Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Aku sampai di rumah yang sebenarnya baru kudiami beberapa jam dengan perasaan hampa. Begitu pintu terbuka, aku langsung terduduk di lantai, meratapi koper yang baru saja kubuka isinya. Uang di dompetku hanya cukup untuk makan mi instan sampai akhir bulan. Kalau kontrakannya ditarik perusahaan, aku benar-benar harus angkat kaki malam ini juga.
Dengan tangan gemetar, aku mulai memasukkan baju-bajuku ke dalam koper. Setiap lipatan baju terasa seperti pengingat bahwa impianku di kota ini kandas bahkan sebelum dimulai. Aku menangis sampai sesenggukan, kelelahan mental yang luar biasa akhirnya membuatku menyerah. Aku tertidur di lantai, beralaskan tumpukan baju, dengan air mata yang masih mengering di pipi.
Drrrt... Drrrt...
Suara getaran ponsel yang nyaring di atas lantai kayu membangunkanku. Mataku yang bengkak terasa sangat berat. Aku melirik jam dinding menunjukkan pukul empat sore.
Ada panggilan masuk dengan nomor kantor. Jantungku berdegup kencang. Dengan jari yang ragu, aku menggeser ikon hijau.
“Halo...” suaraku serak, khas orang baru bangun tidur.
“Halo, selamat sore, Mbak Aruna Prameswari?” suara seorang wanita terdengar sangat formal namun ramah. “Saya dari bagian HRD pusat. Kami memohon maaf atas kesalahpahaman yang terjadi hari ini di divisi Keuangan.”
Aku menahan napas. Apa ini? Apa mereka mau memastikan aku benar-benar sudah keluar?
“Kami baru saja mendapatkan laporan langsung dari pihak atasan terkait insiden tadi siang. Ternyata ada kesalahan komunikasi yang fatal dari pihak manajer Anda, Pak Danu. Pihak manajemen memutuskan untuk membatalkan keputusan pemecatan Anda.”
Aku terdiam. Lidahku kelu. “M-maksudnya?”
“Anda diminta untuk kembali bekerja besok pagi seperti biasa, Mbak Aruna. Pihak kami juga sudah mengurus masalah tempat tinggal dan status kepegawaian Anda agar tidak terjadi masalah lagi kedepannya. Mohon maaf sekali atas ketidaknyamanan ini. Kami tunggu kehadirannya besok jam 8 pagi di kantor.”
Klik. Telepon itu ditutup.
Aku masih memegang ponselku, tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.
Malamnya, sekitar jam delapan, pintu diketuk dengan kasar. Begitu kubuka, Raka sudah berdiri di sana dengan wajah ditekuk dan napas memburu. Ia bahkan tidak menyapaku dan langsung menerobos masuk.
“Gimana ceritanya lo bisa dipecat dalam waktu setengah hari kerja, Na?!” tuntut Raka langsung, suaranya meninggi di tengah ruangan. “Lo sadar gak sih, nyari kerja di Jakarta itu susah? Lo baru hari pertama udah bikin ulah!”
Aku tersentak, kemarahan yang tadinya mereda kini memancing air mataku lagi. “Gue gak bikin ulah, Ka. Itu tadi ada salah paham di kantor—“
“Salah paham apa sampai langsung dipecat?!” potong Raka, tidak mau mendengar. Ia mengacak rambutnya frustasi. “Gue ke sini Cuma mau negasin ya, Run. Gue gak akan sanggup kalau harus biayain hidup lo di sini kalau lo gak kerja. Gaji gue aja pas-pasan. Gue juga masih tinggal sama keluarga gue, jadi gak mungkin gue bawa lo tinggal di rumah nyokap gue. Kalau lo emang gak bisa bertahan di sini, mending lo balik kampung aja deh!”
Kalimatnya telak menghantam dadaku. Jadi, dia ke sini bukan karena khawatir, tapi karena takut aku akan menjadi beban finansialnya.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan sesak. “Aku gak minta kamu biayain aku, sayang,” ucapku dengan suara bergetar. “Dan... Aku baru mau bilang. Tadi sore HRD telepon aku lagi. Pemecatannya dibatalkan karena mereka udah tau kalau manajer aku yang salah. Besok pagi aku disuruh masuk kerja lagi.”
Aku mengucapkannya dengan secercah harapan di mata, berharap wajah Raka akan berubah cerah atau dia akan memelukku karena lega.
Namun, yang kudapat justru sebaliknya. Wajah Raka malah makin merah padam.
“Maksud lo apa, sih?!” bentak Raka, malah makin marah. “Lo sengaja mau mempermainkan gue, ya? Tadi siang nangis-nangis bilang dipecat, sekarang bilang gak jadi. Lo bohong kan tadi siang? Cuma mau tes omongan gue atau mau cari perhatian?!”
Senyum yang sempat terbit di bibirku langsung lenyap. Dadaku rasanya seperti dihantam batu besar.
“Aku gak bohong, sayang! Tadi siang aku beneran diusir sama manajernya!” seruku, air mataku akhirnya tumpah lagi.
“Ah, tau ah! Terserah lo! Lagian lo aneh-aneh aja, drama banget jadi orang!” Raka berbalik dengan gusar.
Aku merasa bersalah karena telah membuat Raka marah. Ketakutan akan ditinggalkan membuatku merendahkan diri, memohon padanya untuk tidak pergi.
“Sayang... maafin aku ya. Jangan marah lagi,” ujarku sambil memegangi ujung lengan bajunya, menunduk dengan sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipi.
