu. "Itu angka terbarunya."
Layar terminal di meja kini menunjukkan angka dua puluh lima juta.
Lin Yu Yan menoleh sangat cepat. Menatap pria berjas hitam di depannya dengan tatapan menuntut penjelasan atas ketidakwarasan ini.
"Mereka semua sudah gila. Mereka benar-benar membakar uang hasil darah pasukan mereka sendiri!"
"Mereka tidak gila. Memang sudah sepantasnya untuk obat mujarab itu," balas Wan Chen datar.
Wan Chen meneguk sisa anggur pra-kiamatnya. Rasanya tiba-tiba berubah hambar.
Kepanikan massal memang komoditas paling mahal di era yang kacau ini. Bagi mereka di bawah sana, Bunga Darah itu adalah mukjizat tak ternilai turun dari surga. Sementara bagi Wan Chen, ketiganya hanyalah salinan asal-asalan yang dipetik dari kebun belakang kemampuannya.
Di atas panggung bawah, juru lelang mengetukkan palu kayunya dengan sangat keras. Namun suaranya kalah telak oleh amarah keributan. Pria tua itu terpaksa memukul podiumnya berkali-kali bak orang kesetanan.
"Tiga puluh lima juta dari Aliansi Faksi Gagak dan Kapten Sektor Timur!" teriak pria tua itu, suaranya terdengar sangat parau akibat memaksakan pita suaranya ke batas maksimal. "Ada lagi? Saya bertanya, apa ada lagi yang berniat menantang nyali aliansi ini?!"
Hening sejenak menyergap aula. Beberapa ketua faksi gurem menjatuhkan plakat angka mereka dengan raut wajah putus asa. Mengorbankan angka lebih dari itu berarti membangkrutkan seluruh rantai komando pasukan mereka malam ini juga.
Tiga ketukan palu berturut-turut bergema memecah udara. Nyaring. Mutlak. Final.
Layar holografik besar di belakang panggung meledak dalam tampilan konfeti digital berwarna emas. Tiga tangkai Bunga Darah resmi dipindahtangankan.
Sistem terminal marmer di bilik VIP nomor nol langsung merespons. Berbunyi klik pendek namun mematikan.
Deretan panjang angka nol perlahan membanjiri layar kecil tersebut. Transfer kredit masif dari brankas balai lelang langsung mengalir deras ke dalam akun anonim sementara milik Wan Chen. Pemotongan pajak operasional sistem pelelangan bahkan tidak terasa menyakitkan saking besarnya nominal bersih yang ditarik.
35 juta dipotong pajak, tapi apakah semua ini tetap ada arti baginya? Tentu jawabannya tidak.
hanya dari tiga tangkai saja ia bisa mendapatkan keuntungan yang menjamin kehidupan santai. Tapi itu belum cukup untuk menghadapi lika-liku dunia ini.
Di lantai dasar, pelelangan sisa barang rongsokan kembali coba dilanjutkan. Namun aura di ruangan itu sudah mati. Separuh penghuni aula kehilangan gairah, euforia pertarungan mereka telah dihisap habis oleh transaksi barusan.
Wan Chen menyentuh layar terminalnya lagi dengan punggung jarinya. Mulai bosan menunggu acara bubar, ia asal menyortir daftar barang terbengkalai di bagian paling belakang katalog pelelangan yang tidak laku.
Sebuah citra pudar muncul menarik perhatiannya. Gulungan cetak biru yang ujungnya termakan karat. Artefak usang dari sisa peradaban pra-kiamat yang rupanya gagal diidentifikasi oleh para penilai balai lelang.
Harga dasarnya tertulis seribu kredit. Angka hina untuk sebuah balai lelang kelas atas. Tidak ada satupun elit menyedihkan di bawah sana yang mau melirik benda kotor itu usai kehabisan amunisi dana.
Jari telunjuknya tanpa ragu menekan tombol beli instan.
Pecahan sisa kredit senilai harga seporsi makan malam meluncur keluar dari saldo raksasanya. Saluran transmisi di sudut ruangan berdesis pelan memecah kesunyian bilik, langsung memuntahkan silinder logam kotor itu tepat ke atas nampan penerima.
Wan Chen mengambil benda itu dengan acuh tak acuh dan melemparnya masuk ke dalam distorsi Penyimpanan Dimensional.
'Pasti bisa jadi bahan mentah eksperimen yang lumayan untukku, nanti kucoba,' pikirnya singkat.
Tujuan utama malam ini sudah tuntas.
Wan Chen menarik kerah jasnya merapikan lipatan yang sedikit kusut. Ia mengangkat tubuhnya perlahan dari sofa kulit itu, bersiap melangkah keluar menuju pintu elevator.
"Ayo bergegas."
Lin Yu Yan merespons dengan anggukan kaku. Ia segera memutar tubuh langsingnya menjauh dari tembok kaca tebal.
Namun baru satu langkah wanita itu mengayunkan kakinya, seluruh tubuhnya mendadak kaku seperti mayat beku. Otot bahunya menegang ke tingkat paling ekstrem layaknya dawai baja ditarik paksa.
Wajahnya, yang semula memerah akibat sisa euforia nominal kredit gila barusan, kini berubah kaku dalam hitungan kedipan mata.
Napas Lin Yu Yan benar-benar tercekat di pangkal tenggorokan.
"T-Tunggu," desis Lin Yu Yan, suaranya sangat lirih.
Wan Chen seketika menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu kaca. Ia tidak memutar kepalanya sama sekali, tapi bahunya sedikit miring ke belakang menandakan ia memusatkan pendengaran.
"Instingku," bisik wanita itu lagi, kali ini rahangnya bergetar parah. Matanya bergerak kalap, menyapu panik setiap inci plafon dan sudut bayangan bilik VIP mereka. "Sesuatu... bukan, ada seseorang sedang memindai tepat ke arah kita."
Wan Chen merespons dengan menyipitkan kelopak matanya tipis.
"Skill bertahanku menjerit minta tolong," lanjut Lin Yu Yan, tangannya kini mencengkeram kasar pinggiran meja hingga ruas jari-jarinya memutih pasi. "Ini bukan sinyal pelacakan biasa. Ada yang sengaja mengunci sisa jejak kita. Entah para faksi pemenang... atau malah anjing-anjing peliharaan balai lelang ini sendiri."
Intinya. Kita dikepung.
Hening mendadak menekan pasokan oksigen di antara mereka. Lin Yu Yan menelan ludah dengan suara sangat kasar.
Polanya sangat jelas dan klasik. Pihak balai atau pembeli kelas atas itu rupanya sangat jauh dari kata puas hanya dengan membawa pulang tangkai mukjizat tersebut. Mereka mengincar akarnya. Mereka sisa menyogok untuk mendapatkan akses informasi VIP.
Alih-alih panik berkeringat dingin, sebuah lengkungan senyum miring yang teramat sinis perlahan merayap naik di ujung bibir Wan Chen.
'Dasar sekumpulan lintah serakah,' batin Wan Chen dengan pasrah, seolah sedang menegur anak kecil yang nakal. 'Tapi sudah begitulah sifat mereka seharusnya.'
Ia menghembuskan napas lelah menanggapi kerepotan tak perlu ini. Tangannya merayap pelan menyelinap ke balik potongan jas hitamnya. Menggapai masuk ke dalam lubang distorsi ruang di sampingnya.
Ujung jari Wan Chen mengelus tenang gagang kasar Pisau Taktis Karbon andalannya yang masih terlelap.