"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"
Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.
Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.
Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?
~~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
Dentuman bas dari lagu Gasoline milik Halsey menggema dahsyat, menggetarkan dinding-dinding kaca beraksen industrial di lounge privat lantai atas milik keluarga Miller.
Pencahayaan di dalam ruangan itu temaram, didominasi oleh pendar lampu neon berwarna biru keunguan dan merah tua yang berputar lambat, membiaskan atmosfer hedonisme berkelas khas kalangan elit Los Angeles.
Aroma cerutu mahal, uap wiski, dan campuran parfum premium berbaur menjadi satu di udara, menciptakan sekat pelarian dari dunia luar yang bising.
Di tengah riuhnya obrolan dan tawa dari puluhan alumni high school yang memenuhi sofa-sofa kulit, sebuah siluet pria melangkah masuk melalui pintu geser otomatis.
Kehadiran pria itu seketika memicu gelombang keheningan kecil dari orang-orang di dekat pintu masuk. Julian, yang sedang memegang gelas berisi cairan amber di dekat pilar tengah, langsung tersedak minumannya sendiri.
Sepasang matanya melotot sempurna, menatap sosok yang baru saja datang dengan ekspresi tidak percaya.
Pria itu adalah Landon Desmon. Namun, malam ini, dia sama sekali tidak membawa citra dirinya yang biasa—bukan cerminan seorang dosen muda terhormat dari UCLA, bukan pula sang pria genius yang selalu tampil perfeksionis sejak masa sekolah dulu.
Malam ini, Landon menanggalkan seluruh protokoler formalitasnya. Ia mengenakan kemeja berbahan linen hitam longgar yang kedua lengan bajunya digulung kasar hingga ke siku, memamerkan urat-urat menonjol di lengan bawahnya.
Dua kancing teratas kemejanya dibiarkan terbuka begitu saja, mengekspos tulang selangka dan sebagian dadanya yang tegap dengan cara yang terkesan liar dan provokatif.
Alih-alih celana kain mahal berpotongan tajam, ia mengenakan celana jeans hitam yang sedikit pudar dengan potongan yang melekat pas di kaki jenjangnya.
Dan yang paling membuat Julian menganga adalah tatanan rambut pria itu. Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah pertemanan mereka, Landon tidak menyisir rambut hitam tebalnya rapi ke belakang dengan bantuan gel.
Rambut itu dibiarkan acak-acakan, jatuh berantakan menyentuh dahi dan pelipisnya, memberikan kesan pemberontak, berantakan, sekaligus luar biasa seksi dalam waktu yang bersamaan.
Itu bukan dirinya yang biasa. Itu adalah visualisasi dari seorang pria yang sedang frustrasi, yang ego dan kewarasannya telah terkoyak habis oleh kerinduan yang menyiksa.
Julian langsung melangkah lebar memotong kerumunan, menghampiri Landon dengan sisa rasa syoknya. "Hey... kau terlihat keren, Don! Sialan, ada angin apa sampai si Profesor Dingin bertransformasi menjadi bad boy seperti ini?"
Tepat pada saat itu, Clarissa—teman sekelas wanita mereka dulu yang secara terang-terangan menaruh hati pada Landon sejak zaman high school hingga detik ini—berjalan mendekat dengan gaun pesta yang ketat. Ia menatap Landon dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan binar mata yang lapar, penuh kekaguman yang tidak disembunyikan.
"Pesona tampan seperti biasa, Don," ucap Clarissa, suaranya mendayu, mencoba menarik perhatian Landon. "Lama tidak melihatmu sekacau ini. Tapi jujur, gaya berantakan ini jauh lebih mendebarkan daripada setelan dosenmu."
Namun, Landon sama sekali tidak melirik Clarissa. Sepasang mata legam Landon yang tajam laksana elang bergerak liar, menyapu ke setiap sudut ruangan yang remang-remang.
Fokusnya tidak berada pada pujian, tidak pula pada alkohol yang disajikan gratis.
Tatapannya tampak mencari-cari satu objek spesifik di tengah lautan manusia ini.
"Di mana kelas 12-D?" tanya Landon, suaranya terdengar berat, singkat, padat, dan jelas, tanpa basa-basi formalitas sedikit pun.
Julian yang langsung menangkap perubahan radar emosi di mata sahabatnya itu hanya bisa menghela napas pendek. Ia menepuk pundak Landon.
"Di lantai dansa," ucap Julian cepat, menunjuk ke arah kerumunan orang yang sedang bergerak mengikuti ritme lagu di bagian tengah lounge.
Landon langsung melangkah pergi, mengabaikan Clarissa yang mendengus kesal karena diabaikan begitu saja. Ia membelah kerumunan alumni, matanya meneliti setiap wajah wanita yang sedang berdansa di bawah kilatan lampu strobo.