Raka tidak langsung menjawab. Dia hanya diam, menatapku dari atas ke bawah dengan tatapan yang berubah drastis bukan lagi tatapan kesal, melainkan tatapan yang membuatku merasa sangat tidak nyaman dan terintimidasi. Dia menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis yang terasa dingin.
“Gue bisa aja maafin lo,” ucapnya dengan nada yang merendah, membuat bulu kudukku berdiri. Dia mendekat selangkah, tangannya kini bertengger di bahuku. “Tapi lo harus buktiin kalau lo beneran sayang dan gak mau kehilangan gue.”
Aku mendongak, bingung. “Maksudnya gimana?”
Raka menarik tubuhku lebih dekat hingga jarak kami nyaris tidak ada. Tangannya yang kasar kini membelai tengkukku, memberikan tekanan yang membuatku sedikit gemetar. “Puasin gue malam ini. Buktiin kalau lo itu punya gue seutuhnya, baru setelah itu gue gak akan marah lagi.”
Kata-katanya membuat napasku tercekat. Aku bingung, pikiranku yang masih lelah dan hancur karena kejadian di kantor membuatku sulit berpikir jernih. “Puasin... maksudnya gimana, Ka?”
Raka tertawa sinis, tangannya mulai bergerak dengan gestur yang posesif, perlahan mengunci gerakanku agar aku tidak bisa menjauh. “Jangan pura-pura polos. Lo tahu maksud gue, kan? Kalau lo beneran mau gue dukung dan gak ninggalin lo, kasih apa yang gue mau.”
Aku merasakan tekanan yang sangat kuat di hatiku. Di satu sisi, aku merasa terpaksa, tapi di sisi lain, ketakutan akan kesepian dan kehilangan satu-satunya orang yang kupunya di kota ini membuatku terjebak. Saat dia menarik untuk menciumku, aku hanya bisa memejamkan mata, membiarkan semuanya terjadi meski hatiku berteriak kalau ini bukanlah hal yang benar.
Ruangan kontrakan yang sepi itu mendadak terasa menyesakkan. Aku hanya bisa pasrah, mencoba mengabaikan rasa sakit dan kehampaan di dadaku, sementara Raka menunjukkan sisi dirinya yang membuatku merasa sangat asing dan tidak berharga.
Malam itu, alih-alih mendapatkan kenyamanan, aku justru merasa semakin kehilangan diriku sendiri.
“Raka, aku enggak bisa melakukannya, aku masih mens...” bisikku dengan suara bergetar, berharap alasan biologis ini bisa membuatnya mundur.
Namun, Raka justru berdecak kesal, tatapannya tajam penuh tuntutan. “Gak usah banyak alasan. Kalau gak bisa pakai itu, pakai cara lain,” sahutnya ketus.
Tanpa memperdulikan penolakanku, dia meraih paksa tangan kananku. Aku sempat memberontak, tapi tenaganya jauh lebih kuat. Dia menuntun jemariku, memaksaku untuk menyentuh dan memainkan di balik celana yang sengaja dia turunkan. Sentuhan itu terasa sangat asing, dingin, dan membuat perutku mual karena rasa tertekan.
Belum sempat aku mencerna rasa tidak nyaman itu, Raka kembali menarik tengkukku dengan kasar, memaksaku untuk menunduk di hadapannya. “Sekarang, pakai mulut lo,” perintahnya dengan nada rendah yang mutlak.
“Nggak, Ka... Aku gak mau. Aku gak pernah–” tolakku setengah terisak, mencoba membuang muka. Aku benar-benar takut dan merasa rendah.
“Jangan sok suci! Lo bilang lo sayang sama gue, kan? Cepetan!” bentaknya, menekan kepalaku ke bawah hingga hidungku menyentuh kulitnya yang hangat.
Dalam kondisi panik, ragu, dan takut dia akan benar-benar pergi meninggalkanku dalam keadaan hancur, aku akhirnya menyerah. Dengan bibir yang gemetar, aku menelan salivaku kemudian perlahan membuka mulut dan mencoba memasukkannya ke dalam.
Karena ini adalah pengalaman pertama seumur hidupku, aku sama sekali tidak tahu caranya. Gerakanku sangat kaku dan canggung.
“Aw! Sshh... Lo gimana sih, Na?! Kena gigi lo tau gak! Sengaja lo ya?!” bentak Raka tiba-tiba, menyentak kepalaku hingga aku terdorong ke belakang dan terbatuk-batuk. Dia memegangi bagian intimnya dengan wajah meringis kesal.
Aku terduduk di lantai sambil mengusap bibirku, air mata kesakitan dan penghinaan mengalir deras di pipiku. “Maaf, Ka... Maaf, aku beneran gak tahu...”
Raka menatapku dengan pandangan jijik dan penuh amarah. Dia buru-buru membetulkan celananya kembali. “Gak becus banget sih jadi cewek! Rusak mood gue!” umpatnya kasar. Tanpa memedulikanku yang masih menangis sesenggukan di lantai, Raka langsung menyambar jaketnya, berbalik, dan pergi begitu saja sambil membanting pintu dengan keras.
Blam!
Malam itu, di dalam rumah yang sunyi, aku meringkuk memeluk lututku sendiri. Rasa hampa, kotor, dan tidak berharga menyergap seluruh dadaku. Aku merasa telah mengorbankan harga diriku demi pria yang bahkan tidak peduli apakah aku sedang terluka atau tidak.
Aku menatap jam dinding yang terus berputar, mencoba menguatkan hati yang sudah hancur berkeping-keping. Besok, aku harus mengubur semua rasa sakit ini dalam-dalam, karena aku harus kembali ke kantor dan menghadapi kenyataan hidup yang sesungguhnya.