NovelToon NovelToon
Antara Batas Dan Nafas

Antara Batas Dan Nafas

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

​“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”

​Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Rantai Tak Kasat Mata

Malam sudah sangat larut ketika taksi daring yang membawa Alika berhenti di depan gerbang besi tinggi kediaman Pradipta. Efek suntikan pelindung lambung sore tadi memang berhasil meredakan nyeri di perutnya, namun tubuhnya terasa rontok, seolah-olah dia baru saja dipaksa berlari maraton puluhan kilometer tanpa henti.

Begitu pintu utama terbuka, kesunyian langsung menyergap. Alika melintasi lantai pualam dengan langkah gontai. Lampu kristal di ruang tengah sengaja dipadamkan, hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu dinding bergaya klasik yang memberikan kesan suram.

Tiba-tiba, denting es batu yang beradu dengan gelas kaca memecah keheningan.

Alika tersentak. Di sudut ruangan yang remang, duduk di atas sofa tunggal, Narendra tengah menatapnya tajam. Pria itu sudah berganti pakaian dengan piama sutra gelap. Sebelah tangannya menggenggam gelas berisi minuman beralkohol, sementara mata elangnya menelusuri setiap jengkal penampilan Alika yang baru saja tiba.

"Rapat dengan vendor yang sangat lama, Nyonya Pradipta," suara Narendra terdengar sangat tenang, namun ketenangan itu terasa seperti permukaan danau yang menyembunyikan pusaran air mematikan di bawahnya.

Alika menelan ludah, berusaha keras menyembunyikan kegugupannya. Ia melangkah mendekat, tetapi tetap menjaga jarak aman. "Iya, Mas. Banyak detail negosiasi soal venue acara minggu depan yang harus segera dibereskan."

"Begitukah?" Narendra menyesap minumannya perlahan, matanya tidak beralih sedikit pun dari wajah sang istri. Pria itu kemudian bangkit, meletakkan gelasnya di atas meja, dan berjalan mendekati Alika dengan langkah perlahan, menyerupai predator yang tengah menyudutkan mangsa.

Saat jarak mereka hanya tersisa satu jengkal, Narendra menundukkan kepala, mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Alika. Alika refleks menahan napas, seluruh tubuhnya menegang kaku.

Narendra menarik napas panjang, menghirup aroma tubuh istrinya dalam-dalam. Ia mencari jejak parfum pria atau bau alkohol khas bar, namun yang tertangkap oleh indranya justru aroma sabun antiseptik yang samar—bau khas rumah sakit yang menempel di baju Alika saat ia berbaring di ranjang periksa.

Sayangnya, di kepala Narendra yang sudah diracuni kecemburuan, aroma antiseptik itu justru diterjemahkan sebagai bau sabun dari kamar mandi sebuah hotel.

"Pekerjaan yang sangat menguras tenaga, ya?" bisik Narendra tepat di telinga Alika, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. "Kamu terlihat sangat berantakan malam ini, Alika. Pastikan vendor yang kamu temui itu sepadan dengan waktu yang kamu buang."

Alika mengerutkan dahi, merasa bingung dengan sindiran suaminya. "Apa maksudmu, Mas?"

Narendra menarik wajahnya kembali, mengulas senyum miring yang terasa sangat dingin. "Hanya mengingatkan perjanjian kita, Sayang. Open marriage memberi kita kebebasan untuk mencari hiburan di luar... tapi pastikan hiburan itu tidak membuatmu lupa pada kewajiban utama sebagai wajah Artha Group. Jika ingin bermain-main, setidaknya rapikan penampilanmu sebelum pulang ke rumah."

Dada Alika terasa sesak. Tubuhnya yang sedang berjuang melawan peradangan hebat justru dituduh berselingkuh. Rasa lelah secara fisik dan mental membuatnya kehilangan tenaga bahkan hanya untuk sekadar membela diri dari tuduhan keji tersebut.

"Aku sangat lelah, Mas. Aku ingin mandi dan tidur," ucap Alika datar, memilih mengabaikan provokasi suaminya. Ia memutar tubuh dan melangkah menaiki tangga.

Narendra menatap punggung istrinya yang kian menjauh. Tangannya mengepal kuat di dalam saku celana. Kebohongan yang sempurna, batin Narendra sinis. Ia sengaja tidak mengeluarkan foto dr. Raditya malam ini karena ingin bermain lebih lama. Ia ingin melihat sejauh mana istrinya berani menginjak harga dirinya sebelum ia menghancurkan kehidupan pria berjas putih yang berani menyentuh miliknya.

Di dalam kamar mandi utama, Alika menyalakan shower air hangat. Ia menanggalkan pakaiannya yang terasa lengket oleh keringat dingin. Saat berdiri di depan cermin besar untuk menghapus riasan, bahunya meluruh. Ruam kemerahan di pipinya tampak sedikit lebih gelap dibandingkan kemarin.

Dengan tangan gemetar, ia memutar keran dan membiarkan air hangat mengguyur kepalanya. Ia memejamkan mata, berusaha membiarkan aliran air menenangkan otot-ototnya yang tegang. Ia menyisirkan jemari ke sela-sela rambut panjangnya untuk keramas.

Namun, saat menarik tangannya turun, napas Alika seketika tercekat.

Di sela-sela jemarinya, tersangkut gumpalan rambut yang sangat banyak. Jauh lebih banyak dari rontok biasa yang wajar. Gumpalan hitam itu terlihat mengerikan menempel di tangannya yang basah.

Panik, Alika kembali menyisirkan tangan ke sisi rambut yang lain. Sekali lagi, segumpal besar rambut terlepas dari kulit kepalanya dengan sangat mudah, seolah-olah folikel rambutnya sudah mati.

Air mata yang sejak sore ia tahan akhirnya tumpah. Ia jatuh terduduk di lantai kamar mandi, membiarkan air shower membasahi tubuhnya yang bergetar hebat karena isak tangis. Ia menggenggam gumpalan rambutnya sendiri dengan tatapan ngeri. Penyakit misterius ini mulai merampas bukan hanya kesehatannya, melainkan juga mahkotanya.

Bagaimana ia bisa menutupi kerontokan parah ini dari pandangan Narendra? Berapa lama lagi ia sanggup bertahan memakai topeng kesempurnaan sebagai Nyonya Pradipta?

Keesokan paginya, di kantor Artha Group.

Narendra berdiri menghadap jendela kaca besar, mendengarkan laporan dari Joshua dengan wajah mengeras.

"Tim keamanan sudah memasang pelacak GPS kecil di mobil operasional Nyonya Alika, Pak. Dua orang bodyguard berpakaian preman juga akan mengawasi pergerakan beliau di luar jam kantor dari jarak jauh," lapor Joshua secara profesional.

"Bagus," sahut Narendra tanpa menoleh. "Satu hal lagi, Joshua. Cari tahu segala informasi mengenai dokter muda bernama Raditya di Rumah Sakit Medika Utama. Saya ingin tahu latar belakangnya, jadwal praktiknya, dan... siapa saja pasien VIP yang sedang ia tangani secara rahasia."

"Baik, Pak Narendra. Segera saya laksanakan."

Begitu pintu ruangan tertutup, Narendra melihat pantulan dirinya di kaca jendela. Rahangnya terkatup rapat dengan emosi tertahan.

"Kamu ingin bermain kucing-kucingan dengan saya, Alika?" desis Narendra pelan, matanya memancarkan kilat kepemilikan yang gelap. "Kita lihat saja, siapa yang akan memohon ampun pada akhirnya."

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor☺👈✍️
ilmuwankecil
seru kalk, update lagi kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!