Namun, tidak ada sosok yang ia cari di sana. Tidak ada wanita dengan sepasang mata bulat yang dingin dan aroma mawar yang familier.
Julian, yang ternyata mengekor di belakang Landon sejak tadi karena penasaran, akhirnya menyamai langkah sang dosen muda. Ia tahu persis siapa yang membuat Landon nekat mengacaukan penampilannya malam ini.
"Kau mencari Vexana?" tanya Julian pelan, memastikan tebakannya tepat di tengah dentuman musik Gasoline yang semakin menghentak.
Landon menghentikan langkahnya, menoleh menatap Julian dengan rahang yang mengatup rapat, memberikan jawaban tanpa suara yang mengonfirmasi segalanya.
Julian mengarahkan dagunya ke sudut terjauh ruangan, area yang sedikit lebih tenang dan terpisah dari lantai dansa utama.
"Dia disana, di depan meja bartender. Bersama Andriana yang sejak tadi bertingkah seperti pengasuhnya."
Landon langsung memutar tubuhnya secepat kilat, mengarahkan seluruh pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Julian. Dan di sanalah wanita itu berada.
Di bawah temaram lampu gantung kuningan di atas meja bartender kayu ek, terlihat Andriana dengan gaun ibu hamil berwarna pastel.
Perutnya yang sudah tampak membuncit besar menunjukkan bahwa ia tengah mengandung.
Di samping Andriana, seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas rapi tampak merengkuh dan memeluk pundak gadis pirang itu dengan protektif—kemungkinan besar adalah suaminya.
Dan tepat di sebelah mereka, duduk di atas kursi bar tinggi, adalah Vexana Valerio.
Wanita itu mengenakan gaun sutra hitam yang memamerkan punggungnya yang mulus.
Kepalanya terkulai sedikit ke samping, bertumpu pada salah satu tangannya yang menyangga di atas meja bar.
Di tangan lainnya, ia memutar-mutar gelas sloki yang sudah kosong. Dari gestur tubuhnya yang limbung dan tatapan matanya yang meredup menatap kosong ke dalam gelas, Landon langsung tahu: Vexana tampak sangat mabuk.
Wanita itu sengaja menenggelamkan kesadarannya ke dalam alkohol untuk membunuh rasa sesak yang mereka bagi bersama.
Melihat kondisi Vexana yang rentan, seluruh akal sehat Landon menguap seketika. Ia tidak memedulikan pandangan Julian, Clarissa, atau puluhan alumni lainnya.
Dengan langkah-langkah lebar yang tegas dan penuh dominasi, Landon berjalan lurus memotong jarak, menghampiri sudut meja bartender tersebut.
Begitu sampai di belakang kursi Vexana, aroma mawar yang bercampur dengan pekatnya alkohol langsung menusuk indra penciuman Landon, memicu rasa sakit yang familier di dadanya.
"Andriana," suara bariton Landon memecah obrolan kecil di antara pasangan suami istri itu.
Andriana menoleh, sepasang matanya membelalak terkejut melihat kehadiran Landon dengan penampilan yang sangat berantakan dan liar—sangat berbeda dengan sosok Landon yang terakhir kali ia lihat di masa high school.
Andriana yang selama ini tinggal di luar negri dan tidak tahu-menahu mengenai hancurnya hubungan serta kandasnya kisah cinta Vexana dan Landon yang rumit, seketika mengembuskan napas lega. Ia mengira Landon datang sebagai penyelamat.
"Biar aku yang mengurusnya," lanjut Landon tegas, matanya kini telah turun, terkunci sepenuhnya pada punggung polos Vexana yang bergerak naik-turun karena napas yang tidak teratur.
Andriana langsung tersenyum tipis, mengisyaratkan suaminya untuk melepaskan pelukan di pundaknya agar mereka bisa memberikan ruang.
"Ah, Landon! Syukurlah kau datang. Ya, urus kekasihmu ini," ucap Andriana dengan nada santai tanpa beban, sama sekali tidak menyadari bom waktu yang sedang ia pasang.
"Dia benar-benar merepotkan malam ini. Dia meracau namamu sejak tadi di dalam mabuknya, membuatku pusing mendengarnya."
Deg.
Kata-kata Andriana laksana siraman minyak tanah ke atas api dalam dada Landon. Dia meracau namaku.
Kepahitan dan kehancuran yang mereka rasakan beberapa hari ini mendadak meledak, menyisakan sebuah realitas bahwa di balik topeng es yang Vexana tunjukkan di kampus, wanita itu sama hancurnya dengan dirinya di dalam kesunyian.