Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.
Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Gosip di Kantin
Dua hari setelah presentasi Family Gathering, suasana di lantai 23 semakin sibuk.
Konsep acara yang sudah disetujui direksi mulai masuk ke tahap pelaksanaan.
Vendor harus dihubungi.
Desain publikasi harus disiapkan.
Data peserta mulai dikumpulkan.
Dan hampir semua orang bekerja lebih keras dari biasanya.
Termasuk Luna.
Sejak pagi wanita itu bahkan belum sempat meninggalkan kursinya.
Sampai akhirnya Sisil datang sambil menepuk meja.
"Stop."
Luna mengangkat kepala.
"Hah?"
"Makan siang."
"Aku masih ada kerjaan."
Sisil langsung mematikan layar laptopnya.
"Sekarang."
"Sisil."
"Sekarang."
Luna tertawa pasrah.
Memang hanya Sisil yang berani melakukan hal seperti itu.
---
Beberapa menit kemudian mereka turun ke kantin.
Kantin Dimitri Group cukup besar.
Karena menampung ratusan karyawan setiap hari.
Hari itu suasana cukup ramai.
Banyak meja yang sudah terisi.
Namun mereka berhasil menemukan tempat kosong di dekat jendela.
Baru saja Luna duduk, seseorang datang membawa nampan makan.
"Eh."
Sisil langsung tersenyum.
"Rama."
Pria itu ikut tersenyum.
"Boleh gabung?"
"Boleh."
jawab Luna.
---
Rama adalah staf divisi keuangan.
Usianya sekitar dua puluh lima tahun.
Hanya setahun lebih lama bekerja dibanding Luna.
Meskipun berasal dari divisi berbeda, mereka beberapa kali bertemu saat rapat Family Gathering.
Dan Rama termasuk salah satu orang yang cukup mudah diajak berteman.
---
"Gimana proyek acara?"
tanya Rama sambil duduk.
Sisil langsung mengeluh.
"Capek."
Luna tertawa.
"Dia ngeluh terus tiap hari."
"Karena memang capek."
balas Sisil.
Membuat mereka bertiga tertawa.
---
Obrolan berlangsung santai.
Mulai dari pekerjaan.
Pengalaman pertama bekerja.
Sampai cerita-cerita lucu saat menjadi karyawan baru.
"Pas minggu pertama kerja aku pernah salah kirim email."
kata Rama.
Luna langsung tertarik.
"Ke siapa?"
"Ke direktur."
Sisil langsung tertawa keras.
"Terus?"
"Aku hampir resign hari itu."
Mereka bertiga tertawa bersama.
---
Sementara itu.
Di meja belakang.
Rita dan Adel juga sedang makan siang bersama beberapa karyawan lainnya.
Awalnya Luna tidak terlalu memperhatikan.
Namun semakin lama suara mereka semakin jelas terdengar.
Terutama karena Rita memang berbicara cukup keras.
---
"Kadang ya."
ucap Rita.
"Saya heran sama orang-orang sekarang."
Beberapa rekannya langsung menoleh.
"Kenapa?"
tanya salah satu karyawan.
Rita tersenyum tipis.
"Baru kerja sebentar."
"Tapi tasnya branded."
"Sepatunya branded."
"Jam tangannya branded."
Beberapa orang langsung saling pandang.
---
Sisil yang mendengar itu langsung berhenti makan.
Luna masih berusaha mengabaikannya.
Namun dalam hati ia tahu.
Rita sedang membicarakannya.
---
"Ya mungkin keluarganya kaya."
kata seseorang.
Rita tertawa kecil.
"Iya mungkin."
Nada bicaranya terdengar sinis.
"Mungkin juga bukan."
---
Adel yang duduk di sebelahnya tidak ikut bicara.
Namun juga tidak menghentikan Rita.
---
"Kalian tahu nggak?"
lanjut Rita.
"Aku pernah lihat berita."
"Katanya banyak perempuan muda sekarang dapat barang mewah bukan dari hasil kerja."
Beberapa orang mulai tertarik.
"Terus dari mana?"
Rita mengangkat bahu.
"Dari jadi simpanan orang kaya."
Suasana di sekitar meja mereka langsung berubah canggung.
---
Sisil langsung meletakkan sendoknya.
Wajahnya memerah karena marah.
"Itu nyindir kamu."
bisiknya pada Luna.
Luna tentu tahu.
Sangat tahu.
Karena sejak awal Rita memang sering memperhatikan barang-barang yang ia pakai.
Padahal Luna selalu berusaha tampil sederhana.
---
"Jangan ditanggapi."
kata Luna pelan.
Namun Sisil sudah terlihat kesal.
"Enak aja."
---
Di meja belakang, Rita masih melanjutkan ceritanya.
