Ketika perbedaan kasta memaksa mereka berpisah dan amnesia menghapus ingatan Neya, akankah kisah cinta delapan tahun yang mereka rajut sejak SMP benar-benar berakhir atau takdir punya cerita lain ?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah di Atas Takhta Kusuma
Mansion keluarga Kusuma tidak pernah dirancang untuk menjadi sebuah rumah; tempat itu adalah medan perang yang dilapisi marmer dan diselimuti kemewahan palsu. Setelah bertahun-tahun merajut intrik di balik layar, keserakahan Verian dan suaminya akhirnya mencapai titik kritis yang paling mematikan. Mereka tidak lagi puas hanya mengincar posisi Kinan di dewan komisaris; mereka menginginkan segalanya—termasuk mendepak Tuan Kusuma dari takhta tertinggi Kusuma Group.
Malam itu, badai petir melanda ibu kota, menciptakan kilatan cahaya yang menembus jendela kaca ruang kerja pribadi Tuan Kusuma. Verian dan suaminya melangkah masuk tanpa izin, membawa berkas-berkas pengalihan aset ilegal dan bukti konspirasi yang telah mereka susun bersama beberapa pemegang saham berkhianat di luar negeri. Mereka mengira, dengan memegang kartu as keuangan dinasti, Tuan Kusuma yang mulai menua akan tunduk dan menyerahkan kekuasaan.
Namun, mereka lupa satu hal: Tuan Kusuma adalah seekor predator puncak yang tidak akan pernah membiarkan siapa pun—bahkan darah dagingnya sendiri—mengusik wilayah kekuasaannya.
"Papa sudah tua, sudah waktunya Papa mundur sebelum kami membongkar semua borok keuangan masa lalu Papa ke publik," ucap Verian dengan senyum angkuh, sementara suaminya berdiri di sampingnya dengan wajah penuh kemenangan semu.
Tuan Kusuma tidak sebatang kara di balik mejanya. Ia perlahan bangkit, menatap putri sulungnya dengan pandangan yang kosong sekaligus mematikan. Di dalam dunia pria itu, tidak ada ruang untuk pengkhianatan. Siapa pun yang berani mengancam takhta Kusuma harus dimusnahkan. Tanpa mengucapkan satu patah kata pun, tangan kokoh Tuan Kusuma membuka laci meja kerjanya dan mengeluarkan sebuah pistol hitam laras pendek—senjata yang selama ini tersimpan untuk situasi paling ekstrem.
DOR! DOR!
Dua tembakan beruntun menggema, memecah suara gemuruh petir di luar. Peluru pertama menembus dada suami Verian yang langsung ambruk ke lantai tanpa sempat bersuara. Belum sempat Verian menjerit histeris, peluru kedua tepat bersarang di jantungnya. Tubuh angkuh putri sulung keluarga Kusuma itu tumbang, bersimbah darah di atas karpet beludru merah yang kini sewarna dengan cairan yang mengalir dari tubuhnya.
Tuan Kusuma berdiri membeku, menatap dua jasad di hadapannya dengan napas yang teratur. Di matanya, itu bukanlah pembunuhan anak kandung; itu hanyalah pembersihan hama yang mencoba merusak kerajaannya.
Pintu ruang kerja mendadak terbuka lebar. Mama Casandra, yang mendengar suara tembakan dari lantai bawah, berlari masuk dengan wajah pucat pasi. Namun, pemandangan yang menyambut matanya malam itu seketika meruntuhkan seluruh dinding keangkuhan yang telah ia bangun selama puluhan tahun.
Verian, putrinya.
Anak perempuan yang meski sering ia didik dengan kekerasan mental dan ambisi dingin, tetaplah darah dari rahimnya sendiri. Casandra mematung di ambang pintu. Untuk pertama kalinya dalam hidup wanita paruh baya itu, gaung ambisi bisnis, silsilah darah murni, dan kebanggaan dinasti mendadak lenyap dari kepalanya.
Casandra berjalan limbung, lalu berlutut di samping jasad Verian yang mulai mendingin. Ia mengangkat tubuh putrinya, memeluknya erat tanpa memedulikan gaun sutra mahalnya yang kini ternoda oleh darah yang pekat. Di sinilah, di dalam ruangan yang sunyi dan mencekam ini, sebuah titik balik yang luar biasa terjadi. Naluri keibuan Casandra—sebuah perasaan yang selama dua puluh dua tahun ini terkubur dalam-dalam di bawah lapisan beton egoisme dan ketidakpedulian terhadap nyawa orang lain—mendadak meledak keluar.
