NovelToon NovelToon
Terpesona Oleh Bu Rt

Terpesona Oleh Bu Rt

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: BADAI DI SEBRANG JALAN

Malam semakin larut ketika motor Aldi, Kenan, dan Sendy merapat di halaman rumah. Sesuai kebiasaan lama mereka selepas agenda besar desa, kedua sahabatnya itu memutuskan untuk menginap. Kamar Aldi yang terletak di lantai dua menjadi saksi bisu bagaimana ketiga pemuda itu melepas lelah. Kipas angin berputar lambat, memutar udara malam yang mendadak terasa pengap. Sendy langsung merebahkan diri di kasur busa tambahan di lantai, sementara Kenan duduk bersandar di dekat meja belajar, menatap kosong ke arah jendela.

Aldi baru saja selesai mengganti kemeja batiknya dengan kaos oblong hitam longgar. Ia melemparkan bantal kecil ke arah Sendy, mencoba mengusir kesunyian yang sejak tadi menggelayuti pundak mereka.

Kenan yang sejak di balai desa menahan diri, akhirnya tidak bisa lagi membendung rasa penasarannya. Ia menoleh ke arah Aldi, menatap lurus sahabatnya itu dengan pandangan serius. "Al, tapi sumpah, lo tadi beneran jaga jarak banget sama Bu Jasmine. Gue yang liat dari samping aja berasa banget."

Aldi menghentikan gerakannya yang hendak merebahkan diri. Ia mengembuskan napas panjang, melirik Kenan dengan senyuman pahit yang kembali terukir di wajahnya. "Ya terus gue harus begimane, Nan? Kalau beneran dia udah ada apa-apa sama si Afrizal, masa iya tetep gue pepetin terus? Ganjen beneran dong gue namanya. Harga diri gue sebagai cowok masih ada, Met."

Sendy yang sedang telentang menatap langit-langit kamar ikut mengangguk-angguk lesu, membenarkan ucapan ketuanya. "Ya iya sih, Dul. Bener kata lu. Kalau emang jalurnya udah ada orang lain, mending kita mundur daripada jadi pengganggu hubungan orang."

Gedor! Gedor! Gedor!

Perbincangan mereka seketika terputus total. Pintu kamar Aldi digedor dengan sangat keras dan brutal dari luar. Suara kepanikan yang luar biasa terdengar dari balik pintu, disusul suara bariton Pak Dadang yang berteriak lantang dari arah tangga bawah, memanggil nama mereka bertiga dengan nada yang sangat tegang.

"Aldi! Kenan! Sendy! Cepat turun sekarang! Cepat!" teriak Pak Dadang dari lantai bawah.

Ketiga pemuda itu tersentak, saling pandang selama satu detik sebelum akhirnya melompat dari posisi masing-masing. Aldi langsung menyentak gagang pintu kamarnya. Di depan pintu, Mikhaela berdiri dengan wajah pucat pasi, napasnya memburu tidak beraturan, dan kedua tangannya gemetar hebat karena ketakutan.

"Ada apa, Mikha?! Kenapa teriak-teriak?!" tanya Aldi panik, memegang kedua pundak adiknya.

Mikhaela menatap Kenan dengan mata yang sudah berkaca-kaca, suaranya bergetar hebat saat memberikan penjelasan. "Kak Kenan! Itu... Tante Yuni, mamanya Kak Kenan... di rumah Kak Kenan sekarang lagi dipukulin sama suaminya! Tadi tetangga sebrang telepon Bunda!"

"MAMA?!"

Mendengar nama ibunya disebut dalam kondisi sekritis itu, darah Kenan rasanya mendadak mendidih sekaligus dingin di saat yang bersamaan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, tanpa memedulikan sandal atau jaket, Kenan langsung berbalik dan berlari kencang menuruni anak tangga bagaikan orang kesetanan. Aldi dan Sendy yang melihat hal itu langsung bergerak cepat, berlari ketat di belakang Kenan, menembus pintu depan rumah dan membelah kegelapan jalanan komplek menuju rumah Kenan yang hanya berjarak beberapa ratus meter.

Sesampainya di halaman rumah Kenan, pemandangan di sana sudah sangat mencekam. Suara teriakan kasar seorang pria terdengar bersahut-sahut dengan suara tangisan lirih seorang wanita dari dalam rumah yang pintunya sudah terbuka lebar. Beberapa tetangga mulai berdatangan namun ragu untuk merangsek masuk karena takut.

Braakk!

Kenan menendang pintu rumahnya sendiri hingga membentur dinding dengan keras. Di dalam ruang tamu yang berantakan, tampak seorang pria paruh baya—ayah kandung Kenan—sedang mencengkeram erat rambut Tante Yuni yang sudah terduduk lemas di lantai. Pria itu tampak kalap, tangannya terangkat siap melayangkan hantaman berikutnya. Ayah Kenan adalah seorang pria yang tidak tahu diri; kerjanya setiap hari hanya berjudi, berutang, dan malam ini ia mengamuk brutal karena mengira istrinya menyembunyikan uang di dalam rumah. Padahal, uang tabungan yang mati-matian dipertahankan oleh Tante Yuni adalah uang simpanan untuk biaya pengobatan kemoterapi kanker yang sedang dideritanya.

"Mana uangnya?! Cepet kasih ke gue, dasar perempuan gak berguna!" bentak ayah Kenan kasar, sama sekali tidak memedulikan kondisi fisik istrinya yang sudah semakin ringkih.