"Makanya aku suka heran."
"Banyak orang kelihatannya biasa aja."
"Tapi barang-barangnya luar biasa."
Beberapa karyawan mulai terlihat tidak nyaman.
Karena meskipun Rita tidak menyebut nama.
Semua orang bisa menebak siapa yang sedang dibicarakan.
---
Rama yang sejak tadi diam akhirnya ikut mendengar.
Ia melirik Luna.
Lalu kembali melihat ke arah Rita.
Keningnya berkerut.
Karena menurutnya gosip seperti itu tidak pantas.
Apalagi di lingkungan kerja.
---
"Luna."
bisik Sisil.
"Kita harus ngomong."
Luna menggeleng.
"Nggak usah."
"Tapi dia keterlaluan."
"Nggak apa-apa."
Sisil benar-benar tidak habis pikir.
Bagaimana Luna bisa tetap tenang?
Kalau berada di posisi yang sama, mungkin ia sudah berdiri dan membalas sejak tadi.
---
Namun Luna memilih diam karena satu alasan.
Ia tahu dirinya tidak melakukan apa pun yang salah.
Dan ia tidak merasa perlu membuktikan apa pun kepada orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.
---
Sayangnya.
Diamnya Luna justru membuat Rita semakin berani.
"Aku sih nggak iri."
kata Rita.
"Tapi kalau punya barang mahal hasil kerja keras itu beda."
"Kalau hasil numpang hidup ke orang lain ya beda lagi."
Kali ini beberapa orang mulai saling pandang.
Karena ucapan itu sudah terlalu jauh.
---
Sisil langsung berdiri.
"Luna."
Namun sebelum ia sempat melangkah, sebuah suara terdengar.
"Bu Rita."
Semua orang langsung menoleh.
Ternyata Rama yang berbicara.
---
Pria itu meletakkan sendoknya.
Lalu menatap Rita dengan tenang.
"Saya boleh tanya sesuatu?"
Rita terlihat sedikit terkejut.
"Tanya apa?"
"Kalau seseorang punya barang mahal."
Rama tersenyum sopan.
"Itu otomatis berarti dia simpanan orang kaya?"
Rita langsung terdiam.
---
Beberapa karyawan mulai memperhatikan.
Karena ini pertama kalinya ada yang menanggapi Rita secara langsung.
---
"Saya cuma bilang kemungkinan."
jawab Rita.
Rama mengangguk.
"Oh."
"Lalu kalau ternyata tidak benar?"
Rita tidak langsung menjawab.
---
Rama kembali tersenyum.
"Berarti itu fitnah ya?"
Suasana kantin langsung menjadi sunyi.
---
Luna sampai sedikit terkejut.
Ia tidak menyangka Rama akan membelanya.
Padahal mereka baru saling mengenal beberapa minggu.
---
Wajah Rita mulai berubah.
"Saya nggak menyebut nama siapa pun."
katanya.
Rama mengangguk santai.
"Bagus."
"Karena kalau sampai menyebut nama orang tanpa bukti, bisa jadi masalah besar."
---
Untuk pertama kalinya Rita terlihat kehilangan kata-kata.
---
Sisil yang melihat itu hampir bertepuk tangan.
Namun berhasil menahan diri.
---
Rama kemudian kembali duduk.
Dan melanjutkan makan siangnya seolah tidak terjadi apa-apa.
Sementara Rita memilih diam.
Tidak melanjutkan gosipnya lagi.
---
Beberapa menit kemudian.
Makan siang selesai.
Saat mereka berjalan kembali menuju lift, Sisil langsung menepuk lengan Rama.
"Keren."
Rama terlihat bingung.
"Apa?"
"Tadi."
Rama tersenyum kecil.
"Aku cuma nggak suka orang digosipin."
---
Luna menatap pria itu.
"Terima kasih."
ucapnya tulus.
Rama menggeleng.
"Nggak perlu."
"Siapa pun pasti bakal kesel dengarnya."
---
Namun jauh di dalam hati Rita.
Kekesalan yang selama ini ada justru semakin bertambah.
Karena sekarang bukan hanya Amanda yang terlihat mendukung Luna.
Bahkan beberapa karyawan lain mulai menyukai wanita itu.
Dan bagi Rita...
Itu adalah sesuatu yang tidak bisa ia terima.
Tanpa disadari Luna, masalah ini belum selesai.
Karena seseorang yang dipenuhi rasa iri biasanya tidak berhenti hanya karena satu teguran.
Dan cepat atau lambat, Rita akan mencoba sesuatu yang lebih besar.
Sesuatu yang bisa membuat suasana kantor menjadi jauh lebih rumit daripada sekadar gosip di kantin.