Ada rasa perih, hampa, dan penyesalan yang teramat sangat yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Selama ini, ia tidak pernah peduli seberapa menderitanya orang-orang di luar sana akibat keputusannya—termasuk bagaimana ia memisahkan Kinan dari Neya, cinta pertama putranya yang terpaksa hidup menderita hanya karena status miskinnya. Baginya, nyawa dan perasaan orang kecil tidak pernah ada nilainya.
Namun kini, melihat putrinya sendiri tewas di tangan suaminya yang berdarah dingin, Casandra merasakan bagaimana rasanya kehilangan yang sesungguhnya. Hatinya yang beku mendadak retak, memunculkan sebuah perasaan aneh yang sarat akan empati dan rasa bersalah yang terlambat. Rumah tanpa empati yang selama ini ia agung-agungkan, kini telah berubah menjadi kuburan bagi keluarganya sendiri.
Casandra mendongak, menatap suaminya, Tuan Kusuma, dengan tatapan mata yang penuh dengan kebencian murni sekaligus kengerian yang mendalam. Pria di hadapannya bukanlah seorang suami atau pemimpin; dia adalah monster yang sesungguhnya.
Kinan, yang baru saja tiba di mansion setelah mendengar kegaduhan, berdiri di pintu ruang kerja. Ia menatap pemandangan mengerikan itu dengan rahang yang mengeras.
Bau anyir darah yang pekat masih tertinggal dan melekat kuat di udara ruang kerja itu, berbaur dengan aroma mesiu yang menusuk hidung. Di bawah temaram kilatan petir yang sesekali menerangi ruangan dari balik jendela besar, jasad Verian dan suaminya baru saja dievakuasi secara rahasia oleh tim internal bertangan besi milik Tuan Kusuma. Tidak akan ada ambulans, tidak akan ada mobil polisi, dan tidak akan ada penyelidikan publik. Bagi dunia luar, besok pagi berita yang tersebar hanyalah pengumuman bahwa putri sulung dan menantu keluarga Kusuma telah pindah ke luar negeri secara mendadak untuk mengurus ekspansi bisnis global yang bersifat rahasia. Itulah cara dinasti ini melenyapkan jejak kejahatan mereka: dengan uang, kekuasaan, dan kebohongan yang rapi.
Di tengah ruangan yang kini menyisakan noda merah samar di atas karpet beludru, Mama Casandra masih terduduk lemas di atas sofa kulit. Tubuhnya yang biasanya tegak penuh keangkuhan kini tampak gemetar, sebuah pemandangan yang sangat langka terjadi pada sang ratu mansion. Tangannya yang dingin sesekali mengusap sisa darah putrinya yang mengering di permukaan gaun sutra mahalnya. Naluri keibuannya yang baru saja terbangun secara tragis malam itu masih berdenyut, menimbulkan rasa perih yang teramat sangat di dalam dadanya.
Namun, di seberang meja kerja, Tuan Kusuma berdiri tegak tanpa riak penyesalan sedikit pun di wajah tuanya. Pria itu dengan tenang membersihkan laras pistol hitamnya menggunakan selembar kain satin putih, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan tugas administratif yang sepele. Sorot matanya yang tajam dan sedingin es beralih, menatap lurus ke arah Casandra, lalu berpindah pada Kinan yang berdiri membeku di dekat pintu dengan rahang yang mengeras.
"Hentikan getaran tubuhmu itu, Casandra," suara bariton Tuan Kusuma memecah keheningan malam dengan nada yang sangat datar namun sarat akan ancaman yang mutlak. "Verian dan suaminya telah memilih jalur pengkhianatan. Di dalam kamus hidupku, tidak ada toleransi untuk siapa pun yang mencoba meruntuhkan fondasi Kusuma Group—bahkan jika itu adalah anak kandungku sendiri. Jika kamu terus meratapi hama yang sudah kukeluarkan dari rumah ini, maka kamu tidak lagi pantas menyandang nama belakangku."
Casandra mendongak. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, ada dorongan kuat untuk berteriak, mengutuk suaminya yang telah bertindak seperti monster tanpa nurani. Perasaan aneh berupa empati dan rasa bersalah yang baru saja muncul malam itu mendesaknya untuk memberontak, meninggalkan rumah terkutuk ini, dan melepaskan segala kepalsuan yang selama puluhan tahun mengikat hidupnya.
Namun, begitu matanya menatap logo emas Kusuma Group yang terukir di dinding ruang kerja, dan membayangkan bagaimana jadinya jika ia keluar dari rumah ini tanpa gelar, tanpa pengakuan, dan tanpa kemewahan, dinding pertahanan mental Casandra kembali goyah. Sisi gelap di dalam dirinya mulai berbisik dengan sangat keras. Casandra, bagaimanapun juga, adalah seorang perempuan yang telah menyerahkan seluruh hidupnya demi kehormatan, status sosial, dan takhta tertinggi di kalangan elite. Kehilangan Verian adalah pukulan berat bagi batinnya, tetapi kehilangan status sebagai wanita paling terhormat di dinasti ini adalah sebuah kematian sosial yang jauh lebih mengerikan baginya.