Melihat pemandangan biadab itu tepat di depan matanya, napas Aldi memburu hebat. Amarahnya meledak ke ubun-ubun. Rasa frustrasi, cemburu, dan emosinya yang tertahan sejak sore tadi seolah menemukan penyaluran yang tepat. Tanpa ba-bi-bu lagi, sebelum Kenan sempat melangkah maju, tubuh bongsor Aldi sudah melesat maju ke depan seperti banteng ketaton.

Buaakkkh!

Satu hantaman pukulan mentah dari kepalan tangan kanan Aldi mendarat telak dan sangat keras di rahang kiri ayah Kenan. Kekuatan pukulan Aldi yang dahsyat seketika membuat tubuh pria paruh baya itu terpental ke samping, menghantam meja kayu hingga vas bunga di atasnya jatuh hancur berkeping-keping. Ayah Kenan tersungkur di lantai, memegangi rahangnya yang mendadak berdarah dengan tatapan syok.

"Aldi! Sendy! Tolong Mama gue!" teriak Kenan histeris, langsung berlutut di lantai untuk mendekap tubuh ibunya yang sudah gemetaran dan menangis ketakutan.

Sendy dengan sigap langsung maju, membantu Kenan memapah Tante Yuni yang badannya sudah sangat lemas untuk menjauh dari area ruang tamu, membawa wanita paruh baya itu ke sudut ruangan yang lebih aman di bawah perlindungan beberapa ibu-ibu tetangga yang mulai berani masuk.

Sementara itu, ayah Kenan yang tidak terima ditonjok oleh anak muda seumur Aldi langsung bangkit berdiri dengan sisa tenaga marahnya. "Kurang ajar lu ya! Anak kecil tahu apa lu soal urusan rumah tangga gue?!" teriah ayah Kenan, mencoba melayangkan pukulan balasan ke arah Aldi.

Namun, Aldi yang dasarnya memiliki refleks terlatih, dengan mudah menghindar ke samping. Tanpa memberikan celah sedikit pun, Aldi kembali merangsek maju. Cengkeraman tangannya yang kuat langsung menarik kerah baju pria itu, dan sebuah pukulan keras kembali dilesatkan tepat ke arah perut dan wajah ayah Kenan secara bertubi-tubi.

Keributan besar itu dalam sekejap langsung memancing perhatian warga komplek. Pelataran rumah Kenan kini sudah dipenuhi oleh puluhan warga yang berteriak panik. Di tengah kerumunan itu, Jasmine yang mendengar ada keributan besar di wilayah RT-nya langsung berlari datang dengan napas terengah-engah, mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi.

Begitu Jasmine melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang berantakan, matanya langsung terbelalak menyaksikan Aldi yang seperti kehilangan kendali, terus-menerus menghujani ayah Kenan dengan pukulan hingga pria itu babak belur di sudut dinding.

"Mas Aldi! Stop, Mas! Cukup! Jangan main hakim sendiri, Mas! Berhenti!" teriak Jasmine histeris dari ambang pintu, mencoba merangsek masuk untuk melerai tindakan brutal pemuda itu sebelum situasi berubah menjadi kasus hukum yang lebih parah.

Mendengar suara Jasmine yang melengking di tengah keributan, Aldi sempat menghentikan ayunan tangannya selama satu detik. Ia menoleh, menatap Jasmine dengan sepasang mata elang yang menyala merah karena amarah yang teramat sangat, bercampur dengan gejolak emosi pribadi yang sejak tadi dipendamnya sendiri.

"DIEM!" bentak Aldi dengan nada suara yang sangat menggelegar, membuat seisi ruangan seketika senyap karena ketakutan melihat sang Ketua Karang Taruna bener-bener murka. "Cowok kayak gini harus dikasih pelajaran! Gak punya otak, istri lagi sakit malah dipukulin demi judi!"

Setelah meneriakkan kalimat itu tepat di depan wajah Jasmine, Aldi tidak memedulikan lagi peringatan dari sang Bu RT. Ia kembali berbalik, melayangkan satu pukulan pemungkas yang sangat telak ke arah wajah ayah Kenan hingga pria tua bangka itu lemas tak berdaya di lantai dengan wajah yang sudah bersimbah darah.

"Warga! Tolong pisahin! Buruan pisahin si Aldi, bisa mati itu orang!" teriak Pak RT sebelah yang kebetulan ikut datang ke lokasi kejadian.

Melihat situasi yang semakin tidak terkendali, Kenan, Sendy, bersama beberapa pria dewasa dari kalangan warga langsung bergerak maju. Mereka bersama-sama memegangi tubuh bongsor Aldi, menariknya mundur dengan sekuat tenaga agar menjauh dari tubuh ayah Kenan yang sudah tidak berdaya. Aldi sempat memberontak kuat, napasnya naik turun dengan dada yang membusung, menatap tajam ke arah korbannya sebelum akhirnya ia bisa menguasai diri kembali. Di ambang pintu, Jasmine hanya bisa berdiri terpaku dengan tubuh gemetar, menatap Aldi dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa campur aduk; rasa takut, cemas, dan ketidakmengertian yang mendalam atas kemarahan raksasa yang baru saja ditunjukkan oleh pemuda itu malam ini.

1
Neny Tryana
👍🏻👍🏻
anggita
like iklan👍☝, buat bu rt.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!