Rasa gila akan kehormatan yang telah mendarah daging selama puluhan tahun perlahan-lahan mulai mengikis kembali percikan naluri keibuan yang sempat menyala. Perlahan namun pasti, egoisme dinginnya kembali mengambil alih kendali tubuhnya. Casandra menarik napas dalam-dalam, mengembuskan sisa-sisa udara hangat nuraninya ke dalam kegelapan ruangan. Ia menegakkan kembali punggungnya, menghapus air mata terakhirnya dengan gerakan yang kaku, dan menatap suaminya dengan tatapan yang kembali mendingin.
"Aku mengerti" bisik Casandra, suaranya kembali datar, kehilangan seluruh nada rapuh yang sempat terdengar beberapa menit lalu. "Segala hal yang mengancam stabilitas keluarga... memang harus diselesaikan dengan tegas. Aku tidak akan membahas masalah ini lagi."
Mendengar jawaban istrinya, Tuan Kusuma menyunggingkan senyum sinis yang penuh kemenangan. Ia tahu persis kelemahan Casandra: wanita itu terlalu mencintai takhta dan pandangan hormat dari dunia luar untuk berani membelot darinya.
Tuan Kusuma kemudian mengalihkan pandangan sepenuhnya kepada Kinan. Pria tua itu melangkah mendekati putranya, meletakkan tangannya yang besar dan dingin di atas bahu tegap Kinan, memberikan tekanan yang sangat berat—sebuah gestur yang menunjukkan kekuasaan mutlak yang tidak bisa didebat.
"Dan kau, Kinan," ucap Tuan Kusuma, suaranya merendah namun terdengar sangat menekan di telinga Kinan. "Kau adalah pangeran mahkota tunggal sekarang. Jangan pernah berpikir untuk memanfaatkan situasi ini untuk menentangku. Aku tahu kau sedang mengumpulkan kekuatan secara rahasia di luar jaringan perusahaan, dan aku juga tahu kau sedang mencari keberadaan pelayan miskin dari masa lalumu itu."
Jantung Kinan berdegup kencang, namun ekspresi wajahnya tetap ia pertahankan sedatar mungkin bagai dinding batu. Ia tidak menyangka bahwa radar ayahnya begitu luas hingga bisa mengendus pergerakan tim investigasi rahasianya.
"Jika kau ingin tetap memegang posisi CEO di Kusuma Group, dan jika kau ingin istrimu, Sherly, melahirkan penerus darah murni kita dengan selamat tanpa ada 'gangguan' medis yang tidak diinginkan, maka patuhlah," lanjut Tuan Kusuma dengan nada mengancam yang sangat halus namun mematikan. "Fokuslah pada bisnismu, patuhi setiap perintahku, dan lupakan semua ambisi bodoh untuk membawa orang miskin masuk ke dalam dinasti ini. Satu langkah salah dari kakimu, Kinan, maka nasibmu dan orang-orang yang kau sayangi di luar sana tidak akan berbeda dengan apa yang baru saja terjadi pada kakakmu."
Ancaman itu begitu nyata dan presisi. Kinan mengepalkan kedua tangannya di dalam saku celana hingga kuku-kukunya memutih. Logika tajamnya yang telah pulih sepenuhnya mendikte bahwa berkonfrontasi langsung dengan ayahnya saat ini adalah tindakan bunuh diri. Tuan Kusuma memiliki segalanya: jaringan intelijen, pasukan bersenjata rahasia, dan kekejaman murni yang tidak segan-segan menumpahkan darah keluarga sendiri demi bisnis.
Kinan menatap lurus ke sepasang mata elang ayahnya, lalu menundukkan kepalanya sedikit—sebuah tanda penyerahan diri taktis yang dirancang untuk mengelabui.
"Aku paham, Papa," jawab Kinan dengan suara bariton yang sangat mantap dan tenang, tanpa ada sedikit pun getaran ragu atau ketakutan. "Aku akan tetap patuh pada setiap keputusan Papa. Kusuma Group dan masa depan dinasti ini akan selalu menjadi prioritas utamaku."
Tuan Kusuma tertawa rendah, sebuah tawa dingin yang menggema di dalam ruangan yang sunyi itu. Ia menepuk bahu Kinan sekali lagi sebelum berjalan kembali ke balik meja kerjanya. "Bagus. Pilihan yang sangat cerdas dari seorang pangeran mahkota. Sekarang, keluarlah. Bersihkan diri kalian dan bersiaplah untuk menyambut hari esok seolah-olah malam ini tidak pernah ada."
lalu Kinan ?